DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
97. MEMADAMKAN API


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


Margareth Hunter tertawa sampai kehabisan napas.


Wanita dalam jubah tidur berwarna hitam itu menyambut adiknya dengan segelas wine di tangan. Dia duduk di depan perapian yang mati, kaki tersilang cantik. Margareth awalnya hanya menunggu Ace untuk memberikan ejekan ringan atas kegagalan pria itu dalam masalah asmaranya. Tapi..., setelah dia melihat betapa kusutnya raut Ace yang memasuki pintu depan rumahnya itu, Margot merasa ekspresi pria itu sangat lucu sampai dia tertawa keras dan kehilangan suaranya sendiri.


Ace menatap kakak perempuannya itu dengan kebosanan. Dia tidak mengatakan apa-apa. Ace hanya menghampiri saudaranya itu, merampas gelas wine yang Margot pegang, dan menghabiskan minuman itu dalam satu tegukan.


"Aaaaah, rasanya sudah lama aku tidak tertawa sekeras ini." Margot meredakan tawanya dengan napas yang masih tersengal-sengal. "Orang yang jatuh cinta memang beraroma seperti kebodohan."


"Senang sudah menjadi hiburanmu," ujar Ace, sinis.


"Awww, adikku. Apa kau marah?" Margot membimbing Ace agar duduk di sofa yang ia duduki sementara ia berpindah dan duduk di bahu sofa tersebut. Tangan Margot memijat lengan Ace, mencoba menghibur adiknya tersebut--tentunya, dengan niat mengejek juga.


"Katakan, apa yang kau rasakan sekarang? Apa kau sedih? Apa kau patah hati?" Margot menatap Ace sambil terkekeh. "Aku dengar kau dipukul oleh Evan, tapi sakitnya pasti tidak seberapa dibandingkan patah hati karena sudah ditinggalkan, Fawn, kan?"


"Tsk, diamlah."


"Awwww, apa salahku? Aku hanya penasaran padamu, adikku. Aku penasaran tentang bagaimana bisa kau menjadi sangat bodoh tentang cinta tapi memilih jatuh cinta. Kau melukaiku, sangat-sangat mengecewakan."


"Sekedar mengingatkan, Mar. Yang salah di sana adalah Indira. Aku yakin Fawn tidak akan salah paham sama sekali."


"Tentu saja tidak, awww..., jika Joseph menciumnya, aku percaya kau akan tenang-tenang saja. Toh, bukan Fawn yang menginisiasi ciuman itu. Iya, kan?"


Tidak. Tentu saja tidak. Ace akan menghanguskan pria itu kalau dia sampai berani menyentuh Fawn. Ace akan membuat pria itu melarat seumur hidupnya dan ya, Ace akan mengurung Fawn bila itu berarti orang lain tidak dapat memilikinya.


"Hmmm, aku mencium aroma kecemburuan..., padahal aku hanya bermain-main."


"Apa maumu, Mar? Aku lelah sekarang."


"Aku hanya ingin mengejek ketololanmu." Margot mengendikkan bahu. "Melihatmu sukses membuat Fawn semakin meragukan perasaanmu padanya sangat menghiburku. Aku mau bertepuk tangan."


"Aku tau apa yang terjadi semalam memang keterlaluan, tetapi..., aku tau Fawn, dia tidak akan berpikiran sejauh itu."


"Kau tidak tau perempuan, adikku. Jika itu menyangkut cinta, perempuan biasa menganalisis situasinya secara berlebihan. Mengulang kejadian itu berulang-ulang di kepala mereka, membangun asumsi dan mengoreksinya lagi dan lagi, mempertanyakan setiap kemungkinan yang pada akhirnya hanya akan melukai hati mereka sendiri, perempuan yang jatuh cinta kerap melakukan itu kepada diri mereka Ace. Dan kau..., kau baru saja memberikan materi yang mampu Fawn pikirkan sepanjang malam."


"Kau tau tujuanku adalah Evan, bukan? Fawn pasti tau hal itu juga."


"Dan kau pikir hatinya akan peduli pada hal-hal rasional itu?" Margot mendengus remeh. "Ini semua salahmu. Kau terlalu dingin, kau menutup hati pada perempuan, pada akhirnya kau tidak punya pengalaman saat berurusan dengan mereka. Aku turut berduka-cita kepada Fawn dan hatinya."


"Apa seburuk itu?" Berkat bibir berbisa Margot, Ace jadi mempertanyakan ulahnya sendiri. Dia tidak berpikir kalau Fawn akan berpikir sejauh itu, maksudnya, Ace sudah mendeklarasikan cintanya kepada Fawn berulang kali. Seharusnya tidak ada ruang untuk keraguan, kan?


"Sebelum kau berusaha melakukan apa pun kedepannya, Ace. Kuingatkan kembali padamu, Fawn adalah seorang bodyguard. Dia dan kau sangat jauh berbeda. Dia selama hidupnya berdiri di belakang Indira. Apa kau tau apa artinya itu?"


Tidak.


"Perbedaan bisa memicu ketidak-nyamanan, Ace. Ketidak-percayaan diri. Ketika kau tau Vera dan Angga bersama, kau menunjukkan keterkejutan, bukan?"


Ya, karena Ace tidak mengira Anggara akan menaruh minat kepada pengawalnya. Itu--oh!


"Aku percaya kau sudah menemukan jawabannya." Margot menepuk lengan Ace. Ia turun dari bahu sofa dan meninggalkan adiknya sendirian di sana. Termenung memikirkan ucapannya kembali.

__ADS_1


Sama seperti Ace yang terkejut atas hubungan Vera dan Anggara, sangat tidak percaya pada kaitan keduanya karena mereka sangat-sangat berbeda, Fawn juga..., mungkin merasakan hal yang sama terhadap hubungan mereka. Meragukan cintanya karena mereka jauh berbeda dan menganggap cintanya sebagai sesuatu yang asing dan tidak pada tempatnya.


Fawn mungkin berpikir ia lebih baik bersama Indira.


...----------------...


"Aku mau bercerai." Adalah kata yang Indira lontarkan keesokan paginya, tidak peduli sama sekali kalau sekarang Evan menatapnya dengan amarah tertahan.


"Apa kau tau apa yang kau bicarakan?"


"Tentu saja." Indira menyahut santai. "Lagipula, hubungan ini tidak berjalan baik, bukan?"


"Apa itu solusimu terhadap permasalahan? Melarikan diri?" Evan menahan dirinya agar tetap tenang. Karena, oh..., mereka sedang berada di ruang makan sekarang.


Mereka seharusnya sarapan dengan nyaman, bukannya naik pitam. Mereka seharusnya merasakan kedamaian dari secangkir chamomile tea di meja, bukan merasakan amarah mendidihkan darah di otaknya.


Empat orang bodyguard yang menemani mereka di ruang makan itu meneguk ludah. Ketegangan yang mengatmosfir di antara keduanya--membuat ruangan itu terasa sangat mencekam. Fawn yang berdiri di samping Aidan sampai mengernyitkan dahi tidak nyaman.


Haruskah ia mendengarkan ini? Fawn bertanya-tanya penuh iritasi.


"Tentu saja. Apa salahnya dari melarikan diri? Aku tidak merasakan bahagia saat bersama denganmu dan kau terus memperlakukanku seperti ornamen yang hanya perlu menghiasi rumahmu. Oh, belakangan ini kau juga terus mempermalukanku. Aku bertahan selama 6 bulan ini karena ya, kenapa tidak? Tapi..., setelah kupikirkan kembali. Ini tidak baik, hubungan kita tidak baik."


"Jadi, menurutmu berhubungan dengan Ace lebih baik?"


"Ace adalah teman terbaikku."


"Teman terbaik yang kau cium di depan umum. Kau istriku, Indira. Apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan?"


"Hanya memberi materi kepada reporter. Kau boleh menyebarnya lagi kalau kau mau."


"Meneriakiku adalah bentuk ketidak-harmonisan kita. Mari bercerai. Aku akan bicara kepada pengaca--"


"Apa kau pikir aku akan membiarkanmu melakukan itu?"


"Kenapa kau berpikir aku butuh persetujuanmu untuk melakukan sesuatu?"


"Karena kau masih istriku, Indira." Evan berdiri dari tempat duduknya dan menuju Indira yang duduk berseberangan jauh darinya.


Melihat pergerakan Evan, Fawn seketika mencemaskan Indira. Ia takut Evan akan melabuhkan tangannya kepada gadis itu. Fawn hendak menghampiri Indira saat itu juga, andai saja Aidan tidak menahan pergelangan tangannya.


"Ap-apa?" Indira tergagap saat Evan berdiri di sampingnya, punggung bersandar di meja sementara tangannya berlabuh di dagu Indira. Mencengkeram rahang putih itu di dalam tangannya.


"Kupikir aku sudah terlalu lembut padamu," Evan menatap sepasang bola mata Indira, menekan gadis itu dalam tekanan auranya yang tak kasat mata. Ia mendominasi Indira hanya dengan tatapan matanya. Menanamkan ketakutan di sana, bercampur dengan keintiman.


"Ingat apa yang pernah kukatakan padamu?" Evan merendahkan kepalanya ke sisi kanan wajah Indira. Ke perpatahan lehernya yang beraroma seperti vanilla. "Aku akan mengikatmu di tempat tidurku bila itu artinya aku bisa melindungimu."


"Apa kau pikir mengekangku adalah perlindungan?"


"Ya, aku perlu mencegahmu melakukan hal-hal yang akan membahayakanmu."


"Ace bukan bahaya bagiku."


"Ace bukan, tapi aku." Evan memindai ekspresi Indira dari samping. Memperhatikan bagaimana wajah gadis itu menunjukkan keterkejutan dan kebingungan di saat yang bersamaan.

__ADS_1


"Kalau kau berpikir memanas-manasiku dengan tindakan murahan itu akan membuatku marah, kau sangat benar, Indira. Aku sangat marah sekarang dan kau..., kau akan mendapat ganjaran atas ulahmu."


"Apa--"


"..."


"..."


Fawn sangat yakin ia sedang menyaksikan pertikaian Evan dan Indira tadi. Ia sangat ingat kalau topik pembicaraan mereka adalah tentang perceraian. Lalu, bagaimana bisa mereka berakhir dengan saling meraup wajah satu sama lain dalam ciuman?


Apa matanya menipunya atau ia mulai berhalusinasi karena kurang tidur tadi kemarin?


"Fawn," Aidan menegur Fawn.


"Ya?"


"Keluar."


"Hah?"


"Keluar!"


Saat itu juga, Fawn menyadari kalau Rishan--asisten Evan Caspian menunggu mereka di pintu, menggiring mereka keluar dari ruangan itu seperti menggiring domba keluar dari kandangnya.


Fawn mematuhi Rishan dan mau tidak mau kembali ke kamarnya. Tugasnya hari ini sepertinya akan tertunda untuk beberapa waktu. Terima kasih kepada Indira dan Evan yang melakukan sesuatu tidak pada waktu dan tempatnya.


Ting!


Suara notifikasi ponsel muncul dari laci meja Fawn. Dia yang tadinya berbaring telentang di tempat tidur, membuka laci dan menemukan sebuah pesan mendarat di layar ponselnya.


Vera.


[Kalau kau tidak sibuk, bisakah kau datang ke Leviathan?]


[Walaupun kau sibuk, tetaplah datang, please!]


[Seseorang yang 'kau tau siapa' menunggumu di tempat yang 'kau tau di mana'.]


Fawn membaca pesan itu sebelum meredupkan layar ponselnya kembali. Fawn meletakkan ponselnya di dada, memikirkan sosok yang baru saja mengundangnya. Itu Ace.


Dia hendak mengatakan sesuatu, kah?


Apa dia akan menjelaskan dirinya lagi? Fawn bertanya-tanya kembali.


"Fawn?" suara seseorang terdengar dari radio. Itu Aidan.


"Ya?"


"Tuan Anggara mencarimu."


"Eh?"


Fawn bangkit dari posisi berbaringnya dengan segera. Kenapa tiba-tiba?

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2