DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
45. ROMAN FANTASI


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


Hari Jumat, di kamar Margareth Hunter yang tumben-tumbennya berwarna cerah--Margot, Vera dan Fawn melakukan aktivitas yang berbeda-beda. Vera duduk di dekat jendela balkon, mata dan tangannya fokus mengupas satu nampan buah-buahan yang berada di pangkuannya. Fawn di sisi lain, berbaring di tempat tidur sambil memeluk guling. Margot--si pemilik kamar sedang melakukan seleksi pakaian di lemarinya yang penuh oleh warna-warna suram. Beberapa pakaian Margot jatuhkan ke lantai dengan kekecewaan, Fawn melihat Margot dengan kejemuan.


"Bagaimana pendapatmu tentang pakaianku yang satu ini, Fawn?" Margot menarik satu dress mini dengan bagian belakang terbuka sampai punggung. "Jika kau seorang pria, apa menurutmu pakaian ini terkesan terlalu mengundang?"


"Aku rasa--pakaian adalah pakaian." Fawn menyahut Margot tanpa minat.


"Tsk, kau terlalu idealis." Margot merengut. "Vera, lihat kemari sebentar..."


Vera yang dipanggil langsung mengangkat kepala.


"Apa menurutmu aku terlalu blak-blakan dengan pakaian ini?"


"Apa bos Margot sedang mengincar seseorang?"


Margot menyeringai tipis. "Kau bisa mengatakannya seperti itu."


"Mmm, kalau begitu..., aku pikir dia akan menganggap bos Margot menawan."


"Apa ini tidak begitu menggoda?" Margot lalu menarik satu lagi dari lemari. Sebuah dress dengan warna yang sama, hanya saja kali ini bagian kakinya mempunyai irisan panjang sampai ke pangkal paha. "Bagaimana dengan ini?"


"Aku pikir yang pertama lebih terkesan elegan dan tidak terlalu kentara--seksi tapi tidak seperti  'aku seksi untuk menggodamu', yang kedua lebih menunjukkan sisi seduktif bos Margot dengan cukup frontal." Vera menanggapi Margot dengan keseriusan layaknya seorang yang paham mode, Fawn langsung duduk untuk melihat gadis itu. Wajah tercengang.


"Ugh, aku tidak mau frontal." Margot lalu melempar dress kedua yang dia ambil ke lantai. "Aku pikir aku akan memakai ini saja nanti malam."


"Vera, aku pikir kau tomboy." Fawn akhirnya bersuara setelah beberapa jam belakangan memutuskan mengunci mulutnya. Dia yang masih memakai pakaian training putih semalam--duduk bersila di tempat tidur. Tangan mendekap guling.


"Vera memang tomboy." Margot yang menyahut. "Kau akan terkejut kalau kau melihat dia pertama kali bekerja di sini."


"Kenapa?"


Margot terkekeh. Dia masih di depan cermin, berputar-putar memantau dress pilihannya seperti model di depan juri busana. "Vera saat awal bekerja di sini memiliki potongan rambut undercut dengan tiga tindikan di telinga dan satu di keningnya. Kalau kau melihatnya kau pasti tidak percaya kalau dia wanita. Hahahahaha."


"Bos Margot selalu mencuri kesempatan untuk mempermalukanku. Ini sudah kesekian kalinya dia mengungkit kesan pertamanya padaku ke orang-orang." Vera memutar mata--seperti sudah kebal menjadi bahan ejekan. Dia kembali fokus mengiris apel menjadi angsa.


"Well, sebagai gadis yang tomboy, Vera lebih berwawasan tentang mode daripada aku." Fawn tersenyum tipis. Ketiadaan energi di suara Fawn hari ini membuat Vera sesekali menatapnya heran.


Apa Fawn sakit atau semacam itu? Apa dia kurang vitamin D karena terus berkurung di rumah ini?


"Vera belajar. Iyakan, Vera?" Margot menatap Vera dengan kerlingan jenaka. Berkomunikasi dengan bodyguard-nya itu secara misterius sementara Fawn tidak mengerti sama sekali apa yang mereka komunikasikan. Sesuatu tentang Vera mungkin diketahui oleh Margot.


"Begitulah," kata Vera seperti tidak terganggu. Dia berdiri dan mengangkat nampan penuh irisan apel itu menuju Margot dan Fawn. Pertama, dia menawarkan pada Fawn yang menolak dengan gelengan--lalu beralih ke Margot yang mengambil dua irisan sekali.

__ADS_1


"Fawn, apa kau baik-baik saja?" Vera agak risau.


"Huh, aku baik."


"Kau terlihat tidak bersemangat."


Margot masih mengunyah apelnya ketika dia ikut bicara, "Fawn masih syok karena posisinya sebagai mainan Ace sudah digantikan."


"Jangan bicara omong kosong." Fawn merisih dan jijik. "Aku baik-baik saja, dan asal tau saja--daripada syok, aku sangat-sangat senang karena aku tidak perlu berurusan dengan adikmu yang psikopat itu!" 


"Yaah, kau memang terlihat sangat senang." ucapan Margot sarkastik. Bila Fawn memang senang, mana mungkin dia lesu seharian. Margot tidak percaya ucapan Fawn sama sekali.


"Anyway, Fawn--" Margot menaruh bajunya ke gantungan dan menuju Vera sekali lagi untuk mencomot seiris apel yang ditata Vera seperti kelinci. "Apa kau tau siapa yang akan menjadi partner-ku malam ini?"


"Siapa?"


"Coba tebak dulu!"


"Aku tidak mau bermain." Fawn bosan dengan kekanakan Margot.


"Ayolah, tebak sekarang!!!" Margot tidak mau kalah, suaranya mulai merengek manja.


"Haaah..." Fawn ingin menembak kepalanya sendiri saking stresnya. Sialan, tempat ini memang penuh orang gila. Mau tidak mau Fawn mengalah. "Baiklah, apa itu Jem?"


"No."


"No!"


"David?"


Margot seketika merengut, "Bagaimana bisa kau menebak David? Apa aku seperti perawan tua menyedihkan yang tidak punya gandengan sampai membawa bodyguard-ku sendiri ke pesta?" Margot menghentak-hentakkan kakinya kesal.


"Lalu, siapa?"


"Baiklaaah, akan kukatakan, akan kukatakan..." Margot mendramatisir jawabannya seolah-olah menenangkan satu ruangan penuh orang. Dia mengangkat tangan di udara seperti ditodong senjata.


Margot terlalu dalam menyelami peran gilanya sampai-sampai dia terlihat gila sungguhan, Fawn takut kalau apa yang dia lihat sekarang bukan persona Margot lagi. Wanita itu memang sinting.


"Partner-ku adalah...," Margot menggantung ucapannya di udara sebelum akhirnya mengunci tatapan kepada Fawn. "Anggara."


"Hah?" Fawn melebarkan mata seketika.


Vera tidak terkejut, dia sudah tau. Vera hanya tidak mengira kalau Margot akan mengungkapkan perihal Anggara kepada Fawn.


"Apa yang kau rencanakan?" Fawn menegang. "Kau tidak berusaha melakukan sesuatu pada bos Angga, kan?"

__ADS_1


"Awww, kenapa kau membuatku terdengar seperti penjahat?" Margot mengerutkan dahi seolah-olah tidak mengerti kenapa Fawn iritasi. Tapi dia mengerti.


"Bos Angga-mu, dia mengundangku secara pribadi sebagai partner-nya, Fawn. Tsk, tsk, tsk. Kau bereaksi berlebihan."


"Bos Angga--tidak, kau pasti sudah melakukan sesuatu." Fawn tidak akan mempercayai Margot. Anggara yang Fawn kenal adalah sosok yang sangat mengutuk keberadaan keluarga Hunter.


"Aku tidak melakukan sesuatu yang berarti...," ujar Margot. "Vera yang melakukan segalanya."


"Apa? Apa maksudnya?" Fawn beralih ke Vera yang sejak tadi berdiri seperti patung taman--tangan memegang nampan dengan stabil.


"Aku? Apa yang aku lakukan?" Vera jadi kebingungan.


"Awww, Ver..., apa kau lupa? Karena kebaikan hatimu yang membantu Angga di Leviathan hari itu, Angga jadi merasa perlu membalas budi pada kita."


"Membantu? Apa yang terjadi?" Fawn masih bingung karena informasi dari Margot terlalu mistis.


"Vera, jelaskan padanya nanti--aku tidak suka bicara berulang kali." Margot meninggalkan topik itu kepada Vera sebelum menuju meja rias. "Pokoknya ya, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku tidak menginisiasi apa pun, tapi Anggara lah yang mulai mendekatiku. Apa kau pikir kami akan serasi?"


Tidak sama sekali, pikir Fawn dalam hati.


"Katakan Fawn, apa pendapatmu tentang Angga? Dia sudah menjadi bosmu sejak lama, kan? Apa kau tidak pernah sedikit saja kepikiran untuk menginginkannya di tempat tidurmu?"


"Aku tidak pernah melihat bos Angga seperti itu," sahut Fawn--sedikit tidak nyaman.


Di mata Fawn, Anggara adalah pahlawan penyelamat hidup ibunya. Sosok yang sudah suka-rela menolong ia dan ibunya yang sakit-sakitan agar menjalani kehidupan yang cukup nyaman di kota. Daripada menatap Anggara seperti pria yang memukau mata, Fawn melihat Anggara seperti malaikat. Sosok berjasa. Ia rela menukar hidupnya demi pria itu.


"Haaaah, kau benar-benar menyedihkan. Sebagai perempuan yang nyaris berusia 25, tidakkah kau pernah merasa bernafsu sedikit saja? Kau sudah tidak normal."


Bicara soal nafsu, jawabannya memang tidak. Fawn tidak punya kehidupan lain selain menjadi pengawal. Interaksinya kepada pria selalu tentang pekerjaan. Daripada berpikiran untuk bergelut di ranjang, Fawn selalu bergelut dengan pria di atas matras, tangan mengunci leher mereka sampai mereka berteriak menyerah.


"Bagaimana denganmu, Ver?" Margot beralih ke Vera. "Apa pendapatmu tentang Anggara? Kalian sudah berinteraksi beberapa kali? Satu? Dua? Apa hatimu tidak berdesir melihat ketampanannya? Dia sudah seperti pangeran, bukan?"


Berbeda dari Fawn yang merasa risih dengan pertanyaan Fawn, Vera merenungi ucapan Margot dengan keseriusan sebelum menjawab dengan gelengan. "Aku pikir bos Angga cukup tampan, tapi untuk pria dengan kelas sosial yang jauh berbeda dariku, aku tidak berpikir aku akan merasakan sesuatu selain keseganan padanya."


"Awww, apa ini abad 20? Kesenjangan sosial bukan lagi alasan untuk tidak jatuh cinta. Lihat saja Ace, dia memelihara Fawn."


"Hei!" tegur Fawn keberatan. Hanya karena Ace memeliharanya, bukan berarti Ace mencintainya.


"Aku selalu menjaga diriku tetap rasional, bos." Vera menanggapi kembali. "Menginginkan pria yang berada di atas porsiku--aku pikir itu akan membuatku kesulitan. Pria seperti tuan Anggara juga--aku tidak berpikir dia akan menaruh perasaan kepada seorang bodyguard."


Mari tetap rasional, adalah inti ucapan Vera. Fawn mengerti bahwa apa yang Vera ucapkan adalah kebenaran. Tidak peduli betapa manisnya masyarakat menyerukan kesetaraan, cinta yang menerima apa adanya atau segala hal-hal klise lainnya, ucapan ideal itu tidak bisa memungkiri fakta kalau cinta--terkadang memiliki batasan yang perlu dipertimbangkan.


Tidak hanya Anggara, hukum itu juga berlaku kepada Ace. 


Jadi, mari tidak berdelusi tentang roman fantasi di sini.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2