
...NORMAL pov...
...----------------...
Di sebuah kamar dengan pencahayaan temaram, suhu dingin dari AC menikam kulit putih yang hanya diselimuti oleh sebuah piyama satin tipis. Sosok yang mengenakan piyama satin itu--kendati merasakan dingin menimpanya dan menusuk kulitnya, ia tidak bergerak untuk menggapai apa pun yang mampu membuatnya merasakan hangat.
Tidak, karena sekarang...kendati ia menggigil karena dingin, ini adalah hukuman yang harus ia jalankan.
Ia akan menderita di dalam ruangan dingin itu, dengan mata tertutup oleh pita satin merah dan tangan terikat di atas kepala. Tali yang mengikat tangannya terkait langsung kepada kepala ranjang. Tidak peduli betapa kuat ia menciptakan pemberontakan, ia akan berakhir menyakiti dirinya sendiri.
Ia adalah Indira, di kamar Evan Caspian untuk ke sekian hari yang sudah tidak ia hitung lagi, Indira dikekang oleh pria itu. Dijaga agar tidak kemana-mana, dipastikan ia tidak akan menyentuh cahaya matahari dan tidak berinteraksi dengan siapa pun selain orang pilihan Evan.
Alasan utama situasinya menjadi seperti ini adalah karena Evan sudah bosan dengan tingkah Indira yang sulit diatur.
"Aku punya banyak urusan penting sekarang yang harus kuutamakan, kau yang banyak bertingkah bukan salah satunya." adalah kata Evan hari itu, hari ketika ia menggendong Indira ke kamarnya. Membuai gadis itu dengan sentuhan lembut dan boom!
Ternyata itu hanya jebakan.
"Aku akan melepaskanmu ketika semua masalahku sudah selesai, dan sampai hari itu tiba, aku harap kau sudah belajar dengan baik tentang tata cara menjadi istri yang penurut, Indira."
"Sialan!" Indira menghelan napas panjang. Ia tidak akan kalah pada Evan. Tidak!
Cklek!
Suara pintu yang terbuka membangunkan seluruh indera Indira, telinganya spontan berada dalam mode siaga saat dia mendengar bunyi sepatu yang berdentum di atas lantai batu.
"Apa dia berulah selama aku pergi?" itu suara Evan.
"Tidak, tuan Evan. Nona Indira, jujur saja, tidak melakukan apa pun selama tuan Evan pergi." si pelayan wanita menanggapi.
"Huh, begitukah?" Evan melempar tatapannya kepada Indira. Kepada istrinya yang sekarang menunjukkan ketenangan. Itu asing dan bukan Indira sekali.
"Tinggalkan kami,", tukas Evan kemudian. Ia lalu melenggang menuju Indira, menatap dengan seksama tubuh pucat yang oh..., dia bergetar.
"Indira..." suara Evan yang tiba-tiba menyapa wajahnya membuat Indira terkesiap. Ia menarik wajahnya mundur dan segera membuang pandangannya ke mana pun yang bukan berasal dari sumber suara tadi.
"Apa dingin?"
"..."
"Kalau kau kedinginan, kau seharusnya meminta pelayan untuk memberimu selimut. Kenapa kau diam? Apa kau pikir terkena hipotermia akan membantumu lepas dari sini?"
"Bukan urusanmu." tandas Indira. "Bukankah kau punya urusan yang lebih penting? Menjauh dariku dan biarkan aku mati di sini."
"Sangat dramatis." Evan mengusap pipi Indira dengan ibu jarinya, menyapu kulit halus Indira dengan sentuhan jemari kasarnya. Tak berhenti sampai di sana, sentuhan itu turun hingga ke leher jenjang Indira dan berlabuh pada pundak polosnya.
"Kau sudah terikat di sini dan kau masih menemukan cara membuatku iritasi. Oh, Indira..., aku pikir kau gadis baik-baik."
"Aku hanya baik kepada orang yang pantas mendapat kebaikan."
"Apa maksudmu orang baik itu Ace?"
Indira berjengit ketika ia merasakan tangan Evan turun dari pundaknya. Turun perlahan dan bermain-main di kulitnya. Menstimulasi tubuhnya dengan godaan yang membuat ia menahan napas geram.
"..."
__ADS_1
"Indira, bicara..." Evan berujar di depan wajah Indira. "Apa kau lebih memilih Ace yang menyentuhmu di sini?"
"Mu-mungkin..." Indira berupaya mempertahankan kewarasannya, berpura-pura tegar kendati panas mulai menjalar dari setiap jejak sentuhan Evan di kulitnya. Berpura-pura kuat kendati keringat sudah membasahi wajahnya.
"Indira, apa kau cemburu dengan kedekatanku dan Norah?" Evan terus bicara, tidak peduli kalau sekarang Indira sudah megap-megap menggapai napas akibat ulah tangannya.
"Aku tidak...!!!" Indira masih keras kepala.
"Bukankah aku sudah bilang dia hanya teman masa kecilku?"
"Aku tidak peduli, oke!"
"Kau yakin tidak peduli?" Evan menarik pinggul Indira yang semakin menjauh dari jangkauannya. "Aku belum selesai bicara, Indira."
Evan mengusap naik pita merah yang menutupi mata Indira dengan ibu jarinya. Menyibak kening gadis itu yang basah oleh keringat dan menatap matanya dalam-dalam.
"Oh, kau sepertinya sudah tidak kedinginan."
"Kau menjengkelkan, Evan. Aku akan menceraikanmu, tidak peduli apa pun!"
"Aku benci mendengarkanmu mengatakan sesuatu yang berulang-ulang, kau tau alasannya apa? Karena aku benci memberikanmu tanggapan yang sama." Evan mencuri satu kecupan ringan di bibir Indira. "Aku tidak akan menceraikanmu, Indira."
"Bahkan bila aku kehilangan segalanya, aku tidak akan melepaskanmu."
"Hah?"
Evan menghela napas. "Kita sudah berjanji di altar untuk saling mencintai satu sama lain selamanya, dan aku tidak akan menarik ucapanku sama sekali."
"Tapi kau tidak mencintaiku, sialan!" Indira sangat yakin Evan tidak mencintainya. Hubungan rumah tangga mereka sudah berlangsung hampir setahun dan Evan tidak pernah menyentuhnya sebelum kegilaan ini, sebelum Indira meminta perceraian. Evan tidak pernah menaruh peduli yang besar padanya dan selalu memperlakukannya seperti sebuah trofi yang sudah dia menangkan. Sebuah pajangan. Itu saja.
"Aku mungkin tidak mempunyai perasaan romantis yang kau inginkan, Indira..." Evan kembali mengusap pipi Indira dengan ibu jarinya. "Tapi di dunia ini, tidak ada wanita yang lebih sempurna darimu yang pantas mendampingiku."
"Tsk. Lagi-lagi memang ini, kan? Kau dan otak bisnismu..." Indira membuang muka, ia merasakan kekesalan di dadanya menyurut dan kekecewaannya mulai pasang.
"Jika aku tidak sempurna, Evan, kau tidak akan menikahiku, bukan?"
"Tentu saja." Evan tersenyum. "Aku hanya boleh mendapatkan yang terbaik, Indi. Mau bagaimana lagi..."
"Kau tidak pantas mendapatkan kebahagiaan."
"Kebahagiaan tidak penting. Selama aku menjadi yang terbaik, itu cukup." Evan menarik dirinya menjauh dari Indira yang dari penampilannya, sudah tidak menggigil dan pucat seperti tadi.
Evan menarik selimut dari ujung kaki tempat tidur dan menutupi Indira dengan selimut itu.
"Ace lebih baik darimu, apakah karena itu kau membunuh orangtuanya?" Indira menatap Evan yang kembali duduk di sampingnya. Tangan sibuk melipat lengan kemeja hitamnya.
"Apa yang kau katakan? Aku tidak membunuh siapa pun."
"Jangan membohongiku, Evan. Aku tau kau mampu melakukan hal keji itu."
"Mampu bukan berarti aku ingin. Oh, Anggara juga mampu, asal tau saja. Tapi..., tidak, dia tidak akan berpikir sampai ke sana karena dia tolol."
"Anggara masih punya hati nurani."
"Tidak, Anggara hanya pria bodoh yang mudah dikendalikan." Evan membalas tatapan marah Indira dengan seulas seringai tipis bermain di parasnya. "Kalau aku mengatakan orang yang membunuh orangtua Ace adalah Anggara, saudaramu itu akan mengangguk dan membenarkan ucapanku."
__ADS_1
"..."
"Karena kau adalah kelemahan Angga, kau di tanganku sudah seperti menaruh pisau di lehernya."
"Sialan, Evan. Kau bukan manusia."
"Aku pikir kita sudah saling mengenal dengan baik." ucap Evan, sedikit kekecewaan terdengar di nada suaranya. "Aku hanya ingin hasil yang sempurna, Indira."
"Ace akan menghancurkanmu."
"Aku tidak tau tentang Ace, tapi aku tau ayahku."
"Ayahmu?"
"Yaa. Ayahku selalu memberikanku yang terbaik di dunia ini, Indira." Wajah Evan mekar dalam kebahagiaan saat ia menceritakan Maximillian. Sosok yang paling ia banggakan.
"Sejak kecil, ayahku selalu mengajariku untuk hanya menjadi yang terbaik. Menjadi nomor satu. Aku hanya akan menerima hasil sempurna, mendapat rekan yang sempurna, menikahi gadis yang tanpa cela, dan sekarang ini pun..., ketika semuanya sedang berantakan..., ayahku akan memperbaiki semuanya."
"Kau sangat dicintai, bukan?"
Indira kembali teringat pada posisinya dan Anggara di keluarga Rashid. Bagaimana perlakuan kasar orangtuanya membuat Anggara menjadi sangat tersiksa dan sampai sekarang pun, siksaan itu masih terus berdatangan dalam bentuk tekanan dan harapan yang terlalu besar.
"Seperti yang sudah kubilang, ayahku selalu memberikanku hasil yang terbaik. Jadi..., apapun yang Ace hendak lakukan, aku percaya pada ayahku. Dia tidak akan membiarkanku hancur."
"Kau terlalu percaya diri, Evan."
"Jika aku tidak percaya diri, Indira. Itu artinya aku meragukan ayahku. Aku tidak akan pernah melakukan itu."
"Apa kau sudah memikirkan kemungkinan terburuk yang dapat terjadi bila perang ini dimulai?"
Evan berdiri dan meregangkan lengannya, "Tidak ada yang lebih buruk daripada kehilangan seorang teman yang berharga."
"Oh."
Oh!
Indira seketika terdiam saat kata teman lolos dari bibir Evan. Teman, di mata Evan adalah seorang pria bermata kelam dengan rambut sepekat langit malam. Seorang teman masa SMA yang selalu dekat padanya layak seorang saudara.
Sebuah pertemanan yang walau sudah terputus akibat status mereka..., masih hidup dengan indah di kamarnya. Masih terbingkai manis di atas meja.
Indira menatap foto itu dengan kemuraman, foto dua sekawan yang berangkulan sambil memegang medali emas. Dada membusung bangga, dan senyum lebar ceria.
Foto Evan dan Ace tinggal di sana, sebuah sejarah yang membuat perih mata Indira.
"Apa kau masih menganggap Ace sahabatmu, Van?"
Evan mengendikkan bahu. "Aku selalu dan selamanya menganggap Ace sahabatku, Indi. Walaupun aku tau dia tidak pernah benar-benar menatapku dengan cara yang sama. Tapi dia adalah sahabatku."
"Apa kau tega melukainya?"
"Tentu saja." Evan meninggalkan Indira dan melenggang menuju pintu kamarnya, hendak keluar. "Dia adalah teman terbaik yang kudapatkan. Bila suatu saat dia menjadi halangan untuk keberhasilanku, aku tidak akan sungkan menyingkirkannya."
Karena hanya ada satu orang yang boleh menjadi yang terbaik, maka Evan memilih posisi itu hanya boleh ditempati untuk dirinya sendiri.
...----------------...
__ADS_1