
...NORMAL pov...
...----------------...
"Kau berharap aku serius padamu? Melihatmu masih hidup hari ini saja sebuah kelegaan bagiku. Hei, Vera..., dengarkan aku! Dengan pekerjaanmu yang seperti sekarang, pekerjaan yang mempertaruhkan hidup dan mati di garis depan, apa kau pikir aku bisa serius padamu? Apa kau pikir akan ada pria yang mau serius padamu?"
Tidak, mungkin tidak ada. Vera menjawab pertanyaan yang lagi-lagi terngiang di benaknya ketika ia mengingat wajah Alle--sang mantan kekasih yang sudah berbahagia dengan kehidupan barunya.
Vera tau, pekerjaannya sebagai bodyguard bukanlah pekerjaan yang aman. Dia sudah memahami situasinya sejak awal. Dia bisa mati kapan saja, bisa dijadikan perisai peluru oleh bosnya, dan pada umumnya--pekerjaan ini memang tidak bagus sama sekali. Tidak bila kekasihnya adalah tipe pria yang mendambakan wanita kalem yang menjalani kehidupan layaknya seorang Rapunzel.
"Situasinya benar-benar menjengkelkan, bukan?" Vera bergumam pada dirinya sendiri. Matanya terpaku kepada layar ponsel yang menyala di kegelapan lorong itu. Foto Alle yang bersanding dengan istrinya nampak indah di sana, di dalam layar ponselnya. Mereka sangat berbahagia. Rambut biru Alle juga sudah menghilang seketika. Dia mewarnai dirinya baru.
Jika saja dirinya bukan seorang bodyguard, bukan seorang gadis keras kepala yang pandai bela diri sejak dini--apakah kehidupan romansa seperti dongeng itu akan sampai kepadanya? Vera bertanya-tanya sambil menyulut rokok ketiganya. Ia menghela napas gusar. Jawaban untuk pertanyaan di kepalanya mungkin adalah tidak. Dia tidak bisa mengubah takdirnya, dia memang dan akan selalu bekerja di lini ini. Yang mana itu berarti, dia tidak akan mendapatkan negeri dongeng penuh cinta dan gaun merah muda.
"Ahahahaha, jangan bercanda. Dia tidak mungkin menatapku..."
"Aku serius, aku melihatnya diam-diam melirik ke arahmu. Kau harus menghampirinya!"
Di lorong gelap yang terhubung kepada toilet Leviathan itu, Vera yang merokok sendirian memperhatikan tiga gadis muda melenggang keluar dari toilet dengan tawa dan energi yang tumpah-ruah. Melihat mereka, Vera jadi teringat pada masa mudanya. Ketika dia masih 20 tahun, dia menghabiskan hidupnya berlatih keras di dojo, membanting pria yang lebih besar darinya.
"Aaaah, menyebalkan!" Vera jadi kesal. Ia menginjak sisa rokoknya ke lantai sebelum menyulut satu lagi.
"Di sini kau rupanya," sebuah suara melewatinya. Sejenak, Vera mengira sosok itu bicara di telepon, tapi ketika dia melihat wajah pria itu baik-baik, Vera sadar kalau pria itu bicara dengannya.
"Tuan Anggara," Vera menegapkan postur berdirinya. Sialan, bahkan di hari libur dia harus bersikap sopan dan menjilat tumit orang kaya ini agar mereka merasa dihormati. Karena jika tidak, ego mereka bisa terluka dan mereka bisa membunuh bodyguard rendahan sepertinya. Hanya karena mereka mampu dan kaya. itu saja!
"Apa yang kau lakukan sendirian di sini?" Anggara bersandar di tembok yang berseberangan dengan Vera. Lorong itu sudah sempit dan hanya muat untuk tiga deret orang, menambah dirinya di sana hanya akan membuat orang kesulitan lewat.
"Aku--tidak ada. Aku hanya ini..." Vera menunjuk rokok di sela telunjuknya.
"Oh, kau tidak mabuk hari ini?"
"Aku menghindari hal itu belakangan ini," sahut Vera kembali. Dia tidak mau kebodohannya ketika teler akan membawanya kembali kepada masa ketika ia melakukan hal terlarang itu kepada musuh bosnya. Sialan! Meskipun itu sangat luar biasa, itu tidak bisa! Tidak bisa, Vera!
"Apa kau libur?" Anggara lanjut bertanya.
"Begitulah, tuan Angga. Ngomong-ngomong, apa kau ada perlu padaku?" Kalau tidak ada, pergi!
__ADS_1
"Aku ingin bicara denganmu," sahut Anggara, seringai tipis mekar di parasnya. "Atau lebih. Kita tidak pernah punya waktu luang untuk bertukar obrolan, bukan?"
"Kita bukan teman yang perlu bertukar obrolan."
"Kita juga bukan musuh, jadi tidak perlu terlalu dingin padaku, kan?"
"Tuan Angga..."
"Angga saja."
"Tuan Angga," Vera mengulang penuh tekanan. "Apa kau berusaha memanfaatkanku untuk mendekati nona Margot atau ini upaya lain agar aku berkhianat? Apa pun itu--apa pun yang berusaha kau lakukan, kusarankan kau untuk berhenti, tuan Angga!"
Vera benar-benar tidak bisa terjebak di situasi ini. Permainan semacam saling memanfaatkan, itu tidak mempan padanya. Vera bukan tipe yang akan menyerahkan dirinya kepada lawan hanya karena ia terbuai oleh perasaannya sendiri. Dia sangat loyal kepada keluarga Hunter, bukan karena keluarga itu sudah berjasa kepadanya, tapi karena Vera memutuskan menaruh komitmennya di sana. Vera sudah tegas dalam pendiriannya, jadi apa pun tujuan Anggara untuk merecokinya--tidak akan berhasil!
Vera yakin Anggara tidak akan berhasil.
"Apa aku harus berhenti juga ketika aku mengatakan aku ingin bersamamu lagi, seperti malam itu?"
"Jangan..." Vera memberikan peringatan ketika Anggara mengambil selangkah lebih dekat kepadanya. Sudut bibir Vera berkedut menahan senyuman--sialan, Vera, sialan! Pria ini berbisa. Vera tidak mengerti mengapa dia bisa tergoda kepada pria ini? Dia buruk dalam pendekatan dan terlalu terang-terangan. Dia adalah pria yang seharusnya tidak Vera sentuh.
"Ini bukan hal serius," ujar Anggara. Jemarinya menyentuh pinggul Vera, merengkuh gadis itu semakin rapat kepadanya. "Kau tau..., ini hanya antara kau dan aku."
"Anggara," Vera menahan napasnya. Ia menatap kepada sepasang iris cokelat yang mengundangnya ke dalam neraka. Sungguh indah dan menghipnotis mata.
"Kau tidak bekerja hari ini, Vera. Kau tidak perlu mencemaskan apa pun." Anggara melabuhkan kepalanya di tengkuk Vera, menghirup aroma tubuh gadis itu yang seperti tembakau dan vanilla.
"Kau tidak perlu berdiri di pihak mana pun hari ini."
Kendati jarak semakin menipis di antara mereka, Anggara tidak serta-merta mendorong Vera ke dalam permainannya. Ia menunggu di sana, dengan setiap godaan-godaan kecil yang membuat Vera memejamkan mata. Terengah dalam gairah yang semakin membuncah.
"What do you think?" bisik Anggara, matanya bergulir naik memperhatikan wajah memerah Vera.
Tanpa menanggapi Anggara dengan kata-kata, Vera membuang napas kasar sebelum menarik pria itu menuju kamar mandi di ujung lorong. Anggara mengikutinya dengan senyuman. Belum sempat mereka memilih bilik, Anggara sudah menyambar Vera ke dadanya, mendorong langkah gadis itu menuju wastafel yang berderet di depan cermin.
Anggara memutar tubuh Vera menghadap ke arahnya, memberikan Vera kecupan kasar di bibirnya yang terbuka. Vera meraup Anggara dalam dekapannya, menarik pria itu agar semakin dalam dan semakin erat di tubuhnya.
"Sheeesssh!" Vera mendesis lirih ketika lidah Anggara merambat ke lehernya. Menyapu kulitnya dengan panas saliva yang gigitan-gigitan ringan yang menggelapkan mata.
__ADS_1
"Angg--hmm..." Vera kembali dibungkam oleh bibir yang sama. Lidah yang berpadu padan saling mendorong dan menunjukkan dominan. Lenguhan lepas bergantian dari bibir Anggara dan Vera, keduanya kesulitan menahan gairah yang memuncak dan merayap di setiap kulit mereka seperti dilahap oleh api.
Mereka tergesa-gesa, haus dan lapar akan kepuasan yang sudah berada di depan mata.
"Kau terasa seperti rokok," Anggara terkekeh tipis ketika pagutannya dan Vera terlepas, ia mengangkat Vera ke atas wastafel dan melingkarkan kaki gadis itu di pinggangnya.
Sementara mata mereka terpaut pada satu sama lain, tangan Anggara bermain dengan lihai dalam melepaskan satu persatu kancing kemeja flanel hitam yang menutupi tubuh Vera.
"Bos Margot akan membunuhku," gumam Vera saat kecupan Anggara kembali berlabuh di pundaknya. Ia memejamkan mata, merasakan bagaimana panas setiap sentuhan Anggara menciptakan kupu-kupu berterbangan di perutnya. Sangat menggelitik dan berbahaya.
"The hell, with her. Aku tidak peduli padanya." Anggara menangkup pipi Vera, menarik paksa kesadaran Vera agar terarah kepadanya. "I just want you."
"Omong kosong," Vera tertawa, karena bagaimanapun, hubungan ini hanya lelucon saja.
Anggara tidak menyangkal Vera. Tidak perlu meyakinkannya.
Anggara hanya memutar Vera menghadap kaca, memperlihatkan bagaimana wajah gadis itu basah oleh keringat akibat aktivitas mereka. Napas terengah-engah dan pipi yang memerah. Ini adalah pemandangan yang sulit lepas dari pikiran Anggara belakangan.
Tidak perlu keseriusan apa pun dalam setiap ucapannya, Anggara hanya ingin merasakan sensasi yang sama yang ia dapatkan hanya dari wanita ini saja.
"Mari lewatkan omong kosongnya kalau begitu," Anggara mengecup tengkuk Vera dan memberikan bisikan lirih di balik daun telinganya.
"Sekarang, lebarkan kakimu untukku." Anggara menyeringai dalam pantulan dirinya di kaca. Tangannya berlabuh ke tengkuk Vera, mencengkram leher yang sudah bermandikan bekas gigitan itu dengan kekuatan yang membuat Vera cukup kesakitan.
Sialan!
Vera benci kata-kata pria itu yang merendahkannya! Vera membenci Anggara dan sikap diktatornya.
Vera benci Anggara karena tindakan pria itu menciptakan gairah di dirinya menjadi sangat tak terkendali. Kata-kata merendahkan yang pria itu ucapkan juga, seperti minyak yang membuat api di tubuhnya membara.
Vera memejamkan mata dengan tubuh yang meriang luar biasa. Sensasi yang layaknya ekstasi itu membuatnya melupakan realita, menanggalkan harga dirinya.
Saat itu..., di pikirannya hanya ada dia dan Anggara. Terpaku di depan cermin yang membuatnya menyadari seberapa rendah dirinya sebagai manusia. Seberapa banyak ia menikmatinya pula.
Ini dosa yang berbahaya. Rahasia.
...----------------...
__ADS_1