DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
125. UNTUK BEBAS


__ADS_3

...ACE pov...


...----------------...


"Jujur saja, jika ini menyangkut bodyguard-ku yang lain, aku akan menutup mata pada apa yang terjadi sekarang." Margot berujar di seberang meja. Dia yang selalu tampil antik dengan gaun hitam tersebut sekarang duduk berhadap-hadapan denganku yang omong-omong, baru saja hendak menyantap makan malam.


Aku bekerja seharian dan aku tidak punya cukup waktu untuk beristirahat. Makan--setidaknya--adalah hal yang harus kudapatkan sebagai reward atas kerja kerasku hari ini.


Namun, saat makan pun, aku masih harus mendengar keluhan dari luar.


Bukan berarti aku membenci Margot, tapi bila dia terus merengek terhadap segala situasi yang trivial semacam ini, aku mungkin akan berhenti peduli padanya.


"Ace," Margot memanggilku lagi. Seperti aku tuli.


Aku mendongak malas-malasan. Tidak perlu bagiku bicara untuk menyampaikan betapa aku terganggu atas keberadaannya. Aku hanya duduk di sana, menatapnya. Memberikannya peringatan non verbal.


"Dengar, aku tau kau lelah, kau punya banyak kerjaan dan Evan juga...," Margot tetap melanjutkan ucapannya.


Sialan! Menjadi hama pun ada batasnya! Kenapa dia mengganggu pagi malam?


"Ace, setidaknya dengarkan aku dulu." Margot persisten. "Vera, dia sudah diculik oleh Evan."


"Aku tau," tanggapku. Mana mungkin aku tidak tau.


"Carcel pasti sudah menyampaikan detailnya padamu, karena itu..."


"Tidak."


"Eh, apa?"


Aku menaruh pisau dan garpuku di atas meja, nafsu makanku sudah menguap entah kemana. "Evan menghubungiku duluan," jawabku.


Di malam yang sama ketika Evan menculik Vera, Evan telah mengabariku. Memamerkan hal itu padaku seakan-akan Vera adalah tangkapan yang besar. Sungguh arogan.


[Lihat siapa yang kutangkap di sini, apa kau mengenalnya?]


Aku akan meneteskan air mata bila sosok yang berada di tangannya adalah orang yang berarti bagiku, tapi Vera..., gadis itu hanya bernilai di mataku ketika dia menunjukkan kegunaannya. Lebih dari itu, aku tidak merasa aku bertanggung jawab penuh atas keberadaan para bodyguard-ku, baik itu Vera atau yang lain. Mereka dan keamanan mereka adalah tanggung jawab mereka masing-masing.


"Jadi si keparat itu menghubungimu duluan, huh? Apa yang dia mau?"


"Tidak ada...," kataku. "Evan tidak menginginkan apa pun."

__ADS_1


"Lantas, mengapa dia mengirimkan informasi itu. Apa dia sengaja menantang keluarga kita?"


"Itu bukan rahasia yang perlu membuatmu naik pitam lagi, Mar. Kita dan keluarga Caspian memang bermusuhan sekarang. Masing-masing pihak akan menggunakan cara untuk menjatuhkan satu sama lain, terang-terangan maupun di belakang." Karena ini juga, aku pikir membahas Vera adalah tindakan yang membuang-buang waktu.


"Aku tau, tapi..., apa tujuannya mengirim pesan itu? Hanya pamer?"


"Menunjukkan dominasi, apa lagi?" Aku menanggapi sambil bersandar di bangku. Jujur saja, aku mulai mengantuk karena terlalu banyak mendengar omong kosong.


"Tsk..., apa ini bisa diartikan kalau dia menginginkan kita menyerangnya duluan?"


Margot harus berhenti menggunakan otaknya karena cara dia berpikir mulai menyakitiku.


"Itu hanya omong kosong." tukasku malas. Aku tidak mau membahas topik ini lagi, jadi aku berdiri. Aku perlu beristirahat untuk menghadapi pekerjaan yang lebih serius esok.


"Ace, kita bisa menyerangnya duluan. Kenapa kita harus menunggu?"


Haaaah~


"Haruskah aku mengajarimu setiap aspek rencanaku, Mar?" Aku menopang sebelah tanganku di meja, mata menatap Margot yang masih bersikeras mengontribusikan ketololannya.


"Rencanamu--tidak, rencana kita adalah untuk menghancurkan Evan. Kita bisa melakukannya sekarang, kapan saja. Kau tidak perlu bermain tarik ulur dan lembut."


Menjadi agresif dan menang adalah sesuatu yang gampang, tapi aku tidak mau kehilangan hal yang paling penting. Aku belum menghapus loyalitas Fawn terhadap Anggara, aku belum berhasil menakhlukkan Fawn sepenuhnya. Tindakan agresif hanya akan menunjukkan Fawn kalau aku adalah sosok yang sama hitam dengan mereka semua. Well, bukan berarti aku tidak sama, tapi aku perlu menunjukkan perbedaan samar di sana. Perbedaan yang mampu membuat Fawn memalingkan kepalanya hanya padaku.


"Membunuh Evan bukan hal sulit, Mar. Aku bisa melakukannya sekarang tanpa perlu melakukan upaya apa pun."


"Lalu, apa yang kau tunggu?"


"Kau tidak perlu tau." Aku memotong topik itu sampai di sana. Aku sudah benar-benar lelah. Aku tidak punya niat untuk menjelaskan strategiku satu-persatu kepada Margot. Dia terlalu ambisius dan menggebu-gebu untuk bisa berpikir cerdas. Terlalu sentimen untuk bisa melihat segala perencanaan yang sudah kusulam dengan indah. Dia tidak memahami seni ketika kepalanya hanya dipenuhi oleh peperangan.


"Bagaimana dengan Vera?"


"Apa kau akan membiarkannya membusuk di sana? Kau tau..., kita bisa meminta bantuan Fawn untuk menyelamatkannya."


"Jangan melakukan hal tolol," sergahku. "Kalau kau melakukan itu, Mar..., aku sendiri yang akan membunuhmu."


"Apa masalahmu sebenarnya?" Margot turut berdiri. Sepertinya ancamanku membuatnya keki. Dia menapak ke arahku dengan wajah menyiratkan amarah.


Aku balik menatapnya, menjaga agar dia tetap pada batasannya. "Jangan berpikir hanya karena aku sudah baik padamu, dan kau tua beberapa tahun dariku, kau bisa melangkahi garis yang sudah kubuat, Margareth. Aku ingatkan kembali padamu, aku pemimpin di sini. Kau tidak punya hak untuk mempertanyakan keputusanku."


"Aku pikir kau tidak menyukai posisimu. Kau benci posisimu dan mengutuk warisan itu." Margot mengembangkan seringai mengejek atas peringatanku. Seolah-olah ucapanku adalah lelucon di matanya.

__ADS_1


"Bersuka-citalah, aku yang berada di otak busukmu itu sudah berubah."


"Jadi? Bagaimana rasanya menjilat ludahmu sendiri?"


"Untuk seorang Hunter, kau mengecewakanku karena tidak bisa membedakan antara berinovasi dan semena-mena menjadi hipokrit." Aku menyentuh surai hitam pekat Margot, membelitnya perlahan disela-sela jariku sebelum menyentaknya kuat.


"Tapi setelah kupikir-pikir lagi, tidak mengherankan kau menjadi sangat mengecewakan. Kalau kau sedikit saja menjadi lebih pintar, aku mungkin tidak perlu di sini dan menangani kebodohanmu."


...----------------...


Berbicara dengan Margot cukup menguras emosiku, jujur saja.


Aku tidak tau mengapa setelah sekian tahun hidup di rumah ini, tidak sedikit pun ia berubah. Awalnya, kupikir aku bisa bersikap sedikit baik padanya karena dia sedang dalam keadaan berduka. Namun, setelah beberapa tahun berlalu, dia tetap saja tolol.


Dia tetap mengusikku, melewati batasannya dan memancing amarahku padanya. Apa dia pikir, hanya karena aku tidak ingin melihat otaknya meledak dan berceceran di depan wajahku, dia dapat mengontrolku seperti bonekanya?


Aku yang dulu mungkin bertahan di sini karena dendamnya, karena aku tidak ingin memperpanjang masalah yang sudah terjadi di keluarga kami, aku masih menghargainya sebagai sosok saudara dan keluarga terakhir yang kupunya.


Meskipun aku tersiksa di sini, tersiksa oleh pemikiran aku harus hidup dan menjalani tugas yang tidak kuinginkan karena lagi, hanya aku yang mampu menjalankan tugas itu. Hidupku sudah seperti kutukan, ke tahap aku merasa membantai semua keluarga yang berkuasa akan menjadi jalan keluarku dari sengsara.


Tapi..., aku berhasil keluar dari lingkar hitam pemikiran itu. Aku berhasil menemukan motivasiku di tengah minat hidup yang sudah merosot ke tanah. Aku berhasil menemukan hal yang paling penting bagiku ke tahap aku kembali ingat mengapa aku..., aku dari semua orang, terpilih di posisi ini. Tidak ada orang yang lebih baik dari aku.


Jika aku ingin melindungi, memiliki apa pun yang kuinginkan, mendapatkan kebebasan..., aku harus menjadi pemilik atas sangkar yang melingkupi pandanganku. Aku akan menjadi pemimpin di dunia hitam ini.


"Aku sudah berusaha keras," Aku bergumam tanpa kusadari.


Aku sudah berusaha keras. Itu mungkin benar.


Karena aku sudah berusaha keras untuk kebebasanku, aku tidak akan membiarkan orang lain menghalangiku. Tidak akan kubiarkan satu orang pun membatasiku dan mengaturku dalam melakukan hal-hal yang ingin dan akan kulakukan.


Baik itu Margot yang haus darah, atau Evan yang hanya ingin menjadi yang terbaik di mata orang tuanya...


Aku akan mendapatkan hal yang paling kuinginkan, kebebasan mutlak dan Fawnia.


Oh, Fawnia.


Bahkan bila itu berarti harus menghancurkan banyak orang dalam prosesnya.


Bahkan bila itu berarti aku akan melukainya.


"Sekarang, Vera. Selamat bekerja."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2