DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
149. SESUATU YANG SALAH


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


"Jika hidup adalah permainan, maka kematianku adalah bukti dari kemenanganmu. Bukankah begitu, Fawnia? Karena kau berada di pihak yang berseberangan dariku sekarang, membunuhku adalah hal tepat yang perlu kau lakukan." Anggara, di bangku kebesarannya, berujar sambil menghadap kepada Fawnia Alder yang sekarang menggunakan leher Indira sebagai tempat peristirahatan pisaunya.


"Kau bisa mengatakannya begitu," Fawn menanggapi.


"Tapi, Fawn, jika hidup memang sebuah permainan, maka tidak berbeda dariku, kau pun adalah pion di atas papan permainan ini, bukan?" Anggara tersenyum masam. "Kau adalah pion yang digunakan Ace untuk menyingkirkanku."


"Aku melakukan ini atas keinginanku sendiri," tukas Fawn, ia membalas senyuman Anggara dengan tatapan meremehkan. "Aku melakukan ini karena kau yang mencari masalah dariku duluan. Jika kau tidak memanfaatkanku dan melukai orang yang kusayang, aku tidak akan menyakitimu."


"Memanfaatkanmu? Kata-kata itu terdengar lucu. Kau sejak awal adalah alat yang hidup hanya untuk dimanfaatkan oleh keluarga kami. Kau suka-rela mengikuti peraturan itu, jangan pura-pura bodoh dan melupakan isi kontrak kerjamu."


"Ada perbedaan antara suka rela dan terpaksa, Anggara." Fawn menekan pisaunya lebih dalam di kulit Indira, emosinya memuncak saat ia bertukar kata dengan pria yang sempat ia puja sebagai pria terbaik di dunia.


Bagaimana bisa Anggara mengkhianati loyalitasnya? Ketika Fawn rela memberikan segalanya pada pria itu, tapi Anggara malah mengkhianati kepercayaannya dengan menunjukkan sisi gelapnya yang menjijikkan.


"Kau menyudutkanku untuk menuruti kemauanmu. Kau memanfaatkan ibuku sebagai tawananmu. Sejak aku setuju untuk bekerja di bawahmu, tidak ada secuil informasi di kontrakku yang mengatakan bahwa keluargaku perlu terlibat dalam pekerjaanku. Kau yang melanggar peraturan itu, Anggara. Jangan berani-beraninya kau mengubah fakta itu begitu saja!"


Saat itu juga, ketika Fawn bertukar tatap dengan Anggara, amarah yang menguar di sepasang iris hazelnya beradu dengan kecemasan samar di mata Anggara. Mereka seperti berada di atas es tipis yang dapat retak dan menenggelamkan mereka kapan saja.


"Lupakan masalah itu..." ujar Fawn kembali. "Kau tau kedatanganku bukan untuk mendebatmu."


"Kau datang untuk menyingkirkanku," sahut Anggara. "Kalau kau merasa membunuhku adalah jalan yang tepat, setidaknya tinggalkan Indira dari permasalahan ini. Dia tidak terlibat sama sekali."


Fawn terkekeh. "Kenapa aku harus menurutimu? Apa kau lupa perkataanku hari itu?"


Tidak. Anggara tidak akan melupakan kecaman yang Fawn berikan padanya. Bahwa gadis itu akan menyingkirkan seluruh keluarga Rashid dengan tangannya sendiri.


"Apa tidak ada jalan untuk mengubah keputusanmu?"

__ADS_1


"Kau harusnya berpikir untuk mengubah keputusanku ketika aku memberi peringatan padamu hari itu, tapi kau tidak melakukannya karena kau mengutamakan keserakahanmu daripada keluargamu sendiri. Apa yang kulakukan hari ini tidak akan berubah. Karena sama sepertimu, aku mempunyai keserakahanku sendiri."


'Hal-hal yang ingin aku lindungi...' gambaran wajah Ace ketika tersenyum padanya muncul di benak Fawnia. Satu-satunya sosok yang ingin ia lindungi.


"Sekarang..." tekan Fawn sekali lagi. "Pilih lah. Apa kau ingin mati sebelum Indira, atau kau ingin menyaksikannya mati di depanmu?"


Anggara merapatkan mulutnya, mata memerah menahan amarah saat menyaksikan bagaimana pisau yang berada di tangan Fawn terbenam semakin dalam di kulit pucat adiknya. Anggara ingin melakukan sesuatu untuk melindungi keluarganya, tapi menyaksikan kalau hidupnya sekarang bak berdiri di ujung jurang, ia tidak menemukan jawaban.


Fawn cepat atau lambat akan membuat keputusan untuk menyingkirkan siapa duluan. Ia tidak bisa melakukan apa pun untuk mencegah situasi itu memburuk. Ia pada akhirnya hanya akan menemukan kegagalan.


"Fawnia..." Anggara membuka mulutnya. "Kau sudah mengalahkanku."


Fawn bergeming di sana. Meskipun Anggara menitikkan air mata dengan keputus-asaan di sana, Fawn tidak menemukan simpati di dalam dirinya. Ia tidak ada niat untuk berubah pikiran, tidak ada niat untuk menarik diri dari niat awalnya untuk menyingkirkan Anggara.


"Sebelum kau membunuhku," ujar Anggara kembali. "Biarkan aku memberikan satu rahasia padamu."


"Apa pun yang kau katakan tidak berarti bagiku."


"..."


...----------------...


Lima jam telah berlalu setelah Fawn berhasil melakukan pembantaian di kediaman Rashid. Kendati menyingkirkan nyawa adalah bagian pekerjaannya selama ini, Fawn masih merasa sedikit tidak nyaman di hatinya ketika kemampuan yang ia asah untuk melindungi tuannya sekarang ia manfaatkan untuk menyingkirkan mereka.


Tidak, Fawn tidak merasa bersalah atau sentimental terhadap situasi tersebut. Daripada itu, bisa dikatakan Fawn agak mati rasa?


Terlalu banyak kematian yang sudah ia hadapi belakangan ini. Terlalu banyak sampai ia merasa nyawa orang-orang mulai kehilangan harganya. Fawn bertanya-tanya pada dirinya sendiri, akankah ada hari ketika nyawa yang berjatuhan di hadapannya berhenti?


"Fawnia, Ace yang kau pikirkan mungkin adalah sosok penyelamat yang menawan..., tapi, sedikit saja, tidakkah kau pernah memikirkan kalau pria yang kau idam-idamkan adalah sosok yang mengerikan?" Konversasinya dengan Anggara masih terngiang di benak Fawn. Membangunkan kenangan yang tidak menyenangkan.


Meskipun Fawn sangat mencintai Ace, Fawn tau kalau pria itu bukan pria baik hati yang kemurnian hatinya bercahaya seperti malaikat dari surga. Tidak. Jauh daripada itu, Fawn selalu tau kalau Ace adalah yang terburuk dari yang terburuk.

__ADS_1


Hal tersebut bukan hal baru lagi untuk Fawn, tapi mengapa Anggara memperlakukan fakta itu seolah-olah informasi tersebut adalah sesuatu yang mencengangkan?


'Apa dia pikir aku sepolos itu?' Fawn menghela napas panjang.


"Aku memilihmu sebagai kepala bodyguard Indira karena kau mempunyai kemampuan dan insting yang tajam, Fawnia. Aku tau kau pasti tidak cukup bodoh untuk dapat terbuai dalam tipuan yang diberikan Ace padamu."


"..." Fawn termenung kaku. Suara Anggara kembali menggema di kepalanya, menghantuinya.


"Buka matamu, Fawn. Kau tau apa yang salah dari situasimu, bukan?"


Sesuatu yang salah menyangkut Ace?


Fawn bertanya-tanya dengan kening yang bertaut, sarat akan tanya. Jika membahas sesuatu yang salah tentang Ace, Fawn merasa ada begitu banyak topik yang dapat ia angkat di sana. Ace bukan makhluk sempurna. Mengesampingkan fakta bahwa penampilannya seperti pahatan istimewa para dewa, Ace masih seorang manusia. Ia memiliki kekurangan sama seperti manusia pada umumnya.


Jadi...,


"Apa maksud Anggara? Apa dia sengaja menumpahkan informasi ini padaku agar ucapannya selalu menghantuiku?" Fawn mendumel. "Jangan pikir dia bisa melunturkan hubunganku dengan Ace hanya karena ia menabur benih mencurigakan di benakku."


Ace adalah pria terpenting di hidup Fawn sekarang. Ia tidak akan goyah hanya karena beberapa kata yang diucapkan Anggara untuk meracuninya.


Fawn tidak akan...,


"Ah, haruskah aku menemui Vita?" Fawn mengingat kembali keberadaan sahabat yang jarang ia kunjungi.


Dengan ide itu yang muncul secara tiba-tiba di benaknya, Fawn pun melenggang menuju ke sana. Ke rumah Vita Harmond.


Fawn ingin membuat kejutan dengan memberikan Vita kunjungan dadakan. Akan tetapi..., seperti ingin mengejutkannya kembali, Fawn menemukan mini cafe milik Vita telah dileburkan ke tanah. Cafe tempat ia kerap menyantap kue-kue sedap buatan Vita, cafe tempat ia kerap melepaskan keluh-kesahnya. Cafe itu telah luluh di tanah.


"Apa yang terjadi di sini?" Fawn bertanya dengan mata melebar terpana.


Hal lebih penting muncul di benaknya saat itu juga. "Di mana Vita?"

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2