
...ACE pov...
...----------------...
Sosok yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba.
Aku tidak mempunyai keraguan sedikit pun pada Fawn. Aku tau kalau Fawn akan datang dan menyingkirkan Evan.
Aku mengenal Fawn dan hatinya. Dia adalah sosok yang hidup dan bertahan dengan memiliki seseorang yang dia cintai berada di sisinya. Bila ia tidak memiliki apa pun, ia hanya akan berakhir seperti mayat hidup. Karena kebutuhan Fawn untuk memiliki seseorang yang dapat ia cintai dan lindungi, ia tidak akan membiarkanku mati.
Ia akan datang seperti malaikat penyelamatku.
Rusaku.
Aku begitu ingin berlari dan menghampirinya. Mendekapnya dan menghujaninya dengan kecupan penuh cinta. Tapi, memantau situasiku saat ini, aku hanya bisa mengulum senyum saat dia datang dan mengacungkan pistolnya ke arah Theo.
Di dekatku saat itu juga, aku melihat Max menghampiri Evan yang nyawanya sudah berada di ujung kerongkongan. Dia memangku puteranya dengan tangis yang pecah. Suara paniknya sangat memilukan dan menyakitkan untuk dipandang.
"Evan, bangun, Evan...? Evaaan, kau tidak boleh pergi. Kau tidak boleh meninggalkanku di sini. Evan, EVAAANNNN!!! Nak, bangunlah. Evan, kumohon..."
Aku melihat situasi itu dan teringat kembali kepada hari ketika Margot meraung histeris di depan makam ayahku. Hari itu, Margot pun terpuruk pada kematian ayahku dengan reaksi yang sama. Mereka sama-sama hancur di tangan orang yang mereka cinta.
Saat itu pun, aku memandang cinta dan afeksi sebagai kelemahan. Bahwa, sebuah perasaan dapat menjadi alat yang menghancurkanmu. Hingga akhirnya Fawn datang dan menjadi kekuatanku.
"Ah..., Ahahahahahaha." Margot tiba-tiba tertawa.
Aku menoleh ke arahnya dan melihat reaksi gila itu terukir di parasnya. Dia keluar dari balik perlindungan Jack dan tertawa histeris. Ini adalah kepuasan yang dicari Margot sejak awal. Melihat Maximillian terjebak dalam keputus-asaan dan duka adalah hal yang paling ingin ia saksikan lebih daripada sekedar kematian.
"Apa kau merasakannya? Apa kau merasakan apa yang kurasakan?" Margot ikut berjongkok di depan Maximillian yang memangku Evan. Ia memperhatikan bagaimana air mata tumpah dari mata Max yang memerah. Kemurkaan dan kesedihan yang mendalam terukir di raut pria itu.
Jika pandangan bisa membunuh, Margot mungkin akan mati di bawah tatapan Max penuh amarah.
"Ahahahahahaha, ini adalah yang kurasakan, Max. Ini adalah duka yang kurasakan saat kau membunuh orang tuaku demi keserakahanmu. Kau merasakannya, bukan? Kau melihatnya..., kau tau bagaimana rasanya ketika orang yang sangat berharga bagimu mati di tanganmu. Aaaah, ini melegakanku. Ahahahaha..." Margot menjadi sangat gila. Dia bersuara penuh obsesi.
"Kalian seharusnya hanya membunuhku." Max berujar geram, tapi apa yang dapat ia lakukan?
Tembakan Fawn mendarat tepat di jantung Evan, tidak ada peluang untuk menyelamatkannya. Juga, di antara kami pun tidak ada yang mempunyai niat untuk membantunya sama sekali. Ini adalah titik akhir. Kemenangan sudah berada di tanganku ketika Fawn menapak keluar dari persembunyiannya. Aku sudah menang ketika Fawn memutuskan untuk memihakku.
"Kau bilang kau tidak akan menyentuh puteraku, kau berbohong..." Max menatapku dengan tatapan yang meruncing penuh kebencian. Jika bukan karena pistol Fawn yang terarah ke kepalanya, dia mungkin akan berdiri dan menyerangku sekarang.
"Aku tidak melakukan apa pun," kataku. Jujur saja, aku memang tidak melakukan apa-apa. "Evan datang ke sini sudah membuat keputusannya untuk mati. Kau tidak berpikir dia akan selamat ketika orang-orangku berada di ruangan ini, bukan?"
Aku memindai Max sebelum beralih ke arah Theo yang masih berdiri kokoh dan mengacungkan pistolnya ke arahku. "Evan dan dia tidak akan cukup untuk menyingkirkanku."
"Jangan percaya diri. Aku bisa membunuhmu di sini." Theo sepertinya tidak membaca situasi sama sekali. Perlukah aku menegaskan posisiku di sini?
__ADS_1
Tanpa kata, aku mengayunkan telunjukku di udara. Aku mengisyaratkan sesuatu pada satu orang lagi yang tidak menampakkan dirinya di sana--Rio. Lalu, tak berselang lama setelah aku memberikan isyarat, tanpa suara, sebuah peluru menancap di lutut Theo. Pria itu jatuh dengan lututnya menghantam lantai. Ia mengerang kesakitan.
Pistol yang berada di tangan Theo jatuh terlepas di dekat kakinya. Darah mengucur keluar dari lututnya, menciptakan darah lain di sana. Maximillian yang menyadari seseorang masih bersembunyi di antara kami--seketika mencari sumber tembakan barusan.
"Aku tidak suka berbasa-basi, jadi Margot..., selesaikan urusanmu di sini." Meninggalkan Max yang sekarang berhadap-hadapan dengan Margot yang gila, aku pun menuju Fawn yang masih menatapku waspada. Aku penasaran pada apa yang sedang Fawn pikirkan, tapi daripada itu, aku lebih ingin memeluknya sekarang.
Dia adalah sumber kenyamanan terbesarku.
"Aku tidak menyangka kau akan menyusulku ke sini." Ketika aku mendatanginya, Fawn tidak menolakku ketika aku memeluknya. Kurasa, ia sudah membuat keputusan untuk menetap di sisiku. Itu melegakan dan menyenangkan. Aku merasa aku bisa bernapas bebas sekarang.
"Aku mencemaskanmu, jadi aku datang." Fawn membalas pelukanku dan membenamkan wajahnya di dekapanku.
"Maaf sudah merebut kesenanganmu." Maksud Fawn adalah menyingkirkan Evan. Tapi aku tidak menemukan kesenangan dalam membunuh siapa pun, Evan atau Max, tidak ada satu pun kematian yang memuaskanku. Aku pada dasarnya, tidak mempunyai ketertarikan dalam membunuh siapa saja.
"Kau tidak merebut apa pun, sekarang..." Aku mengusap surai hitam Fawn sementara suara tembakan meledak nyaring di belakang. Tanpa perlu menoleh, aku tau apa yang sudah terjadi di belakang. Tanpa perlu menoleh, aku menyadari sebuah peluru mendarat di punggungku.
"Ace?" gumam Fawn. Dia tercengang.
Fawn lalu melonggarkan dekapannya dariku dengan kepanikan. "Ace?"
Suaranya menyapa telingaku, berulang-ulang seperti teriakan. Aku menoleh ke belakang dan melihat pistol Theo berada di tangan Maximillian. Pria itu menembakku sementara peluru Margot mendarat di kepalanya. Dia tumbang di belakangku dengan senyum merekah di bibirnya. Si keparat itu. Dia pikir dia...ugh!
"Ace..." suara paman Jack bergaung besar di dalam rumah kaca itu.
"Ace, jangan kehilangan kesadaran..., aku akan menyelamatkanmu...," tetesan air itu bersumber dari air mata Fawn. Dia terisak di depanku penuh ketakutan. Aku berusaha tersenyum untuk menenangkannya, tapi pandanganku mengabur hitam.
Apa yang baru saja terjadi?
Ketika aku memikirkannya kembali, aku telah kehilangan kesadaranku sendiri.
...----------------...
Aku tidak mati mungkin adalah kabar baik. Aku menyadari ini setelah aku bangun di tengah malam yang sunyi.
Aku menemukan kesadaranku perlahan-lahan ketika aku mendengar helaan napas seseorang berada di dekat wajahku. Bunyi mesin yang asing terdengar samar di telingaku. Aku hendak membuka mata, melihat tempatku berada.
Di otakku, aku mulai merangkai ingatan mengenai kejadian yang menimpaku sebelum aku kehilangan kesadaran. Di ingatanku, sebuah tembakan mendarat di punggungku. Maximillian menembakku dan kemudian dia mati ditembak oleh Margot. Fawn dan paman Jack menjadi sangat panik dan aku pun pingsan.
Rasanya kejadian itu baru terjadi beberapa menit yang lalu, tapi punggungku yang terasa kaku menunjukkan kalau aku sudah tertidur cukup lama dalam posisi miring dan tidak nyaman ini. Berapa lama aku kehilangan kesadaran? Apa yang sudah terjadi selama aku dirawat di sini?
Fawn, apa yang terjadi padanya?
Saat itu, ketika aku memaksakan diri untuk membuka mata, aku merasakan dua tangan hangat merayap di leherku. Hendak mencekikku. Pergerakannya terasa sangat lamban dan penuh keragu-raguan. Aku pikir seseorang berusaha membunuhku, dan aku memikirkan aku akan mati sekarang.
Saat ini, bahkan untuk membuka kelopak mataku terasa seperti usaha yang sangat berat, jadi..., mustahil untukku mempertahankan diri dari serangan tiba-tiba.
__ADS_1
Sialan, di mana Carcel ketika aku membutuhkannya? Mengapa dia bisa membiarkan seseorang menyusup ke kamarku dan berusaha membunuhku? Apa dia tidak sadar berapa banyak musuhku di dunia ini? Apa dia berharap aku mati?
"Haaaa..." helaan napas panjang terdengar tak berselang lama kemudian. Tangan yang melingkar di leherku pun tertarik mundur. Ada apa? Kenapa dia menyerah?
Aku mengerjapkan mata, berusaha keras untuk melihat siapa yang sudah berupaya menyingkirkanku. Ketika akhirnya mataku dapat beradaptasi dengan cahaya dan kelopak mataku telah sayup-sayup terbuka, aku menemukan dinding putih melingkupiku.
Di dalam ruangan yang sama denganku,dekat dalam jangkauanku, aku melihat Fawnia Alder berada di sisiku. Tangan menutup wajah sementara napasnya berembus lelah.
"Hari ini aku gagal lagi," keluhnya pada diri sendiri.
Tanpa menanyakan apa yang sudah gagal ia lakukan, aku sudah menemukan jawabannya. Hari ini lagi, Fawnia telah gagal membunuhku.
Dia berusaha menyingkirkanku.
Aku tidak tau bagaimana aku harus memproses informasi itu, jadi aku kembali menutup mataku. Fawnia dan aku, jika cinta di antara salah satu kami menjadi layu, kematian akan menjemput kami dengan instan.
Antara aku yang membunuh Fawn,
atau Fawn yang membunuhku.
"Ace, bangunlah segera..., aku bosan sendirian." suara Fawn berbisik ramah di telingaku. Tanpa aku menanggapinya, tanpa aku membuka mata, aku merasakan sebuah kecupan datang darinya. Mendarat di bibirku dengan kelembutan yang membuatku merasakan rindu. Aku ingin mendekapnya, membalas kecupannya. Aku ingin membuka mata dan menatap iris hazelnya yang indah.
"Aku mencintaimu, Ace. Jadi kumohon, jangan tidur terlalu lama." Fawn bergumam sambil menyandarkan kepalanya di telapak tanganku yang terbuka. Halus pipinya terasa di ujung jemariku. Hangat dan lembut.
Aku juga mencintaimu Fawnia. Oleh karena itu, ketika aku terbangun, aku akan menutup mataku pada fakta kalau kau berusaha membunuhku.
Karena aku mencintaimu, aku akan berusaha keras untuk membuatmu menyerah membunuhku.
...Karena, jika kau tidak menyerah, aku lah yang akan membunuhmu....
Aku mencintaimu, dan kata itu adalah sangkar yang sekarang akan mengurungmu di hidupku.
...TAMAT....
...----------------...
Author's note :
Halo semua, selamat berpisah dengan Di Dalam Sangkar. Wkwkwkwkwk. Akhirnya cerita garing ini menemukan akhirnya. XD Saya senang sudah bisa berpartisipasi menulis di noveltoon dan berbagi cerita amatir saya dengan kalian semua. Meskipun plot cerita ini masih berantakan di sana-sini, saya senang bisa menulis sampai ke garis finish. Tujuan saya cuma satu sejak awal, yaitu menulis sampai selesai, dan yeay..., saya berhasil.
Terima kasih semuanya sudah mengikuti cerita saya, sudah membaca dan memberikan dukungan panjang. Meskipun akhirnya gak begitu memuaskan atau terbilang membosankan, saya harap kalian memaklumi keamatiran saya :"""""
Terakhir, sampai jumpa lagi di lain waktu dan di lain kesempatan. Semoga panjang umur semuanya..., dadaaah. I love you all.
By, Viper.
__ADS_1