
...NORMAL pov...
...----------------...
Loyalitas Fawn kepada keluarga Rashid sudah terukir di atas batu, permanen dan tidak akan bisa luntur. Ace--sebagai pria yang sejak pertama kali bertemu Fawn langsung terpukau atas kesetiaan gadis itu--tidak akan terkejut bila sewaktu-waktu perpecahan terjadi, Fawn akan mengorbankan dirinya sebagai perisai dari dua bersaudara Rashid tersebut.
Ace tentunya tidak menyukai sikap berani mati Fawn. Dia tidak menyukai bagaimana Fawn terlalu menganggap enteng kehidupannya tanpa tau kalau bagi Ace, gadis itu sangat berharga daripada semua orang yang bernapas di dunia ini.
Carcel yang merupakan bodyguard Ace sejak remaja juga memperhatikan hal yang sama dengan Ace. Bahwa loyalitas Fawn bukan sesuatu yang dapat digoyahkan oleh sebuah hal ringan semacam bujukan dan kalung berlian. Tidak..., Fawn akan berdiri kukuh sebagai perisai Anggara. Yang sayangnya, Anggara adalah pion Evan Caspian. Pria yang harus Ace eliminasi bila ia menginginkan kehidupan yang nyaman bersama Fawn.
"Apa yang akan kau lakukan, Bos?" Carcel menanyainya waktu itu.
Hari ketika Fawn menapak keluar dari mansionnya, lepas seperti merpati yang terbang dari sangkarnya. Ace yang terbenam dalam kefrustasian mendalam--menatap kepada pintu balkon kamarnya yang terbuka. Kepada dunia luar yang sudah mencuri Fawn darinya.
Sebuah obsesi tumbuh di matanya, mekar liar dan menjalar di dalam nadinya.
Ace menggigit bibir.
"Aku harus menghancurkannya," gumaman Ace membuat Carcel tersesat. Siapa?
"Jem?" Carcel menanyai sosok itu karena Jem adalah penyebab utama Fawn pergi dari rumah ini. Jem adalah orang yang memicu keberanian Fawn memuncak.
"Apa aku terlihat peduli pada keparat itu sekarang?" Ace menimpali Carcel dengan suara yang menyiratkan ejekan. Ia merendahkan kemampuan Carcel dalam mengikuti ucapannya.
"Lalu...?" Carcel masih belum menemukan sosok yang dimaksudkan tuannya. Tidak sampai Ace mendongak dengan mata memerah, senyum sinis merekah.
"Maafkan aku sudah bertanya."
Carcel sudah menemukan jawabannya. Carcel menyesal sudah menemukan jawaban itu, karena itu hanya berarti satu. Ia sudah memahami Ace dan mengerti jalan pikiran pria itu. Itu berarti, Carcel akan menjadi saksi dari kegilaan lain yang akan bosnya lakukan.
Hari ketika Fawn pergi meninggalkan mansion keluarga Hunter, hari itu juga..., Carcel menyadari gadis itu sudah melakukan kesalahan terbesarnya.
Melawan Ace adalah kesalahan pertamanya.
...----------------...
"Nona Fawn sudah datang." Rio memberi laporan kepada Ace yang duduk sendirian dengan segelas champagne di tangan. Mendengar laporan itu juga, Ace menyunggingkan seulas senyum tipis di bibirnya.
"Hn, itu bagus. Bagaimana dengan penguntit yang mengikutinya belakangan ini? Apa kau sudah tau siapa orang itu?"
"Dia hanya reporter dari perusahaan kecil. Dia mulai mengikuti Fawn setelah melihat interaksi Fawn dengan Vera di Leviathan. Dia bukan suruhan siapa pun. Haruskah aku menyingkirkannya sekarang?"
"Oh," Ace cukup takjub. Bila orang itu--si reporter-- bukan suruhan siapa pun, maka orang itu lebih pintar daripada siapa pun yang sudah menjadi lawan Ace selama ini. Anggara dan Evan, keduanya bahkan tidak menemukan kaitan Fawn dengannya. Bagaimana bisa seorang reporter dari perusahaan kecil--mempunyai insting yang tajam.
"Jangan singkirkan dia," putus Ace saat itu juga.
"Apa itu baik-baik saja?"
Ace mengangkat bahu. "Seseorang dengan ambisi untuk menjadi besar akan sangat berguna untukku. Hanya..., pastikan saja dia belum menghubungi Evan atau Anggara. Aku membutuhkan dia bergerak ketika aku ingin dia bergerak."
__ADS_1
"Baiklah, Bos." Rio patuh.
"Bagaimana dengan Vera?" tanya Ace lagi. Kali ini mengungkit bodyguard Margareth yang sedang menjalin hubungan tanpa nama bersama Anggara. Seorang gadis yang berani, Ace sangat takjub pada relasi Vera dan Anggara yang mekar dan bertahan cukup lama.
"Aku mengirim informasi mereka kepada reporter Jun. Tinggal menunggu waktu sebelum dia menegosiasikan informasi tersebut kepada Evan."
Menemukan semua rencananya berjalan dengan aman, Ace merasakan ketenangan. Sekarang, ia tinggal menunggu Fawn masuk melalui pintu itu dan harinya akan berubah menjadi lebih menyenangkan daripada apa yang sudah ia rasakan sekarang.
"Bos Ace," Rio menyadari suasana hati tuannya sedang dalam keadaan baik sekarang. Akan tetapi, ia tidak bisa menghentikan dirinya untuk tidak bertanya. Tidak bersuara. "Jika Evan tau mengenai Vera dan Anggara..., apa..., Vera akan baik-baik saja? Maksudku..., apa ini perlu?"
Ace mendongak menatap kepada Rio. Bodyguard-nya yang lebih berpengalaman di bidang memata-matai dan membunuh dari jarak jauh itu bukanlah seseorang yang pandai di bidang strategi. Dia masih perlu belajar banyak dari Carcel yang dari segi apa pun, lebih pandai, lebih memahaminya. Tau kapan harus bicara, dan tau kapan harus menutup mulutnya. Hal semacam mencemaskan orang lain, hal-hal manusiawi semacam perasaan, ketakutan, kekhawatiran--Carcel tau kapan harus mengontrol itu semua dan menyembunyikannya.
Rio belum tau itu.
Ace terpaksa berkompromi pada ketidaktahuan bodyguard-nya tersebut. Yah, anggap saja dia sedang mengajar Rio tentang satu dua hal.
"Vera akan baik-baik saja." Ungkap Ace. "Evan tidak akan menyentuhnya. Well, lebih seperti dia tidak akan membunuhnya. Vera tau apa yang harus dia lakukan bila situasi berbahaya akan terjadi. Kau hanya perlu menonton dari kejauhan."
"Bagaimana bila Vera mengkhianati kita?" Rio ragu-ragu. "Maksudku, jika dia mencintai Anggara, besar kemungkinan dia akan mengorbankan pekerjaannya untuk bisa bersama Anggara, kan?"
"Aku tidak akan bisa melakukan apa-apa bila situasi semacam itu terjadi." Ace tersenyum lagi. Bukan karena ucapan Rio menghiburnya, melainkan karena ia menemukan Fawn muncul di depan pintu.
Memasuki dining hall dengan langkah ragu dan kikuk. Fawn seperti seekor rusa yang tersesat di pusat kota. Keasingan yang melingkupinya membuat sepasang iris hazelnya melebar waspada.
"Pokoknya, Rio, kau tidak perlu mencemaskan apa pun." Ace mengubah sikapnya menjadi lebih rileks. "Kau hanya perlu melakukan apa yang kuperintahkan. Jika kau mempunyai pertanyaan, kau bisa mendiskusikan segalanya pada Carcel."
Carcel yang dimaksudkan sedang melenggang dua langkah di belakang Fawn. Mata tertuju tenang kepada Ace, menyiratkan kalau dia sudah melakukan tugasnya dengan tuntas dan sempurna.
Tanpa menaruh peduli pada bodyguard-bodyguard yang melingkupinya lagi, sepasang iris hitam bak permata onyx itu terpaku kepada kedatangan sosok Fawn. Fawn dengan rambut yang diikat satu--agak berantakan, kaos hitam polos, celana kargo berwarna hijau kusam, dan sepatu boots.
Dengan penampilan simple Fawn, Ace menemukan dirinya tetap terpesona. Tetap jatuh pada sosok yang sama. Sosok yang memegang kekang tak kasat mata yang mencekik lehernya.
Fawn dengan senyum polos dan sepasang iris cerahnya tidak akan tau betapa besar dia memiliki kendali atas sosok Ace yang berdiri di hadapannya sekarang. Sosok yang tersenyum dominan, dengan keangkuhan yang menutupi kelemahannya. Fawn tidak akan tau kalau Ace sudah melihatnya, mengaguminya layak dewa.
Ace tidak terbiasa pada cinta. Seperti yang ia katakan, seperti yang selalu ia pikirkan, cinta adalah kelemahan. Sekarang, cinta itu sudah mengonsumsinya, dan sampai ia mendapatkan Fawn kembali seutuhnya, menjadi miliknya, Ace akan terus menyalahkan Fawn atas perasaan dan kelemahan yang ia rasakan sekarang.
"Selamat datang," sapaan Ace ringan. Berbanding terbalik oleh pikirannya yang menghitam. Ia menginginkan Fawn sekarang, merantainya, mengikatnya hingga gadis itu hanya menjadi miliknya.
Tapi itu tidak akan berhasil. Tidak bila ada rantai lain yang sudah mengikat Fawn. Sebuah ikatan bernama kesetiaan, ikatan yang demi apa pun, akan Ace hilangkan.
"Ada apa kau mengajakku kemari?" Fawn agak bergidik ngeri pada kemewahan yang melingkupinya. Ia hanya terbiasa pada hal-hal biasa. Daripada menyantap makanan di dining hall hotel yang setiap sudutnya mengkilap, Fawn lebih nyaman duduk di sebuah cafe atau mini restaurant yang menyajikan makanan siap saji dan secangkir kopi.
"Aku ingin bicara padamu," ujar Ace.
Fawn duduk di seberang Ace, mata menatap kepada seisi meja yang menunjukkan makanan mewah yang ia ingat--merupakan makanan yang kerap ia santap saat awal-awal tinggal di mansion keluarga Hunter. Makanan khas luar negeri yang porsinya tidak lebih banyak daripada makanan kucing. Oh, ya, tidak ada nasi juga di sana. Itu mengecewakan.
Fawn ingin makan nasi.
"Kedengarannya serius. Carcel juga bilang kau ingin membicarakan sesuatu yang penting."
__ADS_1
Ace mengangguk. "Ini memang penting."
"Jadi..., apa itu?" Fawn berusaha mencairkan situasi yang tiba-tiba terasa agak tegang, ia tersenyum samar.
Kenapa Ace menatapnya dengan sangat serius? Apa pria itu hendak melamarnya? Mengeluarkan sebuah cincin dari saku dan membuat pengakuan romantis seperti yang sudah tertulis di buku-buku romansa?
Eiii, tidak mungkin, kan?
Fawn lebih percaya kalau Ace lebih ke tipe pria yang akan menikamnya daripada melamarnya. Juga, kenapa dia malah membayangkan hal yang begitu jauh? Bahkan jika Ace melamarnya, Fawn tidak merasa ia akan mampu menanggapi pria itu saat itu juga. Fawn mungkin lebih memilih lompat dari atap gedung ini daripada mendengar sebuah lamaran.
Bukan berarti ia enggan bersama Ace. Hanya saja, Fawn belum berpikir jauh sampai ke sana.
Lagipula, situasi saat ini bukan waktu yang tepat untuk menikah.
Hei!
Fawn mau menghantam wajahnya ke atas meja kaca itu. Membenamkan wajahnya di atas makanan yang dia sendiri tidak tau cara menyebutkannya karena terlalu banyak Q di sana.
"Fawn, apa kau baik-baik saja?" Ace meninggikan sebelah alisnya. Ia lagi-lagi dihadapkan pada sosok Fawn yang gemar terbenam dalam pikirannya sendiri.
Kadang Ace penasaran pada apa yang gadis itu pikirkan, membedah isi kepalanya dan mengecek apa sebenarnya yang mengalihkan perhatian Fawn darinya. Apa yang lebih penting sampai Fawn meninggalkannya dan terpaku pada pikirannya sendiri?
"Maaf, maaf. Aku hanya, aku tidak..., maksudku, lanjutkan." Fawn yang tertangkap basah sedang merenung, spontan memamerkan cengiran lebar. Terlalu lebar, sebenarnya. Dia seperti anak kecil yang berusaha menutupi rahasia dari ibunya dengan berpura-pura tolol.
"Jadi..., ada apa?" gumam Fawn kemudian.
"Aku...,"
Sial, apa ini akan benar-benar menjadi lamaran?
Ace menarik napas dalam. "Aku ingin menawarkan perlindungan padamu."
"..."
"..."
Jadi..., bukan lamaran.
Wajah Fawn seketika bersemu merah. Senyum lebarnya merosot dan memudar.
Tidak, ia sedang tidak tersipu oleh ucapan Ace dan dua tiket pesawat yang pria itu sodorkan kepadanya. Tidak, Fawn hanya sedang merasa malu luar biasa atas pemikirannya sendiri.
Kenapa dia berpikir sampai sejauh itu? Lamaran? Itu..., pasti mustahilkan? Ace tidak mungkin akan melamarnya.
Ya, Ace tidak mungkin melamarnya.
Memikirkan ketidak-mungkinan itu, Fawn merasa seperti sebuah pisau tersangkut di kerongkongannya. Ia seharusnya tidak berharap apa-apa. Tidak memikirkan jauh ke sana. Dia bahkan berpikir tentang sebuah penolakan kalau-kalau Ace memang akan melamarnya.
Tapi mengapa..., ketika apa yang ia takutkan tidak menjadi kenyataan, ia malah menemukan kekecewaan?
__ADS_1
...----------------...