
...NORMAL pov...
...----------------...
Sebuah kotak dengan pita biru muda besar melingkupinya berada di dekapan Anggara. Kotak itu adalah sebuah hadiah yang akan Anggara berikan kepada Fawn.
Tentunya, kedatangan Anggara ke kamar Fawn bukan hanya untuk menyerahkan kotak itu saja. Jika ia hendak menjadi kurir, ia bisa meminta bodyguard atau pelayan rumah untuk menyerahkan hadiah tersebut. Tapi tidak. Tujuan Anggara menemui Fawn adalah untuk bisa bicara pada gadis itu empat mata.
'Jika ada orang yang Fawn percaya, maka itu adalah aku. Aku akan membuatnya menjalankan misi ini dengan mulus tanpa perubahan hati di tengah jalan.'
Anggara mengutarakan hal tersebut kepada Evan, dan itu bukan sebuah kepercayaan diri buta. Dia memang adalah tuan Fawn, sosok yang Fawn sumpah untuk lindungi hidup dan mati. Gadis itu akan menuruti apa pun yang ia minta, bahkan bila itu berarti Ace Hunter dari kehidupannya.
Jadi, di sinilah Anggara sekarang, berada di depan pintu kamar Fawn sambil membawa sebuah kotak kado besar yang Fawn perlukan untuk makan malamnya bersama Ace besok.
Ketika pintu kayu berwarna hitam itu dibuka oleh bodyguard Evan, Anggara pun melenggang masuk ke dalam kamar yang mengurung Fawn sekarang. Atmosfir kelam dan suram melingkupi ruangan itu, seakan-akan ada makhluk lain menemani mereka di sana dengan aura jahatnya.
Padahal ini siang hari. Apa karena tirai jendela tidak dibuka sama sekali?
"Selamat siang, Fawn." Anggara menapak ke tengah ruangan dengan langkah ringan, ia berusaha tampil seperti biasa. Ia tidak ingin Fawn melihatnya sebagai lawan.
"Fawn?"
"Bos Angga?"
Di lantai, duduk bersandar di lemari kecil yang berdampingan dengan tempat tidur, Fawn mendongak dengan penampilan cukup kacau. Kantung hitam tebal di bawah matanya. Wajah yang kerap bercahaya riang dan penuh energi kehidupan--sekarang terlihat seperti mayat hidup. Rambut hitamnya pun nampak berantakan, seakan-akan ia sudah mengacaknya berulang-ulang kali. Tidak, mungkin dia memang melakukannya.
"Apa yang kau lakukan di sana?" Anggara spontan mendekat. Ia menarik lengan Fawn dengan penuh perhatian dan mendudukkan gadis itu di tempat tidur. "Kau seharusnya menjaga kesehatanmu, apa yang sudah kau lakukan?"
Anggara meninggikan suaranya saat semakin ia memperhatikan Fawn, semakin ia menyadari ada banyak luka muncul di tubuh gadis itu. Luka cakar yang muncul dari kecemasan bersarang di lengannya, darah kering di ujung kukunya, dan telapak tangannya yang merupakan jejak kuku yang terbenam dalam...
"Mengapa kau melukai dirimu sendiri?"
__ADS_1
"Aku tidak melukai diriku sendiri." Fawn menimpali dan hendak menggigit ibu jarinya kembali sampai Anggara menahannya.
"Ini adalah bentuk melukai dirimu sendiri," tutur Anggara, tatapannya melunak iba. "Apa misi ini membuatmu sangat tertekan? Apa ini salahku? Fawnia..., apa kau membenciku?"
"..."
"..."
Fawn berdiam lama dan menatap Anggara sebelum akhirnya menghela napas panjang. "Bos Angga..., meskipun selama ini aku mengabdi penuh loyalitas padamu, tidak pernah sedikit pun aku berpikir kau akan menang melawan keluarga Hunter. Karena aku tau betapa kompeten dan terorganisirnya mereka.-
Akan tetapi, meskipun aku tau kau tidak akan menang aku tetap memihakmu karena kupikir kau yang menghadapi kekalahan langsung akan melupakan dendammu pada Ace dan memulai kehidupan baru dari awal. Aku akan terus memihakmu. Aku meninggalkan Ace untuk memihakmu."
"Aku sangat menghargai loyalitasmu, Fawn. Tapi aku tidak bertarung untuk mendapat pelajaran, aku ingin menang. Aku ingin segala diskriminasi ini berakhir dan situasinya dapat kembali seperti semula."
Diskriminasi?
"Bukankah kalian berempat hidup berdampingan dengan damai selama ini? Ace memang sosok yang luar biasa, tapi dia bahkan tidak mengusik kalian sama sekali."
Ace yang ada di pikiran Fawn berbeda dari Ace yang berada di pikiran Anggara, tidak peduli bagaimana Anggara mencoba merasionalitaskan tindakannya, Fawn akan membela Ace dengan versinya. Jika seperti ini, alih-alih mendapat dukungan Fawn, ia bisa saja menghancurkan misi ini duluan.
"Lupakan saja," tukas Anggara. Menutup topik itu sampai di sana dan beralih kepada kotak yang ia taruh di atas tempat tidur. "Aku datang untuk memberikan ini padamu."
"Apa ini?"
"Ini adalah gaun yang akan kau pakai untuk menghadap Ace besok. Aku sudah mempersiapkan segala perhiasan di sana. Meskipun kau adalah bodyguard keluarga kami, kau pasti mempunyai keinginan untuk tampil cantik di depan pria yang kau sukai, bukan?" Terlebih lagi ini adalah untuk yang terakhir kali.
"Apa ini gaun untuk pemakaman?" Fawn melirik isi kotak tersebut dan menatap Anggara dengan kekecewaan bertubi-tubi.
"Jangan menafsirkannya terlalu dalam. Itu hanya gaun. Pastikan kau tidak melukai dirimu lagi. Ace pasti terluka kalau melihat orang yang dia cintai dalam kondisi menyedihkan seperti ini."
"Apa hanya itu yang ingin kau katakan?" Fawn merasa saat itu juga, ia lebih baik tidak mendengarkan sepatah kata lagi keluar dari bibir Anggara.
__ADS_1
Seminggu belakangan, setelah Evan mengunjunginya, Fawn sudah merasakan tertekan luar biasa. Ia merasa dapat mati karena beban yang menumpuk di pundaknya. Fawn selalu merasa, sebagai bodyguard--menepikan perasaannya dan fokus pada misi adalah kriteria utama yang diperlukan dalam pekerjaan ini.
Tetapi..., ketika misi itu menjadi personal, tubuhnya terguncang dalam ketakutan dan perasaan berdosa. Apakah ini adalah karma yang sudah ia terima setelah mengeliminasi banyak nyawa?
Fawn mencoba menemukan solusi, cara untuk menyelamatkan ibunya tanpa ia perlu terlibat dan menyingkirkan Ace. Namun, ia tidak menemukan apa pun. Ketakutan dan kecemasannya sudah sangat memburuk, dan bukannya datang untuk menenangkannya..., Anggara, sosok yang ia puja layaknya malaikat, datang untuk mendorongnya jatuh ke dalam jurang neraka yang lebih dalam.
"Jujur saja, aku belum selesai..." Anggara kembali duduk di bibir tempat tidur, beberapa jengkal cukup jauh dari Fawn.
"Seperti yang kau katakan, bahwa loyalitasmu ada pada keluarga Rashid. Oleh karena itu, aku ingin kau membuktikan ucapanmu itu pada misi Fawn. Aku tau aku tidak seharusnya menyimpan ibumu sebagai jaminan keberhasilan, tapi kalau-kalau kau menyimpang...,"
"Kau akan menyingkirkan ibuku? Apa itu maksudmu?"
"Itu tidak akan terjadi kalau kau bekerja dengan baik, jadi jangan terlalu memikirkan hal-hal negatif."
Fawn merasa darah mendidih di ubun-ubunnya.
"Kalau begitu Anggara..." Ketika kehormatan sudah hilang di sematan namanya, Anggara yang tersenyum samar pada Fawn seketika kehilangan keramahannya.
Fawn mendongak dengan juntaian hitam rambut yang jatuh di pipinya, ia menatap Anggara tepat di mata seperti singa menatap mangsanya. "Bisakah aku meminta jaminan yang sama padamu?"
"Huh?"
"Jika..., sedikit saja..., sesuatu terjadi pada ibuku..." Fawn mendekat sejengkal kepada Anggara, tangan berlabuh di pundaknya. "Tidak ada satu pun orang di keluarga Rashid yang akan hidup untuk merayakan apa pun yang terjadi setelah misiku."
Anggara tercengang. "Apa kau mengancamku, Fawn?"
"Aku hanya membuat jaminan," tutur Fawn kembali. Ia menarik dirinya mundur dan menatap kepada lampu tempat tidur.
"Apa kau akan menyingkirkan Indira bahkan bila ia tidak terlibat apa-apa?"
Fawn mengendikkan bahu. "Itu tidak akan terjadi kalau kau melindungi ibuku dengan baik, jadi jangan terlalu memikirkan hal-hal negatif."
__ADS_1
...----------------...