
[Hubungi aku jika kau tidak sibuk.]
Pesan itu muncul di layar HP Vera, datang dari Anggara. Kerlip cahaya ponsel Vera di dalam kegelapan saat itu juga, menarik perhatian seorang pria yang berdiri di depan baris jeruji.
Mata pria itu menyorot kepada sosok wanita yang masih terkulai lemah di lantai beton yang dingin. Darah mengering di keningnya, dan sebuah rantai mengekang kiri dan kanan tangannya.
Sosok yang terkulai tak sadarkan diri itu adalah Vera, dan berseberangan dengan Vera, ada Evan Caspian yang menggenggam ponselnya.
"Maafkan aku, Angga. Vera-mu sedang sibuk sekarang."
...----------------...
...NORMAL pov...
...----------------...
Sebaskom air mendarat di kepala Vera. Mengguyur tubuhnya hingga seluruh saraf impulsnya bangun dengan keterkejutan. Vera--dengan basah yang sekarang menggenangi tubuhnya--membuka mata.
Kesadarannya yang datang seperti setruman membuat Vera kesulitan mencerna situasinya sekarang. Yang jelas-jelas Vera rasakan saat itu hanya sakit dan ngilu di tubuhnya. Sengatan menyakitkan muncul lebih kuat seiring kesadarannya bertambah. Di punggung, perut, dada dan paling menyakitkan..., di kepala.
"Akhirnya kau bangun juga...," suara asing tersebut bergema di dalam ruang suram yang melingkupinya. Satu-satunya sumber penerangan di sana adalah lampu kuning yang kacanya dipenuhi debu. Lampu itu menggantung di tengah ruangan cahaya temaramnya tidak banyak membantu Vera untuk menyadari di mana dia sekarang.
"Apa kau memukul kepalanya terlalu kuat, dia menjadi tolol dan tidak memperhatikanku." Evan melirik bodyguard yang dia kirim untuk menangkap Vera, mengkritisi kerja bawahannya tersebut karena Vera sudah mengabaikannya.
"Jika aku tidak memukulnya dengan kuat, dia akan terbangun di jalan dan menciptakan kekacauan." Si pengawal berkilah. "Juga, kami kekurangan orang saat kembali jadi..., memukulnya sangat keras adalah pilihan terbaik untuk menuai penuh kesadarannya."
"Oh, oh. Kau datang dengan alasan panjang hanya untuk menjelaskan ketidak-becusanmu." Evan tidak tersentuh. Evan, sebenarnya, merasa keki. Bagaimana bisa satu perempuan membunuh dua bodyguard-nya dan mengirim satu orang lagi ke ICU?
Oke, memang Vera adalah bodyguard Margot, bodyguard dari keluarga Hunter. Tapi, bagaimana bisa setiap anggota mereka menjadi sangat kuat? Apa Ace memaksa bodyguard-nya untuk menyantap steroid setiap pagi?
Dari mana dia mendapatkan manusia-manusia dengan kekuatan iblis ini?
"Sial," Vera mengumpat. Hal pertama yang keluar dari mulutnya saat penglihatannya menjadi lebih jelas adalah umpatan. Vera sekarang bisa melihat dengan jelas sosok Evan Caspian yang duduk bersilang kaki elegan di seberang jeruji ini.
"Bagus, sepertinya kau sudah cukup sadar untuk memahami bahaya situasimu sekarang." Evan melirik Vera, kepala dimiringkan jenaka. Tangannya terayun lembut, mengisyaratkan bodyguard-nya agar mendekati Vera.
Klang!
__ADS_1
Suara gembok besi dan jeruji yang bertubrukan terdengar nyaring. Vera--dalam keadaan masih berbaring di kubangan air--menatap ke arah seorang bodyguard yang masuk ke dalam sel tahanannya. Tubuh pria itu besar dan tinggi.
Menakhlukkan pria itu mungkin bukan masalah bagi Vera, tidak peduli berapa besar mereka. Namun, Vera sedang tidak dalam kondisi fit sekarang. Seluruh ototnya kesakitan dan dingin lantai beton tempatnya berbaring entah sejak berapa lama, telah meresapi habis energinya.
Sementara si bodyguard menuju seutas rantai yang didesain seperti katrol tersebut, Vera yang sebelumnya terkulai lesu--bangun dengan lengan tersentak kuat. Ia berdiri dengan sempoyongan, kaki kehilangan keseimbangan. kedua tangannya yang terikat menjeritkan sakit akibat tarikan yang mengangkat lengannya bangun dengan tiba-tiba.
"Akhirnya aku bisa melihatmu dengan jelas," kata Evan. Seolah-olah cahaya temaram itu cukup sebagai sumber penerangan.
"Jam berapa sekarang?" Vera menatap mata Evan tanpa banyak kepedulian. Seakan ia hanya memandang seonggok sampah di selokan.
"Kenapa kau mau tau?"
Vera bungkam, ia lebih tertarik pada rantai yang mengikatnya sekarang. Itu adalah rantai besar yang tidak bisa ia sentak dan putus. Bentuk gembok yang menahan rantai itu juga bukan gembok yang bisa lepas tanpa kunci spesifik. Hal-hal semacam jepitan rambut atau pisau tidak mampu melepaskan gembok itu. Terkecuali kalau Vera adalah sepupu pesulap Houdini yang bisa melepaskan diri dari kekangan apa saja, maka ceritanya akan berbeda.
Ugh!
"Untuk ukuran seorang bodyguard, Ace sepertinya lupa mengajarimu tata krama."
"Tata krama? Membosankan." Vera meludahi kata-kata itu dengan jijik. "Sekarang, jam berapa?"
"Uh, f---k!" Kaki letih Vera menendang genangan air.
"Kenapa? Apa ada janji spesifik dengan seseorang yang lebih penting sampai kau lebih kesal pada hal itu daripada keselamatanmu?" Evan menebak kekesalan Vera adalah Anggara.
"The f--, bos Margot pasti kesal kalau aku telat mengantar makanannya." Vera mendumel pada dirinya sendiri.
Tidak, bukan berarti ucapan Evan tentang Vera yang tidak mementingkan keselamatannya sendiri adalah kebenaran. Namun, ini adalah strategi. Vera berusaha meredam ego Evan hingga pria itu merasa dia tidak punya kendali terhadap Vera. Hingga ia keki dan frustasi.
Ini adalah mind games.
"Margot?" Evan melompat turun dari bangku singgasananya. Ia melenggang masuk menuju sel Vera dan tanpa aba-aba langsung melayangkan tinju kuat di pipi kanan Vera.
"Apa-apaan? Kalau kau tidak punya kekuatan, minta bodyguard-mu yang memukulku." Vera menanggapi dengan ejekan. "Pukulanmu lebih lemah dari pukulan banci."
...----------------...
"Aku menemukannya," adalah laporan David setelah terjaga semalaman. Rambut pria itu berantakan, dan kemejanya yang keluar dari selipan celana menunjukkan betapa ia melupakan segala hal dan hanya fokus mati-matian pada pekerjaannya.
__ADS_1
"Bos Margot, aku sudah menemukan Vera," lapor David, amarahnya agak membuncah, berpadu dengan ambisi. "Vera ditangkap oleh orang-orang Evan Caspian!"
Margot yang saat itu sedang menyantap sepiring sandwich di meja, berhenti pada aktivitasnya. Ia mendongak menatap David dan jujur saja, walau Vera adalah pengawal pribadi Margot yang sudah bekerja lama dengannya, Margot tidak terlihag panik ataupun marah.
"Apa kau sudah sangat yakin?"
"Aku sudah mengecek setiap CCTV di kota dan menemukan RV yang membawa Vera menuju kediaman Caspian."
"Baiklah, terima kasih atas kerja kerasmu, Dave. Sekarang, kau bisa istirahat."
"Huh?"
Margot melanjutkan sarapannya. "Aku akan mendiskusikan sisanya setelah Ace pulang."
"Tapi bos Ace akan pulang nanti sore!" David merasa kesal atas kurangnya urgensi dalam tanggapan bosnya tersebut. Padahal ini Vera, loh! Vera!
"David..., apa kau mendengarkanku? Atau kau memaksaku mendengarkanmu?"
"Aku mencemaskan Vera, Bos."
"Dia akan baik-baik saja." Margot mengunyah pelan. "Dia punya pertahanan yang kuat."
"Tidak semua orang kuat terhadap peluru." David masih bersikukuh.
"Jika Evan mau Vera mati, dia akan menembak Vera. Namun, melihatnya repot-repot menculik Vera ke mansionnya, hal tersebut hanya berarti Vera memiliki apa yang dia inginkan."
"Dia akan menyiksa Vera," pikiran David gundah-gulana.
"Dia bisa mencoba."
"Bos Margot, apa yang harus kulakukan?"
Margot mengangkat gelas kaca di meja dan menyesap jus jeruk di sana.
"Beristirahatlah. Prajurit hanya berguna ketika dia fit."
...----------------...
__ADS_1