
...ACE pov...
.........
Semenjak Spades dan Clubs beraliansi dan menyamaratakan kekuasaan mereka dengan Diamond, aku--sebagai pemimpin di Diamond corp. menjadi sangat sibuk. Aku perlu menanggulangi segala masalah dan pengkhianatan yang dilakukan oleh rekan-rekan yang berpaling dariku, ada juga musuh yang muncul kepermukaan dan mulai meneror kami dari segala arah.
Rasanya sedang dihujani oleh ribuan peluru. Tidak peduli betapa keras aku berusaha menangkis semuanya, aku sendiri tidak akan cukup. Salah satu dari ribuan peluru itu akan mengenaiku.
Hari ini, hal yang tidak bisa kutangkis dan kucegah sama sekali terjadi.
"Kapan ini terjadi?" Paman Jack mengitari meja besi tempat sebuah mayat terbaring dingin.
"Seorang warga menemukannya kemarin," jawab seorang polisi yang juga merupakan orang dalam kami. "Tapi dari hasil autopsi, dia sudah meninggal setidaknya satu minggu."
"Sebuah keberuntungan mayatnya tidak di makan binatang buas," tambah paman Jack. Aroma busuk di dalam ruangan itu membuatku enggan bicara, aku hanya menatap wajah familiar di atas meja itu dengan sedikit prihatin.
"David, selama bekerja di bawahmu, apa ada sesuatu yang janggal terhadap perilaku Fabian selama sebulan belakangan?" Paman Jack melempar pandangan kepada David yang juga datang bersama kami.
Sebagai kepala bodyguard Margot, David bertanggung jawab kepada empat bodyguard lain yang salah satunya adalah Fabian. Ketika David mendengar jasad Fabian ditemukan di hutan, dia syok sampai jatuh terduduk. Aku pikir mereka tidak hanya sedekat rekan kerja, melainkan sahabat juga.
"Aku tidak mengingat hal yang spesifik, Bos. Selama bekerja mengawasi bos Margot, Fabian bersikap seperti biasanya. Dia sedikit konyol dan sering membuat lelucon, jadi bos Margot kerap mengusirnya. Tapi..., aku pikir dia tidak menunjukkan keanehan apa pun." David berucap dengan suara yang agak bergetar.
Aku menghela napas panjang. Aku tidak tau apakah David masih sedih atas kematian rekannya atau ketakutan atas aura paman Jack yang kuat. Aku tidak betah berada di sini dan mencium bau busuk itu, jadi aku mengeluarkan sepuntung rokok dari saku jasku dan menyalakannya.
Paman Jack melihat tingkahku dan tidak memberi komentar.
"Apa Fabian memiliki keluarga?" Aku berkontribusi dengan suka tidak suka.
"Fabian mempunyai satu anak, dia mengadopsi anak bibinya yang pemabuk." Senyum miris terlukis di paras David. Kenangan yang ia miliki tentang kebaikan Fabian telah berubah menjadi kenangan pahit.
"Fabian adalah anak yang baik." tambah David lagi.
Jadi, kesimpulannya..., Fabian adalah laki-laki baik hati dengan satu orang anak yang perlu dibesarkan. Sepertinya aku mengingat jalan cerita ini di suatu tempat..., oh benar. Fawn..., dia adalah orang baik hati yang lain dengan keluarga yang perlu dilindungi.
"Sepertinya aku sudah menemukan jawabannya," aku menjatuhkan rokokku di lantai dan menginjaknya sampai mati. "Paman, mari diskusikan ini di lain."
"Baiklah," sahut paman Jack dan keluar duluan.
Aku bersama Carcel pun hendak menyusul paman keluar, tapi sebelum itu aku menyapa David yang masih berdiri di sana dan meremas pundaknya lembut.
"Buatlah pemakaman yang layak untuknya," ujarku sebelum berlalu.
David mengangguk dengan air mata yang kembali menumpuk di pelupuk matanya.
"Tetap kuat, Dave." Carcel menambahkan seperti bisikan.
Setelah kami keluar dari ruang autopsi itu, aku berjalan beriringan bersama Carcel dan tiga bodyguard lain yang menunggu di luar. Mereka semua adalah pengawal pribadiku dan mereka semua menunjukkan kesedihan atas kepergian Fabian yang tiba-tiba.
Pada akhirnya, kami semua adalah manusia. Kematian ini mengingatkanku bahwa tidak peduli seberapa sering kami menghadap kematian, orang-orang yang mengorbankan nyawanya untukku adalah orang sungguhan. Mereka adalah orang penting bagi orang lain.
..."Kau psikopat gila, kau tidak boleh bermain-main dengan nyawa orang lain, sialan. Hanya karena kau tidak dicintai, bukan berarti semua orang berada di posisi yang sama denganmu!"...
Makian Fawn menggema di kepalaku, muncul seperti ejekan.
__ADS_1
Menyedihkan.
Andai saja aku bisa memilih jalur lain untuk menjalani hidup, aku juga tidak ingin berada di sini. Margot dan paman Jack hanya menggunakanku sebagai alat mereka. Pion berharga yang mampu mereka gunakan untuk menjatuhkan lawan. Karena mereka tidak kompeten, tolol tapi ambisius. Mereka ingin aku menggapai apa yang mereka dambakan.
Pembalasan dendam ini, keparat!
Aku bahkan tidak menangis ketika orang tuaku mati! Aku tidak ingin di sini!
...---...
"Ace, apa kau baik-baik saja?"
Kepalaku sedang penuh oleh berbagai beban pikiran, dan bukannya merilekskan ototku atau lanjut bekerja, di sinilah aku sekarang. Di sebuah cafe mewah yang menjual macaron cantik dengan secangkir teh dalam cangkir vintage nan estetik. Indira--sosok yang mengundangku ke cafe ini, sedang menatapku dengan kecemasan samar di wajahnya.
"Kalau kau sangat sibuk, kau seharusnya tidak menyanggupi ajakanku. Kau dan pikiranmu sepertinya sedang berada di dua tempat yang berbeda." Indira lanjut berbicara.
"Tidak apa-apa, karena banyak pikiran sebaiknya aku bersantai sedikit, kan?" Aku memaksakan senyuman. "Anyway, tidak biasanya kau mengajakku ke tempat seperti ini?"
Tempat Indira biasa mengajakku bertemu ngobrol biasanya cafe perpustakaan, cafe tua dengan pengunjung yang bisa dihitung jari, atau terkadang dia membawaku ke cafe di atas kapal. Tempat yang biasanya kami kunjungi adalah tempat yang tenang dan menenangkan. Bukan tempat ini, tempat yang penuh warna-warni, pasangan remaja menjijikkan dan musik pop yang memekakan telinga.
"Ini adalah spot berkencan populer di internet."
Uhk!!!
"Spot apa?" aku meninggikan alisku tanpa sengaja. Berkencan? Apa aku mendengar berkencan?
"Jangan salah paham, aku melakukan ini untuk melihat reaksi Evan."
Indira tersenyum malu-malu, pipinya bersemu merah dan ia menghindari pandanganku. Tangannya saling bertaut di atas meja--gelisah.
"Kau tidak berusaha membuatku dan Evan saling membunuh, kan?" Aku tidak memahami Indira sama sekali.
"Mana mungkin aku melakukan itu!" Indira kembali menatapku, bibirnya mengerucut lesu. "Aku hanya..., aku seharusnya tidak mengatakan ini tapi aku sangat butuh teman curhat sekarang!"
"Huh, katakan, apalagi yang Evan si idiot itu lakukan?" Sebagai teman Indira, jujur saja aku masih tidak memahaminya. Aku pikir dia mengatakan pernikahannya dengan Evan adalah sebuah keharusan, untuk menyelamatkan diri dari kebangkrutan. Lalu, kenapa sekarang dia bertingkah seperti gadis 14 tahun yang sedang kasmaran?
"Uh, mmm, sebenarnya..., aku harap kau tidak mengatakan ini pada siapa-siapa!" Indira mengancamku dengan telunjuknya. "Janji!"
"Apa aku punya teman yang bisa kuajak mendiskusikan masalah pribadimu? Oh..., atau kau menganggapku sebagai pria bermulut ember?"
"Yah, jangan salah paham. Aku hanya takut, tau." Indira mengatur napasnya sekali lagi sebelum bicara. "Jujur saja, Ace..., pernikahanku dengan Evan tidak berjalan dengan baik."
"Apa dia bajingan?" Aku tau Evan bajingan, tapi aku tidak mengira dia akan menunjukkan sisi biadabnya kepada Indira. Pria itu selalu bermuka dua kemana-mana.
"Tidak seperti itu, Evan sejujurnya sangat baik dan pengertian tapi..."
"Tapi?"
Indira semakin gelisah, apa sebenarnya yang si idiot Evan itu lakukan sampai Indira sedilema ini? Indira yang selalu kalem, dan lemah lembut.
"Sepertinya Evan tidak mencintaiku." kata Indira.
"Itu sudah jelas, kan?"
__ADS_1
"Hei!" Indira meneriakiku seketika. "Kau tidak perlu sejujur itu!"
"Ya maaf, aku hanya mengatakan fakta. Bukankah kalian dijodohkan demi bisnis keluarga? Perasaannya tidak masuk dalam perhitungan sama sekali, kalau begitu." Sekali lagi, aku tidak memahami Indira.
"Ini semua salahmu!" tuding Indira kembali. "Kalau kau tidak menjadi sangat sukses di pekerjaanmu, aku tidak akan menikah dengan Evan!"
"Aku pernah mengajakmu menikah, tapi kau juga menolakku. Apa kau lupa?" Aku mengungkit momen ketika aku pernah melamarnya setahun setelah aku menjadi kepala di Diamond. Indira yang saat itu masih didampingi Fawn, menolakku dengan tawa besar.
"Apa kau pikir aku mau menikah dengan pria tidak berperasaan sepertimu?"
"Dan apa Evan berperasaan seperti yang kau harapkan?" Aku mengejeknya yang kembali berwajah masam.
"Tapi setidaknya aku mengira Evan akan berusaha mencintaiku. Tapi yah, sepertinya kau berhak menertawaiku kali ini."
"Sebanyak aku ingin tertawa, aku akan diam kali ini." Tidak ada untungnya bagiku menertawai penderitaan Indira, tidak ketika aku sendiri sedang menderita dengan beban yang memuncak di kepalaku.
"Jadi, tujuanmu mengajakku kemari adalah agar kau bisa melihat reaksi Evan, bukan? Apa menurutmu ini akan berhasil?" Aku kembali bertanya setelah menggigit satu buah macaron yang terasa sangat manis dan memuakkan di lidahku.
"Aku tidak tau," Indira menopang dagu. "Hanya saja, mungkin bodyguard Evan akan memberi laporan tentang pria yang kutemui kepada Evan dan Evan akan sedikit tidak suka, begitu? Kau tau dia tidak menyukaimu, kan?"
"Jadi dia memberikanmu bodyguard baru?" Aku lebih tertarik pada informasi itu. Jika Evan memang menanamkan orang-orangnya di belakang Indira, tidak salah lagi kalau pertemuan ini akan sampai ke telinganya.
"Dia ingin aku lebih aman," ujar Indira lalu memelintir rambutnya. "Belakangan ini, dia juga banyak merekrut bodyguard baru, aku pikir pekerjaannya semakin tidak aman."
"Huh, itu wajar. Dia adalah kepala di Clubs, dia juga berdiri setara denganku sekarang. Harga nyawanya setara dengan nyawaku." Aku menjawab Indira sambil menyandarkan punggungku di sandaran bangku.
Sementara Indira mencerna ucapanku pula, aku mencatat ucapannya di benakku. Mencoba mencari-cari alasan lain di balik perekrutan bodyguard yang dilakukan keluarga Caspian.
Apalagi yang ular itu rencanakan sekarang?
"Oh, ini enak." Indira mengacungkan macaron berwarna hijau itu ke depan wajahku. "Aku pikir kita tidak sia-sia ke sini."
"Hn, aku setuju."
"Aaaaah, melihat kue ini aku jadi mengingat Fawn. Dia sangat menikmati cemilan manis, dia pasti akan senang memakan ini."
"Fawn?" nama itu menarik minatku. "Dia suka macaron?"
"Tidak secara spesifik. Fawn bisa dibilang menyukai apa pun yang manis."
"Ooh, begitukah?" senyumku tanpa sadar mengembang. Ini tolol, apa yang kupikirkan tersenyum setelah mendengar sedikit trivia tentang Fawn?
"Bagaimana kabarnya? Apa kau sudah bertemu dengan dia?" Aku mengulik informasi lagi.
"Angga tidak mengatakan apa-apa tentang Fawn, tapi kau tau aku, aku tidak akan tinggal diam. Kalau Angga tidak mengatakan di mana Fawn sekarang, maka aku akan mencarinya dengan usahaku sendiri."
Ketika Indira mengatakan itu dengan tekad yang bulat, aku yang duduk berseberangan dari Indira merasakan ketidaksukaan dalam pengakuannya.
"Aku pikir kau sebaiknya tidak melakukan sesuatu yang sia-sia. Kau bisa terluka," ucapanku kumaksudkan sebagai saran seorang teman, tapi entah bagaimana, suaraku mengubah nasihat itu terdengar seperti ancaman.
Fawn adalah milikku sekarang, kau Indira Caspian, sebaiknya menjauhkan hidungmu dari apa yang sudah menjadi propertiku.
...----...
__ADS_1