
...ACE pov...
...----------------...
Fawnia menghilang dan aku terdiam di sini, membeku di sini. Di kamar kami yang masih beraroma sepertinya, masih meninggalkan jejaknya. Mataku memindai seisi kamar yang masih dalam keadaan sebagaimana kami meninggalkannya tadi pagi. Seprei yang belum rapi, handuk basahnya di sofa, pakaian kotornya di keranjang, rambut rontoknya di bantal--semuanya masih sama, kecuali fakta bahwa kini Fawn telah tiada.
Ia meninggalkanku. Benar-benar pergi dariku.
Meow~
Butter--seekor kucing berwarna abu-abu itu mengeong dari tempat tidurnya. Ia mengangkat kepala, menatapku.
"Ibumu sudah pergi," gumamku sebelum melenggang dan menjatuhkan punggungku ke tempat tidur. Mataku terpejam. "Kau sebaiknya pergi juga."
Di tempat tidurku yang masih melekat kuat aroma Fawn, aku kembali merasakan sakit luar biasa merayap di jantungku. Rasanya seperti kehampaan yang memilukan. Aku mengerutkan keningku, berusaha mengumpulkan kewarasanku, berusaha bertahan agar tidak kalah pada kekalutan yang mulai menyelimuti pikiranku.
Aku membuka mata lebar-lebar. Menatap kepada langit-langit kamar.
"Haaaaa--" helaan napasku lepas dengan kasar. Aku bangkit dari posisi berbaringku, tangan memegang jantung. Aku ingin meredakan sakit yang bersarang di dadaku, tapi semakin aku mencengkram dan menekan tanganku di sana, aku merasa semakin sesak luar biasa. Napasku tersengal, naik turun berantakan dengan kesesakan.
Aku tidak tau aku mampu merasakan sakit seperti ini. Rasa sakit yang membuatku berpikir bahwa lebih baik aku mati. Fawnia yang pergi dari hidupku tidak hanya membawa dirinya pergi, dia melarikan diri dengan separuh jiwaku merekat kepadanya. Ia membawa hatiku, kewarasanku.
Aku ingin dia kembali, aku ingin melihatnya kembali.
Waktu baru berlalu 50 menit sejak dia pergi dan kepalaku sudah pusing sekali. Aku ingin mati, tapi aku tidak ingin menyerah secepat ini. Aku tidak ingin meninggalkan Fawn karena demi Tuhan, aku hanya akan menjadi hantu yang bergentayangan mengejar bayangan Fawn. Aku tidak akan mati dengan tenang. Tidak sebelum aku mendekap gadis itu kembali.
Bahkan bila ia membenciku, aku tidak ingin kehilangan Fawn dari hidupku.
"Bos Ace," dari luar, aku mendengar suara Carcel menyapa.
"Ya," aku menanggapinya dengan suara berat terpaksa.
"Vera sudah bersama Fawn sekarang. Juga..., mereka sedang menuju rumah sakit tempat miss. Lilian berada. Rio mengawasi mereka."
"Hn, baiklah." aku menanggapi Carcel tanpa minat sama sekali.
Apa yang Fawn rasakan sekarang? Apa dia sangat senang sudah pergi dari hadapanku sekarang? Apa dia senang aku sudah hilang dari hadapannya, berhenti menjadi iblis yang memerangkapnya? Dia pasti bernapas sangat lega. Aku adalah kutukan di hidupnya. Aku yang salah di sini. Aku seharusnya tidak melukai dirinya yang begitu murni, begitu baik hati.
Saat aku termenung sendiri di kamar ini, aku teringat kembali pada hari kami pertama bertemu. Bagaimana aku menciptakan trauma di paras lugu itu. Membuatnya bergetar ketakutan di hadapanku. Aku ingat bagaimana aku melontarkan kata-kata kasar kepadanya tanpa pertimbangan pada hati rapuhnya. Jika aku berada di posisi Fawn pun, aku pasti akan membenci diriku sendiri.
Aku ingin dia membenciku--setidaknya dulu. Tapi, sekarang aku mengerti karma sudah menggigitku kembali. Memberikanku rasa sakit yang lebih menyakitkan daripada kematian. Sebuah kehilangan.
Fawnia, maafkan aku. Aku seharusnya tidak meremukkanmu ketika kau berada di genggamanku. Maafkan aku.
...----------------...
...NORMAL pov...
__ADS_1
...----------------...
Vera bersandar di depan pintu kamar seorang pasien yang merupakan ibu Fawn. Nama Lilian Alder tertera di kaki ranjangnya. Sementara Vera bersandar di sana, matanya menyorot kepada Fawnia yang sekarang memeluk ibunya dengan isakan yang belum reda.
Vera tidak tau bagaimana cara meredakan tangis seseorang, tidak tau cara menghibur pula. Ujung-ujungnya, Vera hanya berada di sana, menatap Fawn dengan keibaan seorang sahabat yang siap mengucapkan perpisahan.
Iya, cepat atau lambat, Vera akan pergi juga. Ia tidak boleh terlihat bersama Fawn adalah ucapan Rio di telinganya. Vera menyetujui perintah atasannya tersebut, tapi bukan berarti dia bisa pergi begitu saja dan meninggalkan Fawn tanpa kata. Vera ingin--setidaknya--sebentar saja ia bisa mengucapkan perpisahan kepada Fawn. Sosok yang sudah ia anggap sebagai sahabat.
"Vera," suara Rio kembali lagi menyapa kupingnya. Vera menghela napas.
"Ya, Rio."
"Anggara menuju ke arahmu, sudah saatnya kau pergi."
"Baiklah. Aku mengerti." Vera kembali membuang napasnya kasar.
Sudah saatnya untuk dia berpamitan. Kendati Fawn masih terbenam dalam kesedihan, Vera harus menyela kesedihannya dan mungkin--menambahkan luka pada gadis itu atas kepergiannya.
"Fawn," Vera menyapa Fawn yang memeluk lengan ibunya di sisi kanan ranjang besi itu. Fawn mengangkat wajahnya yang masih basah dan melirik kepada Vera. Hidung dan pipinya memerah.
"Sudah saatnya aku pergi," ujar Vera, lengannya berlabuh di pundak Fawn. Memberikan sahabatnya itu usapan ringan yang mengisyaratkan perpisahan dan selamat jalan. "Jaga dirimu, oke?"
Fawn meneguk ludahnya susah payah. Air mata kembali menumpuk di matanya, jatuh membasahi wajahnya.
"Jangan menangis, idiot. Kau sudah bebas sekarang." Vera memaksakan leluconnya. "Aku selalu ada untukmu, tau. Kau bisa menghubungiku kapan pun kalau kau butuh teman minum."
"Kau tidak melakukan kesalahan apa pun. Kau berhak mendapatkan kebebasan ini."
"Apa menurutmu dia akan baik-baik saja?" Fawn mengutarakan ketakutan yang sudah bersarang di dadanya semenjak ia meninggalkan mansion utama keluarga Hunter. Semenjak ia memalingkan wajahnya dari Ace, Fawn merasakan tangan dingin mencengkeram erat jantungnya. Menciptakan rasa sakit yang membuat napasnya tercekik.
"Dia akan baik-baik saja, percaya padaku." Vera melonggarkan dekapannya pada Fawn. "Kau tidak perlu mencemaskannya, cemaskan dirimu sekarang. Kau bebas sekarang, tapi itu tidak berarti kau akan aman. Tuan Jem--"
"Aku tau," Fawn memotong Vera dan menganggukkan kepala. "Aku tau."
"Sampai bertemu lagi sebagai sesama bodyguard, oke." Vera terkekeh pelan. Ia meninju lengan Fawn sebelum membalikkan badan. "Semoga saja kita tidak bertemu di medan pertempuran, Fawn."
Fawn--menanggapi ucapan Vera, mengangguk dengan nyeri yang kembali merayap di dada. "Aku menaruh harapan yang sama."
Karena sekarang ia akan berada di sisi yang berlawanan dengan Ace. Ia akan menjadi perisai keluarga Rashid, keluarga yang di mata Ace Hunter--keluarga yang harus ia rubuhkan. Jika Ace menghancurkan keluarga Anggara, itu sama saja artinya ia akan diseret jatuh juga.
...----------------...
Indira Rashid nyaris melompat dari kursinya saat dia mendengar kabar dari Anggara mengenai keberadaan Fawnia. cream di rotinya jatuh ke gaun putih yang ia kenakan karena ia mencengkeram roti itu terlampau kencang. Mata Indira dengan kilatan bahagia--terarah kepada Joseph yang berdiri di sampingnya.
"Anggara, apa kau serius?"
"Aku serius. Aku akan membawanya menemuimu hari ini." Anggara menanggapi Indira dengan senyuman terukir tipis di bibirnya. Ia bisa membayangkan kalau sekarang adiknya itu sedang berpesta dan menari dengan bahagia atas kabar yang baru saja ia sampaikan. Indira sangat mencintai Fawn dan itu adalah kewajaran bila ia menjadi sangat senang. Fawn sudah seperti saudara bagi Indira.
__ADS_1
Setelah bertukar kata pada Indira di telepon, Anggara memutuskan panggilannya dan beralih menatap kepada Fawn yang sekarang duduk di bangku ruang tunggu kamar ibunya. Koridor rumah sakit itu cukup sunyi, hanya ada Anggara bersama dua bodyguard yang ia bawa bersamanya.
"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana kau bisa selamat?" Anggara menghampiri Fawn dan menyerahkan sebotol air mineral. Gadis itu--sangat berbeda dari ingatannya, menjadi lebih sehat dari dirinya yang dulu.
Fawn di ingatan Anggara--memiliki postur tubuh seperti Indira, cukup kurus dan kecil. Tapi Fawn yang sekarang, dia terlihat cukup berisi dan lebih bagus seperti ini.
"A-aku melarikan diri." Fawn menanggapi sambil tersenyum.
"Kau menghilang selama 3 bulan lebih, bagaimana bisa kau melarikan diri--tidak, bagaimana bisa kau masih selamat selama 3 bulan? Katakan, siapa yang menyanderamu?"
"Huh?" Fawn kesulitan membuka mulut ketika cercaan Anggara membuatnya kebingungan. Kegundahan dan ketakutan berpadu-padan. Jika ia berkata jujur, ia akan membuat hubungan Anggara dan Ace berada dalam bahaya. Pertikaian antar keluarga dapat terjadi bila Anggara tau kalau keluarga Hunter berusaha menyakiti orang-orangnya. Hal itu adalah janji yang tidak boleh dilanggar sama sekali.
"Fawn?"
"A-aku..., aku melarikan diri di awal."
"Ya?"
"Aku melarikan diri dari sana, tapi...maafkan aku bos Angga, aku..., aku bertemu dengan teman lamaku dan pergi berlibur."
Itu kebohongan yang sangat tidak masuk akal. Tidak meyakinkan.
"Kau--kau yakin?" Anggara tidak mempercayai Fawn begitu saja. Wanita itu bertingkah aneh daripada biasanya. Dia menunduk dengan bola mata bergerak gelisah. Seakan ia sedang diburu oleh hantu.
"I-intinya, aku sudah di sini. Bos Anggara tidak perlu mencemaskanku lagi. Aku--, aku akan kembali bekerja seperti biasa."
"Kau bisa mengambil cuti kalau kau merasa tidak cukup baik. Kau sangat pucat, tau."
"..."
"Juga, apa kau ingat siapa yang menculikmu?"
Fawn mengangkat kepala, mata tertuju kepada Anggara yang menunggu jawabannya. Ia bisa mengatakan jawabannya, jujur dan membuat Ace hancur.
Tapi...
"Aku tidak mengenali siapa pun."
Fawn memilih berdusta. Ia menggelengkan kepala, mata kembali berkaca-kaca.
"Aku tidak mengingat situasinya dengan jelas." Fawn tidak ingin mengingatnya, tapi wajah Arcelio Hunter bersarang di benaknya seperti visual yang menyiksa. Ia bergidik seketika oleh pergerakan orang yang tiba-tiba. Fawn merasakan traumanya kembali merayap keluar di kulitnya, menyalakan alarm di inderanya. Ia menjadi sangat waspada.
Anggara memperhatikan Fawn, tau benar ada yang tidak beres terjadi pada wanita itu. Tapi, mengingat pengorbanan Fawn sejauh ini--Anggara tidak ingin menekannya, tidak ketika wanita itu seperti prajurit yang baru kembali dari perang. Ketakutan dan kengerian terpatri di matanya, seperti ia telah melihat kematian berulang kali.
"Tenangkan dirimu dan beristirahatlah." ujar Anggara. Keprihatinan terdengar di suaranya.
Fawn mengangguk.
__ADS_1
...----------------...