
...FAWN pov...
...------...
Jika teman-temanku sesama bodyguard di kediaman keluarga Rashid melihat penampilanku saat ini, aku bertaruh seratus juta kalau mereka semua akan tertawa terpingkal-pingkal. Joseph mungkin akan terbahak besar dengan mata yang melebar tidak percaya. Aku sendiri ingin terbahak menatap penampilanku di cermin, andai saja nona Margot tidak berada di belakangku. Memantauku dengan keseriusan seorang penata busana.
Aku tidak ingin membuat wanita itu tersinggung setelah upaya kerasnya meriasku yang tidak cantik ini menjadi seperti sekarang--masih tidak cantik tapi berpenampilan mewah.
Baju dengan brand mahal melekat di tubuhku dengan pas. Kata Vera, nona Margot sengaja membelikan baju itu untukku beberapa hari lalu tapi belum sempat memberikannya karena dia masih marah pada Ace. Aku tidak begitu peduli pada sejarah baju yang kupakai karena sekarang aku masih tidak nyaman melakukan pergerakan.
Bayangkan, bagaimana bisa aku melangkah bila setiap kali aku membuka langkah, kaki kiriku akan terekspos nyaris mencapai pangkal paha karena irisan lebar yang menyamping di desain baju itu?
Aku merasa baju ini didedikasikan kepada wanita-wanita dengan kepercayaan diri tinggi. Seseorang yang bukan aku. Aku malu ketika kakiku terekspos, jejak luka akibat jatuh saat kecil dan jejak luka akibat sparing tertera di sana seperti cela.
"Wow, kau sangat cantik." Vera yang menemani nona Margot sambil memakan sebuah apel berkomentar. Tapi aku tidak percaya. "Jika itu aku yang memakainya, aku pasti terlihat seperti John Cena menggunakan dress." tambah Vera lagi.
"Kau baru tinggal di sini sebulan lebih tapi otot-ototmu sudah meleleh, aku takjub sekali." nona Margot ikut bicara, dia memijat-pijat lenganku, seperti mencari bisepku yang sudah layu. "Felix pasti memberimu makan sangat baik."
"Aku akan menganggap ini body shaming," tudingku lalu kembali menatap cermin. Kenapa aku menjadi seperti ini? Aku benar-benar tidak mengerti alur kehidupanku lagi. Tinggal menunggu hari sebelum aku kehilangan kewarasanku.
"Ace, kau sudah siap?" Dari dalam pantulan cermin, aku melihat sosok yang disapa nona Margot baru menapak keluar dari kamar mandi. Menggunakan tank top longgar berwarna hitam dan celana jeans berwarna senada dengan bajunya, Ace Hunter menatap ke arah kami dengan wajah datar yang biasa. Seolah-olah penampilan kasualnya tidak membuat kering kerongkongan wanita yang menatapnya saja.
Sialan, kenapa Ace terlahir dengan ketampanan yang tidak masuk akal?
"Aku yang harusnya bertanya seperti itu, kan? Mau sampai kapan kalian berdiri di sini?" Ace mengomentari keterlambatan kami dalam mempersiapkan diri. Matanya lalu tertuju ke arahku. Dia berhenti melangkah sebentar dan termenung kaku.
Sudah kuduga, penampilanku pasti seperti lelucon di matanya. Sialan, sialan, sialan! Ini memalukan! Seseorang tolong galikan kuburan untukku! Aku mau mati karena malu.
"Kau sepertinya sudah siap." Ace berucap sambil mendekat. Aku berdiri kaku dan berusaha menghindari tatapannya. Aku tidak mau dia menertawaiku. "Kau tidak terlihat seperti bodyguard dalam penampilan seperti ini."
"Aku harap itu pujian," sahutku bergetar, walau sebenarnya aku tau itu hinaan terselubung.
"Dia cantik, kan?" nona Margot sepertinya ingin mempermalukanku lebih banyak daripada yang sudah kurasakan.
__ADS_1
"Tidak buruk," kata Ace di telingaku. Uh, napasnya membuatku menahan ngeri. Apa-apaan ini?
"Aku suka apa yang kulihat."
"Kau hanya perlu memujinya cantik tanpa bertele-tele," semprot nona Margot agak sewot. Mungkin dia merasa tersinggung karena segala upayanya hanya mendapat penilaian 'tidak buruk'.
Hahahaha. Maafkan aku, nona Margot. Tidak ada yang salah dalam selera fashion-mu, yang salah adalah pilihan modelmu. Yaitu aku.
Tanpa repot-repot menanggapi kecerewetan nona Margot, Ace melenggang menuju lemarinya dan membuka brankas. Sebuah senjata dan satu borgol dia keluarkan dari sana. Senjata di selipkan ke balik jaket kulit yang hendak dia pakai dan borgol--uh? Apa yang akan dia lakukan dengan benda itu?
"Demi keamanan dan kenyamanan bersama..." Ace melenggang mendekatiku kembali. Aroma tajam sandalwood dari parfume-nya menguar mencapai hidungku, membuatku sedikit mengernyit tidak nyaman. Ace menarik pergelangan tanganku dan...takk!
Besi dingin dari borgol itu terkunci di tanganku seperti gelang.
"E-eh?" Aku terkejut.
Ace tidak menjawab kebingunganku dan malah memborgol tangannya yang lain. "Kau akan selalu menempel padaku hari ini." kata Ace, matanya berbinar terhibur setelah dia menatap wajahku.
Pria keparat ini.
Keparat, keparat, keparat!
...------...
Harapan tentang berusaha menemukan jalan melarikan diri di kesempatan keluar ini buyar seketika. Aku berakhir terborgol dengan Ace yang sialannya--tidak ada niatan bersenang-senang. Aku berakhir berjalan di belakang nona Margot dan Jem di mall yang besar. Menemani dua orang itu berbelanja, memilah-milih barang sementara Ace memilih berkeliaran tanpa mau menengok apa pun.
Melihat dunia luar cukup menyenangkan, sebenarnya. Tapi perasaanku sangat tidak nyaman. Aku melirik kiri dan kanan, berharap menemukan wajah familiar yang mungkin mampu menyampaikan informasi tentangku kepada tuan Anggara. Itu akan berakhir baik bila mereka tau aku selamat. Aku percaya tuan Anggara akan berusaha menyelamatkanku kalau dia tau aku masih hidup.
Juga..., aku pikir, bila itu demi perdamaian antar keluarga, Ace tidak akan gegabah dalam menghalangi tuan Anggara untuk menyelamatkanku. Benar, aku hanya perlu mencari satu wajah familiar! Kunci keselamatanku hari ini hanya itu!
"Kau sangat bersemangat, apa yang otak kacangmu itu pikirkan?" telunjuk Ace tiba-tiba menusuk pelipisku. Aku menoleh ke arahnya dan menyadari kalau ternyata aku melangkah terlalu laju dan menyeretnya sampai tertinggal selangkah di belakang.
"Ah, maaf." Aku memelankan laju langkahku, aku tidak mau dia curiga. "Aku hanya keasikan."
__ADS_1
"Apa yang asik di sini?" Ace melirik kiri dan kanan, berusaha mengerti maksud ucapanku. Tapi dia tidak akan tau, dia tidak boleh tau. Hal yang membuatku keasikan adalah usahaku mencari orang yang kukenal, bukan melihat barang-barang mahal terpampang di etalase kaca.
"Ah--aku suka baju." kataku membual. "Aku bosan memakai baju training setiap hari, melihat pa-pakaian di sini, aku merasa...terhibur?"
"Kau tau yang kau lihat sekarang adalah pakaian laki-laki, kan?" Ace menatapku dengan mata heran. Sialan, kenapa dia begitu teliti?
"Ah-aku lebih suka pakaian laki-laki." Tolol, aku sudah pasti terlahir tolol. "Dress seperti ini bukan gayaku sama sekali."
Aku mau bunuh diri. Kenapa di antara segala hal, berbohong menjadi kelemahanku?
"Aku baru tau kau tomboy," ucap Ace, lalu menyamaratakan langkah kami. "Apa kau mau kubelikan satu setelan armani?"
"H-hah?"
Tangan Ace yang tidak kuperhatikan tiba-tiba menyentak tanganku yang terborgol dengannya. Dia menarikku rapat ke sampingnya sampai aku mampu mencium aroma parfume-nya lagi.
"Aku tidak tau siapa yang berusaha kau tipu, tapi aku peringatkan kau untuk tidak melakukan hal bodoh."
Ucapan Ace--kendati diucapkan dalam nada rendah dan ringan, terdengar seperti cekikan tak kasat mata di leherku. Napasku terasa berat ketika mau tidak mau, aku harus patuh kepada tajam mata itu lagi.
"Ah, ini sangat membosankan. Bagaimana kalau kita pergi ke game center." Ace berbicara agak besar sampai Jem dan nona Margot menoleh ke arahnya.
"Sekarang?" nona Margot keberatan. "Aku belum puas berkeliling."
"Kau tidak akan pernah puas dalam melakukan apa pun, Mar. Mari berhenti di sini." Ace melirik Jem. "Lagipula, tujuan kita adalah bermain, bukan?"
"Oh, benar." Jem mengangguk kikuk.
"Kalau begitu, ayo..." sekarang, giliran Ace yang memimpin jalan. Aku yang terikat bersamanya hanya melewati Jem dan nona Margot dengan wajah lelah bercampur kesal.
"Aku ingat kau suka bermain bowling, mari melakukan itu." tutur Ace lagi. Aku yang mendengar ucapannya seketika melebarkan mata.
Oh, dia ingat apa yang kusuka?
__ADS_1
...-----...