DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
64. BERPUTAR-PUTAR DI SINI


__ADS_3

...FAWN pov...


...----------------...


Butter sudah menjadi teman hidupku sekarang. Kami berteman dengan akrab dan dia menjadi sangat manja padaku. Dia tidak pernah meninggalkanku dan selalu mengekori setiap langkahku. Setiap malam pun, walau Ace sudah menyediakan kandang untuknya di kamar dan tempat tidur mini, Butter akan bergabung denganku di tempat tidur. Berguling di leherku seperti kalung. 


Terkadang, keberadaan Butter membuat Ace iritasi. Suatu malam, Ace bahkan pindah kamar karena dia sangat jengkel dengan Butter. Relasi mereka sangat buruk, jujur saja. Ace bahkan mendorong Butter dengan kakinya ketika Butter bermanjaan di dekatnya. Aku tidak heran, Ace memang bajingan kejam dan dingin. Dia tidak baik sama sekali.


Padahal Butter sangat imut dan menggemaskan. Dia sudah seperti anakku, cintaku, hidupku. Awww, apa kau tau betapa halus dengkurannya? Aku sangat mencintai Butter.


Oh, bicara soal cinta dan mencintai...


Aku sedikit mencemaskan hubunganku dan Ace sekarang. Dia dan Butter yang bermusuhan berdampak kepada misi utamaku. Aku ingin membuat Ace jatuh cinta padaku, ingat? Sekarang..., dengan dia yang risih berada di kamar--risih di dekatku, bagaimana caranya aku membuat si keparat itu jatuh cinta? Yang ada dia semakin illfeel kepadaku, kan?


Ugh!


"Kau mengembuskan napas panjang lagi..." Vera menegurku. Sial, aku baru sadar Vera berada di dekatku. "Apa yang kau lakukan?"


Vera mendekatiku dan ikut duduk di balkon. Kami duduk di lantai, aku dan Vera berdampingan menatap ke langit biru. Butter di pangkuanku--tidur manja.


"Tumben kau kemari, ada apa?" Aku menegur Vera. Kendati aku dekat dengan Vera, aku tau dia adalah pengawal nona Margot yang paling sibuk. Dia menggantikan David sebagai kepala bodyguard dan harus mendampingi nona Margot tanpa istirahat yang teratur.


"Aku agak senggang sekarang," ujar Vera. "David sudah kembali."


"Oooh, bagaimana kabarnya?"


"Dia sangat baik. Dia menitip salam padamu."


"Owww, aku terharu. Jadi, apa kau sudah bebas sekarang?" Perhatianku ku arahkan kepada wajah Vera dan..umm, apa perasaanku saja atau aku melihat jejak gigitan di lehernya?


"Vera..., apa kau baik-baik saja?" Aku memperhatikan wajah Vera lebih intens. Jangan bilang dia baru saja berkelahi dengan orang jahat? Tapi aku tidak melihat memar di wajahnya.


"Aku baik..., ada apa?" Vera menarik wajahnya menjauh dariku. Apa aku terlalu dekat?


"Kau punya bekas gigitan di lehermu."


"AH! Apa kelihatan?" Vera kepanikan.


"Iya, di leher bagian belakang..." Aku menjawab dengan bingung. Bekas gigitan itu cukup dalam dan meninggalkan ruam, bagaimana bisa dia tidak sadar?


"Sial, mungkin karena ini bos Margot mengusirku dari kamarnya..." Vera bicara sendiri. Sambil mengusap tengkuknya, dia lalu menatapku balik dan bicara. "Kau tidak perlu cemas. Ini hanya hasil perkelahian."


"Perkelahian? Uh, sudah kuduga..., siapa keparat yang bertengkar dengan giginya. Itu sangat tidak manusiawi dan---"


"Fawn..., eerr..., ini bukan perkelahian seperti itu..." Vera membuat gerakan tinju-meninju sebelum mengibaskan tangannya. "Ini perkelahian di...., ranjang."


"..."


"..."


"OOHHHH!!!" Keparat. Jadi itu, ummm..., itu... Vera, aku sangat terkejut. "Itu cukup..., intens." komentarku. Berusaha tetap tenang walau pipiku memanas malu.


Apa aku tolol? Sudah pasti 100 persen.

__ADS_1


"Hehehehehe." Vera menyengir jenaka. "Wajahmu sangat merah. Apa aku membuatmu tidak nyaman?"


"Bu-bukan seperti itu, aku hanya--itu cukup tabu bagiku."


"Well, maafkan aku. Aku tidak tau kau sangat polos." Vera mengedipkan sebelah matanya jenaka, aku tidak percaya pada permintaan maafnya. Dia tidak terlihat menyesal. "Kau saat pertama kali di sini juga mempunyai banyak bekas gigitan dari bos Ace, ingat? Aku sampai tersipu melihatmu."


"Jangan mengungkit masa-masa suramku." Aku menggigit pipi. Situasiku berbeda--sangat berbeda dengan Vera. Apa yang terjadi padaku adalah sesuatu yang memalukan dan terjadi atas dasar paksaan. Aku tidak pernah mengira akan ada hari ketika aku akan berhubungan dengan pria--dan itu adalah sesuatu yang mengawali mimpi burukku.


"Eii, jangan murung. Aku sudah kelewatan." Vera merangkul pundakku dan menggoyangku ke kiri dan kanan. "Mari bicarakan sesuatu yang menyenangkan..."


"Huh, benar juga, siapa laki-laki beruntung itu?" Aku menoel lengan Vera dengan sikuku. Menggodanya yang sekarang cekikikan tidak nyaman.


"Aku malu mengatakan ini..., tapi Fawn..."


"Ya?"


"Aku tidak ingat sama sekali."


"HUH?"


"Aku tidak mengingat wajahnya, tapi well...., aku ingat selebihnya dan seberapa hebatnya orang itu. Waaaah, aku hampir meneteskan liur saat mengingatnya. Aku mau lagi."


"Ver, kau menjijikkan!" Aku menyesal sudah bertanya. Apa yang dipikirkan wanita ini sekarang, aku curiga itu hanya tentang ************. Bagaimana bisa dia melupakan wajah partner-nya tapi tidak melupakan detail-detail uhm--yang lain?


"Ahaahahahaha. Aku Serius, sialan. Aku bahkan mengambil izin dua hari karena keesokan harinya aku tidak bisa berdiri." Vera merangkulku sangat erat. Dia sangat antusias dan itu membuatku mau tidak mau--mendengarkannya dengan tenang.


Aku sangat ingin melempar Vera keluar jendela, jujur saja.


"Bagaimana bisa kau berhubungan dengan orang asing? Apa kau tidak takut kehilangan ginjalmu?"


"Huh..., yea..., itu bagus." Aku kehilangan kata-kata. Vera yang diluar pekerjaan sepertinya menjalani kehidupan lebih bebas dari yang kubayangkan.


"Aku harap aku bisa bertemu dengannya lagi," suara antusias Vera berubah menjadi sedikit gundah. "Tapi, one night stand tidak akan menjadi one night stand kalau aku melakukannya dua kali, kan? Apa kau pikir aku akan terkesan murahan kalau aku mencarinya lagi?"


"Aku pikir kau sebaiknya move on. Kau bahkan tidak mengingat wajahnya. Hanya karena dia hebat, bukan berarti kepribadiannya bagus, kan?"


"Aku tidak peduli dengan kepribadiannya..." Vera kembali tertawa.


"Yaa, kau hanya mau itu."


"Shusssh, kau mulai mengerti aku. Hahahahaha. Dengar, kalau kau suatu hari nanti mampu bebas dari sini, aku berjanji akan mengenalkanmu dengan pria di luar sana yang lebih keren lagi..." Vera membuat janji padaku dengan wajah sumringah. Aku tidak begitu mendengarkannya karena sekarang mataku terpaku kepada Ace yang sedang menyipitkan matanya tajam ke arah kami berdua.


"Ve-Ver..."


"Bukan berarti bos Ace tidak keren, yaa... tapi dia itu pria-pria kelas atas, kelas-kelas untuk kita itu sebaiknya..."


"Vera!" Ace akhirnya menyela. Aku meneguk ludah dan menunduk. Wajah Ace sangat garang, aku tidak mau terlibat apa pun dengannya yang berekspresi tajam. Siapa yang tau kalau dia tiba-tiba berubah menjadi psikopat dan menendang wajahku. Itu menakutkan. Aku lebih baik memanjakan Butter yang duduk di pangkuanku.


"Bos Ace!" Vera berdiri dari sampingku dan aku tau dia ketakutan. Tidak ada yang mengerikan daripada Ace dengan ekspresinya yang kejam. Si bajingan itu, diam saja dia sudah mengintimidasiku.


"Apa yang kau lakukan di sini, Vera?"


"O-oh, aku menemani Fawn mengobrol."

__ADS_1


"Bagaimana dengan Margot?" Ace melangkah mendekati kami, suara dentuman sol sepatunya seperti lonceng kematian.


"Bo-bos Margot mengusirku."


"Tidak mengherankan. Sekarang, kukatakan padamu, kalau kau tidak punya urusan yang lebih penting, kurangi bermain di kamarku karena bagaimanapun, tempat ini adalah kamarku."


"Ba-baik, bos Ace." Vera mengangguk dalam-dalam dan berlari keluar secepat kilat. Aku termenung sambil mengusap leher Butter. Apa berikutnya aku yang akan dimarahi?


"Fawnia!"


"Ya?" Sial, aku menjawab terlampau cepat.


"Apa yang kau dan Vera bicarakan barusan..."


Aku mendongak menatap Ace seketika. "Tidak ada." selaku dengan sungguh-sungguh. "Aku tidak meminta dia memperkenalkanku dengan pria mana pun, kok. Aku serius."


Jantungku berdegup dua kali lipat lebih cepat.


"Huh, apa kau yakin?" Ace bersandar di daun pintu. Karena aku tidak nyaman mendongak tinggi-tinggi ke arahnya, mau tidak mau aku melepaskan Butter dari pangkuanku dan ikut berdiri. Akhirnya, aku bisa melihat mata kelam itu tanpa merasa leherku akan patah saking tingginya aku mendongak.


"Kalau kau tidak tau, Vera adalah gadis dengan lingkar sosial yang sangat besar. Dia mungkin punya pria yang lebih layak untukmu. Kau tau aku, aku mungkin terlalu tinggi untukmu..." Ace masih membahas topik sialan itu. Sial!


Apa yang harus kukatakan untuk membuat Ace tidak marah dan disatu waktu, mampu melancarkan misiku juga? Misi untuk membuat dia jatuh cinta? Haruskah aku menggombalnya? Itu akan berakhir buruk. Aku tidak pandai bermain kata.


"Pertama-tama, untuk bisa menemukan pria lain di luar sana..." Aku harap aku tidak ditampar, aku harap aku tidak ditampar, aku harap aku tidak ditampar--"...aku harus bebas dulu, bukan?"


Jantungku seperti berhenti berdetak ketika aku mengungkit kebebasanku. Ace--entah sejak kapan sangat membenci topik itu. Seakan-akan dia ingin aku membusuk di sini.


"Hah, kau benar." Ace--sungguh melegakan--tertawa. Tawanya bukan tipe tawa yang ringan dan membuat hatimu nyaman. Tawa yang lepas dan terukir di wajah tampan itu adalah tawa seorang bajingan yang meremehkan lawan bicaranya. Dia seperti iblis dari neraka.


"Kau pandai, Fawnia..." Ace mendekatiku dan menangkup wajahku di dalam telapak tangannya yang lebar. Mataku dipaksa menatap matanya yang berkilat penuh dominasi dan intimidasi. "Kau sebaiknya berhenti bermimpi untuk bertemu pria mana pun, karena mereka semua akan mati."


"Ke-kenapa?" Aku memberanikan diriku bertanya.


"Karena kau milikku, aku tidak akan membiarkan satu mata pun jatuh ke arahmu."


"A-apa kau menyukaiku?" Bibirku bergerak lebih cepat dari otakku. Sialan, ini akan berakhir memalukan. Aaaaaa, seseorang perlu menembak kepalaku! Apa yang kupikirkan, sialan, sialan, sialan!


Ace berdiri diam di depanku, pasti memikir aku gila.


Jari-jemarinya yang sedari tadi hanya diam di sisi wajahku mulai mengusap pipi dan bibirku dengan sentuhan halus yang ambigu. Aku memejamkan mata ketika setiap usapannya membuat sensasi aneh mekar di perutku. Menggebu-gebu dan menciptakan gejolak yang tabu. Rasanya kembali seperti di kamar nona Margot malam itu. Ketika setiap sentuhannya membangunkan nafsu terlarang di diriku.


"Bagaimana kalau aku mengatakan aku menyukaimu, akankah kau menyukaiku kembali?"


Mataku seketika terbuka.


Dan Ace seketika tertawa. Dia mendorong wajahku menjauh dengan telapak tangannya.


"Bercanda, bercanda." ujarnya lalu melenggang meninggalkanku.


Tidak tau aku hampir mati tidak bernapas saat itu.


Sesuatu semacam cinta, Ace percaya hal itu adalah sesuatu yang tidak akan ada dalam kehidupannya. Lalu bagaimana denganku? Bagaimana dengan hatiku yang berdesir ambigu ketika napasnya menyapu wajahku?

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2