DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
81. SAUDARA


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


Carcel berdiri di depan lemari pendingin, tangan menggenggam segelas air dingin. Sementara dia hendak menenggak minuman di tangannya, Felix bergabung dengannya di dapur sambil membawa satu troli makanan yang dingin tak tersentuh. Carcel menatap isi troli tersebut dan tidak perlu bertanya-tanya lagi dari mana datangnya makanan itu. Sudah pasti, itu datang dari kamar Ace.


"Jika terus begini, aku takut cepat atau lambat aku akan kehilangan pekerjaanku sebagai pelayan di rumah ini." Felix berujar dramatis. "Setiap harinya, makananku berakhir di kamar Haru. Si bocah sialan itu makan enak setiap hari tanpa mencemaskan kalau bosnya tidak menyentuh makanannya sama sekali."


"Ini sudah biasa, bukan?" Carcel bergumam, tangannya dengan ringan menjemput sebuah apel dari troli. "Bos Ace dulu juga seperti ini."


"Kau tidak paham, Carcel. Aku sangat senang ketika bos Ace aktif menyantap makanannya pagi malam. Ketika ada Fawn, dia menjadi sangat apa ya..., sehat? Dia makan teratur, tidur teratur, dia tidak dalam mode temperamental. Saat bersama Fawn, bos Ace menjadi pribadi yang lebih menyenangkan."


"Aku pikir kau senang karena Fawn sudah tidak ada." Carcel bersandar di lemari pendingin. Matanya memperhatikan Felix tua yang sedang menarik dirinya susah payah agar mampu duduk di atas bangku putar setinggi pinggang orang dewasa itu.


"Fawn itu cerewet dan menjengkelkan, tapi aku tidak membencinya. Tidak bila dia memberikan pengaruh baik kepada bos Ace."


"Mm, aku mengerti." Carcel tersenyum tipis. "Mau bagaimana lagi, kan? Situasinya sudah terjadi."


"Kau sangat pasrahan, Cel. Apa kau tidak mencemaskan bosmu yang seperti zombie itu?"


"Tentu saja aku cemas. Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Bagaimanapun, aku adalah bodyguard. Tugasku hanyalah mengawasi bos Ace dan menuruti apa pun yang beliau inginkan."


"Meskipun begitu..., aku sedih melihat bos Ace menjadi seperti ini. Andai saja Fawn tidak pergi."


"Harapanmu itu egois untuk Fawn." Carcel kembali berkomentar.


"Oh, apa kau dipihak yang mendukung Fawn agar pergi?"


"Bukan seperti itu," tukas Carcel. "Aku memang setuju pada keputusan Fawn yang ingin pergi dan bebas dari sini, tapi bukan berarti aku bersenang-senang di atas penderitaan bos Ace. Aku hanya merasa, mengurung seorang seperti binatang juga bukan tindakan manusiawi, kan? Semua ini salahku karena sudah bekerja tidak becus."


"Jika bukan karena kau, bos Ace tidak akan bertemu dengan belahan jiwanya." kata Felix.


"Wow, belahan jiwa kedengaran agak berat. Apa kau pikir bos Ace seserius itu?"


"Malah aneh kalau dia tidak serius. Apa kau lupa apa yang terjadi waktu itu? Meskipun Fawn mengancam nyawanya, bos Ace tetap tidak mau kau mengarahkan senjatamu pada Fawn. Dia sangat overprotektif. Bos Ace bukan tipe pria overprotektif. Tidak terkecuali kau nona Margot."


"Yaaah, aku mengerti maksudmu..." Carcel mengembuskan napas panjang dan lesu. "Sekarang situasinya kembali seperti dulu, aku menjadi kesulitan membayangkan apa yang akan terjadi ke depannya. Bos Ace sebelum Fawn adalah sosok yang sangat mengerikan. Sekarang, dia menjadi dirinya yang dulu dengan amarah dan kekecewaan yang baru."


"Dia akan sangat menakutkan." sahut Felix, bergidik. "Kau harus menjaganya baik-baik, Carcel. Hanya Tuhan yang tau apa yang mampu bos Ace lakukan dengan amarah tertahan itu."


"Seseorang akan terbakar..." gumam Carcel, ia menaruh gelasnya di atas wastafel.


Tanpa perlu mengatakan siapa yang mereka maksudkan, Carcel bisa membayangkan siapa gerangan yang akan menjadi target api amarah Arcelio Hunter yang sedang meruah-ruah.


...----------------...


Margareth Hunter bukan pengecualian dari orang-orang yang mencemaskan Ace. Hari ketika adiknya ditinggal oleh sosok yang paling ia sayang, Margot melihat Ace seperti melihat cerminan dirinya sendiri. Ia merasa ngeri dan di saat bersamaan bersimpati.


Margot ingin menenangkan Ace, tapi bahkan setelah seminggu berlalu, Ace tidak menunjukkan tanda-tanda ia akan meledak lagi. Emosinya setenang permukaan air. Ace tidak menunjukkan api emosi yang berarti dan itu lebih menakutkan daripada dia yang membalikkan meja waktu itu.


Ace pasti merencanakan sesuatu, tapi kebungkamannya membuat Margot takut.

__ADS_1


Tidak ada yang tau apa yang sedang adiknya itu rencanakan, pikirkan. Tidak ada yang bisa berkomunikasi dari hati ke hati dengannya.


Melihat Ace sekarang, rasanya Margot ingin menyeret Fawn dengan tangannya sendiri--kembali ke mansion ini. Jika itu artinya ia bisa mengontrol Ace kembali, Margot mungkin akan melakukan hal itu. Tapi, tidak mungkin. Fawn sudah berada di bawah perlindungan kuat musuhnya. Mencuri Fawn sama saja mengekspos kelemahan Ace kepada semua orang.


"Aku bisa gila." Margot menendang kaki meja. "Vera, katakan padaku..., apa Fawn benar-benar tidak membocorkan tentang Ace kepada keluarga Rashid?"


"Tidak, bos Margot. Aku pikir Fawn masih mempertimbangkanmu dan bos Ace."


"Atau dia takut Ace akan membantai habis keluarga Rashid dalam sekali tebas."


"Bos Margot, loyalitas Fawn kepada keluarga Rashid adalah kewajaran."


"Yayayaya, terserah." Margot berdiri dari tempat tidurnya. "Aku perlu mengunjungi Ace. Apa yang adikku tercinta itu sedang lakukan?"


"Bos Ace berada di kamarnya."


"Katakan, Vera..., apa yang harus kubilang saat mengunjunginya?" Margot yang hendak melangkah keluar--menggantung pergerakannya sebentar. Ia meragu dan merasa amat kaku.


"Katakan apa yang bos Margot ingin katakan, apa lagi memangnya?"


"Vera, kreatif lah sedikit. Apa aku terlihat seperti saudara yang akan mengecek kondisi adiknya dengan kata-kata bijak menjijikkan?"


"Aku tidak menyuruh bos Margot untuk puitis."


Masalahnya, menunjukkan kepedulian adalah kelemahan utama Margareth Hunter. Ia benci menunjukkan sisi sensitifnya karena ia selalu beranggapan tindakan itu menjijikkan, berlebihan dan tidak masuk akal.


Margot membangun citra apatis, kejam dan jahatnya bertahun-tahun ke tahap citra itu menjadi bagian dirinya sendiri. Ia sekarang lupa cara menunjukkan kasih sayang--bahkan kepada adiknya sendiri.


"Hah? Kenapa jadi ke sana?"


"Karena aku yang menjebaknya dalam situasi ini. Jika bukan karena aku, dia tidak perlu menjadi sosok jahat. Dia tidak perlu menghukum Fawn di hari pertama mereka bertemu. Aku membuatnya menjadi sosok yang kejam, kau tau."


"Apa yang sudah terjadi, sudah terjadi. Bos Ace sudah dewasa, tidak peduli seberapa besar bos Margot mempengaruhinya, kurasa bos Ace masih membuat keputusan untuk menuruti bos Margot atas kemauannya sendiri."


"Kau pikir begitu?"


"Mm, sekarang jangan banyak pikiran dan temui saja bos Ace langsung."


"Uh, baiklah." Margot tidak merasa baik-baik saja. Jantungnya berdegup kencang akibat ketakutan dan kegugupan yang berpadu-padan.


...----------------...


Sementara orang-orang di mansion itu menjalani aktivitas mereka seperti berjalan di atas retakan kaca, Ace--sosok yang menjadi penyebab keresahan semua orang duduk di bibir ranjang dengan sebuah pistol di tangan. Ia mengisi peluru ke dalam pistolnya dan menatap benda mematikan itu dengan binar mata yang mampu membakar seseorang dalam sekali pandang.


Ada banyak hal terputar di kepala Ace saat itu, tapi ia tidak menyuarakannya. Tidak menunjukkan perasaannya. Ia hanya melakukan pekerjaannya seperti biasa, memberikan setiap orang yang bertemu tatap dengannya sebuah kesan mengerikan sepanjang pertemuan.


"Meow..." satu-satunya sosok yang enggan meninggalkannya adalah kucing sialan abu-abu itu. Ace mulai terbiasa oleh bulu kucing itu yang merekat di kaki celananya, dan sudah tidak peduli dengan segala kemanjaan yang kucing itu limpahkan kepadanya.


"Aku sudah memberimu makan tadi, jangan cerewet." Ace menatap Butter. Mata biru kucing itu menyorotnya dengan sendu.


"Aku tau," gumam Ace. "Aku juga merindukan ibumu."

__ADS_1


"Meow..."


"Aku tidak bisa melakukan itu. Bila aku menculiknya kembali ke sini, itu sama saja aku mengulang kesalahan yang sama." Ace menghela napas.


"Sekarang ini, satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah menyingkirkan segala halangan yang mampu membatasi kebersamaan kami."


Butter melompat ke atas pangkuan Ace, entah mengerti atau tidak atas racauan tuannya itu.


"Aku tidak tau apa kau dan ibumu akan segera bertemu atau tidak, semua itu keputusannya. Tapi yang pasti untukku sekarang...," Ace kembali menatap senjata di tangannya. "Aku akan berburu terlebih dahulu."


Tok! Tok! Tok!


Sebuah ketukan membuat Ace mengangkat pandangan dari pistol ke pintu. "Masuk." jawab Ace.


Margot datang dan mengembangkan cengiran lebar yang menjemukan. Ace tidak tersentuh sama sekali atas keberadaan wanita gila itu. Ia hanya menatap Margot sebentar sebelum kembali mengelus kepala Butter.


"Apa itu bentuk sambutanmu padaku? Saudaramu sendiri?"


"Apa maumu?"


"Aku datang untuk mengecek kabarmu, ya ampun. Jangan sangar."


Ace menyeringai tipis. "Jangan takut, Margareth. Aku tidak akan menjadi gila dan melupakan tujuan utama keluarga kita. Ah, ralat, maksudku tujuan utamamu."


"Ace," suara Margot melunak sendu. "Aku adalah saudaramu, aku tetap mencemaskanmu."


"Jangan membuatku tertawa." Ace dengan kehati-hatian--menaruh Butter di atas selimut. Ia lalu berdiri dan menyelipkan pistol itu di belakang punggungnya. "Omong kosong itu sangat tidak pas untukmu."


"Ace..., apa kau membenciku juga."


"Apa ada alasan untuk tidak?"


"Maafkan aku. Itu pertanyaan konyol." Margot bersandar di dekat bingkai pintu. Matanya menyorot ke dalam ruangan yang mengingatkannya pada Fawn.


"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?" lanjut Margot kembali.


"Hmm?"


"Ace, aku ingin tau. Apa yang akan kau lakukan kepada keluarga Emery sekarang?"


Ace melirik Margot dari sudut matanya dan menyeringai jenaka. "Jangan ikut campur urusanku, Margot. Bahkan bila Jem adalah sahabatmu, aku tidak akan takut membunuhnya sama sekali."


"Kau tau, bukan Jem yang kucemaskan di sini."


"Huh, lalu siapa?" Ace menanggapi Margot dengan tatapan aneh. Ia lalu melintas di hadapan Margot dengan setelan pakaian yang sudah rapi.


Jawaban untuk pertanyaan Ace seharusnya sudah jelas. Margot mencemaskan Ace. Tapi, malangnya untuk Margot..., Ace sudah menutup mata untuk sekedar peduli pada apa yang Margot cemaskan.


Di mata Ace, Margot selamanya hanyalah seorang saudara yang memanfaatkannya. Sebuah kutukan yang tidak akan hilang sampai dia berhasil menyelesaikan sebuah balas dendam. Margot bukan lagi saudara, tapi sebuah beban di pundaknya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2