DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
107. WINE


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


"Aku ingin bertemu Indira," ucap Anggara. Di dalam rumah kaca, dilingkupi dengan tanaman hias yang merambat di dinding, bunga-bunga di pot, pohon-pohon rindang, dan tanaman hortikulture lainnya--Anggara yang saat itu duduk menghadap Evan, menatap adik iparnya itu dengan keseriusan.


"Minumlah tehnya terlebih dahulu," tukas Evan. Menunda topik, mungkin? Dia tampak tenang kendati Anggara dan Eleanor menatapnya dengan tatapan yang tajam menikam. Evan mengangkat cangkir tehnya, menyesap cairan hangat beraroma chamomile itu ke dalam mulutnya dengan mata masih terpaku kepada mata Anggara.


"Evan, aku ingin bertemu Indira." Anggara menegaskan sekali lagi tujuannya.


"Ini teh chamomile." ujar Evan, masih setia tidak menyentuh topik menyangkut Indira. "Apa kau tau apa fungsi teh chamomile, Elle?"


"Menyiramnya ke wajah orang lain?" Eleanor menjawab sinis. Dia tidak takut untuk mengguyur si anak emas Caspian itu dengan teh. Malah, Eleanor merasa sangat terpicu ingin mengguyur pria itu. Tidak ada masalah serius sih, Eleanor hanya tidak menyukai pria secara merata. Termasuk Evan Caspian.


"Hidup terlalu lama di luar sana membuat prilakumu sama dengan keluarga ayahmu, Elle. Mengecewakan. Kupikir akan ada perubahan ketika kau kembali bergabung dengan Rashid."


"Apa maksudmu!" suara Eleanor meninggi.


"Maksudku adalah..., buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Kau dan ayahmu..."


"Evan, cukup." Anggara menyela. Ia dengan cepat membaca niat Eleanor dan langsung menangkap lengan sepupunya tersebut. Elle nyaris menggapai cangkir teh dan menuangkan isinya ke kepala Evan.


"Sialan, Angga!" Eleanor menarik tangannya dari cengkraman Anggara dan kembali duduk. Ia menghempas tubuhnya kasar di atas bangku tersebut seperti meteor yang menghempas Bumi. Mata Anggara berotasi jemu atas tingkah kekanakan sepupunya itu.


"Kau sebaiknya menutup mulutmu," peringat Anggara, kali ini dengan penuh penekanan dalam suaranya. Setelah berujar pada Elle, Anggara lalu menatap Evan. "Please Evan, bisa kau tidak menyeret topik ini lagi?"


"Aku hanya mengajakmu bicara, apa salahnya?"


"Tidak akan salah kalau kau mengatakan di mana Indira terlebih dahulu!"


"Dia aman bersamaku." Evan menyilangkan lengan di dada, senyum bermain di parasnya. Menyiratkan kejengkelan yang tertahan.


"Apa kau melakukan sesuatu padanya?"


"Kami banyak melakukan ini dan itu. Kalau kau bisa lebih spesifik..."


"Apa kau melukainya?" potong Anggara, kali ini dengan tinju menekan meja. "Aku bertanya, Evan."


"Bagian mana dari dia yang aman yang tidak kau mengerti?" Evan menghela napas. "Apa kau pikir aku akan melukai istriku sendiri?"


"Kalau Indira aman, biarkan kami bertemu dengannya." Elle kembali bersuara. Dia mendukung argumen Anggara di sana. "Kau tau kami adalah saudaranya, kan? Kau tidak punya hak menjauhkan Indira dari kami."


"Yang tidak punya hak di sini adalah kau, Elle. Aku tidak ingat di bagian mana hubunganku dan Anggara maupun Indira--melibatkanmu. Kau adalah orang luar. Sebaiknya pikirkan urusanmu sendiri."


"Kalau-kalau kau lupa, Indira adalah sepupuku, Evan." Elle menekan suaranya dengan geraman.


"Dan?" Evan tidak melihat ada poin penting di ucapan Elle. Tidak pula ia peduli. Malas melanjut perdebatan dengan Elle, Evan lalu beralih kepada Anggara. Kepada pria yang lebih bisa diajak bicara, pikirnya.


"Angga, kau tidak perlu mencemaskan Indira. Aku katakan padamu, dia sangat baik. Sangat-sangat sehat. Dia berada di tangan yang tepat sekarang."

__ADS_1


"Huh, tanganmu?" Elle menyambar tanpa mau berhenti.


"Pokoknya..., kau tidak perlu khawatir. Ketika waktunya tiba, aku akan membiarkan Indira bertemu denganmu. Untuk saat ini, eeeh, aku rasa dia lebih baik menjauh dari keramaian. Kau tau sendiri situasi kita, bukan? Membuatnya terjebak di semua kerusuhan ini..." Evan menggaruk pipi. Ia sengaja membangun skenario yang ia tau paling Anggara takuti. Sebuah skenario ketika Indira akan terjebak dalam bahaya.


"Justru karena Indira bersamamu dia bisa dalam bahaya. Kau dan Ace Hunter sedang bertikai sekarang, tidak menutup kemungkinan Indira akan menjadi target orang-orang." Elle mencoba merasionalkan situasinya.


Malangnya, Evan sudah memperkirakan argumen itu.


"Tepat sekali, bukan? Karena dia bisa menjadi kelemahanku..., sudah pasti aku akan menyembunyikannya."


"Aku bisa melindungi Indira," ujar Anggara.


"Tidak, Angga. Kau adalah pionku sekarang." Evan tidak merasa sungkan saat mengatakan itu. "Jika aku memberikan Indira padamu, bagaimana caranya aku mampu mengendalikanmu, heh?"


Saat itu, saat Evan menjelaskan niat utamanya menyembunyikan Indira, bukan karena ketakutan Indira dalam bahaya atau karena dia mencintai Indira, melainkan karena dia ingin mengontrol Anggara. Saat itu juga, Anggara menatap Evan dengan keasingan yang mendalam.


Anggara tau Evan adalah pribadi yang mengerikan, sebuah pedang. Anggara hanya tidak menyangka, pedang yang ia pikir akan menjadi senjata untuk melindungi keluarganya, berakhir mengarah ke lehernya.


"Demi kebaikan bersama, saudaraku, bagaimana kalau kau duduk dan nikmati tehnya."


...----------------...


Fawn berdiri di atas pasir putih, sebelah tangan menenteng sepatu sementara tangan lainnya sibuk mengutak-atik ponsel. Fawn menghubungi seseorang. Seseorang yang mengajaknya bertemu di bibir pantai ini.


Dengan jari-jari kaki yang mulai terbenam di dalam hangat pasir, Fawn pun duduk berjongkok di sana.


Fawn sudah menunggu selama kurang lebih 10 menit, dan sosok yang dia tunggu-tunggu tidak kunjung tiba.


Di pantai itu, tidak ada siapa-siapa selain dirinya. Fawn merasa resah saat dia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan satu orang pun di sana. Bukan karena kegelapan dan kesunyian itu menakutinya, Fawn hanya tidak suka dibuat menunggu lama.


"Haruskah aku pulang?" Fawn menatap ponselnya sekali lagi, mengecek kotak masuk di ponselnya yang sunyi, dan melihat jam yang sudah mendekati pukul sembilan.


Sebenarnya, Fawn bisa saja menghubungi Ace dan menanyakan keberadaan pria itu, tapi..., mungkin karena gengsinya yang meninggi..., Fawn enggan menghubungi pria itu duluan. Fawn tidak ingin terkesan 'sangat antusias'.


"Mungkin dia punya rapat penting," Fawn kembali berspekulasi. Mencari-cari alasan untuk sosok Ace yang belum datang dan mungkin tidak akan datang.


Huuuuuh~


Helaan napas Fawn kembali lepas dengan berat. Dia mendongak menatap langit malam dan melihat taburan bintang di sana. Mungkin karena sekarang ia berada jauh dari keramaian dan lingkungannya sangat remang, bintang yang berada di atas langit sana terlihat lebih cerah dan lebih banyak daripada di kota.


"Aku akan pulang ketika jam 9." gumam Fawn pada dirinya sendiri.


Untuk sementara, dia akan berdiam di sana. Menikmati suara debur gelombang, angin malam, dan bintang-bintang.


Fawn diam di sana, bokong berlabuh di pasir, kepala menatap ke ujung horizon malam. Sepatu di sisi kirinya, tumpang tindih dengan jas hitam yang sebelumnya ia pakai melingkupi tubuhnya.


Keheningan itu membawa kenyamanan untuk Fawn. Fawn sesekali menarik napas dalam, menghirup udara angin malam yang dinginnya sampai ke paru-paru. Ia seperti membeku.


Fawn melupakan bintang di langit dan memejamkan mata, lebih menikmati angin malam yang bertiup menyapu kulitnya. Ia merasakan ketenangan luar biasa sampai...

__ADS_1


5 menit sebelum jam sembilan.


Sebuah benda dingin dari kaca menyapa kulitnya.


Fawn membuka mata, tidak terkejut dan tidak takut. Ia mendongak kepada sosok yang sekarang berdiri di sampingnya. Menunduk menatap wajahnya.


"Tidak terkejut?"


"Kalau aku terkejut, kau sudah pasti akan mati." Fawn menanggapi sambil menarik wajahnya menjauh dari gelas kaca yang menempel di pipinya. Itu adalah gelas wine.


Ace, si pria yang sudah membuatnya menunggu lama, muncul dengan dua buah gelas dan sebotol wine.


"Seramnya, apa aku kelihatan gampang mati?"


"Tergantung lawanmu, mungkin?"


"Jadi, apa kau pikir aku akan kalah darimu?"


"Mau coba sparing?"


Ace terkekeh. Ia duduk di samping Fawn dan melihat wajah gadis itu dari samping. Senang rasanya dapat melihat wajah yang familiar. Wajah yang selalu ingin ia temukan setiap pagi, setiap malam, tapi tidak dapat ia lakukan karena Fawn...Fawn masih berada di luar jangkauannya.


"Aku tidak mau melukaimu," ujar Ace.


"Kau takut kalah dariku," Fawn menggoda Ace dengan alis yang naik turun jenaka. "Mengaku saja."


"Bukankah kau sudah mengalahkanku?" Ace melepaskan trench coat hitam yang ia kenakan dan melampirkannya di pundak Fawn. "Pakai ini, kau bisa membeku."


"Tunggu, kapan aku mengalahkanmu?" Fawn memperbaiki letak coat Ace di punggungnya sambil menatap pria itu di mata.


"Saat kau masuk ke hidupku, Fawnia, kau sudah mengalahkanku."


"..."


Mata Fawn melebar seketika, diikuti dengan panas yang langsung menjalar di dada dan naik ke wajahnya. Pipi Fawn memerah, dan terima kasih pada langit malam, Fawn bersyukur kegelapan telah menyembunyikan semburat merah yang merekah di wajahnya.


"Wine?" tawar Ace kemudian. Ia membuka botol wine yang ia bawa dan menuangkannya di gelas.


"Aku...," Fawn meragu. Dia tidak mengonsumsi alkohol. Fawn takut ia akan mabuk dan tidak mampu mengontrol dirinya sendiri.


"Tenang saja, aku akan menjagamu."


"Well, aku percayakan diriku padamu." Fawn menyambut gelas yang Ace sodorkan. Cengiran mekar di parasnya dengan ceria.


Saat itu juga, ketika Fawn tersenyum ke arahnya, Ace merasakan bunga bermekaran di dadanya. Memenuhi paru-parunya, menyinari gelap di benaknya. Sungguh menghipnotis mata.


Fawn benar-benar telah mengalahkannya.


Ace harus mendapatkan gadis itu kembali ke kedekapannya.

__ADS_1


Seutuhnya.


...----------------...


__ADS_2