DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
44. TERJEBAK


__ADS_3

...ACE pov...


...----------------...


Sebuah borgol tergeletak di atas meja kayu yang berada di samping tempat tidur. Aku yang sedang menyesap sebatang rokok sambil memangku sebuah laptop--menatap ke arah borgol itu. Borgol itu adalah borgol yang sama yang sempat kugunakan untuk membelenggu Fawn.


Aku ingat meminta Felix melepaskannya, tapi aku tidak tau kalau mereka hanya akan meninggalkan borgol itu di sana. Felix juga--aku pikir dia akan menaruh benda itu kembali ke tempatnya, tapi dia malah mencecernya di sembarang tempat.


Aku--kendati mempunyai pekerjaan di atas pangkuanku, mendapati diriku menggapai borgol itu. Aku tidak mengerti dengan keinginan konyol untuk menyentuh benda itu, tapi ketika aku merasakan dingin besi itu di ujung jemariku, senyumanku merekah tanpa bisa kutahan.


Jeritan Fawn masih segar di benakku. Segala emosinya yang meluap-luap ketika tersudutkan, amarah di suaranya dan api di matanya. Dia terlihat sangat mempesona.


Aku selalu mengolok-olok keinginannya untuk mati dan bebas dari sini, mengatakan aku tidak akan membiarkannya karena aku masih merasa terhibur melihat penderitaannya. Itu mungkin terdengar masuk akal--tapi di dasar hatiku..., aku tidak tau apakah perkataan itu hanya bermakna sebagai lelucon atau sudah berubah bentuk menjadi ketergantungan.


Aku..., aku tidak berpikir ingin melepaskan gadis itu, dan pemikiran ini menakutiku.


Sudah beberapa hari sejak Fawn berada di kamar Margot? Dia dipisahkan dariku agar aku dapat berpikir jernih. Setidaknya, begitulah yang Margot harapkan dariku. Tapi..., pikiranku sangat campur-aduk. Aku tidak tau apakah cengkraman kuat di jantungku saat ini adalah hasil dari pemikiran jernihku atau sesuatu yang baru telah hadir dan mengambil alih kewarasanku.


Tokk! Tok! Tok!


Sebuah ketukan dari luar membuatku mendongak ke arah pintu. Aku menaruh rokokku di asbak kaca sebelum bangkit dan memindahkan laptopku ke meja kerja.


"Bos Ace, nona Freya sudah datang." Suara Carcel terdengar dari luar.


"Biarkan dia masuk," perintahku tenang.


Selang beberapa detik ketika aku memberikan izin, pintu kayu berwarna putih itu terbuka. Mataku tertuju pertama kali pada sepasang kaki jenjang yang menapak masuk ke dalam. Sebuah tatto melingkupi pergelangan kaki wanita itu--seperti gelang. Aku mendongak dari kakinya--terus ke tubuh sintalnya yang dibungkus oleh dress hitam yang ketat dan terbuka di beberapa bagian, lalu--mata kami bertemu.


"Lama tidak bertemu," kata Freya dengan suara merdunya yang menggoda. "Aku pikir kau sudah imp*ten."


"Aku hanya sibuk." sahutku, tidak mau menjelaskan apa pun kepada wanita yang kuundang hanya demi memenuhi nafsuku.


"Yakin hanya sibuk?" Freya mendekat dengan langkah bak modelnya, kaki tersilang dan sepatu yang berdentum elegan..., "Aku dengar bos Ace sudah mempunyai wanita lain di kamarnya."


"Dari mana kau mendengar rumor itu?" Aku tidak bergerak dari tempatku berdiri, bahkan ketika jemari lentik Freya menyusuri lenganku. Aku menatap matanya yang berlapiskan lensa kontak biru muda.


"Semua orang berspekulasi seperti itu. Tidak akan aneh bila mengingat pelanggan loyal kami tiba-tiba menghilang. Hanya ada dua jawaban, imp*ten atau--yah, kau tau..., jatuh cinta?"


"Itu tolol..." Aku memutar mata. Siapa jatuh cinta dengan siapa?


"Well, setidaknya aku senang kau sudah kembali. Tidak ada pelanggan di Aphrodite yang mampu memuaskanku seperti dirimu."


Freya adalah wanita bermulut manis. Terkadang, mendengar omongannya yang seperti gula, aku tidak bisa tidak menahan tawa. Dia menggelikan dan disatu sisi--pandai dalam memikat hati customer-nya. Aku tidak membenci caranya menyanjungku, tapi untuk bekerja--aku lebih senang bila dia berhenti berbasa-basi.

__ADS_1


"Karena kau sudah berada di sini, bagaimana kalau kau mulai bekerja?" Aku menangkap lembut dagu Freya, menekan wajahnya dalam genggamanku dan...


"Ace..."


Wajah Fawn muncul di benakku seperti kejutan elektrik.


"I will show you," bisikan Freya menyapa telingaku, bersamaan dengan lidahnya yang mulai menyusuri permukaan kulitku. Aku mendekap pinggangnya dengan ketidak-fokusan. Apa yang baru saja kupikirkan?


Sementara aku berusaha kembali fokus pada Freya, Freya yang berada rapat di dadaku melakukan pekerjaannya dengan intens. Tidak hanya bibirnya, kedua tangannya bergerak dengan lihai dalam melepaskan setiap kancing di kemejaku, meluruhkan pakaianku ke lantai sementara tangannya yang lain mulai menyusup ke celanaku. Aku tidak membiarkannya mendominasi dan mendorongnya jatuh ke tempat tidur.


"Apa kau masih menolak berciuman?" Freya menatapku dengan napas yang terengah.


"Kau tau peraturannya," sahutku dan Freya seketika mengerang kesal. 


"Damn..., I want to kiss you so bad."


"Keep that in your imagination," sahutku sebelum akhirnya mendaki di atas Freya. Dengan tangan terbuka, dia menyambutku penuh suka-cita.


Dalam ruangan yang beraromakan layaknya tembakau, aku meraup setiap inci kulit Freya seperti meraup udara. Menyapu kulit putihnya dengan gigitan, jilatan dan kecupan. Saat itu pun, aku berusaha mengingatkan diriku kembali. Ini adalah hal yang biasa kulakukan. Ini adalah aku yang sebenarnya, keberadaan Fawn tidak mengusikku sama sekali--aku masih diriku sendiri. Ada atau tidak adanya dia tidak akan--


"Apa ini?" Freya menyentuh borgol yang kutinggalkan di dekat bantal. Mataku tertuju pada benda itu sekali lagi dan mati..., segala gairah yang berusaha kulepaskan menjadi padam. Kenikmatan, pengalih perhatian, peluapan emosiku yang tertahan--semuanya buyar hanya dalam sekali pandangan pada benda itu.


Borgol keparat yang sudah mengikat Fawn di benakku seperti kutukan.


Wajahku terasa kaku.


"Ya?"


"Kau--apa kau baik-baik saja?"


Aku berguling dan pindah ke samping Freya, mata memejam erat. "Aku pikir aku tidak."


"Sesuatu terjadi? Apa aku merusak mood-mu?"


"Tidak, tidak seperti itu." Mood-ku sudah rusak sejak beberapa hari belakangan ini. Rasanya aku ingin mengeluarkan otakku dan mencuci bersih segala hal tentang Fawn dari sana. Aku tidak bisa--tidak bisa melakukan apa pun dengan gadis itu yang berlarian di benakku tanpa henti. Setiap jejak yang dia tinggalkan di kehidupanku sudah seperti paku yang menancap di jantungku. Aku ingin berhenti memikirkannya tapi..., sekali lagi, aku tidak bisa.


Apa yang gadis itu lakukan padaku, aku sudah tidak tau.


Ini bahkan bukan sekedar tentang nafsu, dia sudah mengonsumsi setiap ruang pikiranku dengan keberadaannya.


"Aku tidak bisa melakukan ini sekarang," keluhku akhirnya. Mengecewakan Freya tanpa perlu melihat wajahnya. "Aku butuh udara segar."


Mungkin berjalan-jalan di taman akan membuatku sedikit bisa---bernapas? Siapa yang tau, aku hanya ingin pergi dari kamar ini. Jauh-jauh dari segala hal yang mengingatkanku pada Fawn.

__ADS_1


"Aku akan membayarmu seperti biasa," ujarku kepada Freya yang sekarang duduk di bibir ranjang dan memperbaiki penampilannya. Aku melihat ke arah wanita itu sekilas dan sumpah, dia adalah wanita yang sangat menawan. Dia tau cara merawat dirinya, sangat jelita dari ujung kaki hingga kepala. Freya bila dibandingkan Fawn yang kesehariannya bertingkah seperti gadis tanpa kepercayaan diri--sangat superior dibandingkan Fawn.


Tapi, sialan..., sesuatu sudah rusak di otakku!


Memungut kemejaku sembarangan di lantai, aku lalu berjalan keluar tanpa mengancing pakaianku. Aku membuka pintu dan melihat raut keterkejutan Carcel.


Jangan terkejut, aku juga sama terkejutnya dengan diriku sendiri.


"Bos Ace? Apa ada yang salah?" Carcel mencemaskanku.


"Antarkan Freya pulang--" ujarku dan hendak berjalan andai saja aku tidak menangkap wajah Fawn berada tiga langkah di hadapanku. Gadis itu--apa dia melompat keluar dari pikiranku atau aku sudah benar-benar gila?


"Ace," Margot muncul di belakang Fawn--menyadarkanku dan melegakanku sekalian karena ternyata Fawn bukan ilusi yang pikiranku ciptakan.


"Kau mau kemana dengan penampilan sangat berantakan?"


"Aku seharusnya menanyakanmu, kemana kau membawanya?" mataku mengarah kepada Fawn yang menghindari tatapanku. Dia terlihat baik-baik saja dalam baju training putih itu. Tidak, dia terlihat sangat menggemaskan, dan itu menyakitkan. Menyakitkan untukku yang berusaha menahan diri untuk tidak menggapainya. Sialan! Apa yang kupikirkan?


"Aku hendak mengajak anjingku jalan-jalan..., dia butuh udara segar, kau tau."


"Aku bukan anjing--"


"Aku tau." tukas Margot. Sialan, aku baru saja mendengar suara Fawn dan Margot sudah memotong ucapannya.


"Kau masih dalam tahap denial," ujar Margot sambil merangkul leher Fawn. "Kau akan menyadari kalau kau peliharaanku, cepat atau lambat."


Fawn hendak mengatakan sesuatu, tapi berhenti ketika pintu kamarku terbuka. Matanya tertuju ke belakangku, dan aku ikut menoleh ke arah tatapannya.


Freya keluar dari kamar masih dalam keadaan yang belum bisa dikatakan rapi.


"Maaf, apa aku boleh memakai kamar mandimu? Tubuhku sangat lengket." Freya bertanya dengan cengiran kikuk. "Aku punya undangan setelah ini dan tidak punya waktu untuk kembali ke rumah."


"Lakukan apa yang kau mau." ujarku dan kembali berbalik menatap ke arah Margot dan Fawn. Keduanya diam dan bungkam.


"Margot?" Aku memutuskan memecah keheningan mereka berdua.


"Uh--ya, maaf. Sepertinya kau pria yang sangat sibuk." Margot melempar pandangan nakal padaku. "Kemarin-kemarin Fawn, dan sekarang ada wanita lain..., apa ini artinya kau akan melepaskan hak asuh Fawn kepadaku sepenuhnya? Hmmm, hmmm?"


"Jangan bicara omong kosong," jawabku lalu kembali menatap Fawn. Tidak ada ekspresi sama sekali di wajahnya, dan itu mengingatkanku pada masa-masa dia masih menjadi bodyguard Indira. Fawn selalu tampil tanpa ekspresi ketika bekerja. Aku ingin tau apa isi kepalanya.


Ah--bicara soal Fawn, aku jadi teringat kembali pada permintaan Indira. Sialan!


Aku menyetujui untuk mencari keberadaan Fawn demi mendapatkan informasi tentang klien Evan. Tentu saja, aku tidak bersungguh-sungguh akan membantu Indira. Tapi, pemikiran kalau sekarang ada orang di luar sana--, orang-orang seperti Indira, memikirkan Fawn dan berusaha merebutnya dariku, perasaan ini membuat emosiku menggebu.

__ADS_1


Sesuatu memang sudah berubah di dadaku, aku takut aku tau apa itu.


...----------------...


__ADS_2