
...NORMAL pov...
...----------------...
Jika bukan karena Indira mengajaknya berdansa di depan Callum Rashid, Ace mungkin akan menolak tawaran gadis itu secepat dia membuka mulutnya. Sayangnya, karena si pemilik pesta--Callum--menatap mereka dan mempersilakan Ace agar pergi ke lantai dansa, Ace pun menurut suka tidak suka.
Dia masih paham etika, jujur saja, dan dia tidak mau menarik perhatian dengan muncul di halaman depan majalah sebagai perusak pesta.
Saat itu, selagi Ace mengiring Indira ke lantai dansa, sesekali si pria jangkung itu melirik ke belakang Indira. Kepada sosok Fawn yang demi Tuhan, terlihat sangat menggemaskan. Ace menahan dirinya untuk tidak melompat ke arah gadis itu dan memutarnya di udara, karena sialan..., dia sedang berada di sarang musuhnya. Ace berakhir hanya menatap Fawn sesekali, meneguk ludah dan menjerit di dalam pikirannya.
Fawn sangat menggemaskan di mata Ace, tidak peduli apa pun yang gadis itu lakukan. Hanya berdiri dengan wajah bosan pun Fawn tetap terlihat memikat daripada setiap gadis yang sudah menyelipkan nomor ponsel mereka di jas hitam Ace. Sialan, mereka mengotori kantong jasnya dengan note tidak berguna itu. Ace tidak tertarik pada siapa pun, asal tau saja. Tidak terkecuali gadis yang sedang menatap ke arahnya dan sesekali membuang muka dengan kegelisahan kentara.
Apa Fawn gugup berada di dekatnya?
Ace ingat saat pertama kali masuk tadi, iris cokelat itu berlarian menatap kiri-kanan, menghindari tatapan Ace yang jelas-jelas jatuh ke arahnya.
Kendati Fawn menolak menatapnya saat itu, Ace merasa sangat senang sudah bisa melihat Fawn lagi. Melihat sikap canggungnya, melihat ekspresi bimbangnya. Ace merasa jantungnya berdebar luar biasa pada keberadaan Fawn di seberang lantai dansa. Menatapnya, mata menyiratkan ketidaksukaan kentara.
Dia pasti masih marah padaku, pikir Ace. Tidak tau alasannya adalah karena gadis yang sedang berada di dekapannya.
"Kau jadi pendiam, Ace. Apa terjadi sesuatu?" Indira bertanya sambil menjinjitkan kakinya. Ia berbisik di kuping Ace. "Apa kau melihat Evan?"
"Apa ini tujuanmu mengajakku berdansa?" Ace menimpali dengan senyum remeh. "Kau menyedihkan Indira."
"Aku melakukan ini untuk balas dendam. Kau tau dia sangat membencimu, kan? Hanya dengan ini aku bisa membuatnya sangat iritasi."
"Balas dendam hmm?" Ace tidak tertarik sama sekali. Dia lebih berminat kepada Fawn yang sekarang--oh, kenapa Margot di sana?
"Indira," Ace menunduk ke wajah Indira. Gadis itu tersenyum lebar seolah-olah Ace adalah dunianya. Sungguh rubah manipulatif. Ace memaksakan senyuman mekar di wajahnya juga. Jika Indira ingin bermain, maka ia akan menemani gadis itu mementaskan dramanya sebaik mungkin. Tidak ada yang salah selama tujuan mereka sama, yaitu membuat Evan Caspian kebakaran.
"Ada apa?" tanya Indira.
"Aku lihat bodyguard-mu tercinta sudah kembali. Apa itu alasan kau seriang sekarang?"
"Kau bisa mengatakannya seperti itu. Dia sudah seperti saudara bagiku. Melihat dia baik-baik saja, aku tidak bisa tidak bahagia."
"Hnnn, jadi, apa kau tau kemana dia pergi?"
"Ah, aku ingin menanyakan ini juga..." Indira berputar sekali sebelum jatuh ke dekapan Ace. "Apa kau benar-benar tidak bisa menemukannya selama ini?"
Ace mengangkat bahu. Pura-pura tolol.
"Uh, sangat aneh. Aku rasa Fawn masih menyembunyikan sesuatu di belakangku."
"Apa yang terjadi memangnya?"
"Ini hanya firasatku tapi..., kurasa, sesuatu terjadi selama Fawn melakukan tugas yang Anggara berikan. Dia terlihat sangat uring-uringan. Aku mencoba mencaritahu, tapi dia selalu mengatakan dia baik-baik saja."
__ADS_1
Huh, begitukah?
Ace menggigit bibir bawahnya, kendati ia mencemaskan kondisi Fawn, ia merasa jahat sudah tersenyum saat mendengar ucapan Indira. Itu artinya Fawn masih memikirkannya, kan? Gadis itu masih belum lepas sepenuhnya dari genggamannya. Masih ada peluang untuk menangkapnya kembali. Memilikinya dengan benar. Kali ini tanpa pernah melepaskannya lagi.
"Indira..."
"Ya..."
"Aku akan menghancurkan Evan Caspian."
"Apa kau serius akan melakukan itu?"
"Aku memberitahu informasi ini padamu agar kau bisa menyelamatkan dirimu lebih awal."
"Kenapa?" gumam Indira bingung. Dia tidak bingung menyangkut tujuan Ace yang berusaha menghancurkan Evan, Indira tidak mengerti mengapa Ace memperlakukannya dengan baik? Mengapa Ace berusaha menyelamatkannya?
"Anggap saja balas budiku pada kebaikanmu selama ini." Lebih tepatnya, karena Indira sudah memperlakukan Fawn dengan baik dan istimewa.
"Apa tidak ada jalan keluar lain dari konflik kalian?"
"Ada, jika Evan Caspian berhasil membangkitkan kedua orangtuaku dari tanah, aku mungkin akan memaafkannya." Ace berucap sambil menatap interaksi Margot dan Fawn.
Sesuatu yang Margot katakan membuat kening Fawn bertaut tajam. Ace tidak tau apa yang mereka bicarakan, tapi bila itu Margot, Ace tau kalau tidak ada sesuatu yang saudaranya itu lakukan tanpa perhitungan sebelumnya. Dia pasti sudah mengatakan sesuatu yang berlebihan sampai Fawn menunjukkan amarah yang kentara.
"Aku pikir cukup sampai di sini." Ace mundur dari dansanya dan menghampiri Margot yang menyeringai menyapanya.
"Halo, adikku. Tarian yang bagus di sana."
"Apa yang kau katakan pada Fawn?" Ace mencecar Margot dengan mata berkilat kejam.
"Tidak ada. Aku hanya menyapanya."
"Kau membuatnya marah, Margareth!" Ace berucap penuh penekanan. Matanya sekali lagi bergerilya menyusuri ruang aula yang ramai tersebut. Ia mencari Fawn, berusaha menemukan gadis itu yang--sialan, siapa keparat yang berani-beraninya menyentuh pundak Fawn tersebut?
Oh, itu pengawal Indira? Seseorang dari pihak Evan..., apa yang dia mau dari Fawn?!
"Orang-orang malam ini sangat pandai dalam menguji kesabaranku," Ace bermonolog sambil menepis lengan Margot. Dia melirik saudaranya itu sekilas--sebelum berlalu menyusul Fawn yang menghilang dari balik tirai.
"Ace, kau akan kemana?" Margot berusaha menahannya.
"Bukan urusanmu."
...----------------...
Hanya ketika ia berhasil menemukan Fawn, berbicara dengan Fawn dan sekali lagi merasakan halus kulit itu di ujung jemarinya, hanya saat itulah Ace merasa segala kesialan yang ia alami malam ini tidak seberapa. Ia bisa mengalami situasi yang sama berulang-ulang bila itu artinya dia dapat merasakan Fawn sangat dekat padanya, dapat menghirup aroma gadis itu di dekatnya, merasakan panas tubuhnya walau itu tak bertahan lama.
Di dalam ruangan tak terpakai itu, setelah Fawn pergi..., Ace merasakan kehampaan kembali menjalar di ruang hatinya. Ia menghela napas panjang dengan tekanan berat yang kembali menghantam kepalanya.
__ADS_1
Menerima maaf dari Fawn adalah hal yang sangat sulit untuk Ace dapatkan. Tidak peduli betapa banyak ia meratapkan penyesalan, pada akhirnya, apa yang sudah ia lakukan di awal pertemuan mereka adalah sebuah kutukan yang tak termaafkan.
Ia sudah menodai Fawn, memanfaatkan gadis itu sebagai alat pelampiasan gairahnya, memakinya, merendahkannya..., menanamkan ketakutan di tubuhnya, dan ada lebih banyak hal lagi yang jika Ace memerinci segala dosanya, ia akan mampu menulis berjilid-jilid buku hanya tentang itu.
Ace tau dia bersalah, dia tidak pantas hidup dengan kesalahan yang sudah dia ciptakan...tapi, tapi entah bagaimana dia masih mengharapkan Fawn untuk kembali menatapnya. Ia tau gadis itu memiliki rasa yang sama padanya. Ini bukan halusinasi belaka. Ace..., Ace percaya diri kalau Fawn menginginkannya sebanyak ia menginginkan gadis itu.
Akan tetapi..., kesalahannya di masa lampau telah menjadi penghalang dalam hubungan ini.
Juga Evan Caspian, si keparat Evan Caspian!
"Apa yang harus kulakukan agar kau mau menerimaku, Fawnia?" Ace menatap rembulan dari jendela ruangan itu yang terbuka. Angin malam meniupkan tirai jendela, Ace berdiri di dekatnya dengan mata sendu yang menyiratkan rindu.
...----------------...
"Vera?" Adalah pekikan Fawn saat dia menyadari siapa gerangan sosok yang ia tabrak. Matanya menatap ke arah sahabatnya itu dengan alis bertaut penuh kecurigaan. Di belakang Vera, Anggara muncul sambil menjalin dasinya. Pria itu menatap Fawn dengan sepasang mata membola terpana.
"Fawn?"
"B-bos Angga..." bibir Fawn kering. "A-apa yang kalian lakukan di-di sini...hahaha?" Tawa Fawn mekar dengan garingnya.
"Aku..., ah," Anggara mendorong Vera agar keluar dari sana duluan. Vera mengikuti perintah pria itu dengan mata terpaut pada Fawn, penuh peringatan yang seolah bicara : Jangan bilang kita kenal!
"Fawn," panggil Anggara, menarik perhatian Fawn yang sekarang bersemu merah.
Dia sudah bisa merangkai hubungan macam apa yang terjalin di antara Anggara dan Vera, dan itu membuat Fawn malu luar biasa. Ia merasa sudah menyaksikan sesuatu yang sangat-sangat salah.
"Aku hanya akan menyampaikan ini padamu," ujar Anggara. "Lupakan apa yang kau lihat sekarang dan kembali dampingi Indira."
"Baik tuan Angga."
Fawn menganggukkan kepala dalam-dalam sebelum berlari di koridor sunyi itu. Setelah ia berhasil kembali ke keramaian tanpa kepala yang berpisah dari badan, Fawn melirik Vera yang sekarang berdiri di dekat dinding. Fawn mengambil langkah lebar ke arah gadis itu dengan senyum lebar ambigu. Vera menyambut kedatangan Fawn dengan menghadap tembok.
"Veraaaa,"
"Shuuush, Fawn..." Vera berbalik dan menatap Fawn penuh peringatan. "Bos Ace memerintahkan kami agar bersikap seperti tidak mengenalmu."
"Oh?"
"Aku akan menjelaskan situasinya nanti, pokoknya..., kembali ke posmu sebelum ada yang curiga, oke?"
"O-keii..." Fawn memutar langkahnya dengan rela tidak rela. Dia masih mau berbicara dengan Vera, tapi menilai situasinya, dia tidak mau Vera menerima amukan Ace di rumah. Oh, bicara soal Ace...
Fawn melirik kepada lorong tempatnya menghilang tadi. Ace muncul dari sana dengan ekspresi dingin yang membuat orang-orang menarik langkah mundur menjauhinya. Fawn menatap kepada sosok itu dengan seulas senyum miris.
Arcelio Hunter, apa yang harus kulakukan padamu? Fawn bertanya-tanya seperti itu dengan senyum kecut terukir di parasnya yang kaku.
Ia merindukan Ace, jujur saja.
__ADS_1
Tapi ia tidak bisa menemukan akhir bahagia dari relasi buruk ini? Tidak setelah apa yang terjadi.
...----------------...