DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
121. EKSPERIMEN


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


Ruang kerja Evan Caspian bukanlah tempat yang menyimpan kenangan baik di benak Anggara. Sudah beberapa kali ia dan si tunggal Caspian saling beradu tinju di tempat itu, saling mengadu kekuatan dan dominan walau pada akhirnya Anggara lah yang akan mengalah.


Anggara harus mengalah karena tidak seperti Evan, Anggara masih mempunyai kelemahan yang harus ia pikirkan dan pedulikan. Keluarganya dan Indira adalah hal yang membuat Anggara masih menahan diri untuk tidak menghancurkan rahang si tunggal Caspian itu. Anggara tidak bisa bertindak gegabah, tidak ketika keluarganya berada di pihak yang lemah.


Hari ini lagi, ketika Evan memanggilnya, Anggara yang menapak di ruang kerja Evan merasa aura mencekam muncul di sana. Mengingatkannya kali terakhir ia bertemu Evan, ia bertengkar lantaran pria itu mengonfrontasinya tentang Vera.


"Ada apa?" Anggara bertanya. Ia merasa sudah melakukan kesalahan untuk kesekian kalinya dan Evan ada di sini untuk menghukumnya.


"Kau terlihat tenang, Angga." Evan yang saat itu berdiri menghadap lemari bukunya, menoleh. Ia menaruh buku yang ia baca kembali ke tempatnya sebelum berbalik menghadap Anggara sepenuhnya. "Kau terlihat tenang untuk orang yang sudah berani membantahku."


Apa lagi sekarang? Anggara mengerang bosan.


"Tidak ada alasan untuk aku takut padamu." Anggara membual.


"Katakan itu pada Indira," balas Evan sebelum melenggang menuju sofa maroon yang terpajang elegan di tengah ruang kerjanya. Melihat Evan memilih duduk alih-alih memukulnya, Anggara mengira tidak akan ada baku hantam hari ini. Anggara merasa lega, tapi disaat bersamaan--waspada.


"Kau harus berhenti membawa nama adikku di sini." Anggara menyusul Evan dan duduk di sofa. "Kau pikir mengancamku terus-menerus seperti itu akan membuatku patuh padamu?"


"Tentu saja tidak," balas Evan. "Kalau mengancammu dengan Indira cukup. Kau tidak akan menemui wanita murahan itu..."


"Apa kau menanam GPS di b*kongku?" Anggara mulai risih atas sikap sangat mengontrol yang terus Evan berikan. "Aku bilang aku akan mengurusnya, kau tidak perlu ikut campur."


"Mengurusnya maksudmu tetap memeliharanya sebagai peliharaan. Aku memintamu membunuhnya, Angga. Bukan menjadikannya alat pemuasmu."


"Jangan..." Anggara mengangkat telunjuknya, memperingati Evan agar tidak lancang. "Apa pun yang terjadi di antara aku dan Vera, itu bukan urusanmu sama sekali."


"Salah. Apa pun yang terjadi padamu adalah urusanku. Kau sepertinya tidak cukup cermat untuk memahami situasimu, Anggara. Kau adalah musuh dari Ace Hunter. Kau seharusnya fokus pada hal itu dan bukan menaruh minat kepada bawahannya! Apa kau sangat tolol?!"


"Seperti yang kubilang, pekerjaan adalah pekerjaan..."


"Katakan itu kepada kakiku," tukas Evan. "Ace tidak peduli apakah kau sedang bekerja atau tidak untuk membunuhmu, Angga. Nyawamu tidak terbagi dua antara jam kerja dan jam istirahat. Demi Tuhan!"


"Kalau begitu, biarkan aku memikirkan urusanku sendiri." Anggara lelah dengan Evan yang selalu ingin mencampuri urusannya. Bahkan bila Vera akan membunuhnya, Anggara akan menangani sendiri keputusannya. Ia tidak butuh Evan menjadi otak keduanya.


"Kau membuatku frustasi, Angga." Evan memijit keningnya.

__ADS_1


"Kau sama," jawab Anggara.


"Baiklah, bagaimana aku ubah narasiku..." Evan menarik napas sebentar dan mengembuskannya panjang. Bicara dengan Anggara membuat seluruh ototnya tegang dan ia merasa seperti terhimpit batu. "Dengar, Anggara..., sepertinya kau lupa posisimu di mana jadi aku akan menjelaskannya ulang. Tinggalkan simpananmu itu dan fokuslah bekerja denganku."


"Tidak."


"Haaah, kenapa kau sangat percaya diri?" Evan mengerutkan dahi. "Apa kau lupa aku memiliki Indira di tanganku, aku mempunyai kekuatan untuk membantai habis garis keluarga Rashid, Anggara."


"Aku percaya kau punya kekuatan yang mampu untuk melakukan itu," balas Anggara. "Akan tetapi, aku juga percaya kau tidak akan melakukan hal gegabah dan sejauh itu. Kau masih membutuhkan keluarga Rashid, Evan."


"Apa kau pikir aku tidak berani menyakitimu?" tanya Evan, kakinya tersilang.


"Kau mampu melakukannya," Anggara yakin Evan mampu membuatnya berlutut di kaki pria itu. Akan tetapi, Anggara hanya merasa untuk tidak menuruti Evan sekarang. Tidak, ia tidak mau membuat Evan merasa di atas awan karena sudah mempunyai kontrol atas dirinya. Anggara mau membuat Evan selalu mempunyai keraguan di dalam hatinya, takut-takut dalam memanfaatkannya.


"Jadi kau tetap tidak akan mematuhiku kalaupun kau tau aku mampu melukaimu?"


"Aku akan menurutimu pada batasan tertentu. Relasi pribadiku tidak memiliki kaitan padamu."


"Wah, kau benar-benar percaya pada wanita murahan itu."


"Vera dan aku," tegas Anggara. "Kami menjalin hubungan yang terbuka. Pekerjaan kami tidak ada kaitannya sama sekali. Kau mungkin waspada karena itu adalah hakmu untuk meragu, tapi..., aku akan menjelaskan ini padamu lagi, Vera adalah orang yang bisa kau percaya. Dia mungkin loyal pada Ace, tapi dia tidak menggabungkan pekerjaannya dengan kehidupan pribadinya."


"Aku tidak percaya aku mendengar omong kosong ini," Evan bergumam pada dirinya sendiri. Tidak peduli berapa kali ia meyakinkan Anggara tentang probabilitas Ace memanipulasinya, atau bahayanya seorang Vera, Anggara tidak akan mendengarkannya. Anggara lebih mempercayai penilaiannya daripada penilaian Evan dan itu menjengkelkan.


"Terserahlah," Evan memutar mata. "Kau tidak akan mengubah penilaianmu sama sekali, kan?"


"Benar." Anggara mengangguk. "Aku akan selalu menurutimu, Evan, selama itu berkaitan dengan pekerjaan. Vera adalah masalah pribadiku."


Evan bersandar di bahu sofa, surai ikalnya bertiup lembut ketika angin masuk melalui jendela balkon. "Baiklah, jika begitu..., aku akan menanyaimu masalah pekerjaan..."


"..."


"Selama kau melakukan pendekatan dengan Margareth yang tentunya gagal total karena kau tidak bisa membuktikan dirimu berguna--"


"Apa kau ingin bertanya atau mau menghinaku? Aku sudah bilang dari awal mendekati Margot adalah kegilaan lain."


"Kegagalan adalah kegagalan," tukas Evan. "Lupakan saja, aku mempunyai hal yang perlu kuketahui. Apa selama kau dekat dengan Margareth, kau mendengarkan tentang seorang perempuan yang mungkin saja..., dekat dengan Ace?"


"Hah?"

__ADS_1


Evan mengungkit tentang perbincangannya dengan Jem. Tentang sosok misterius yang berhasil membuat Ace kehilangan kendali atas emosinya sendiri, membuat Ace menjadi gila dan hampir membunuh Jem karena berani menyentuh sosok itu. Evan sudah melakukan penelitian tersendiri, tapi karena lamanya penyelidikan itu berlangsung, Evan ingin mendengar pendapat Anggara dulu. Barangkali ada sesuatu yang terlewat di mata mereka.


"Aku tidak mengingat apa pun...," Anggara menggeleng kemudian.


"Tidak mengejutkan, fokusmu pasti kepada bodyguard Margareth, kan? Sungguh tidak berguna."


"Kalau kau merasa kau mampu mengungkit sesuatu keluar dari mulut seorang Margareth, Evan. Maka kupersilakan kau mencoba. Wanita itu 100 persen gila."


"Bagaimana dengan wanitamu itu? Apa dia tidak bicara apa-apa tentang Ace?"


Anggara hening sebentar. Ia berusaha menggali informasi apa pun menyangkut konversasinya dan Vera. Namun, seperti yang ia pikirkan, nihil. "Tidak ada. Aku dan Vera tidak membahas pekerjaan kami sama sekali."


"Membosankan," Evan mendecih, meremehkan kapasitas otak Anggara dan kemampuannya yang sudah mengecewakan Evan berulang-ulang.


"Lupakan saja, kau boleh pergi."


"Sebentar, kenapa kau mau tau masalah itu? Apa kau pikir..."


"Jangan ikut campur." potong Evan. "Aku akan memanggilmu ketika aku merasa kau perlu."


Setelah ucapannya dipotong kasar oleh Evan, Anggara menelan segala keingintahuannya dan berlalu dari sana. Sudah tidak ada gunanya memaksakan Evan bicara. Pria itu menjengkelkan dan memuakkan, Anggara berpikir bila ia terus mendengar hinaan Evan terhadapnya, ia mungkin bisa meledak dan menghancurkan wajah arogan itu. Memuakkan!


Di saat Anggara menapak keluar dari ruang kerja Evan, saat itu juga Rishan yang berjaga di luar menapak masuk ke dalam ruang kerja Evan. Rishan, asisten pribadi Evan hendak membersihkan meja dari cangkir teh dingin yang tidak disentuh oleh Anggara maupun tuannya. Rishan memantau ekspresi kelam Evan, bertanya-tanya apa yang tuannya pikirkan.


Hingga akhirnya, Evan bersuara.


"Rishan," panggilnya. Mata masih terpaku pada kukunya sendiri.


"Ada apa, bos Evan?"


"Saatnya bermain dengan serius." Evan tersenyum miring.


"Y-ya?"


"Tangkap Vera." perintah Evan dengan tenang. "Tangkap wanita itu dan kurung dia di ruang bawah tanah kita."


"T-tapi bos Evan? Untuk apa?"


"Aku punya eksperimen," jawab Evan.

__ADS_1


Eksperimen yang cukup menyenangkan.


...----------------...


__ADS_2