
...NORMAL pov...
...----------------...
"Tidakkah cuacanya agak panas hari ini?" adalah kalimat yang keluar dari bibir Ace ketika hanya ada dia dan Fawn di dekat meja bar itu.
Fawn sebenarnya hendak menghindari Ace, tapi pria itu menarik jas Fawn cukup kuat sampai punggung Fawn menabrak meja. Fawn berdiri di sana dengan mata berbinar waspada. Fawn takut orang-orang Evan akan melihatnya. Fawn masih tidak siap ketahuan menjalin hubungan--eh tidak, tidak--maksud Fawn, dia tidak siap menjelaskan ke-absurd-an hubungannya dengan si bungsu Hunter itu.
"Kau seharusnya tidak bicara padaku," tegas Fawn. Suara rendahnya penuh tekanan.
"Kenapa?"
"Apa itu masih pertanyaan? Atau kau memang sengaja membuatku menjadi target musuhmu."
"Santai, Fawnia. Kecurigaan hanya akan muncul kalau kau bersikap mencurigakan." Ace tampaknya tidak terbebani sama sekali. "Lagipula, tidak akan ada yang mencurigai kita."
"..."
Fawn bertanya-tanya, apakah interaksi ini baik-baik saja, tapi setelah ia memikirkannya, mungkin apa yang Ace katakan ada benarnya. Mungkin sumber ketenangan Ace adalah karena ketimpangan status mereka, untuk orang-orang menaruh curiga--itu akan sangat kecil.
Yah, bayangkan saja seorang Ace Hunter yang tersohor mendapat rumor berkencan dengan bodyguard, seisi kota bisa tertawa sampai satu tahun ke depan.
Mereka memang sangat bertolak belakang.
Memikirkan perbedaan statusnya sekarang, Fawn jadi merasa malu dan jujur saja, agak pahit. Apa dia sudah besar kepala duluan karena Ace menaruh perhatian padanya? Kendati Ace mengatakan dia berbeda dan pria itu mencintainya, kata-kata itu tidak mengubah kalau dirinya--seorang Fawnia Alder--hanya gadis biasa dengan perbedaan gaya hidup yang sangat tidak cocok dengan seorang Ace Hunter.
"Kau benar. Maafkan aku, tuan Ace." Fawn menanggapi dengan seulas senyum tipis. "Seorang bodyguard sepertiku tidak akan pernah bisa menjadi headline berita, apalagi kalau itu disandingkan denganmu."
"..." Ace terdiam. Ada ketidak-nyamanan yang mengatmosfir di antara dirinya dan Fawn saat itu. Seolah-olah ada dinding tak kasat mata membentang di antara mereka.
"Kau sepertinya salah mengambil maksud ucapanku." Ace menyentuh lengan Fawn, berharap gadis itu menoleh ke arahnya. Tapi Fawn hanya berdiri di sana. Mata terpaku kepada Indira yang menari bebas bersama Mesa dan Alex.
"Fawnia," panggil Ace.
"Ada apa, tuan Ace."
"Kau marah?"
"Aku tidak punya alasan untuk marah kepadamu." tukas Fawn. "Aku sedang bekerja sekarang, tuan Ace. Akan ada baiknya kalau kau mengurangi mengajakku bicara."
"Tapi aku tidak mau."
Apa dia anak-anak? Fawn merutuk.
"Tuan Ace..."
"Jangan panggil aku tuan Ace."
"Tuan Hunter?"
"Fawnia..., aku hanya akan membiarkanmu memanggilku tuan Ace bila kita berada di kamar, ketika aku mengikatmu dan membuatmu memohon pad--" Satu sikuan di lengan Ace menghentikan pria itu berbicara. Seringai Ace merekah jenaka saat ia melihat rona merah menyebar samar di pipi Fawn.
"Apa kau mau bertanggung jawab kalau ada yang mendengar ucapanmu?"
"Aku siap menikahimu."
__ADS_1
"Ace," Fawn menarik napas, "Itu tidak lucu."
"Aku tidak bercanda. Haruskah aku melamarmu di sini?"
"Kau membuatku gerah luar biasa." Tidak hanya pria itu membuatnya memakai turtle neck di bulan Juli, pria itu juga membuatnya sesak napas di ruangan tertutup dan beraroma seperti tembakau dan parfume mahal itu.
"Mau minum?" Ace serius saat menawarkan Fawn minuman, tapi gadis itu menatapnya dengan rotasi mata jemu.
"Sudah kubilang, aku sedang bekerja."
"Tidak ada salahnya, aku bisa memesankanmu milkshake kalau kau mau."
"Milkshake? Di sini?" Fawn mau tertawa.
"Sudah kubilang aku mampu mengubah tempat ini menjadi apa pun yang kumau, bukan? Apa kau lupa?"
"Yayaya, aku melupakannya. Aku lupa kalau kau adalah seorang bajingan kaya yang menjengkelkan."
Ace terkekeh. "Lalu, bagian mana yang paling kau ingat dari malam itu?"
"Aku ingat pulang dan harus berurusan dengan nona Indira yang mengamuk." ujar Fawn, ia melirik Ace dan memberikan cengiran paksaan. "Kau tau, kau dan nona Indira yang menjadi headline berita sangat terlihat luar biasa. Sangat serasi."
"Aku tidak tau tentang itu," sahut Ace, dia membalas cengiran lebar Fawn dengan kerlingan mata mengejek. "Aku belum bercukur saat foto itu diambil."
"Kau pasti sengaja membiarkan tuan Evan menyebarkan foto itu, kan? Tidak mungkin tuan Evan bisa seenaknya mem-publish tentangmu di media kalau bukan kau yang membiarkannya?"
"Oh, seseorang menggunakan otaknya untuk berpikir."
"Apa kau meremehkanku?"
"Bercanda." sahut Ace, kali ini menahan dirinya dengan tangan terkepal erat di meja. Oh, betapa Ace ingin mencubit pipi Fawn sekarang. Mengangkat dan memutarnya di dalam ruangan karena dia begitu menggemaskan, sangat-sangat menawan. Ace ingin menggigit pipinya yang tembam dan lesung pipinya..., Ace bahkan belum membahas lesung pipi Fawn yang menukik dalam ketika dia bicara atau sekedar tersenyum tipis. Lesung pipi itu seperti memanggilnya, menggoda kekuatannya untuk tetap tampil monoton di hadapan Fawn yang imut luar biasa.
"Huh, aku penasaran siapa wanita tidak beruntung itu." Fawn mencebik.
"Kau akan tau kalau kau melihat arah pandanganku sekarang," pancing Ace.
Fawn menoleh dan saat itu pula, Fawn melihat Ace menatap ke arah Indira. Kepada bosnya yang memang sosok paling jelita di sana.
"Oh."
"..."
Fawn merasa sebuah pukulan kuat tak kasat mata mendarat di perutnya. Ia tidak tau apakah saat itu Ace bercanda atau tidak, tapi pemikiran kalau Ace mencintai wanita lain yang jauh di atas Fawn, membuat Fawn merasa runyam.
Ace menoleh ke arah Fawn setelah bermain-main dengan gadis itu. Senyum jenaka terukir di parasnya, hendak menggoda Fawn yang ia duga, akan menunjukkan kekesalan padanya. Ace mengira ia akan mendapati Fawn yang menatapnya dengan kejengkelan dan rotasi mata, tapi ketika ia menatap gadis itu di mata. Fawn menatapnya dengan luka.
"Kau tidak berpikir aku seri--"
"Ace," Mesa datang.
Sialannya, Mesa datang!
Fawn seketika menarik dirinya dua langkah menjauh dari Ace. Ia menunduk dan menyapa Mesa yang bergabung di antara mereka.
"Apa yang kalian berdua bicarakan? Aku melihat dari tadi..., kalian kelihatan sangat serius?"
__ADS_1
"Sesuatu yang bukan urusanmu, Mesa." Ace menimpali datar. Ia kembali menatap Fawn dan gadis itu tidak menaruh perhatian sama sekali padanya lagi.
Mesa mendekati Fawn. Ia pikir, bila ia tidak mendapatkan informasi dari Ace, maka ia akan mengulik informasi dari lawan bicara pria itu.
"Apa yang kalian bicarakan?" Mesa menengahi jarak antara Ace dan Fawn.
Fawn menyunggingkan senyuman canggung sebelum menjawab Mesa dengan kebohongan. "Hanya masalah mengenai artikel nona Indira, tuan Ace sepertinya sangat menyukai menjadi headline di majalah tersebut."
"Huh, ya?" Mesa melirik Ace. "Aku mengajakmu membicarakan ini tadi, kenapa kau malah membicarakannya dengan pengawal Indira?"
"Mungkin karena dia tidak berisik sepertimu." Ace memutar duduknya menghadap meja, tangannya melambaikan bartender yang sedang mengelap gelas kaca. Ia memesan segelas koktail lagi.
"Apa-apaan? Mana ada aku berisik! Aku ini adalah gadis paling pendiam tau, apa kau tau zodiakku? Aku Capricorn! Capricorn itu adalah zodiaknya kaum-kaum introvert, dan aku adalah introvert garis keras. Aku sebetulnya tidak menyukai pesta, tapi aku melakukan ini demi bisnis dan relasiku dengan Indira. Kalau kau mengenalku lebih baik, Ace. Aku ini sangat-sangat senang mengurung diri di rumah dan menonton TV. Aku juga--"
Sementara Mesa meracau panjang di antara mereka, Fawn mengambil kesempatan itu dan melenggang menuju Joseph. Juniornya di kelas bela diri tersebut sedang bersandar di sebuah pilar besar, kaki tersilang dengan mata memindai Indira tajam. Fawn--tanpa menoleh ke arah Ace sama sekali--menyapa Joseph dan merangkul pundak pria itu.
"Sobatku..., kenapa kau sangat serius?" Fawn menyapa dengan keceriaan palsu. Dia tidak mau terlihat seperti dia bersedih di hadapan Ace. Dia tidak boleh tampil lemah.
"Aku hanya tidak terbiasa pada hal-hal semacam ini, Fawn." Joseph memijit dahinya. "Segala keramaian dan tujuan dari keramaian ini sangat asing bagiku."
"Kau tau, ini hanya pekerjaan yang harus kita lakukan. Kau tidak perlu mengerti situasinya sama sekali." Fawn mengutarakan nasihat yang cukup membuat dirinya terkejut. Ia yang dulu barangkali akan anteng-anteng saja dengan pemahaman ini, tapi sekarang..., moralnya bertentangan. Apakah ia yakin akan melindungi keluarga Caspian ketika dia tau keluarga itu sudah membunuh keluarga Ace?
"Aku harap aku bisa mencapai pemikiran seperti itu." kata Joseph, pria itu lalu menegapkan postur berdirinya dan menghela napas. "Ngomong-ngomong, aku melihatmu dan tuan Ace bicara panjang lebar. Apa yang kalian bicarakan?"
"Kau melihatnya?" Fawn pikir mata Joseph selamanya akan terpaku kepada Indira.
"Aku melihat tuan Ace sangat menikmati bicara denganmu, jujur saja. Kau juga sama."
"Aku? Omong kosong. Kalau bukan karena dia teman nona Indira, aku mungkin akan melarikan diri dari sana." Tentunya, itu adalah dusta.
"Jadi, apa yang kalian bicarakan?"
"Hanya sesuatu yang tidak penting..." Fawn mengendikkan bahu. Pikirannya kembali melayang kepada momen ketika Ace menatap Indira. Memandang bosnya dan mengimplikasikan kalau wanita itu adalah orang yang dia cinta. Fawn ingin menganggap Ace bercanda, jujur saja, tapi setelah banyak kebetulan yang terjadi..., sulit untuk merasionalkan kedekatan keduanya.
"Fawn..."
"Hmmm?"
"Apa kau melihat apa yang kulihat sekarang?"
Fawn yang sempat merenung--seketika mengangkat kepalanya. Ia menatap Joseph dan spontan saja mengerutkan dahi. Sesuatu tentang reaksi Joseph membuatnya mengganti mode menjadi waspada. Rekannya tersebut sedang berdiri kaku, mata terbuka lebar, dan rahang yang jatuh terbuka. Seolah-olah meteor jatuh menimpa lantai dansa.
Fawn, setelah melihat reaksi Joseph, mengira sebuah serangan mendarat kepada Indira. Oleh karena itu, ia pun memalingkan kepalanya mengikuti arah pandang Joseph dengan sekejap mata.
Tapi bukan.
"..."
"..."
Tidak ada serangan yang terjadi di sana, tidak ada situasi yang perlu membuat Fawn berlari menyeberangi ruangan dan menggunakan kemampuannya dalam mengendalikan kekerasan. Tidak, tidak ada yang perlu dijaga di sana. Tidak karena itu hanya dua orang berbagi ciuman di lantai dansa.
Dua orang yang sangat familiar di matanya.
Ace dan Indira.
__ADS_1
Oh, betapa Fawn berharap meteor lah yang jatuh di sana. Bukan ini.
...----------------...