DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
90. SESUATU YANG LAIN


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


"Apa yang kau mau...?" Fawn bertanya sekali lagi.


Seakan saliva telah mengering habis dari kerongkongannya, Fawn kesulitan berbicara ketika mata Ace terus memindainya seperti seekor singa memantau mangsanya. 


Dingin suhu ruangan akibat air conditioner yang menyala dan berembus di kulitnya pun tidak membantu sama sekali. Fawn semakin membeku, tubuh gemetar dan mata tertunduk. Ia tidak mau menatap Ace karena demi Tuhan, kedekatan mereka sekarang sudah melampaui garis aman. Fawn bahkan mampu mengendus aroma samar dari parfume pria itu. Aroma yang kerap membuatnya kehilangan kewarasan dan--sial, sial! Dia nyaris berpikir yang bukan-bukan.


Lihat, betapa kuatnya pengaruh pria itu terhadap kewarasannya!


"A-Ace, aku memperingatkanmu, jangan..." Fawn memberanikan dirinya mendongak. Sepatang mata rusanya tidak terlihat menantang sama sekali di mata Ace, tidak ketika dia jelas-jelas terlihat ketakutan dan panik.


"Aku tidak melakukan apa pun, Fawnia." Ace terkekeh samar pada reaksi Fawn yang terlihat lucu di matanya. "Setidaknya, belum melakukan apa-apa." Ace meralat ucapannya sendiri, itu mempertambah kekesalan Fawn.


"Kau tidak akan melakukan apa pun, menjauhlah. Aku harus pulang!" Fawn berusaha menepis kegugupannya dan membuang muka. Dengan satu tangan yang terkesan meremehkan, dia mendorong pundak Ace. Ace--pria yang memiliki kekuatan lebih besarnya. Upaya Fawn berakhir sia-sia saat itu juga.


"Apa aku bilang kau sudah boleh pulang?"


"Kenapa aku perlu ijin darimu?"


"Karena kau tawananku malam ini."


"Oh." Fawn agak terkesiap. "Kau..., kau melakukan ini lagi? Padaku?"


"Kenapa?" Ace meninggikan sebelah alisnya, menggoda Fawn dengan kerlingan jenaka. "Apa kau merasa deja vu?"


"Keparat, Ace. Itu tidak lucu!" Sesaat, Fawn melupakan kegugupannya dan berteriak di depan wajah tampan Ace Hunter yang sekarang masih menatapnya lekat. "Aku mau pergi, mundur sekarang!"


"Lihat," Ace menyambut tangan Fawn yang hendak mendorongnya, ia menggenggam pergelangan tangan Fawn dengan kelembutan yang membuat Fawn terpana sebentar. Ia pikir Ace akan memelintir lengannya saat itu juga. Sialan, imajinasinya sangat menakutkan. Ace menakutkan!


"Ini sebabnya aku menculikmu," Ace bergumam sambil menatap pergelangan tangan Fawn. Jemarinya terbenam lembut di dalam kulit pucat itu, merasakan detak nadi Fawn yang berlarian laju. "Kau tidak bisa diajak bicara baik-baik."


"Apa kau pikir aku mau bicara padamu? Sudah kubilang hari itu, kan? Aku..."


"Aku tau." potong Ace. "Tapi aku sudah mengatakan padamu juga, kan? Kalau aku tidak akan menyerah."


"Huh, jadi ini caramu menunjukkan kau mencintaiku? Sangat romantis, tuan psikopat!" Fawn mengejeknya sinis.


Ace tidak tersinggung, dia menatap Fawn yang masih menggeliat seperti ulat di depannya, berusaha mencari jalan keluar dari penjara lengan Ace yang sungguh kokoh seperti baja.


"Dengar, Fawnia..., aku hanya mau bicara padamu, oke?"


Fawn tidak mau menaruh perhatiannya pada Ace, tidak sama sekali. Karena, mendengar setiap kata yang keluar dari bibir pria itu adalah siksaan bagi Fawn. Ia tidak mau luluh, tidak boleh, tidak--eh?


Mata Fawn melebar terpana saat dia merasakan sebuah benda asing yang dingin melingkar di pergelangan tangannya. Sesuatu yang familiar, sebuah benda terkutuk yang sudah menjadi bagian siksaan hidupnya. Sebuah borgol menggantung di tangan kanan Fawn, dan Ace mengaitkan sisi lain borgol itu di tangan kirinya.


"Perfect, sekarang kita bisa bersama sepanjang malam." Ace bangga pada ulahnya, dia tersenyum kepada Fawn yang sekarang menatapnya murka.


"Kau benar-benar gila, bukan?" Fawn menyentak lengannya dari genggaman tangan Ace dan melihat borgol itu dengan kengerian. "Berikan aku kuncinya, Ace, atau kau mau mati malam ini?"


"Jangan jahat, apa kau yakin bisa hidup tanpaku?"


"Jangan narsis!" Fawn kesal luar biasa. Tanpa menunggu persetujuan Ace pula, dia meraba Ace di sana-sini, mencari lokasi kunci dari borgol tersebut.


"Sialan, Ace..., aku tidak mau bermain-main!" Fawn mengomel saat di setiap kantong baju dan celana yang Ace pakai, ia tidak menemukan keberadaan kunci dan apa pun itu. Tidak bahkan sebuah--uh, Fawn mengeluarkan sesuatu dari kantong jas Ace, matanya menyipit jijik kepada pria itu.


Ace membawa pengaman bersamanya, satu kotak pengaman yang sialan, Fawn tidak mau memikirkan alasan Ace membawa benda itu bersamanya.


"Kenapa?" tanya Ace jenaka. "Ada yang salah?"


"Kau dan otak kotormu adalah kesalahan." dengus Fawn. Dia berhenti menggeledah Ace. Tidak ada kunci. Nol, zero, none, nada!


"Ace, berhenti melakukan ini, oke?" Fawn mengganti strateginya dengan meringis manja, bibirnya melekuk turun, mata dibuat seperti hewan terluka. "Mari berpikir rasional, ini semua..."


"Kalau kau mau bebas, bagaimana kalau temani aku duduk?"


"Sialan!" Suara manja Fawn berubah garang. "Apa sih maumu!"


"Sudah kubilang aku mau berbicara denganmu." Ace bergerak dari tembok itu dan melenggang menuju sofa hitam beludru yang melingkupi sudut ruangan. Berseberangan dari sofa itu, sebuah televisi besar menggantung di dinding.

__ADS_1


"Ugh, apa lagi yang mau kau bicarakan?" Fawn mau tidak mau mengikuti, dia terikat dengan pria itu sekarang.


Ace duduk di sofa dan Fawn menyusul duduk di sebelahnya. "Sayang sekali, aku akan sangat senang kalau kau duduk di pangkuanku." Ace berucap dengan ketidak-iklhasan.


"Haha. Aku akan melakukannya kalau kau membayarku seratus juta."


"Apa itu serius?"


Oh, Fawn lupa kalau teman bicaranya adalah seorang milyarder. "Itu omong kosong, aku lebih baik mati daripada menuruti kemauanmu."


"Apa itu artinya kematianmu sudah sangat dekat?"


"Ace!"


Ace seketika tertawa. "Kau lucu ketika kesal. Aku sangat senang bisa mendengar celotehanmu lagi."


"Huh, kedengaran seperti psikopat. Apa menyiksa orang adalah hobimu?"


"Apa kau merasa tersiksa sekarang?"


Ace melirik Ace dan pertanyaan itu terbenam di benaknya untuk beberapa waktu. Tentu saja, ia merasa kesal kepada tindakan Ace yang memaksa. Tapi..., walau ia tidak mau mengakui ini, jauh di dasar hatinya, ia tidak merasa tersiksa sama sekali. Ia, jujur saja, menikmati pertukaran obrolannya dengan Ace. Ia diam-diam mengagumi keberadaan Ace  di sampingnya, Ace yang seperti pahatan dewa dari surga.


Tapi tentu saja, Fawn tidak akan mengakui itu. Dia masih waras. Meskipun hatinya meronta-ronta bahagia, dia tau kebahagiaan yang ia rasakan sekarang adalah kesalahan!


"Apa aku perlu menjawab pertanyaan itu?" Fawn menyandar di sofa, helaan napasnya panjang. Matanya bergulir kepada jari-jemarinya yang bertaut dengan jari-jari Ace.


Kendati ia bertingkah membenci pria itu, ia membiarkan Ace menggenggam tangannya. Ia memilih berpura-pura tidak menyadari setruman listrik yang datang dari kontak tubuh mereka.


"Dengar, Fawnia. Aku akan melepaskanmu kalau kau bersikap baik."


"Apa kau akan melukaiku kalau aku melawanmu?"


Ace mengangkat bahu. "Aku tidak suka terluka."


"Huh?"


"Melukaimu sama seperti melukaiku, jadi aku tidak akan bertindak sejauh itu."


"Apa-apaan," Fawn memutar mata sebal atas godaan yang Ace lontarkan. Kenapa ucapan klise dari Ace membuat kupu-kupu berterbangan di perutnya? Dia seharusnya merinding jijik pada kata-kata sok puitis itu, tapi entah mengapa--ketika itu Ace yang mengatakannya--, Fawn merasa panas menjalar di seluruh tubuhnya. Ia berkeringat di dalam ruangan ber-AC itu.


"Fawn?"


"Mhm?" Fawn mencoba tegar. Terima kasih kepada ruangan bernuansa biru itu, Fawn tidak perlu mencemaskan Ace yang mungkin akan melihat merah di wajahnya.


"Jarimu dingin."


Keparat!


"Ah, itu karena AC." Fawn meneguk ludah.


"Haah, lupakan masalah jariku, apa yang kau mau bicarakan, sih? Aku benar-benar tidak tau mau melakukan apa di sini? Membosankan. Aku bisa mati bosan! Setidaknya, kalau kau mau mengurungku di sini, pilih tema atau topik yang ingin kau bicarakan. Kita sudah di sini lama, tapi kau hanya mengatakan sesuatu yang tidak penting." Fawn meracau demi menutup rasa gugupnya. Pandangannya berlarian kesana-kemari, berusaha tampil keki.


"Apa yang mau kau lakukan, kalau begitu?" Ace dengan tangan kanannya yang bebas, menjangkau leher jenjang Fawn. Tangannya dengan lembut merengkuh leher Fawn. Melingkar sebagian di sana sementara kepalanya mendekat dan memangkas jarak di antara wajahnya dan Fawn hingga tersisa sejengkal saja.


Mata Fawn hampir keluar dari soketnya. Jantung jatuh ke perut saking terkejutnya.


Saat itu, ketika mata rusanya bertemu dengan iris hitam Ace yang seperti galaksi, Fawn terpana lagi. Bibirnya terbuka tipis, hendak menimpali Ace. Tapi ia kehilangan suaranya, kehilangan kata-kata perlawanannya.


"Apa kau mau menonton?" Ace berbisik di depan wajah Fawn. "Atau kau mau melakukan sesuatu yang lain?"


Pandangan Ace turun kepada bibir Fawn, lalu naik kembali pada sepasang iris cokelatnya yang menawan.


Kendati gadis itu berusaha keras menunjukkan sisi garangnya, Ace berusaha menahan diri agar tidak tertawa keras di wajah Fawn saat itu juga. Usaha Fawn gagal total, jujur saja. Tidak peduli betapa kasar dan ketus suara yang keluar dari mulutnya, Ace tau seberapa besar gadis itu menyimpan ketertarikan padanya.


Iya, katakan Ace narsis dan egosentris, dia tidak peduli. Ace percaya apa yang ia lihat di mata Fawn bukanlah kebencian, itu adalah gairah yang tertahan. Ace bersumpah ia akan meruntuhkan tembok pertahanan Fawn!


"A-aku mau menonton." Fawn berujar gugup.


Terima kasih kepada Vera yang sudah menceritakan hal nista tentang 'dicekik oleh tuan Anggara', pikiran Fawn langsung berlari ke sana ketika tangan Ace berlabuh di lehernya. Apa cekikan benar-benar membawa kenikmatan tersendiri saat melakukan itu?


Bagaimana kalau Ace mencekiknya?

__ADS_1


'Aaaaa!!! Pemikiran ini membuatku gila!!! Vera bajingan, kau sebaiknya terbakar di neraka!!!'


Fawn menjerit histeris di dalam kepalanya. Ia menjauh dari jangkauan tangan Ace dan mengusap lehernya yang sekarang merinding.


"Bi-bicara soal menonton, bukankah ini ruang karoke?" Fawn sangat yakin tidak ada yang pergi ke Leviathan untuk menonton. Tempat ini disetting untuk tamu VIP bernyanyi dan bersenang-senang. Seperti yang biasa dia tonton di drama.


"Aku bisa merombak tempat ini menjadi kuil kalau aku mau." Ace merespon sombong. "Sekarang, aku akan memutarkan satu film untukmu."


"Film apa?"


"Dewasa."


"Ace...!"


"Bercanda, tonton saja." Ace tertawa. Dia bersandar di bahu sofa dan Fawn turut bersandar di sampingnya. Dengan remote di tangan kanannya, Ace menyalakan televisi yang menayangkan sebuah film bergenre romance dari tahun 2004.


Ace tidak tau judulnya, tapi ini adalah pilihan Margot.


"Kau datang penuh persiapan, bukan? Dasar manipulatif." Fawn mengkritik Ace sambil menatap layar TV. Fawn ingat sudah menonton film itu saat bersama Margot, tapi dia tidak ingin mengecewakan Ace jadi dia pura-pura tolol saja.


"Lebih seperti kalkulatif." kata Ace. "Kau harus banyak belajar Fawn."


"Berhenti mengataiku tolol."


"Kau mengatai dirimu sendiri tolol, aku tidak."


"Jangan menyangkal."


Ace melirik Fawn sambil tersenyum, "Kalaupun aku mengatakan kau tolol, itu adalah bentuk kejujuran."


"Huh, ya..., aku terharu." Fawn mencebik. Dia kembali menaruh perhatiannya pada layar dan menikmati film yang sudah berjalan sepuluh menitan tersebut.


Fawn tidak begitu mengingat bagaimana perkembangan plot cerita itu, tidak ketika tangan Ace terus menarik perhatiannya. Jemari pria itu tidak bisa diam dan terus mengusap telapak tangannya. Itu sangat...sangat, tidak nyaman. Mendebarkan.


"Fawn..." Ace berujar di telinganya, hangat napasnya seperti api yang membakar tengkuk Fawn saat itu juga.


"Apa?" Fawn menoleh. Matanya kembali bertemu mata Ace.


"Filmnya membosankan, mau melakukan sesuatu yang lain?"


"Boleh aku tau apa itu sesuatu yang lain?" Fawn menyipitkan matanya ke arah Ace, curiga.


"Mereka bilang, dua orang yang jatuh cinta dapat memahami satu sama lain tanpa bicara, sekarang..." Ace memiringkan tubuhnya. Perhatiannya jatuh utuh kepada Fawn. "..., dapat kau tebak apa yang kupikirkan?"


"Kau mesum." tukas Fawn.


"Kau memahamiku dengan baik, apa ini artinya kau mencintaiku?"


"Tidak perlu cinta untuk tau apa isi kepalamu, Ace." Fawn memutar mata. Dia kembali menatap layar TV, napas berembus panjang. Dia juga bosan, sebenarnya.


Tidak ada yang menarik dari menonton film yang sama berulang-ulang.


"Ace," panggil Fawn, kali ini gilirannya yang berbisik di telinga Ace. Pria itu melirik ke arahnya, menunggu ucapan yang hendak keluar dari bibir Fawn saat itu juga.


"Aku pikir tidak masalah," gumam Fawn.


"Apa?"


"Melakukan sesuatu yang lain."


Ace tersenyum jenaka pada ucapan Fawn yang walaupun tidak punya makna lain selain kejujuran, terdengar seperti godaan di telinganya. Ia merapatkan lengannya kepada Fawn, tubuh kembali di miringkan. "Kau yakin?"


Ace berbisik di pipi Fawn, halus bibirnya menyapu kulit pucat itu.


"Apa kau masih butuh jawaban?" Fawn bertanya dengan jantung yang sudah berdegup kencang. Jari-jemari dingin oleh kegugupan.


"Tidak, tidak perlu..." Ace menimpali dengan suara rendah. Diikuti oleh ucapannya pula, Ace melabuhkan kecupan ringan di bibir Fawnia.


Memulai sesuatu yang lain di sana.


...----------------...

__ADS_1


A/N :


1,9k kata dalam satu BAB itu terkesan kepanjangan gak sih? Saya keasikan ngetik jadi gak sadar..huhuhu, maapkan kalo kepanjangan ya...*.*


__ADS_2