DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
70. TIBA-TIBA SAJA


__ADS_3

...ACE pov...


...----------------...


Jeremy Emery--adik Jem muncul di depanku hari ini. Sebuah ketidak-sengajaan karena kami makan siang di restoran yang sama. Jeremy--anak muda manis dengan lesung pipi itu menghampiriku dan bergabung di mejaku.


"Aku sudah lama tidak bertemu dengan kak Ace." katanya, sangat ramah seperti biasa. Jeremy 4 tahun lebih muda dariku, tapi itu tidak menciptakan kecanggungan di antara kami. Jeremy terlihat lebih dewasa daripada usianya, dan dia juga berwawasan luas. Aku cukup senang bisa bertemu dengannya.


"Kau pulang dan tidak mengunjungiku sama sekali, aku kecewa." Aku membuat lelucon, tapi Jeremy malah mencibir.


"Don't play with me. Aku tau kakak sangat sibuk, makanya aku tidak mau merusuh."


"Kedatanganmu tidak akan membuatku kerepotan." Aku serius.


"Aku akan datang kalau gitu, nanti. Apa aku harus membawa bingkisan untuk kak Margot?" Jeremy memiringkan kepala. Sepasang mata polosnya membuatku tertawa.


"Jangan merepotkan dirimu sendiri. Kedatanganmu saja sudah cukup menyenangkan Margot."


Jeremy manyun. "Bagaimana pekerjaan, kak Ace? Aku perhatikan--Diamond menjadi sangat sibuk belakangan, apa ini ada kaitannya dengan kak Evan yang merging dengan Spades?"


"Kau bicara bisnis sekarang?"


"Awww, aku harus belajar." Jeremy lalu tertawa. Lesung pipinya menyusut dalam, mengingatkanku pada lesung pipi Fawn yang tipis. "Bagaimanapun, aku sudah 23 tahun."


"Apa ini artinya kau akan mengambil posisi Jem?" Aku mengejeknya, dan senyum Jeremy seketika memudar samar. Ia menggaruk tengkuknya dan tampak berpikir untuk sementara.


"Kau tidak perlu menjawabku, kau tau." Aku tidak mau tau juga.


"Bukan begitu, kak. Aku hanya tidak tau cara menyusun katanya. Tapi, antara aku dan Jem--aku tidak begitu terobsesi memimpin Hearts. Aku pikir aku mampu memulai sendiri dari awal kalau aku mau, begitu? Tapi masalah Hearts bukan cuma antara aku dan Jem saja, kan? Nenek juga terlibat dan aku harus memikirkan para pekerjadi Hearts juga. Itu sangat rumit dan melelahkan."


Apa yang Jeremy katakan, aku percaya apa yang dia katakan adalah kebenaran. Jeremy adalah anak muda dengan potensi yang berlimpah. Dia tau dia memiliki potensi itu dan aku tau dia bisa menjadi apa saja yang dia inginkan. Dia sangat pandai, aku akan mendukung jalan mana saja yang ia kehendaki.


"Cara berpikirmu yang seperti itu yang membuat orang-orang tidak mau melepaskanmu." Aku menenggak air mineral di gelas.


Jika Jem mengutamakan kekuasaan, Jeremy memikirkan pilihan terbaik untuk semua orang. Dia sangat brilian dan penuh empati. Tapi aku percaya, di balik manis lesung pipi itu, dia bukan anak laki-laki yang gampang kau tumbangkan karena kenaifan dan tinggi empatinya. Dalam kata lain, dia mendeskripsikan pemimpin Hearts yang sesungguhnya.


"Aku ingin menjadi seperti kak Ace saja. Sepertinya lebih seru, kan?"


"Apa yang seru dari menjadi musuh semua orang? Apa kau tau berapa kali aku menghadapi percobaan pembunuhan dalam tahun ini sendiri?" Jika aku bisa memilih kehidupan lain, aku lebih memilih menjadi pria biasa-biasa saja.

__ADS_1


"Kalau itu Jem juga sama saja. Maksudku, aku mau seperti kak Ace yang cuek, keren dan hebat. Teman-teman perempuanku banyak yang mengidolakan kak Ace, tapi mereka pikir menggapai kak Ace pasti sesulit menggapai langit. Ah, bayangkan aku dirumorkan begitu?"


"Kau akan menjomblo seumur hidup karena orang menyeganimu, apa itu maumu?"


Jeremy lagi-lagi tertawa. "Apa itu alasan kak Ace belum berpacaran?"


"Tidak, tidak juga." Senyumku mengembang tanpa bisa kutahan. Bagaimana mengatakannya, meskipun aku tidak mempunyai ikatan pada wanita mana pun, aku mempunyai seseorang yang sangat ingin kutemui ketika pulang. Seseorang yang lebih berharga dari segala label yang ada--kekasih atau pacar--Fawn memiliki nilai yang lebih tinggi dari itu semua.


"Ah, sepertinya kakak sedang memikirkan seseorang..." Jeremy kembali bicara. Sepasang bola matanya berkilat jenaka, menggodaku dengan bibir yang jatuh terbuka. "Apakah kakak sudah punya pacar yang tidak kuketahui sama sekali?"


Aku seketika menggelengkan kepala. Tidak, Fawn bukan pacarku..., lebih dari itu...


dia adalah rumahku.


...----------------...


"Apa ini?" Fawn menyambut tas yang kuulurkan dengan sepasang mata yang melebar heran.


"Buka saja," kataku lalu meninggalkannya menuju lemari pakaian. Aku melepas dasiku sementara memperhatikan dia mengeluarkan sekotak cokelat mahal yang kubelikan khusus untuknya. Kata Jeremy, cokelat itu sedang digandrungi oleh banyak perempuan.


"Waaaah, cokelat." suara Fawn mekar dengan antusias di kamarku yang sunyi. Aku selalu senang bagaimana dia mampu membuat ruangan yang dulunya sunyi dan terasa seperti mati, berubah menjadi sehangat mentari pagi lantaran keberadaannya.


"Apa kau tolol?" Memangnya untuk siapa lagi?


"Tsk." Fawn merengut, tapi itu tidak bertahan lama karena dia langsung menuju sofa--spot favorite-nya. Dia membuka pita yang menyegel kotak tersebut sebelum membuka tutupnya yang berkemasan semewah kotak perhiasan. "Aaaaaah, aromanya sedap sekali."


"Aku takjub dengan kecintaanmu pada makanan." Aku mengomentarinya setelah mengganti kemejaku dengan sebuah kaos hitam tanpa lengan. Aku menjatuhkan punggungku di sebelahnya, bersandar di sofa sementara kakiku lurus di atas meja.


Fawn memperhatikanku sebentar, menghakimi gesturku dengan sepasang bola matanya yang selalu jujur--sebelum memindah kotak cokelatnya dari atas meja ke pangkuan.


"Dasar tidak punya etika," dia bicara pada dirinya sendiri.


"Ini rumahku, kenapa aku harus memikirkan etika?"


"Apa kau juga menaruh segala adab dan moral yang kau pelajari di rak sepatu sebelum masuk?"


Selalu pandai menjawab. Benar-benar menggemaskan.


"Berikan aku satu.." malas mendebat Fawn, aku menarik pundaknya yang membelakangiku. Aku duduk di sofa ini bukan untuk melihat punggungnya. Gadis ini sungguh pandai membuatku frustasi.

__ADS_1


"Kenapa kau selalu menginginkan makananku? Apa kau tidak bisa membeli sendiri?"


"Aku membeli itu untuk kita berdua."


"Menyebalkan." Meskipun keberatan, Fawn menyodorkan kotak cokelat itu kepadaku. Tangannya terulur di udara dan aku tidak menyambut itu sama sekali.


"Aku sedang malas menggunakan tanganku." kataku, sengaja manja.


"Menjengkelkan. Kalau kau tidak bisa melakukan sesuatu untuk dirimu sendiri, jangan mengharapkan orang lain melakukannya untukmu." Meskipun Fawn mengomel, aku tetap mendapatkan seiris cokelat. Dia menyodorkan garpu kecil dengan cokelat itu ke arahku dengan pipi menggembung lucu.


"Mhmmm, ini enak." Aku mengomentarinya berlebihan. Tentu saja, aku tidak merasa ada yang berbeda dari cokelat itu dan cokelat lainnya. Aku tidak mengerti mengapa cokelat ini berharga sangat mahal di bandingkan gaji para karyawanku.


"Kau sengaja menyiksaku, kan?" Fawn menatapku dengan raut bosan.


"Kapan aku menyiksamu?"


"Sekarang ini adalah contohnya," sahut Fawn.


"Daripada menyebutnya sebagai siksaan, bagaimana melihatnya sebagai godaan?"


"Haaaaah?" Fawn berjengit dengan suara yang meninggi iritasi. "Menggoda dengkulku. Untuk apa kau menggodaku, sialan?"


"Untuk menarik perhatianmu, begitu?"


"Lalu kenapa kau perlu menarik perhatianku?" Fawn--dengan cengiran dipaksakan, lesung pipi yang samar dan mata yang melengkung seperti bulan sabit--menghadapku.


"Karena aku menyukaimu."


"..."


"..."


Aku menatap Fawn tepat di mata. Tepat kepada sepasang pupilnya yang melebar terpana. Sebuah cengiran yang bermain di wajahnya memudar tergantikan oleh kegugupan yang kentara. Dia jelas sekali berusaha menepis ucapanku dengan menganggap itu palsu. Tapi sebelum dia mengatakan apa pun dan mengganti maksudku sebagai sebuah lelucon, aku menyelanya sekali lagi dan menangkap pergelangan tangannya ke pangkuanku.


"Aku menyukaimu, Fawnia."


Ini adalah pengakuan dariku yang sudah melakukan banyak dosa kepadamu. Aku tidak berharap apa-apa atas pengakuanku, hanya...


Jangan pergi saja.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2