
...FAWN pov...
...----------------...
"Persiapannya sudah selesai," kata Aidan. Aku memperhatikan pria bersurai hitam panjang itu menghampiriku. Dia adalah atasanku--setidaknya dari pihak keluarga Caspian--pria yang setahun lebih muda dariku ini memiliki posisi yang cukup tinggi. Dia adalah kepala bodyguard nona Indira dan merupakan salah seorang kepercayaan tuan Evan.
"Mmm, aku akan menjemput nona Indira kalau begitu." Aku menanggapi santai.
Hari ini, hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Hari ketika tuan Callum Rashid merayakan ulang tahunnya. Di ballroom hotel yang mampu memuat beribu tamu itu, aku mencari wajah nona Indira. Hendak menyampaikan pesan kepadanya kalau tamu-tamu sudah berdatangan di lobi hotel.
Adalah tugas nona Indira menyambut para tamu yang datang--mengingat bos Angga belum menampakkan batang hidungnya. Tuan Callum juga belum turun dari kamarnya sama sekali. Apa dia berharap orang meniup lilin tanpa dirinya?
Sial, kenapa aku jadi mendumel di kepalaku sendiri?
"Joseph, apa kau melihat nona Indi?" Aku berbicara melalui radio.
"Bos Indira sedang berdiskusi dengan tuan Evram di dekat meja resepsi."
"Katakan padanya, keluarga Caspian sedang menuju kemari." Aku tidak tau siapa itu tuan Evram, tapi kurasa dia tidak cukup penting dibandingkan keberadaan mertua nona Indira yang akan bergabung di pesta ini.
"Kami menuju ke arahmu sekarang," Joseph meresponku tak berselang lama kemudian.
Aku menyunggingkan senyuman tipis kepada sosok nona Indira yang tertangkap indera penglihatanku. Dia sangat jelita dalam balutan gaun berwarna biru muda itu. Tubuh pucat dan rampingnya seperti fatamorgana. Tuan Evan pasti bangga mempunyai nona Indira sebagai istrinya.
Si bajingan beruntung itu.
Sialan, aku jadi teringat pada ulah tuan Evan yang kemungkinan akan menjadi alasan karamnya keindahan dan keasrian kehidupan yang sedang nona Indira tapaki sekarang. Evan yang sudah mengacau kehidupan Ace akan mendapatkan balasan yang mengerikan. Aku tau itu karena aku kenal Ace, tidak hanya Ace, aku juga mengenal nona Margot.
Mereka yang sekarang berbahagia di atas kedukaan dan dendam nona Margot akan menari dalam kobaran api.
Aku bisa melihat ruangan indah dengan tirai dan pita mahal menggantung di sana-sini itu terbakar hangus. Aku bisa melihat senyuman nona Indira yang menyapa keluarga Caspian pudar menjadi mimpi buruk. Senyuman yang keluarga besar Caspian tunjukkan juga, aku bertanya-tanya seberapa keras mereka memalsukan ekspresi itu?
Pasti sulit tersenyum ketika pijakanmu hampir runtuh akibat keluarga Hunter yang menaruh tombak di belakang lehermu.
"Fawn," Aidan menegurku lagi. Si keparat ini.
"Ada apa?" Aku menoleh dengan kening bertaut.
"Apa maksudmu ada apa? Apa kau lupa peraturan yang dibuat bos Evan tadi?"
Ah...aturan? Benar juga.
Dengan senyum kecut, aku segera menyusul nona Indira ke tengah aula yang di isi oleh tamu-tamu berdatangan. Aku yang mengenakan jas hitam murah ini terlihat sangat tidak cocok berdiri di belakang nona Indira dan di antara para tamu yang berkilauan jelita. Rasanya seperti salah tempat!
'Sialan, sialan, sialan!' Aku mengutuk diriku sendiri saat mata salah satu tamu jatuh kepadaku.
Heran ya, kenapa bodyguard yang biasanya diposkan di luar aula sekarang berkeliaran di lantai pesta seperti bisul di mata?
Semua ini peraturan yang dibuat Evan Caspian saat briefing tadi.
Karena insiden tentang upaya penembakan nona Indira belum terungkap--yang mana aku tau jelas siapa pelakunya tapi aku tidak bisa mengatakan apa-apa, terima kasih kepada Ace--, tuan Evan membuat kami para bodyguard nona Indira agar mengekori istrinya sepanjang pesta. Aku terutama--diingatkan agar tidak terlalu jauh dari Indira. Alasan hanya aku adalah karena nona Indira sangat nyaman padaku. Aidan, Joseph dan beberapa bodyguard lain membaur di dekat nona Indira dalam radius 3 meter.
Sangat merepotkan, bukan? Ya, tapi hanya ini cara agar nona Indira aman.
__ADS_1
Maaf mengecewakanmu tuan Evan, tapi target Ace sejak awal adalah Joseph. Kau hanya salah paham!
Andai saja aku bisa mengatakan itu, ya?
"Senang bisa melihatmu kembali, Indira. Kau semakin cantik saja." seorang tamu wanita datang dan memeluk nona Indira. "Aku pikir aku tidak akan pernah melihatmu lagi karena kau menghilang setelah pernikahanmu."
"Ohh, mana mungkin. Aku hanya beristirahat, Hesa."
Situasi itu bisa saja terjadi nanti--ketika perang dingin antara Evan Caspian dan Ace menjadi terang-terangan. Tidak menutup kemungkinan, Evan Caspian akan menyembunyikan istrinya di pulau tak berpenghuni. Ah, mungkin sebelum itu terjadi, bos Anggara akan melakukan hal tersebut duluan. Mereka kan sangat obsesif dan protektif pada keselamatan nona Indira.
"Jadi, bagaimana..., apa aku akan mendengar kabar baik hari ini?"
"Kabar baik apa?"
"Siapa yang tau, mungkin di sini..." teman nona Indira mengisyaratkan sesuatu di perutnya yang kalau kuartikan, oh, dia menanyakan kehamilan. Apa ini sopan?
"Ini acara ulang tahun ayahku, Hes. Pastikan fokusmu kepada ayahku."
"Awww, karena ini ulang tahun Mr. Callum, kehamilan adalah hadiah yang sangat berharga untuknya. Dia mungkin menunggu kabar cucu darimu tau."
Hah, katakan itu kepada Evan Caspian yang belum muncul sama sekali di pesta ini. Juga, jika mengharapkan bayi--mereka perlu melakukan itu cukup sering, kan? Tidak, maaf. Kenapa aku jadi memikirkan ini? Maksudku..., tuan Evan tidak pernah mengunjungi kamar nona Indira sama sekali. Tidak bila itu bukan menyangkut sesuatu yang 'perlu dibicarakan' katanya.
Ace yang tidak mempunyai istri saja lebih aktif dalam melakukan itu, kenapa Evan Caspian kepada istrinya menjadi sangat dingin?
Keparat, aku! Nona Indira, maafkan aku. Pemikiran ini adalah kesalahan. Sialan, haruskah aku membungkuk dan mencium kaki nona Indira karena sudah berpikiran sembarangan malam ini?
Kenapa pikiranku melalang-buana kepada hal-hal sesat yang tidak pada tempatnya?
Fokus, Fawnia, fokus!!!
"Oh, lihat..., Margareth Hunter datang." Hesa--teman nona Indira berujar. Aku spontan mengalihkan perhatianku kepada pintu ballroom yang baru saja terbuka.
Bermandikan cahaya lampu dari aula, nona Margot yang datang dalam gaun hitam satin itu sangat menawan. Aku memperhatikannya dengan ketakjuban dan kelegaan. Aku senang bisa melihat nona Margot lagi. Dia sangat cantik seperti yang kuingat. Kuku-kukunya yang dipoles hitam terlihat menutupi mulutnya ketika dia tersenyum dan menyapa tamu lain. Surai hitamnya yang tebal jatuh seperti spiral di balik punggungnya.
Di samping nona Margot pula--Ace Hunter berdiri dengan gagahnya. Seperti pusat semesta, kedatangannya membuat seisi aula menjadi hening tanpa suara. Mata menyorotnya seperti dia adalah pemeran utama.
Mungkin dia memang benar adalah seorang pemeran utama.
Sialan, jantungku sakit melihatnya.
Ace..., apa dia sudah melupakanku?
"Oh my God, Ace Hunter dataang. What the hell, he's so hot." Hesa menyuarakan isi kepalaku. Iya, Ace memang sangat hot. Aku tidak akan menyalahkan keantusiasan sahabat nona Indira.
"Tentu saja dia datang, aku mengundangnya. Ayo kesana." nona Indira menanggapi santai.
Sialan, apa mereka akan menghampiri Ace? Aku..., lalu aku bagaimana? Masa aku harus mengikuti mereka? Tidak. Bagaimana kalau Ace melihatku? Heh..., uh, aku tidak mau melihat Ace.
Keparat!!!
Tapi mungkin saja dia sudah melupakanku, kan? Toh aku hanya tawanan tidak penting di hidupnya. Iya, itu mungkin saja... Dia juga tidak menunjukkan kalau dia mencariku, dia pasti sudah melupakanku!
Bajingan, Ace!!!
__ADS_1
"Fawn, apa kau baik-baik saja?"
"Hah?" sial, aku melamun.
"Kau bengong." nona Indira menatapku heran. "Ayo, ikut aku. Aku perlu menyapa Ace."
"O-oh, oke."
"Indira, bagaimana kalau kau mengenalkan Ace Hunter padaku. Kalian teman dekat, kan?" Hesa merangkul nona Indira sangat rapat. Ucapannya membuatku ingin menarik cepolnya. Siapa yang mau kau dekati, keparat?
"Aku tidak tau tentang itu, Ace sangat menolak ide tentang wanita. Aku sudah menyodorkannya banyak wanita tapi dia selalu menolak mentah-mentah. Aku tidak mau menyakitimu, Hesa."
"Oh, please. Jika itu Ace Hunter, aku rela tersakiti."
"****** ini..." Aku menimpali tanpa sadar.
Hesa menoleh ke arahku dan aku seketika melebarkan mata. Sialan, mulutku!!! Kenapa aku tolol sekali?! Huhuhu. Aku mau menangis.
"Jalan, maksudku jalannya sangat ramai. Nona Indi, hati-hati kalau melangkah. Kau bisa terjatuh kalau salah langkah."
"Tenang saja," nona Indira menyahut seraya tersenyum.
Tak berselang lama setelah itu, kami akhirnya sampai di depan dua Hunter bersaudara. Mataku berusaha keras hanya terfokus kepada nona Indira. Aku tidak mau melihat Ace, aku tidak boleh melihat Ace, aku tidak akan melihatnya. Tidak, tidak, tidak. Aku tidak mau, karena bila aku melihatnya aku mungkin akan menangis. Hatiku sakit memikirkan dia berada di sana, tampil baik-baik saja sementara jantungku menjerit sakit.
"Selamat datang, Ace, Margareth. Senang melihat kalian berdua menyempatkan datang kemari." nona Indira menyapa Ace dan nona Margot dengan suara ramah dan manja. Aku meneguk ludah pahit memikirkan kedekatan mereka.
Jika aku tidak menggantikan nona Indira, maka orang yang akan berakhir Ace cintai adalah nona Indira. Ya, situasi itu bisa terjadi. Nona Indira adalah malaikat, mustahil tidak menyukainya.
"Hai..." Hesa ikut menyapa.
Kakiku gatal ingin menginjak wanita ini.
"Senang bisa melihatmu lagi." suara nona Margot sampai ke telingaku. Tanpa bisa menahan diri lagi, aku mendongak dan menatap kepada nona Margot yang memeluk nona Indira. Mata si sulung Hunter itu tertuju kepadaku, seringai manisnya menghantuiku.
Aku juga senang bisa melihatmu lagi, nona Margot.
"Hai, Ace..., apa kabar?" Hesa menyodorkan tangannya kepada Ace dan aku serius ingin melompat dari balkon. Kenapa perempuan itu sangat berani? Hei, bagikan sedikit keberanian itu padaku! Aku juga ingin berani menyapa Ace. Sialan, apa yang kupikirkan?
"Aku..., aku harap aku baik."
"Ya?"
Suara Ace..., aku mendengar suara Ace. Sial, aku akan menangis sekarang.
"Indira, aku akan menyapa ayahmu. Mari berbicara lagi nanti." Ace berujar kepada nona Indira dengan suara monoton.
"Oh, oke."
Setelah berpamitan pada nona Indira--untungnya, tanpa menaruh perhatian kepada Hesa, aku tidak tau kenapa aku peduli--, Ace lalu melenggang melewatiku. Sepasang manik kelamnya tertuju kepadaku sekilas. Aku seketika menunduk dan berpura-pura merapikan jasku.
Sial, bagaimana hanya dengan melihat mata hitam itu..., jantungku menjadi sangat ngilu?
Ace, apa kau benar-benar sudah melupakanku?
__ADS_1
...----------------...