
...FAWN pov...
...----------------...
Malam hari, masih di kamar yang membelengguku seperti sangkar, aku duduk bersila di sofa sambil menyantap buah strawberry segar yang diberikan Felix sebagai cemilan penutup. Mungkin karena cuaca belakangan ini sangat panas, menyantap buah-buahan masam menjadi hobiku sekarang. Rasanya sangat menyegarkan. Aku merasa sangat gembira ketika asam dan manis strawberry itu menyengat mulutku. Aku sampai tidak sadar diri saat mengangkat mangkukku ke udara dan menawarkan makananku ke Ace yang sedang bekerja di tempat tidur.
"Ace, kau mau?" Adalah ucapan yang langsung kusesalkan kemudian. Apa yang kupikirkan bersikap ramah dengan si bajingan itu?
"Aku mau kalau kau menyuapkannya langsung ke mulutku." Ace menanggapi sambil memamerkan seringai iblisnya yang konon--dikatakan sangat memikat. Bagiku tidak. Dia terlihat menjengkelkan.
"Aku cuma basa-basi." kataku lalu kembali menggigit strawberry. Sementara aku mengunyah buah itu di mulutku, aku memperhatikan Ace yang sedang bekerja serius di tempat tidur. Matanya terpaku kepada laptop sementara jari-jemarinya berlarian di atas keyboard. Dia sesekali mengecek ponsel juga, menelepon seseorang dan meminta data yang entah untuk apa.
Melihat Ace yang serius bekerja, aku jadi ingin mengganggunya.
Oke, ini keinginan yang bodoh. Tapi menjadi jahil bukanlah salahku. Aku sudah terkurung lama di tempat ini, sekarang sudah masuk bulan ketiga. Aku juga ingin bersenang-senang, bercanda dengan orang-orang--yang mana kasus di sini adalah Ace. Karena dia satu-satunya orang yang dapat kutemui, aku akan memanfaatkannya untuk kesenanganku. Seperti dia memanfaatkanku untuk kesenangannya, kan?
Huh, ya. Aku tidak salah sama sekali.
"Ace..." Aku memanggilnya lagi--kali ini cukup nyaring.
"Ada apa?" Dia mendongak sekilas saja.
"Apa yang kau kerjakan?"
"Sesuatu yang otak tololmu tidak akan mengerti."
Si sialan keparat ini!
"Ace..." ulangku.
"Mmm?"
"Aku mau menonton drama."
"Carcel ada di luar, minta dia mengantarmu ke tempat Margot." Ace menanggapiku tanpa mengangkat kepalanya sama sekali. Sialan, apa aku tidak penting? Aku akan melarikan diri loh!
"Aku tidak mau ke kamar nona Margot," kali ini aku berucap dengan suara penuh keluhan. "Bagaimana kalau menonton di laptop-mu saja?"
"Aku sedang bekerja, Fawn."
__ADS_1
Apa dia pikir aku buta? "Kau bosnya bukan? Kenapa kau bekerja nonstop?"
"Karena aku bos, aku harus memberikan contoh yang lebih baik kepada para karyawanku."
"Bijaknya..." Aku mencibir.
Sepertinya usahaku untuk mengusik pria itu berujung sia-sia. Ace sepertinya lebih mementingkan pekerjaannya daripada aku. Yah, itu sudah pasti sih. Bagaimana ini, aku jadi bosan? Haruskah aku keluar dan minta Carcel mengajakku ke kamar nona Margot? Tsk. Aku tidak ingin menonton drama, sebenarnya. Tapi aku juga tidak mau diam seperti orang dungu di sofa ini.
"Miaw..." Aku mendengar suara Butter.
Anakku tersayang sepertinya sudah bangun dari tidurnya yang panjang. Si manis berwarna abu-abu itu melakukan peregangan. Aku segera mendekati Butter dan menghujaninya dengan kecupan. Hangat dan halus bulunya menyapu wajahku. Aku merasa nyaman sebentar sebelum aku tersadar kalau Ace sedang menatapku.
"Ada apa?" tanyaku seketika. Apa dia sebegitu malas dengan keberadaan Butter?
"Bulu kucing tidak baik untuk paru-parumu, Fawn. Berhenti mengendusnya seperti dia adalah oksigen."
"Hei, namanya Butter." Aku menggendong Butter di dadaku dan menghampiri tempat tidur. sudah saatnya aku membuat mereka berdamai. Tidak ada manusia di dunia ini yang mampu bertahan oleh pesona seekor kucing, aku mengatakan apa yang kukatakan. Kalau kalian tidak setuju, silakan berdebat dengan tembok!
"Lihat, dia menggemaskan, bukan?" Aku duduk bersila disamping Ace dan menggunakan tangan Butter untuk melambaikan tangan kepada Ace. Pria dingin itu--jika aku akan melihatmu bermanjaan dengan anakku nanti, aku akan tertawa paling besar.
"Say Hi to Butter, please..." Aku kembali berbicara, walau aku tidak yakin Ace akan menanggapiku. Pria itu berpura-pura menjadi tuna rungu.
Mengembuskan napas keras.
"What do you want?" Ace pun menghentikan pekerjaannya sebentar dan menatap wajahku.
"Lihat, Butter..." kataku lalu mengangkat Butter di depan mukaku. "Imut, kan?"
"Siapa yang imut? Aku tidak melihatnya."
"Huh?" kurang tinggi apa aku mengangkat Butter agar dia bisa melihatnya langsung?
"Kucing sialan ini menutupi keimutan orang yang sedang kupandang."
"Hei, berhenti menyebut Butter seperti itu..." eh, tunggu, apa?
Aku termenung dan Butter meluncur dari tanganku begitu saja. Menyisakan aku dan Ace yang saling menatap. Jantungku kembali berdegup kencang, mengingatkan aku kepada kejanggalan yang kerap kurasakan belakangan. Sialan, ini tidak baik. Aku pasti punya penyakit jantung karena sering menyantap makanan yang berlemak. Jantungku jadi sangat tidak terkendali.
"Pemandangan ini lebih bagus," Ace berucap sambil mengusap pipiku dengan ibu jarinya. "Sekarang, aku akan bekerja. Aku akan memberikanmu perhatian kalau aku sudah selesai, oke?"
__ADS_1
"Siapa yang bilang aku butuh perhatianmu?" Aku meringis jijik. "Dasar narsis."
Lebih baik aku bermain dengan Butter di balkon, mengejar binatang malam daripada berurusan dengan Ace yang tidak jelas. Tcih, tidak jelas, tidak jelas. Omongannya sangat tidak jelas. Siapa yang mencari perhatian? Apa dia pikir aku mencari perhatian padanya? Tcih! Tidak mungkin.
"Tunggu, tunggu..." Ace tiba-tiba menghentikanku, tidak sekedar menghentikan dengan kata-kata. Si keparat itu tiba-tiba mengalungkan tangannya di perutku dan memelukku dari belakang. Berat dagunya menyapa pundakku. "Biarkan aku mengisi tenagaku sebentar."
"Heh, ya..., apa kau robot?" Aku berusaha melepaskan diri darinya tapi terhenti ketika aku merasakan panas desau napasnya di leherku. Tubuhku membeku. Sensasi menggelikan itu sangat tabu, tapi sangat menciptakan candu. Aku memejamkan mata, diam-diam membiarkan ia menyapu lembut bibirnya di permukaan kulitku. Ace sialan, dia sudah seperti racun, dan aku...
"Kau beraroma seperti strawberry..."
"Itu karena aku makan strawberry tadi."
"Apa kalau aku memakanmu, kau juga akan terasa seperti strawberry?"
Aku melirik sekilas kepada Ace yang beristirahat di pundakku. Aku tidak bisa melihat wajahnya, tapi hanya dengan melihat surai hitam yang jatuh halus dan agak berantakan itu membuat dadaku terasa hangat. Sialan! Apa yang baru saja kupikirkan?! Ew!
"Kau kedengaran menjijikkan." kataku kepada Ace, menutupi kegugupanku yang kembali memuncak karena keresahan hatiku yang tidak terkendali.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku," Ace terkekeh. Suara tawanya yang samar dan terbenam di pundakku membuat aku semakin mengerutkan hidungku. Aku tidak bisa menahan sensasi aneh yang seakan-akan membakarku hidup-hidup. Ini tidak baik. Aku tidak seharusnya berpikir Ace lucu, tapi sialan, dia kedengaran lucu. Aku pasti gila.
"Lepaskan aku, kau punya kerjaan yang harus kau selesaikan."
"Baiklah, aku akan melepaskanmu..." Ace menanggapiku sambil menghela napas berat.
Aku pikir dia akan melepaskanku begitu saja sampai...
AWWW!!!
Aku meringis sakit saat gigi Ace mendarat di leherku. Menggigitku kuat seperti menggigit sebuah Apel. Aku memejamkan mata kesakitan sebelum berbalik dan menatapnya dengan kekesalan.
"Apa yang kau lakukan!" Aku berseru marah.
"Mencicipi strawberry."
"Kau gila!" Aku meludahi kata-kata itu dengan wajah memanas malu. Sialan, seharusnya aku terbakar oleh amarah sekarang. Tapi melihat ekspresi Ace yang jenaka, rentetan omelan penuh marahku yang sudah diujung lidah tertelan ke kerongkongan. Aku meneguk ludah susah payah dan melarikan diri dari sana.
Menakutkan, terlalu lama bersama Ace membuatku nyaris gila!
...----------------...
__ADS_1