DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
117. SEORANG PEREMPUAN


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


"Seingatku, kau mengatakan kalau Anggara bukan sosok yang perlu aku cemaskan, Evan." Maximillian duduk elegan di tengah rumah kaca yang merupakan bagian dari mansionnya. Secangkir kopi menemani perbincangannya dengan si tunggal Evan Caspian, putera emasnya yang terlihat tidak berkilau sama sekali sekarang.


"Dia memang bukan ancaman," jawaban Evan menunjukkan sedikit keraguan.


Bukan berarti Evan mulai menilai tinggi Anggara sebagai ancaman dan meragukan ucapannya sendiri, Evan hanya..., ia merasa segala kepercayaan dirinya rontok di depan Max.


Ayahnya tersebut sangat mencintainya, selalu menganggapnya sebagai sosok yang sangat berharga. Oleh karena itu, demi membalas kasih sayang ayahnya, Evan selalu ingin menunjukkan kepada Max kalau ia adalah sosok yang kompeten. Ia ingin Max tau kalau ia bisa menjadi kebanggaan ayahnya.


Evan seharusnya membanggakan Max, tapi dengan ulah Anggara..., Evan merasa ia sudah dipermalukan.


Evan ingat dengan baik sudah mengatakan kalau Anggara sudah berada di cengkeramannya. Karena memang, Evan merasa sudah memegang kendali terhadap Anggara. Ia sudah memegang kelemahan pria itu, yaitu Indira. Namun, seperti meludahi Evan di muka, Anggara bahkan tidak melakukan hal termudah yang sudah Evan perintahkan.


Mengapa seorang bodyguard dari keluarga Hunter memiliki nilai tinggi di mata Anggara? Tidak, tidak..., itu sudah jelas bukan cinta. Bahkan bila itu cinta, Anggara tidak mungkin akan merisikokan keamanan Indira demi cinta. Indira adalah kelemahan Anggara. Evan belum memahami ini sama sekali. Apa Anggara meremehkannya? Berpikir kalau dirinya tidak akan mampu melukai Indira?


'Haruskah aku membuktikan keseriusanku?'


Kadang pertanyaan itu muncul di pikiran Evan, godaan untuk menyakiti Indira agar Anggara bisa mematuhinya. Namun, menyakiti Indira pun adalah tindakan yang memberikannya kerepotan lain. Jangan lupakan juga menyangkut dua pengawal Indira yang berani mati melindunginya. Mereka sangat-sangat menjengkelkan. Semua ini memuakkan.


"Evan, ayah tidak ingin memberatkanmu. Kau tau itu, bukan? Ayah rasa, bila situasinya memang sulit untuk kau kendalikan, Ayah mampu mengambil alih situasinya dari sini." Ucapan Max pun tidak membantu sama sekali.


Evan frustasi.


Ia bisa melakukan semuanya sendiri, demi Tuhan. Mengapa orang tuanya merasa perlu untuk membantunya? Apa ia terlihat seperti pria tidak kompeten di sini? Evan ingin berteriak, tapi untuk berteriak ia hanya akan membuat dirinya merasa berdosa.


Max berniat tulus untuk membantunya, Max menyayanginya sangat besar dan cinta bukanlah kesalahan. Evan tidak bisa melukai hati ayahnya dengan bersikap layaknya bajingan. Tapi..., semua ini sangat kacau karena Ace dan Anggara sudah tumbuh seperti duri di mata!


"Ayah, seperti yang kubilang, Anggara bukan ancaman. Dia hanya..., hubungannya dan bodyguard itu kurasa, tidak mempunyai sangkut-paut dalam pertikaian kita." Evan mencoba bernegosiasi. Walau sebenarnya, ketika Max mengajaknya berdiskusi, Evan tau Max sudah mempunyai keputusannya sendiri. Max hanya datang untuk menginformasikan Evan tentang keputusan itu.


"Kau terlalu polos, Evan. Bodyguard itu sudah bekerja di kediaman Hunter sejak Harkin masih hidup. Dia pasti cukup paham apa yang baik dan tidak baik untuk dilakukan. Bodyguard pun punya buku panduannya sendiri. Ace tidak akan membiarkannya hidup kalau bukan karena alasan tertentu."


"Ace tidak tau hubungan mereka." Mungkin?


"Kita membicarakan Ace Hunter di sini." Max menghela napas. "Dia lebih berbahaya dari Harkin."


"Kalau Ayah tau begitu, harusnya ayah melenyapkan Ace sekalian."

__ADS_1


"Apa kau tau berapa kali ayah mencoba melakukan itu?" Max menunjukkan ketidak-senangan atas kritikan Evan. Semasa hidupnya, mustahil Evan tidak mengetahui berapa kali Max bereksperimen untuk menyingkirkan si bungsu Hunter itu, tapi semua upayanya berujung sia-sia. Terima kasih kepada sistem pengawalan Ace yang ketat dan kemampuan individu Ace sendiri bukan sesuatu yang dapat diremehkan.


"Maafkan aku." Evan memainkan jari-jemarinya di bawah meja. Ia tidak tau harus bagaimana menatap ayahnya. Ia kecewa.


"Evan," panggil Max tenang. "Ayah melakukan ini demi kebaikanmu. Untuk kedepannya, segala masalah menyangkut Ace Hunter dan komplotannya, bahkan Anggara, biarkan Ayah yang menangani sisanya. Kau sudah bekerja dengan sangat baik, tapi sangat baik saja tidak cukup. Ayah butuh hasil yang sempurna."


"Apa itu artinya aku masih tidak cukup di mata Ayah?"


"Kau anakku yang sangat berharga, Evan"


"Tapi aku masih kurang sebagai pemimpin, begitukan?"


Max meraih cangkir kopinya di atas meja. Keheningan yang Max tunjukkan saat itu juga seperti pembenaran di mata Evan. Bahwa, tidak peduli seberapa besar Max mencintainya, pria itu masih melihatnya sebagai bocah 5 tahun yang belum mampu melakukan apa-apa. Evan selamanya di mata Max--adalah sosok yang tidak akan pernah tumbuh dewasa.


"Lakukan apa yang Ayah ingin lakukan." Evan menghela napas.


Tidak ada jalan untuk membantah Maximillian, tidak terkecuali Evan mau melukai hati pria itu. Tapi Evan tidak mau. Ia akan mengalah sekarang, tapi itu tidak akan berarti ia menyerah.


Ace Hunter, sampai kapanpun, musuhmu masih aku!


...----------------...


"Kau terlihat dalam kondisi yang baik, Indira." Evan melintasi ruangan, berdiri di depan jendela sebelum melangkah lebar dan membalikkan nampan makanan yang terletak tak berdosa di atas meja. Bunyi bising dari kaca yang pecah dan nampan aluminium menghantam lantai membuat Indira terkesiap.


"Apa masalahmu?" Indira seketika berdiri. Matanya menyorot ke arah Evan dengan kegugupan.


"Masalahku? Aku tidak punya masalah." Evan menanggapi dengan helaan napas samar. "Yang punya masalah kepadaku adalah pertanyaan yang lebih tepat karena demi Tuhan, saudaramu yang bajingan itu tau cara memancing emosiku, Indira."


"A-Anggara? Apa maksudmu? Anggara tidak melakukan apa-apa!"


"Kau yang terpaku di sini tau apa? Aku bahkan tidak yakin kalau kau tau saudara idiotmu itu merisikokan dirimu demi seorang wanita rendahan!"


Seorang wanita? Indira mendengar itu dan seketika terpana.


Apa maksudnya..., Anggara mempunyai seorang..., wanita?


"Kau terkejut, kan? Kakak bajinganmu itu..."


"Itu kabar bagus." Indira memotong perkataan Evan. "Aku sangat senang. Anggara akhirnya menemukan orang yang dia cintai?"

__ADS_1


"Cintai, kah?" Evan mau muntah. "Omong kosong itu menjijikkan, Indira."


"Hanya karena kau tidak mempercayainya, bukan berarti itu tidak ada. Cinta sudah menemukan Anggara, dan aku bangga padanya." Indira sangat positif itu menyakitkan, menyilaukan.


"Apa kau paham apa yang kau ucapkan?" Evan tidak paham sama sekali. "Anggara akan menelantarkanmu, Indira."


"Itu bagus. Aku tidak peduli. Selama Anggara bahagia." Faktanya, Indira sudah muak terhadap pengorbanan demi pengorbanan yang telah saudaranya berikan deminya. Sekarang, bila Anggara memang benar-benar menutup mata atas keselamatannya, Indira merasa itu lebih baik. Indira sudah mendoakan situasi ini terjadi sejak lama.


"Aaaah, aku jadi penasaran..., secantik apa calon kakak iparku?" Indira dengan sesuka hatinya mengubah topik.


Evan yang jemu pada tingkahnya memilih mengabaikan Indira. Evan bersandar di bingkai jendela, tangan menghubungi sebuah nomor yang tersimpan di handphone-nya sebagai Jem.


Evan menghubungi Jem sampai akhirnya panggilan mereka terhubung.


"Halo?" Suara lesu Jem menyapa telinganya.


"Halo, Jem." Sapa Evan balik. "Aku bosan bermain tarik ulur denganmu. Kau..., kau ingat pertanyaan yang pernah kuberikan padamu di rumah sakit?"


"Apa kau masih mengincar jawaban itu? Hal yang membuat Ace murka, seperti itu?"


"Kau bilang aku mempunyai kelemahannya. Kalau begitu, katakan apa itu!"


"Kenapa aku harus membantumu?"


"Berikan jawabannya sekarang kalau kau masih mau hidup lama. Aku tidak bermain-main sekarang."


"Uuuh, aku juga tidak bermain-main saat mengatakan keluargaku terancam, Evan." Suara Jem jenaka. "Kau tau apa yang Ace mampu lakukan kepada kami, bukan? Juga..., adikku bersikeras melindungi Ace tau. Aku tidak bisa bertingkah kalau aku masih ingin hidup di bawah belas kasihan Ace."


"Bagaimana kalau kau memikirkanku, Jem. Ace bukan satu-satunya ancaman di luar sana."


"Aku tidak bisa membocorkan apa pun. Maafkan aku."


"JEM!!" suara Evan meninggi.


"Baiklah, aku akan memberikanmu petunjuk terakhir..." Jem tertawa puas atas permainannya menyiksa Evan.


"Katakan." Titah Evan, ekspresinya mengencang.


"Kelemahan Ace adalah seorang perempuan."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2