
...ACE pov...
...----------------...
Sekembalinya aku ke rumah, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Bukan berarti aku menghabiskan hariku menetap di samping Indira, tapi aku masih melakukan banyak hal setelah pulang dari sana. Kerja adalah salah satunya, membuat laporan tentang informasi Indira kepada paman Jack, dan oh...aku juga pergi ke cafe untuk membelikan Fawn makaron.
Aku sudah berada di luar seharian sampai aku mengira aku sudah beraroma seperti matahari dan keringat.
"Aku akan beristirahat sekarang," kataku kepada Carcel yang sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik.
"Baik, bos." Carcel menanggapiku sebelum membungkuk sopan. Aku terus melangkah menuju kamar dan di dalam perjalanan, aku berselisih dengan Vera yang berpenampilan kasual. Jeans hitam, kemeja flanel merah dan rambut hitam terurai sebahu.
"Bos Ace," Vera menyapaku kikuk.
"Vera, apa kau libur hari ini?" Aku ingat David sudah kembali. Vera sudah pasti mendapatkan jatah liburnya kembali.
"Lebih tepatnya besok, bos Ace." Vera menyengir tipis.
"Kerja bagus," pujiku padanya. "Beristirahatlah yang cukup."
Dua minggu belakangan ini, Vera sudah melaksanakan tugasnya sebagai kepala bodyguard sementara Margot dengan sangat baik. Aku tidak menyesal sudah menunjuknya sebagai pengganti David. Jika dia terus bekerja dengan kompeten, aku mungkin akan meninggikan posisinya.
Setelah berpisah dengan Vera, aku lalu mencapai kamarku yang sedang dijaga oleh Ozan dari luar. Bodyguard-ku yang memiliki cambang di setengah wajahnya itu membungkuk sopan setelah melihat kedatanganku.
"Apa kabar Fawn hari ini?" tanyaku. Seperti biasa, aku akan mengevaluasi dan memantau setiap aktivitas Fawn setiap kali aku pulang.
"Nona Fawn seharian ini hanya berbaring, makan dan bermain dengan seekor kucing."
"Kucing?" aku tidak mengingat pernah mengijinkan seekor binatang masuk ke kamarku.
"No-nona Fawn menemukan kucing di balkon kamar bos Ace tadi siang. Kami berusaha mencari siapa pemiliknya tapi tidak ada. Aku pikir itu kucing liar."
"Apa aku kelihatan peduli pada identitas kucing itu?" Satu-satunya yang kupedulikan adalah kotoran dan hama yang melekat di kucing tersebut. Dia bisa menyebarkan penyakit ke Fawn dan membuat kamarku menjadi sarang bulu.
"Kami sudah berusaha membujuk nona Fawn untuk melepaskan kucing itu keluar, tapi..." Aku mengerti apa yang hendak Ozan sampaikan tanpa aku perlu mendengar lanjutannya.
Oh, Fawn... Kenapa dia selalu bertingkah?
Malas mendebat Ozan lagi, aku pun meninggalkan topik kucing itu sampai di sana dan berlalu membuka pintu.
Cklek!
Aku melangkah masuk ke dalam kamar dan mataku langsung mencari keberadaan Fawn. Di atas sofa--memangku seekor hewan berbulu berwarna abu-abu, Fawn menyapaku dengan mata gugup. Sialan, dia tau dia sudah membuat kesalahan dengan menyimpan binatang itu, dan dia tetap menantang otoritasku!
"Ace..." Fawn menyapaku. "Se-sebelum kau marah..."
"Buang dia!" kataku tanpa basa-basi.
"Ti-tidak."
"Fawn?"
"Aku...aku suka kucing."
__ADS_1
"Itu menambah alasan kenapa kau harus membuangnya." Jika ada sesuatu yang layak Fawn sukai, aku lebih suka itu aku daripada seekor kucing. Aku tidak suka perhatiannya terpecah belah pada hal lain.
"Aku tidak mau..." Fawn bersikukuh. "Butter sudah kuanggap seperti anakku sendiri."
"Butter?!" Wow, dia bahkan sudah memberikan kucing itu nama. "Aku bisa memberikanmu anak kalau kau mau anak, Fawn. Apa pun selain kucing itu."
Aku mendekat dan hendak merebut kucing abu-abu yang sekarang berbaring nyaman di pangkuan Fawn. Itu adalah tempatku!
"Tidak, tidak, tidak!!!" Fawn panik dan berteriak. Dia melingkupi kucing itu dengan tubuhnya. "Aku tidak mau!!!"
"Fawnia!" aku berhenti melangkah dan segera memijit pelipisku akibat stress melihat sikap Fawn. "Dia bisa saja membawa penyakit di tubuhnya!"
"Butter tidak mempunyai penyakit apa pun. Dia..., aku sudah memandikannya..., dia baik-baik saja."
"Fawn, bersih saja tidak cukup. Juga, apa kau pikir aku mau merawatnya?"
"Aku yang akan merawatnya. Kau tidak perlu melakukan apa pun!" Fawn melawanku sementara bersikap protektif pada iblis yang bermanja di pangkuannya tersebut. Dia sudah seperti induk kucing itu.
Sekarang aku mengerti mengapa Ozan tidak bisa mengusir kucing itu dari kamar kami.
"Baiklah..." aku menghela napas. Aku tidak mau bertengkar dengan Fawn hanya karena masalah tolol. Kami baru saja berbaikan baru-baru ini, aku tidak mau merenggangkan jarak kami kembali. "Setidaknya biarkan kucing itu divaksin."
Aku bernegosiasi.
"Kau membiarkan Butter tinggal?"
"Kau sendiri yang tidak mau membuangnya, kan?" aku menghela napas gusar. Sementara kejengkelanku menumpuk akibat kucing abu-abu itu, Fawn melakukan selebrasi dengan menghujani kucing itu dengan ciuman dan kata-kata pujian.
"Kalau begitu, berikan aku ucapan terima kasih." Aku mendekati sofa, tapi tidak bergabung dengan mereka. Aku hanya berdiri di sana sementara punggungku bersandar di lengan sofa. Lenganku tersilang di dada, mata menagih Fawn.
"Terima kasih." Fawn mengucapkan kata-kata itu dengan ketulusan. Warna samar merah muda menyeruak di kulit pucatnya.
Bagaimana bisa aku marah bila dia sangat menggemaskan. Sialan.
"Kemari," aku mengulurkan tanganku padanya.
"Ya?"
"Fawnia."
Mengerti nada ucapanku, dia akhirnya memaksakan diri berdiri. Kucing sialan yang berada di pangkuannya ia gendong di lengan.
"Taruh kucing itu di sofa kalau kau tidak mau aku mematahkan lehernya."
"Heiii---"
"Aku serius," kataku, walau sebenarnya tidak. Aku hanya suka melihat raut merengut Fawn. "Kemari!" panggilku lagi dan Fawn menurutiku sambil menggembungkan pipi. Bulu abu-abu dari kucing sialan itu merekat di baju hitam yang Fawn kenakan, benar-benar menambah kejengkelanku saja.
"Apa maumu?"
Ketika Fawn berada selangkah di dekatku, aku menarik pinggangnya rapat ke arahku. Tubuh kami merekat satu, dan itu membuat wajahnya kembali bersemu.
"Aku baru meninggalkanmu sebentar dan kau sudah berpaling dariku," aku belum lupa bagaimana dia membuatku sangat bergairah tadi pagi, dan aku hendak menagih apa yang sudah kulewatkan karena situasi yang sangat sialan.
__ADS_1
"Apa kau sudah makan?" Aku bertanya sangat dekat di wajahnya. Mataku menatap lekat ke dalam sepasang pupil cokelatnya.
"Aku sudah makan." Dia menanggapi dengan suara rendah.
"Aku belum."
"Kalau begitu makanlah."
"Temani aku makan..." Aku mencubit pipinya sebelum berpindah menarik pergelangan tangannya. Aku membawa dia keluar, tapi langkahnya yang terseret berat membuatku berhenti melangkah. "Ada apa?"
"Butter akan tinggal sendirian..."
"Dia bukan sesuatu yang perlu kau cemaskan."
"Tapi dia baru di sini," Fawn sangat mencemaskan kucing sialan itu.
"Ba-bagaimana kalau kau makan sendiri saja..." Fawn melepaskan genggaman tanganku dari pergelangan tangannya dengan paksa. Aku menatap sikap Fawn dengan kesabaran yang sudah mencapai batasnya.
"Terserah kau saja!" Aku berbalik dan hendak meninggalkannya tanpa kata-kata. Aku sudah sangat lelah seharian ini dan berurusan lima menit dengan Fawn membuat lelahku seharian ini tidak ada artinya dibandingkan kelelahan mentalku sekarang.
"Ace, apa kau marah?"
"Tidak."
"Ace..."
Ujung jasku tertarik dari belakang, membuat langkahku terjeda. Aku menoleh dan melihat Fawn menggenggam ujung jasku dengan kepalan tangannya yang menggemaskan.
"Ma-maaf." katanya, dengan senyum gugup terukir di parasnya. Aku sama sekali tidak mengerti dengan tingkah Fawn yang seperti ini.
Dia adalah gadis yang kerap mengutukku dan tidak pernah merasa bersalah atas segala tindakannya karena dia merasa apa yang kuterima adalah karma karena sudah mengurungnya. Dia bahkan memukulku sekali dengan mangkuk dan bertingkah kalau dia sudah menyelamatkan bumi. Fawn bukan tipe yang akan meminta maaf karena meninggalkanku makan sendirian.
Ada apa dengan perubahannya yang membingungkan?
Kenapa dia menjadi begitu lembut? Apa dia tidak tau, tingkahnya yang seperti itu hanya membuatku semakin terobsesi untuk menjadikannya milikku, hanya untukku?
Bahkan kucing sialan itu membuatku cemburu!!!
"Aku akan menemanimu makan di lain waktu," janjinya. Aku merasakan kekesalan yang menumpuk di pundakku meluap ke udara.
Curang, dia memanfaatkan kelemahanku dengan kata-kata manisnya!
Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku sudah jauh terjatuh dalam pesonanya. Ini berbahaya. Keserakahanku membuncah di dada.
Apa yang harus kulakukan agar hati itu merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan sekarang?
Memiliki Fawn sebatas fisiknya saja tidak cukup, aku menginginkan dia dan setiap kepribadiannya. Aku menginginkan dia yang manja, merengut, marah, senang, bahagia dan murka, aku menginginkan semuanya untukku. Aku ingin hatinya mendambaku sebesar aku mendambanya...
Keinginan ini seperti kabut yang menutupi mataku. Membuatku berdebar takut.
Aku ingin memilikinya, hitam putih kepribadiannya, merah gairah dan ambisinya, aku menginginkan dia dari ujung kaki hingga kepala.
...----------------...
__ADS_1