DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
55. DUA SISI


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


Menepikan fakta kalau Margot sekarang sedang bertindak sesuka hatinya dan membuat Ace dongkol luar biasa, keseharian Ace bisa dibilang berjalan normal--atau lebih tepatnya, tidak buruk. Dia masih bangun pada pukul enam, berangkat kerja pukul tujuh, melakukan ini dan itu di Diamond, mengunjungi paman, pabrik dan sesekali bertemu klien--semuanya berjalan mulus. Lalu, ketika pekerjaannya selesai, Ace akan kembali ke rumah dengan Fawn menyambutnya dengan raut bosan.


Gadis itu sudah seperti tempat favorite bagi Ace untuk pulang. Melihat Fawn merengut, berguling-guling bosan, atau terkadang makan dengan wajah serius selalu menjadi hiburan bagi Ace. Gadis itu menggemaskan tanpa sadar kalau dia sangat menggemaskan.


Hari ini lagi, dengan antusiasme besar--Ace pulang ke rumah untuk mencaritahu apa yang sedang dilakukan peliharaannya itu sekarang. Ia membawakan Fawn sekotak pizza, berharap gadis itu akan berbinar ceria ketika menyambutnya. Ace sangat senang ketika Fawn bertemu dengan makanan, karena hanya saat itu Fawn akan berekspresi riang.


"Bos Ace..." Di tengah langkah Ace yang menuju kamar, Ozan melenggang menghampirinya dengan langkah tergesa-gesa. Bodyguard-nya yang bertugas dalam memonitor rumah itu membungkuk sebentar sebelum memberikan laporan. "Bos Ace, sesuatu terjadi pada nona Fawn."


"Huh?" Raut Ace mengeras seketika.


Apa gadis itu melarikan diri? Pertanyaan itu muncul di otak Ace seperti jarum tajam yang menikam kulitnya. Ia melebarkan mata dengan ketakutan yang mulai merayap di kulitnya. 


"Apa yang terjadi?" tanya Ace, suara penuh penekanan. Napas di kerongkongannya tertahan.


"Ah, aku baru mendapat laporan dari Rio," jelas Ozan, segera meralat kecemasan dan ketegangan yang muncul di wajah bosnya. "Fawn, tidak, maksudku..., ibu nona Fawn masuk rumah sakit hari ini."


"..."


"Bos Ace?"


"Lalu, ada apa dengan Fawn?"


"Ti-tidak ada. Nona Fawn masih di kamar," Ozan menyesal sudah salah bicara.


Ace mengerjapkan mata beberapa kali sebelum menghela napasnya panjang-panjang. Ia merasa seperti diselamatkan, namun di satu waktu merasa penuh kebingungan. Bagaimana bisa sebuah nama mampu membuat jantungnya berhenti berdetak? Apa yang dia rasakan barusan? Sebuah perasaan asing yang baru dia rasakan pertama kalinya--ketakutan dan kecemasan.


"Apa yang terjadi?" tanya Ace kemudian. Berusaha menjaga ketenangannya di depan bodyguard yang sekarang menatapnya heran.


"Tekanan darah Miss. Lilian Alder menurun. Sekarang beliau berada di bawah perawatan dokter pribadi keluarga Rashid. Rio melaporkan kalau pengawasan untuk Miss. Lilian akan cukup sulit sekarang karena penjagaan ketat di rumah sakit tersebut."


"Kau tidak menyampaikan informasi ini pada Fawn atau orang lain selain aku, kan?" Akan sangat buruk bila Fawn tau tentang ibunya. Keinginan gadis itu untuk pergi dari rumah ini akan lebih besar dari sebelumnya, dan Ace tidak akan membiarkan itu. Ace tidak akan membiarkan Fawn meninggalkannya.


"Aku hanya menyampaikan ini padamu," kata-kata Ozan melegakan.


"Jangan biarkan orang lain tau masalah ini, Ozan. Bahkan Margot sekalipun. Apa kau paham?"

__ADS_1


"Baik, bos." Ozan mengangguk patuh.


"Sekarang, perintahkan Rio untuk tetap siaga. Aku akan menambahkan uang ke rekeningnya kalau dia bekerja lebih serius dan berhenti merengek."


Selesai berurusan dengan Ozan, Ace lalu melenggang kembali menuju kamarnya. Perasaan tidak nyaman itu masih melekat di dadanya, menciptakan rasa sakit yang asing. Ini bukan seperti rasa sakit yang membuatmu ingin berteriak dan merintih, rasa sakit yang merayap di jantung Ace sekarang adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuatnya merasa hampa dan berdosa. Sebuah perasaan bersalah bercampur dengan keserakahan. Keinginannya untuk menyimpan Fawn untuk dirinya sendiri sangat besar, namun di satu waktu ia tau telah merebut segala hal yang berharga dari wanita itu.


Cklek!


Membuka pintu, Ace melenggang masuk. Di kamarnya yang berwarna gading dan berpencahayaan putih terang--Fawnia Alder--wanita yang sudah membuat jantungnya nyaris jatuh ke perut, sedang duduk di lantai. Di dekat jendela balkon sambil memeluk lutut. Mata gadis itu memandang keluar jendela, kepada langit biru yang perlahan menjingga. Burung-burung terbang di luar sana, merefleksikan kebebasan yang hati Fawn dambakan.


"Fawn, aku pulang." Ace menyapa dengan senyuman masam.


Posisi Fawn saat itu mengingatkannya pada posisi Fawn saat ia baru-baru menjadikan Fawn sebagai tawanan. Gadis itu kerap duduk di dekat jendela, wajah muram dan penuh duka.


Untungnya sekarang, duka itu sudah memudar tergantikan kehampaan. Fawn seperti sudah menerima realita dan hanya bisa menelan kepahitan di kesunyian.


"Oh, kau kembali..." Fawn mendongak ke arah Ace yang melenggang mendekatinya. "Apa yang kau bawa?"


Perhatian Fawn tertuju kepada sekotak pizza yang berada di tangan Ace.


"Pizza, untukmu." Ace menyerahkan makanan itu dan ikut duduk bersila di lantai. Matanya menyorot jatuh kepada Fawn yang sekarang tersenyum senang.


"Aaaah, aku sudah lama tidak makan pizza. Hehehehe. Terima kasih." Fawn mendongak dan senyumnya terjeda ketika ia melihat mata Ace yang menyorotnya dengan keseriusan. "Apa ada sesuatu?"


Ace memaksakan senyuman dan menggeleng. "Bukan apa-apa, aku hanya banyak pikiran."


"Apa masalah pekerjaan?"


"Begitulah." tidak, masalahnya adalah Fawn. Ace memikirkan Fawn.


"Kau hanya perlu melakukan semuanya semampumu, tau. Aku mengatakan ini bukan untuk sok bijak, tapi..., kalau kau terlalu memikirkan semuanya, kepalamu akan meledak. Hanya lakukan saja apa yang ingin kau lakukan..., begitu?"


"Apa kau mendapatkan kebijakan itu karena banyak bertapa di rumah?"


"Aku sudah bisa menjadi biksu di kuil dengan kemampuan bermeditasiku."


"Oh, apa kau bermeditasi seharian?"


"Yaa..." Fawn mengangguk sambil menggigit seiris pizza yang ia ambil dari kotak. "Hanya itu yang bisa kulakukan untuk membebaskan pikiranku dari stress."

__ADS_1


Kata stress itu membuat wajah Ace kembali berubah masam. Tidak perlu bertanya apa yang membuat Fawn stress, penyebab utamanya sudah pasti adalah ulah Ace sendiri. Sangkar ini...siapa yang tidak akan gila bila kebebasanmu hanya sebuah kamar persegi panjang dengan kamar mandi mewah yang membosankan.


"Fawn, apa kau kesepian di sini?" Ace menyuarakan tanya yang seharusnya tidak ia pedulikan. Ia seharusnya tidak peduli pada kondisi Fawn, tapi ia ketakutan. Apa yang Fawn rasakan sekarang, ia ingin tahu dan ia benci itu.


Pertanyaan Ace membuat kunyahan Fawn melamban. Ia menatap Ace dengan kebingungan dan disatu waktu--ia memperhitungkan jawabannya dengan ketelitian. Apa yang terjadi pada Ace? Apa pria itu sedang dalam mood buruk? Fawn agak mencemaskannya.


"Aku..., aku sudah pasti kesepian." jawaban Fawn seperti tombak tak kasat mata yang mendarat di jantungnya. Ace merasa kebas di dadanya.


Ace menyesal sudah bertanya. Ia menyesal sudah mengetahui apa yang Fawn rasakan di rumahnya. Ia lebih baik menjadi seorang tiran yang melakukan apa saja yang dia inginkan daripada menjadi sosoknya yang seperti sekarang. Ace benci dirinya yang sekarang, dirinya yang memahami Fawn dan bersimpati pada gadis itu. Ace benci...dirinya yang memiliki perasaan khusus pada Fawn.


Ini mulai memberatkannya, ketakutan yang terus merayap di jantungnya.


"Kenapa kau bertanya?" Fawn menaruh irisan pizza-nya di kotak. Kepala miring menatap kepada Ace. Ekspresinya penuh oleh keingintahuan dan kewaspadaan.


"Tidak..." Ace mengangkat bahu. "Hanya penasaran."


"Eh, yakin hanya itu saja?" Fawn mencondongkan wajahnya, mencoba mencari-cari arti di iris hitam Ace yang menyimpan misteri. 


"Apa jangan-jangan... kau..." Fawn melebarkan mata, suaranya meragu bertanya. "Apa kau akan membebaskanku kalau aku bilang aku kesepian?"


Pertanyaan itu hanya Fawn maksudkan sebagai ejekan. Sebuah lelucon untuk membuat mereka merasa nyaman karena ia tau Ace tidak akan membebaskannya. Ace tidak peduli pada perasaannya. Fawn tau itu dengan sangat baik, jadi ia tidak punya maksud apa pun, tidak mengharapkan reaksi apa pun dari Ace saat ia membuat lelucon itu. Tapi...


Brak!!!


"Jangan bicara omong kosong!"


Sekotak pizza yang masih menyimpan banyak irisan yang belum Fawn sentuh ditepis kasar oleh Ace sampai terbalik di lantai. Belum sempat Fawn meratapi pizza-nya yang sekarang tercecer kotor dan berantakan, rahangnya di cengkeram kuat oleh tangan Ace. Pria itu beranjak dekat di depan wajahnya, menekan ia dalam kekuatan yang menakutkan. Manik hitamnya jatuh ke wajah Fawn yang terperangkap dalam cengkramannya, menumpahkan tatapan mematikan penuh kengerian di sana.


"Kau tidak akan pernah keluar dari rumah ini! Bahkan dalam keadaan mati sekalipun!" Suara Ace rendah seperti bisikan.


Fawn bergetar dalam ketakutan.


Kebencian yang sempat Fawn lupakan--menyusup keluar dari lubuk hatinya terdalam, bercampur dengan emosi yang tertahan.


"Kau milikku!" tegas Ace sekali lagi. Entah untuk meyakinkan Fawn atau untuk meyakinkan dirinya sendiri.


Ia--sampai kapan pun tidak akan membiarkan Fawn pergi.


"Aku membencimu, Ace Hunter."

__ADS_1


Kata-kata itu menyakitkan untuk didengarkan. Baik untuk Ace ataupun untuk Fawn.


...----------------...


__ADS_2