DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
130. SAATNYA BICARA


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


Matahari menggantung rendah di arah barat, di ujung horizon yang bernuansa jingga. Tinggal beberapa menit sebelum matahari terbenam dan waktu akan berganti menjadi malam.


Tinggal beberapa jam lagi sebelum Anggara menapak turun ke basement keluarga Caspian, tempat Vera berada. Kendati ia akan menemui gadis itu pula, Anggara entah bagaimana terbenam dalam dilema yang luar biasa. Ia takut akan melakukan kesalahan, takut akan menciptakan lebih banyak masalah kepada sosok Vera yang seharusnya tak terlibat dalam situasi ini.


Memikirkan gadis itu menderita, Anggara merasa perih di dadanya. Ia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Vera, mengeluarkan gadis itu dari segala masalah yang ada.


Tapi..., bagaimana? Apa yang dapat ia lakukan ketika dirinya sendiri adalah marionette yang dimainkan oleh Evan Caspian. Ia tidak punya kekuatan untuk melindungi orang-orang yang ia sayang, kekuatan itu berada di tangan Evan Caspian. Kekuatan itu...


"Kalau kau akan diperalat olehnya, mengapa tidak menjadi alat saja sekalian. Alat yang tidak perlu memikirkan apa-apa, alat yang hanya melakukan tugasnya."


Suara Eleanor menggema di kepala Anggara, meracuni otaknya. Apa yang gadis itu ucapkan seperti cat yang mewarnainya hitam.


Ucapan itu seharusnya menjadi kesalahan. Namun, anehnya Anggara menemukan kelegaan di sana. Bila ia menyerahkan segalanya ke tangan Evan, membiarkan pria itu menguasai lahan tempur ini..., mungkinkah semuanya akan segera berakhir?


Bila Evan berhasil menyingkirkan Ace, maka..., baik itu Indira maupun Vera, mereka semua tidak perlu menderita lagi.


"Kau tidak salah apa-apa, kau hanya melakukan apa yang perlu kau lakukan. Semuanya adalah salah Evan."


Bahkan bila suatu komplikasi terjadi, maka..., maka semua itu adalah salah Evan!


"Aku hanya perlu melakukan tugasku," Anggara mencengkeram surainya sendiri, menekan kulit kepalanya dengan ujung jari yang tajam dan menikam. "Aku akan melakukan apa pun untuk menyelamatkan kalian berdua, Vera..., Indi..., kalian akan bebas."


Sementara bumi di sisi Anggara berdiri telah berotasi meninggalkan matahari, langit biru di atas sana pun terwarnai hitam. Malam telah datang, bersamaan dengan ketukan di pintu.


"Tuan Anggara," itu suara Rishan.


"Bos Evan menunggumu di ruang kerjanya."


Anggara yang menetap sementara di kamar tamu kediaman Caspian itu pun bangkit dari tempatnya berdiri. Sebelum Anggara mengikuti panggilan Rishan, Anggara sekali lagi menoleh kepada jejak jingga sang mentari yang perlahan-lahan di hapus oleh awan hitam dan kelabu.


Setelah ini, jika menyelamatkan Indira dan Vera berarti ia perlu menanggalkan kemanusiaannya, moralnya, maka Anggara tidak mempunyai penyesalan apa-apa. Ia rela terjun ke dalam permainan Evan bila itu berarti ia mampu berkontribusi dalam menyelesaikan peperangan ini.


Yang terpenting sekarang adalah untuk menyelesaikan segalanya--, yang penting dan utama untuk Anggara adalah menyapu keberadaan Ace Hunter dari muka bumi ini.


Selesai, semuanya harus selesai!


...----------------...


"Apa kau siap?" Evan menyapa Anggara yang baru masuk ke dalam ruang kerjanya. Saudara iparnya tersebut bergabung dengannya sambil membawa suatu atmosfir yang berbeda. Sesuatu yang entah apa itu--telah mengubah esensi Anggara di mata Evan. Dia sangat--asing.


Sepasang iris madu Anggara yang kerap menunjukkan ketidak-nyamanan, selalu defensif, dan penuh kesenduan sekarang telah hilang. Ekspresinya menjadi sangat tenang. Pembawaan dirinya pun menjadi cukup percaya diri. Seolah segala kecemasan yang muncul tadi pagi telah dibasuh habis.


"Aku sangat siap," timpal Anggara.


"Kalau begitu..." Evan menjeda ucapannya sementara ia memperbaiki ujung lengan kemejanya. "Aku harap kau tidak keberatan pada hal-hal yang akan aku lakukan."

__ADS_1


"Aku tau penyiksaan adalah salah satu media yang diperlukan untuk menarik informasi, tapi..., apa aku boleh berbicara sebentar kepada Vera nanti."


"Apa yang ingin kau bicarakan?"


"Aku akan berusaha meyakinkannya untuk bekerja sama. Aku percaya dia akan mendengarkanku."


Evan menahan senyum mekar di wajahnya. "Kau cukup percaya diri," gumam Evan, separuh meremehkan. "Baiklah. Aku akan melihatmu berusaha. Namun, bila Vera masih enggan bicara, aku tidak mau kau menginterupsi apa pun hal yang akan kulakukan padanya."


"Apa kau akan membunuhnya?" Anggara merasakan sebuah jarum menyusup di jantungnya, menikam ia dengan rasa sakit yang lambat tapi pasti. Jika Evan membunuh Vera maka...


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa pun," tukas Evan. "Kau hanya perlu menyaksikan."


Dengan diakhirinya konversasi itu, Evan pun melenggang terlebih dahulu menuju pintu keluar. Anggara mengikuti Evan dari belakang. Mengekori pria itu dengan berulang-ulang meyakinkan dirinya bahwa ini adalah tindakan yang diperlukan. Jika ia menginginkan perang ini segera usai, ia perlu mempercayai Evan. Bahkan bila itu berarti ia harus melukai Vera dalam prosesnya.


"Bos Angga," disela perjalanan menuju basement, sosok Fawn menyela langkah Anggara. Bodyguard adiknya tersebut memperhatikannya dengan seksama, wajah agak curiga.


Di mata Fawn, Anggara adalah dewa baik hati yang selalu berjalan di kebenaran. Anggara tau cara Fawn memandangnya dan itu membuat Anggara sedikit terluka. Ia yang sekarang sudah memutuskan akan menanggalkan segala nilai-nilai moral yang ia pegang. Ia yang sekarang adalah sosok yang tidak pantas Fawn kagumi dengan loyalitas tinggi.


"Selamat malam, Fawn." Anggara mau tak mau menyapa balik.


"Apa yang terjadi di sini? Apa bos Angga hendak ke basement?"


"Aku percaya itu bukan urusanmu untuk ikut campur terhadap hal-hal yang bukan urusanmu, Fawnia Alder." Suara kejam itu menginterupsi, Fawn melirik ke samping Anggara dan menemukan Rishan--asisten pribadi Evan menegurnya.


"Ma-maafkan aku." Fawn seketika menarik satu langkah mundur.


"Lakukan saja hal-hal yang sudah ditugaskan padamu dan jangan ikut campur!" Rishan melewati Fawn setelah memberikan kecaman yang mematikan. Fawn yang ditinggalkan di belakang mereka menahan napasnya. menahan diri untuk tidak memaki balik asisten Evan Caspian yang sangat arogan dan mengiritasi.


"Bagaimana kabarnya setelah kemarin?" Evan bertanya kepada Rishan.


"Kondisinya sudah cukup baik setelah kami memberikannya obat demam."


"Demam?" Anggara menyambung.


"Bukan sesuatu yang perlu kau cemaskan, tuan Anggara." Rishan menimpali Anggara seperti berusaha membatasi keingintahuan pria itu cukup sampai di sana. "Kita sampai."


Seperti yang Rishan katakan, Anggara dan Evan akhirnya sampai di depan sel yang mengukung keberadaan Vera. Cahaya yang temaram di sana tidak membuat Anggara buta. Ia masih dapat melihat dengan jelas bagaimana memar terlukis di kulit Vera, melukai paras dan tubuhnya. Dia terlihat sangat berantakan dan menyakitkan untuk dipandang.


Napas Anggara tersangkut di kerongkongan.


"Kau bilang kau ingin bicara dengannya, bukan? Kalau begitu aku akan memberikanmu waktu 5 menit."


"Lima menit?"


"Aku tidak datang ke sini untuk menonton drama." Setelah mengakhiri ucapannya, Evan langsung memberikan isyarat pada pengawalnya untuk membuka pintu sel Vera. Mempersilakan Anggara untuk berbicara dengan Vera sementara Evan duduk di singgasananya sambil menyesap sebatang rokok.


Anggara yang tidak mau melewatkan kesempatan yang sudah dia dapatkan langsung melenggang masuk ke dalam sangkar hitam itu. Ia mendekati Vera dan tersenyum samar setelah menyadari kalau Vera kini memandangnya.


"Angga," gumam Vera heran. "Kenapa kau di sini?"

__ADS_1


"Huh? Aku menemuimu, apalagi?"


Vera mendelik ke arah Evan dan menunjukkan ketidak-senangan. "Apa dia yang membawamu kemari?"


"Aku mencemaskanmu, jadi aku datang."


Vera menatap Anggara dan menggigit bibirnya, "Kau seharusnya tidak datang."


"Mana mungkin aku mengabaikanmu." ujar Anggara. "Vera, aku datang kemari untuk menyelamatkanmu."


Ucapan Anggara tidak membuat Vera merasa lega, sebaliknya, ia menjadi sangat waspada. Matanya memindai Anggara dengan pesimis. Tidak mungkin Evan akan membiarkan Anggara membebaskannya begitu saja. Sesuatu pasti diperlukan...


"Kau hanya perlu bekerja sama. Setelah itu, aku akan membebaskan dan membawamu ke tempat teraman." Anggara tersenyum tulus di wajahnya, karena senyuman tulus itu, Vera merasa pahit di mulutnya saat ia menarik diri menjauh dari Anggara.


"Apa maksudmu bekerja sama?" Seperti yang sudah Vera duga, ada bayaran yang perlu diberikan untuk memperoleh kebebasan.


"Kelemahan Ace," ujar Anggara. "Aku dengar kau mengetahuinya?"


Oh?


"Aku tau kau mempunyai loyalitas pada Ace, Vera. Namun, apa loyalitas itu lebih penting daripada nyawamu sendiri? Pikirkan lagi, Vera. Utamakan dirimu sendiri. Ace tidak membantumu di sini, hanya ada aku. Aku akan menyelamatkanmu."


"Cukup," potong Vera. Ia menelengkan wajahnya menghadap Evan yang sejak tadi memantau mereka dengan seringai miring terpatri di parasnya. "Apa kau pikir aku akan berubah pikiran hanya karena kau membawa Angga kemari?"


"Vera?"


"Aku sudah menduga itu akan menjadi responmu." Evan terkekeh.


"Maafkan aku, Anggara." Vera kembali beralih menatap Anggara. Menatap kepada pria yang terbilang cukup dekat padanya. "Aku tidak akan bisa bekerja sama padamu."


"Vera, ini semua demi kebaikanmu..., pikirkan kembali..., apa menurutmu nyawamu sepadan untuk loyalitasmu?"


"Ini mungkin kedengaran klise dan arogan, tapi Anggara..., aku lebih baik mati daripada kehilangan nilai-nilai yang sudah kupegang sejak lama. Ini bukan hanya masalah loyalitas, tapi prinsipku. Jika aku dapat mengkhianati orang yang sudah mempercayaiku, aku rasa..., aku tidak akan pernah mempercayai diriku sendiri lagi."


"Tapi Vera...."


Bang!


Sebuah letusan senjata menghentikan konversasi mereka. Mata Vera melebar terpana, ia menatap kepada Anggara yang sama-sama terkejut dengan dirinya.


Saat itu juga, jauh di seberang mereka, Evan menodongkan pistolnya ke arah Anggara.


"Oh, aku meleset..." Evan berucap jenaka. "Mungkin karena ruangannya agak gelap..."


"A-APA YANG KAU LAKUKAN?" Vera berteriak garang. Keterkejutannya berpadu padan dengan kemurkaan.


"Oh, haruskah aku mengulanginya lagi?" Evan yang duduk bersilang kaki, menatap Vera dengan sepasang iris hazelnya yang berkilau bak sepasang pupil ular berbisa. Senyum miringnya menyiratkan bahaya.


"Sekarang, Vera... apa kau tertarik untuk bicara?"

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2