DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
83. PERINGATAN TERAKHIR


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


Sebuah kerusuhan terjadi siang itu di ruang kerja Ace. Jerome yang memegang nampan berisi dua cangkir kopi di tangannya seketika bergetar karena terkejut. Ia menatap menembus dinding kaca yang melingkupi bosnya, melihat sebuah skenario yang terjadi di dalam sana setelah beberapa menit dia meninggalkan mereka.


"Sialan, apa yang terjadi?" Jerome menaruh nampan kopi itu ke atas nakas--sebelum berlari kembali ke ruang kerjanya. Ia menghubungi lobi dan dengan suara yang menyiratkan urgensi, ia menyampaikan pesan.


"Panggil Carcel ke atas, bos Ace berkelahi dengan Jem di ruangannya."


...----------------...


"Apa yang kau lakukan, sialan!" Jem awalnya hanya berniat bicara baik-baik. Bernegosiasi kepada Ace yang duduk berseberangan darinya agar sobatnya itu menarik kembali permintaannya. Agar Arcelio Hunter menarik kembali kontraknya dengan Jenina yang menyangkut-pautkan posisinya sebagai kepala di Hearts.


Sayangnya, pembicaraan baik-baik itu tidak berakhir baik.


Jem terjerambab ke lantai. Ace memukul wajahnya dalam satu kali ayunan tangan.


"Salahkan dirimu sendiri, bajingan." Ace tenang, tapi amarah terpancar di matanya.


"Kau sendiri yang mencari masalah padaku." kata Ace.


"Kau tau alasan aku melakukannya! Apa kau pikir aku mau melakukan itu padamu!"


"Kau pikir aku peduli pada alasanmu?" Ace mendaki ke atas Jem yang masih belum berdiri, tinjunya terayun sekali lagi menghantam wajah pucat Jem. "Gara-gara kau aku kehilangan Fawn!"


"Apa bodyguard sialan itu lebih penting daripada pertemanan kita! Aku sudah menganggapmu sebagai saudaraku!" Jem hendak membalas pukulan Ace, tapi tangannya ditangkap di udara. Ace mendorong tangan Jem dan kembali memukul wajah pria itu sampai darah mengalir dari sudut bibirnya.


"Kau dan satu garis keturunan keluargamu tidak ada artinya di mataku, Jem! Kau harusnya berhenti berhalusinasi tentang kualitasmu! Kau tidak berharga sama sekali, tidak dibandingkan Fawn, tidak dibandingkan siapa pun! Dan jangan pikir aku akan menutup mata pada upayamu untuk membunuh Margot!"


"Aku sudah membantumu selama ini! Bagaimana bisa kau melupakan jasaku?"


Ace menghela napas gerah. Jem benar-benar memuakkannya, segala rengekan dan keluhannya yang tidak berdasar sangat memuakkan. Kapan dan dimana Jem pernah membantunya--Ace bertanya-tanya. Segala hal yang Jem lakukan kepadanya selama ini, hal-hal yang Jem berikan selalu ia kembalikan. Jem tidak pernah membantunya, tidak bila itu tidak memiliki imbalan.


"Apa kau sadar apa yang kau ucapkan?" Ace mengibaskan tangan kanannya yang terasa sedikit sakit akibat memukul wajah Jem. Ia seharusnya melakukan pemanasan sebelum memukul pria itu sampai mampus. Benar-benar sialan.


"Kau tidak bisa melakukan ini padaku, Ace! Aku adalah pemimpin di Hearts. Kau bisa melakukan apa pun padaku selain itu!" Jem dengan susah payah berdiri. Darah mengucur dari hidungnya, mengalir di atas bibirnya.


Ace menatap Jem dengan masa bodoh. "Aku bisa melakukan apa pun yang kumau, Jem. Lagipula, aku sudah melakukannya." maksud Ace adalah kontraknya dengan Jenina. Kontrak yang dia perbarui dengan satu persyaratan, yaitu : Posisi resmi pemimpin Hearts harus jatuh kepada Jeremy Emery.


"Kau tau itu adalah hakku! Hanya aku yang pantas mengisi posisi itu! Jeremy hanya anak tolol, dia tidak tau apa-apa!"


"Jeremy lebih kompeten darimu."


"..." mata Jem terbuka lebar. Kata-kata yang paling ia benci di dunia, baru saja dilemparkan Ace ke wajahnya. Seketika, air meliputi pandangannya. Dengan dada yang bergemuruh murka, Jem menghampiri Ace dan merenggut kerah kemeja yang Ace pakai. Ia mendorong Ace dengan kekuatan yang didapatkannya murni dari adrenaline yang membuncah. Dalam kemurkaan, ia menyambar pelipis Ace dengan tinjuan yang menyakitkan.


Kepala Ace seperti berdengung sebentar, ia terhuyung dan menabrak bangku kerjanya.


Sialan, dia boleh juga.


"Kau benar-benar mencari mati, bukan?" Ace berpaling dengan darah yang merembes di sudut keningnya.


"Sekarang aku sadar..." ujar Ace. Kemarahannya memuncak. Ace meregangkan jari-jemarinya dengan seringai iblis yang menakutkan bermain di parasnya. "Kau lebih lemah dari Fawn."

__ADS_1


"Aku tidak akan melakukan itu kalau kau tidak--" Jem menelan ludah. Ia mundur selangkah saat Ace mendekatinya. Suara pembelaannya hilang di udara. Jem


hendak menggapai benda apa pun itu sebagai perlindungannya, tapi ia tidak menemukan apa-apa. Ia tidak sempat menggapai apa pun karena Ace sudah menendang perutnya sampai punggungnya menabrak lemari kaca. Beragam piagam kaca dan marmer di atas lemari itu berjatuhan menimpanya.


"Ace,"


"Kau tau apa hal kecil yang paling kubenci di dunia ini?" Ace mendekati Jem dengan langkah lebar. Sebelum Jem bisa bereaksi, kaki Ace terayun menghantam pria berkemeja putih itu. Di perutnya, wajahnya, pundaknya. Kaki Ace menghantam Jem seperti pria itu adalah keset kakinya. Ia menghantam pria itu berulang-ulang, melampiaskan kekesalan.


"Aku. Paling. Benci. Terluka!" Ace melafalkan kalimat itu satu suku kata ke satu suku kata lain dengan penuh penekanan. Jem meringkuk di bawahnya, penampilan bersihnya yang selalu bak malaikat--kini kotor oleh jejak sepatu dan darah.


Ace hendak memberikan tendangan fatal di wajah Jem, merenggut kesadaran pria itu sampai habis. Namun, tindakannya menggantung akibat Carcel yang berlari dan menangkapnya.


"Hentikan, bos Ace." Carcel tidak bisa membiarkan Jem mati. Tidak ketika dia masih bagian dari keluarga besar Emery. "Dia masih seorang Emery."


"Apa kau pikir aku peduli?" Ace menyalak kepada Carcel yang menatapnya takut-takut.


"Bukan seperti itu bos Ace," Carcel hanya tidak mau Ace terlibat konflik berkepanjangan.


"Mari hentikan ini sekarang. Tuan Jem sudah sekarat."


"Tsk!" Ace membuang napas keras. Ia melirik Jem di lantai dengan mata meruncing tajam.


"Kuberi peringatan padamu, Emery. Kalau kau berani-berani menyentuh apa yang kupunya, lagi. Jangan pikir aku akan melepaskanmu. Tidak, bahkan kematian tidak akan bisa menjemputmu sebelum aku!"


Itu adalah peringatan. Dalam wajahnya yang bersimbah darah, Jemaine Emery mendengar ucapan Ace dengan napas yang terengah-engah.


...----------------...


Evan Caspian sedang duduk di meja makan, tangan mengiris steak tanpa ada niat menyuap daging itu ke mulutnya. Ia duduk di sana, dengan mata termenung dan hati yang gelisah.


Evan tau, cepat atau lambat situasinya akan seperti ini..., hanya saja, ia pikir ia bisa mengatasinya. Ia seharusnya bisa mengatasi Ace Hunter.


"Keparat!" Evan mendorong piring steak itu menjauh. Tangannya yang menggenggam garpu dan pisau terkepal erat.


"Situasinya seharusnya tidak seperti ini!" Evan berbicara kepada diri sendiri. Matanya berapi-api menahan keki. Para bajingan yang dia pikir dapat ia andalkan, para bajingan yang sudah bekerja sama padanya--bagaimana mereka bisa memutar langkah dan melawannya?


Apa yang Ace tawarkan kepada para sampah itu sampai-sampai mereka berani mengkhianatinya?


Ini semua memuakkan!!!


"Bos Evan," Rishan datang ke ruang makan yang sunyi itu. Matanya menyorot kepada Evan yang sudah dalam suasana hati buruk. Rishan jadi cemas, apa dia harus mengatakan apa yang hendak ia laporkan? Evan bisa saja semakin marah.


"Katakan, Rishan!" Evan menaruh pisaunya di atas meja. "Kau datang untuk menyampaikan sesuatu, bukan?"


"Bos E-Evan, maafkan aku. Aku sepertinya sudah mengganggumu."


"Rishan?"


"U-uh, baiklah." Rishan menggeliat seperti ulat, dia takut. Takut Evan akan melemparnya dengan pisau steak sebagaimana Evan melemparnya dengan setumpuk berkas tebal kemarin.


"Tuan Jem..., tuan Jem berada di rumah sakit sekarang."


"Huh, apa dia sudah memutuskan untuk mati?"

__ADS_1


"Bukan seperti itu bos, sepertinya tuan Jem bertengkar dengan tuan Arcelio." Rishan menyusutkan suaranya perlahan-lahan. "Ke-kepala Hearts juga sudah diresmikan hari ini."


"Huh, tiba-tiba?" Evan mengerutkan keningnya bingung. Ia pikir peresmian kepala di Hearts akan ditentukan Jenina Emery pada perayaan ulang tahunnya yang ke 65 nanti. Yang mana itu adalah tahun depan.


"Jeremy Emery sudah dinaubatkan sebagai kepala resmi di Hearts."


"Jeremy?" Evan ternganga. Ini baru, pikirnya. "Sialan, Ace pasti terlibat dalam situasi ini."


"Apa Jem masih bisa diajak bicara?!"


"Kurasa..."


"Aku harus menemuinya." Evan menggigit bibir bawahnya. "Jem pasti sudah melakukan sesuatu yang memicu Ace menghancurkannya. Aku tidak bisa membiarkan situasi ini lepas begitu saja. Aku perlu tau apa hal yang mampu memicu amukan seorang Ace Hunter."


"Tidakkah itu agak berbahaya?" Rishan tidak ingin Evan bermain-main dengan api.


"Berbahaya kalau kau setolol Jemaine Emery. Aku tidak." Evan menyeringai tipis. "Ace mulai bergerak, Rishan. Cepat atau lambat dia akan datang untuk menebas kepalaku."


"..."


"Aku harus memikirkan langkahku dengan baik mulai sekarang. Aku tidak bisa hanya duduk menunggu kematianku." Evan berdiri, dan saat ia hendak berlalu..., mata Evan terpaku kepada sosok wanita yang berdiri di dekat pintu yang terhubung ke ruang makan.


"Apa yang kau lakukan di sana?" tegur Evan. Gadis itu keluar dari posisinya dengan cengiran berdosa.


"Maafkan aku, tuan Evan. Aku tidak ingin menginterupsi perbincangan kalian."


"Kau adalah bodyguard Indira, bukan?"


"Iya, tuan."


"Siapa namamu?"


"Fawn, tuan." Fawn--gadis yang dimaksudkan--melebarkan cengiran polos yang walau sedap dipandang, menyimpan keambiguan. "Lain kali jangan menyelinap lagi, Fawn."


"Ba-baiklah, tuan."


"Apa maumu kemari?" Evan memakai jasnya sambil menatap Fawn dengan kening terangkat sebelah.


"Nona Indira memanggilmu ke kamarnya malam ini."


"Aku akan datang kalau sempat." Evan tidak tertarik pada panggilan Indira. Dia lebih tertarik mengunjungi Jem sekarang. Jem pasti sangat marah besar sudah dipermalukan dan dilucuti posisinya. Saat ini, hanya saat ini Jem bisa ia manfaatkan.


Sementara Rishan menyusul Evan yang berlalu meninggalkan meja makan, Fawn yang ditinggalkan di sana menatap kepada punggung keduanya dengan seulas senyuman sopan. Ia terus berdiri di sana sampai suara langkah keduanya tak terdengar lagi di telinga.


Fawn mengembuskan napas keras.


"Ace, apa yang kau lakukan?" Fawn mencemaskan pria itu sekarang. Situasi yang terjadi di Hearts sudah pasti campur tangan Ace. Kendati dia terlihat menang di sana dan berhasil mengendalikan situasi untuk menguntungkannya, Fawn mencemaskan Ace dan kesehatannya.


Apa pria itu bekerja mati-matian lagi tanpa henti? Apa dia menjaga kesehatannya? Apa yang dia risikokan sampai berani melangkah terlampau cepat dan meruntuhkan Hearts? Fawn tidak mau pria itu salah langkah...


Situasinya bisa berbahaya.


Tidak peduli betapa besar dan kuat nama Ace sekarang, dia masih lah seorang manusia. Dia tidak kebal peluru. Dia tidak kebal terhadap kematian.

__ADS_1


...'Aku harap kau tidak menyiksa dirimu sendiri, Ace.' ...


...----------------...


__ADS_2