
...NORMAL pov...
...----------------...
Dari yang Jack Hunter informasikan, bertepatan pada pertemuan Ace dan Fawn hari ini, beberapa bodyguard dari kediaman Hunter dikirim ke kediaman Caspian untuk menyelamatkan Vera. Ace yang bertemu Fawn tidak datang hanya untuk memasuki jebakan Evan, melainkan sebagai pengalih perhatian juga.
Dengan mata Evan dan Anggara terfokus penuh pada pertemuan ini, Evan tidak akan menyadari kalau David menyerang mansionnya. Mereka juga tidak akan menyadari kalau Lilian Alder telah diselamatkan.
Mendengar informasi itu terurai di depannya, Fawn merasa sangat bersyukur atas bantuan yang sudah Ace berikan padanya dan ibunya. Akan tetapi, disaat bersamaan, Fawn mencemaskan situasi Ace sekarang.
"Seharusnya dia tidak meminum racun itu," Fawn yang baru turun dari mobil--jalan beriringan memasuki rumah sakit.
"Fawn, meskipun Ace mempunyai perencanaan matang yang mempunyai persentase keberhasilan yang tinggi, penerapannya terkadang masih tidak sesuai ekspektasi. Oleh karena itu, dengan nyawa ibumu sebagai taruhan, kurasa Ace hanya tidak mau merisikokan keselamatannya dengan perencanaan yang masih dilaksanakan setengah jalan. Jika kami gagal, ibumu bisa mereka singkirkan saat itu juga. Jadi..., yah."
"..."
Jack menghela napas. "Yang salah di sini adalah kami karena lambat mengabari Ace, jika saja kami bergerak lebih cepat dalam menemukan ibumu..., situasinya mungkin akan berbeda sekarang."
"Jangan salahkan dirimu..." tegur Fawn, kesedihan terpatri di matanya. "Semua ini..., semua ini salahku karena sudah tidak bisa melindungi keluargaku sendiri. Gara-gara aku, Ace jadi dalam bahaya. Dia adalah pemimpin kalian dan aku melukainya. Maafkan aku."
Sebagai bentuk penyesalannya, Fawn membungkuk dalam-dalam di depan Jack. Pria yang Fawn ketahui sebagai wali Ace, pria yang Fawn ketahui merupakan saudara dari Harkin Hunter.
"Angkat kepalamu, Fawnia." ujar Jack, "Situasi ini sudah mempengaruhi hidup kita semua, baik dan buruknya, kuharap Ace segera sembuh dan mampu menyelesaikan semuanya. Kau juga..., temuilah ibumu. Aku akan menemui Ace sekarang."
"Ace dirawat di sini juga?"
Jack mengangguk. "Ya. Ini adalah rumah sakit teraman milik keluarga Hunter. Tidak ada orang yang bisa menyakitimu di sini. Beristirahatlah."
"Oh..., a-apa aku boleh menemui Ace?"
Jack menatap Fawn sebentar, sebelum akhirnya menggeleng. "Maafkan aku, kurasa Margot tidak akan menginginkan itu."
"Ah..., benar." pundak Fawn merosot layu. Meskipun ia sudah bebas sekarang, memperoleh kepercayaan Margot pasti sulit. Bagaimanapun, dia adalah sosok yang sudah menyeret Ace ke dalam pertemuan mematikan itu. Ace adalah senjata terkuat keluarga Hunter, tanpa pria itu berdiri dengan gagah berani melindungi keluarganya, setiap orang sekarang berada dalam posisi terancam.
"Sekali lagi, maafkan aku." Fawn membungkuk dalam-dalam kepada Jack yang hendak berlalu dari hadapannya, ketika Fawn mengangkat kepala. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya, siap tumpah dalam sekali kedipan mata.
"Mm." Jack tersenyum samar sebelum membalikkan badan.
Setelah meninggalkan Fawn pula, Jack meregangkan otot leher dan lengannya. "Ini pertama kalinya aku terlalu banyak bicara," keluh Jack pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Selama ia melenggang di koridor rumah sakit yang senggang itu juga, Jack kembali teringat pada ekspresi sedih Fawn yang luar biasa. Gadis itu benar-benar hancur seperti Ace menginginkannya hancur.
Jack penasaran, apa yang Ace pikirkan sampai mengacaukan mental orang yang ia sukai sampai sebegitu buruknya? Jack sendiri saja sampai tidak nyaman berhadap-hadapan.
Tidak. Bagaimana bisa ia nyaman di depan gadis yang menangis, ketika ia tau penyebab dari tangis gadis itu sedang duduk di tempat tidur rumah sakit sambil menyantap seiris apel?
"Bagaimana kabar Fawn?" tanya Ace, keponakan Jack Hunter itu duduk di tempat tidur dengan sebelah kaki menjuntai di sisi ranjang besi. Dia mengganti pakaiannya dengan jas merah dan celana hitam.
"Dia berada di kamar ibunya. Dia juga sangat mencemaskanmu. Aku pikir dia hampir pingsan di jalan saking stress-nya."
"Dia akan bertahan," Ace menanggapi dengan ekspresi tenang. Seolah fakta mengenai Fawn yang terluka karenanya tidak membuatnya merasa buruk atau bersalah sama sekali. Well, mungkin tidak.
"David sudah kembali bersama Vera, dia menghubungiku sepuluh menit yang lalu." Jack duduk di sofa yang berada di ruangan tersebut. Tangannya menggapai sebuah anggur hijau dari keranjang buah dan memakannya. "Dia juga mengatakan sesuatu yang menarik tentang misi pribadimu untuknya."
"Itu hanya satu dari sedikit hal yang perlu kulakukan."
"Kau memintanya membunuh seorang bodyguard Indira yang tidak punya pengaruh besar di permainan ini, Ace."
"Kau tidak tau apa-apa," tukas Ace. "Bajingan itu sudah berani mengajak rusaku melarikan diri dari papan permainanku. Apa kau pikir aku akan membiarkannya hidup?"
Jack tercengang. Apa keponakannya menunjukkan kecemburuan?
"Joseph," ralat Ace. "Namanya Joseph, dan dia adalah salah satu rintangan yang akhirnya berhasilku singkirkan."
"Apa kau pikir ini baik-baik saja, Fawn bisa tau dan menyalahkanmu."
"Dia tidak akan menyalahkanku bila dia terlalu sibuk menyalahkan dirinya sendiri."
Itu..., mungkin benar?
Tapi, mendengarkan narasi itu langsung dari bibir Ace, rasanya agak kejam.
"Apa yang akan kau lakukan terhadap Evan dan Anggara sekarang?"
"Biarkan mereka bersenang-senang untuk sekarang...," sahut Ace. "Aku akan bersembunyi di sini untuk sementara waktu, lalu..., jika waktunya telah tiba, aku akan menyerang mereka."
"Kenapa tidak sekarang saja? Kupikir situasinya sudah sangat pas sekarang."
"Aku perlu menunggu kondisi kesehatan Lilian Alder merosot."
__ADS_1
"Hah?"
Ace tidak mengulang apa yang dia ucapkan. Ia hanya duduk di tempat tidurnya dengan mata tertuju pada pantulan cahaya lampu di apelnya.
Lilian Alder akan sakit parah hingga ia mencapai kritis dan meninggal dunia. Ini adalah rahasia yang hanya diketahui oleh Rio, Ace dan dokter yang menangani kesehatan Lilian.
Dalam kata lain, selama ini Fawn pun tidak mengetahui kabar Lilian secara menyeluruh. Ia tidak tau bila operasi ibunya telah gagal dan memperburuk kesehatannya. Bahwa, tanpa topangan mesin Lilian seharusnya sudah tidak berada di bumi lagi.
Awalnya, Ace merahasiakan informasi itu karena ia tidak mau Fawn bersedih dan kehilangan harapannya. Karena itu, ia membayar rumah sakit untuk membantu Lilian tetap hidup bagaimana buruk pun kondisinya. Namun, sekarang..., dengan situasi antara Anggara dan Fawn, Ace pikir sudah saatnya ia mencabut harapan itu dari Fawn. Ia hanya perlu membuat semuanya menjadi salah Anggara.
Aaaah, benar. Itu pasti menarik.
Ahahahaha!
"Apa yang kau tertawakan?"
"Huh?"
Jack mengerutkan keningnya penuh kecurigaan. "Kau terlihat menakutkan dengan cengiran setan itu."
"Tsk, jangan mengganggu orang yang sedang senang, paman."
"Masalahnya, kesenanganmu adalah kesenangan yang menyimpang." Berbahagia di atas penderitaan orang lain bukanlah kesenangan yang patut dibanggakan. "Aku tidak percaya seseorang seperti Fawnia bisa menaruh hatinya pada monster sepertimu."
Sebuah seringai jenaka merekah samar di wajah Ace saat Jack menyinggung tentang hubungannya dan Fawnia. Sebuah seringai yang menyiratkan kelicikan dan kejahatan. "Jika aku tidak seperti ini, Fawn tidak mungkin mencintaiku."
"Seperti iblis?"
"Iblis yang rela melakukan apa saja untuknya."
"Apa kau tidak takut jika suatu-waktu Fawn mengetahui sisi hitammu ini? Kau tau, dia bisa saja melarikan diri darimu lagi, tau."
"Fawn tidak akan melarikan diri." Ace sangat percaya diri pada jawabannya. Ia tidak mempunyai pemikiran kalau akan ada suatu masa Fawn akan meninggalkannya. Tidak.
Di masa depannya, Ace sudah mempunyai Fawn di sana.
Terpaku selamanya di sisinya.
...----------------...
__ADS_1