DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
77. HANCUR


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


Fawnia Alder--seorang wanita yang mengenakan jaket training merah dan celana training pendek yang berwarna senada--sedang berdiri di balkon, menikmati cahaya matahari pagi yang tumpah ke arahnya. Ia meregangkan lengan dan melakukan beberapa gerakan pemanasan.


Sementara Fawn memfokuskan diri kepada ritual paginya, para bodyguard keluarga Hunter memulai aktivitas mereka di bawah sana. Beberapa dari para bodyguard itu kadang mendongak ke arahnya, tapi itu tidak bertahan lama. Mereka sudah biasa melihat Fawn di sana, dan sudah sangat biasa mendapat teguran untuk tidak menatap Fawn. Larangan itu sudah menyebar ke seluruh bodyguard yang bertugas menjaga rumah ini.


Sayang sekali, pikir mereka. Padahal pemandangan Fawn yang melakukan peregangan seperti vitamin yang menyegarkan mata.


Hari itu, di hari sabtu yang cerah..., Fawnia memutuskan selesai dengan pemanasannya dan masuk ke dalam kamar. Keringat mengalir di keningnya, jatuh ke pelipis dan turun ke dagu. Ace yang saat itu baru kembali dari dapur melihat Fawn dengan seulas seringai bermain di wajahnya yang tampan.


"Selamat pagi," sapa Ace.


"Pagi," Fawn agak terkejut melihat Ace di dekat lemari. Fawn menghampiri Ace dan mengendus pria yang setiap paginya mau membuat Fawn tertawa. Iya, Fawn tau Ace sedang melakukan sesuatu dengan aroma bumbu yang melekat di tubuhnya itu. Sesuatu yang entah apa, Fawn berpura-pura tidak tau saja.


"Apa masih belum siap?" pertanyaan Fawn ambigu.


"Apa itu?"


"Kau..." sahut Fawn lagi. "Kau belum siap-siap pergi kerja?"


Fawn bersandar di lemari dua pintu itu, dia di bagian yang tertutup sementara Ace berdiri di depan pintu lemari yang terbuka. Ace memilah jas dan kemeja dari lemari sebelum mandi.


"Aku sedang memilih pakaianku. Apa kau mau memilihkan pakaian yang cocok untukku?"


"Apa aku istrimu?"


"Kau bisa berlatih sekarang."


Fawn mencibir. "Karena aku sedang baik hati dan bosan, sini..., biar kulihat." Fawn ikut mengintip ke dalam lemari. Ace berdiri di belakangnya, lengan melingkar di pinggang Fawn sementara dagunya berlabuh di bahu Fawn yang beraroma seperti apple fragrance. Karena perbedaan tinggi mereka yang sangat kontras, Ace perlu membungkuk dalam demi mampu melabuhkan daunya di bahu Fawn.


"Biru sepertinya sangat bagus..., bagaimana menurutmu?" Fawn menarik satu kemeja satin berwarna aquamarine dari lemari. Ace sebenarnya tidak peduli pakaian apa yang dia pakai, jadi ia tidak keberatan sama sekali ketika Fawn memilihkan ia sembarangan baju dari lemarinya.


"Itu bagus," sahut Ace. "Apa kau suka warna biru?"


"Mmmm, aku suka biru." Fawn mengangguk. Ia menoleh sekilas kepada Ace dan langsung menyesal saat pipinya malah menabrak bibir pria itu. "Apa kau bisa berhenti menjadi bayi koala?"


"I can be your baby."


"Najis. Berhenti bercanda dan mandilah!" Fawn melepaskan dirinya dari pelukan Ace sebelum melempar pria itu dengan handuk.


"Okey, okey..." Ace tumben-tumbennya pasrah. "Aku akan mandi dan sesudah itu---kau sarapan bersamaku, oke?"

__ADS_1


"Hmmm..., aku tidak akan keberatan." Fawn merespon Ace tanpa pikir panjang. Ace yang mendapatkan persetujuan dari Fawn langsung menyeringai senang. "See you," ujar Ace sebelum pergi.


Satu kecupan lagi mendarat ringan di bibir Fawn. Datang dan pergi secepat kilat.


Dasar curang!


...----------------...


Hari ini adalah hari paling bahagianya Felix ketika bekerja. Ia tidak pernah merasa sangat bersemangat ketika membuka mata dan mulai menyajikan makanan di atas meja. Saking bersemangatnya Felix, dia bahkan tidak memperbolehkan orang lain ikut campur dalam pekerjaannya. Pagi ini--Felix ingin kalau segala makanan yang tertata di meja, di tata oleh dirinya sendiri.


Oh, Felix juga menyediakan satu vase berisikan bunga daffodil. Sarapan bos Ace-nya pagi ini pasti sangat sempurna. Sangat luar biasa dan patut diabadikan di dalam kamera.


"Aku ngeri melihatmu tersenyum selebar itu Felix." Haru yang baru selesai memanggang roti untuk sarapannya sendiri, berujar. Dia melihat si kepala pelayan yang sekarang mengitari meja sambil mengambil gambar makanan dengan setiap sudut yang berbeda. Seperti selebgram saja.


"Berisik," komentar Felix. "Ini urusan penting."


Urusan penting? Haru mencebik. Apa yang penting dari dua mangkuk kare? Makanan itu seharusnya tidak ada di atas meja. Tidak di atas meja makan keluarga Hunter yang terkenal sangat eksklusif. Bos Ace mereka biasanya hanya memakan makanan dengan kadar protein yang tinggi di pagi hari, dan sudah pasti rendah lemak. Makanan yang sehat dan mahal.


Kare bukan makanan yang biasa disantap keluarga Hunter. Haru berpikir seperti ini bukan karena dia memandang remeh kare juga, ini karena dia sudah biasa menyantap makanan sisa di rumah ini yang sering terbuang.


"Apa baik-baik saja membiarkan bos Ace makan kare?" Haru kembali bicara sambil berpikir kalau hari ini ada kemungkinan dia lah yang akan menghabisi kare itu nanti.


"Haru, kenapa kau tidak bekerja? Berhenti mengurusi urusanku." Felix merengut risih.


"Kalau kau makan, makanlah dengan tenang dan ugh..., jauh-jauh bisa? Bagaimana kalau remah rotimu mengotori meja makan?"


"Iya, iya. Bawel." Haru memutar mata. Dia akhirnya mundur dari sisi Felix dan keluar melalui pintu samping.


Setelah kepergian Haru, Felix kembali bernapas dengan lega. Ia menatap sekali lagi mahakarya dan tataannya di atas meja. Mata berkaca-kaca. Ini bukan sekedar kare biasa, Haru. Ini adalah hasil kerja keras bosnya selama lima hari belakangan. Dengan keringat dan ketekunan yang kuat, bos Ace-nya berhasil menciptakan kare dengan cita rasa yang sama dengan kare yang dibuat oleh para ahli kare dunia.


"Ini sangat indah," gumam Felix. Hatinya penuh oleh suka-cita.


"Felix," sapa Ozan. Pria bercambang itu menatap Felix heran sebelum kembali bicara. "Di mana bos Ace?"


"Di kamarnya, di mana lagi memangnya?"


"Oh, kupikir dia masih di sini." Ozan adalah satu dari sedikit orang yang tau aktivitas Ace belakangan. Itu semua terima kasih karena kerusuhan Ace dan Felix setiap subuh, Ozan jadi terbangun dengan senjata di tangan.


"Apa ini makanannya?" Ozan berhenti mencari Ace dan menatap kepada menu kare yang tersaji di meja. "Apa kau pikir bos Ace akan melamar Fawn di sini?"


"Jangan bicara omong kosong. Itu tidak akan terjadi." Felix mengibaskan tangan, tapi wajahnya menunjukkan keantusiasan.


"Sungguh romantis."

__ADS_1


"Jadi, kenapa kau mencari bos Ace." Felix meredakan keantusiasannya dan kembali ke dalam mode kalem dan tegasnya.


"Oh, ini. Asisten tuan Jem menyerahkan ini padaku. File lama yang tidak begitu penting katanya."


"Kalau tidak penting, taruh saja dulu di sini. Aku akan memberikannya pada bos Ace nanti."


"Baiklah."


Ozan menaruh amplop cokelat itu di atas meja makan lalu pamit undur diri. Felix mengiring kepergian Ozan dengan tatapan matanya yang tenang.


Beberapa menit kemudian, Ace dan Fawn datang berdampingan dari arah kepergian Ozan. Felix yang melihat kedatangan mereka spontan mengembangkan senyum lebar. Fawn yang menatap keanehan tingkah Felix--mengerutkan hidungnya heran. Apa pria itu salah makan sesuatu? Tidak biasanya Felix menyunggingkan senyum lebar kepadanya.


"Selamat pagi bos Ace, nona Fawn." Felix membungkuk dalam.


"Selamat pagi." sahut Ace, kendati tenang--matanya menunjukkan keriangan.


"Apa ini?" kata Ace--mengacu kepada sebuah amplop yang tergeletak di dekat piringnya.


"Oh, itu dari tuan Jem. Tidak begitu penting. Biar kuambil." Baru saja Felix hendak menggapainya, Ace duluan membuka isinya. Mengambil sebuah kertas foto yang berada di dalam amplop cokelat itu dan melihatnya di bawah cahaya. Di bawah mata Fawn yang juga mengintip ke arahnya dengan sedikit rasa penasaran.


"..."


"..."


"Ibu?" Fawn meneguk ludahnya saat sekilas gambar yang berada di tangan Ace nampak familiar di matanya. "Itu..., itu ibuku?"


"Bukan, Fawn." Ace segera mencengkram gambaran itu dalam kepalan tangannya. Tapi, itu tidak memberhentikan Fawn sama sekali. Dengan gerakan kilat, ia merampas amplop dari tangan Ace dan menghamburkannya di lantai. Di atas marmer putih, foto-foto yang berisikan gambar ibunya dengan peralatan bantuan pernapasan, terbaring tak sadarkan diri--tercecer membuat hatinya terasa amat nyeri.


"Fawn," Ace terhenyak suram. Matanya menatap ke arah Fawn dengan ketakutan.


Fawn meringkuk dan menyentuh gambar itu seperti menyentuh pecahan kaca. Hatinya perih luar biasa saat gambar itu semakin jelas di matanya, sangat menyakitkan di hatinya.


Mata Fawn berkaca-kaca. Ia mendongak dan menatap kepada sepasang mata Ace yang kini menatapnya, napas tersekat dan ekspresi menggelap.


"Apa kau tau..., ini?"


...----------------...


A/N :


Yeay, akhirnya sampe bab ini juga. ☺️☺️


Halo manteman, makasih udah membaca DDS sampai sejauh ini..🥺🥺 I love you all so much.

__ADS_1


makasih atas apresiasinya. saya <3 kalian semua 😘😘 Semoga cerita ini cepat sampai ke ending 💙💙 See you again 💙💙


__ADS_2