
...FAWN pov...
...----------------...
"Karena kau mengatakan kau sudah siap kembali, dan Indira sangat antusias menyambutmu, aku akan membiarkanmu kembali bekerja sebagai pengawal pribadi Indira, Fawn." Bos Anggara berujar di dalam ruang kerjanya yang sudah lama tidak kujumpai. Aku berada berseberangan dengan bos Anggara, berdiri kaku dengan mata tertuju kepada ruang kerja yang beraromakan seperti buku lama itu.
Jika kuingat-ingat kembali, terakhir kali aku berada di sini adalah ketika aku menyetujui permintaan bos Anggara untuk mati sebagai kaki tangan nona Indira. Aku ingat bagaimana keputusan yang kubuat hari itu telah berhasil mengubah hidupku 180 derajat berbeda.
Aku yang sekarang..., aku...
"Faaaaawn," sebuah teriakan wanita membangunkanku dari lamunan, belum sempat aku mencerna situasinya, sesosok tubuh yang ramping dan cukup ringan--menabrakku.
"Aaaaa, rasanya sudah sangat lama tidak melihatmu..." Itu adalah suara nona Indira. Benar juga, selepas keluar dari ruang kerja bos Anggara, aku pergi mengunjungi kediaman Caspian dengan satu koper di tangan.
Bagaimana bisa waktu berjalan sangat cepat dan di saat bersamaan, terasa seperti tidak bergerak sama sekali?
"Fawn, apa kabarmu?" nona Indira melonggarkan pelukannya dariku. Aku memandang wajah jelita yang sudah lama tidak kutemui tersebut. Senyumku mekar tanpa bisa kutahan.
"Aku sangat baik, nona Indi. Maaf sudah membuatmu cemas." Aku menjabat tangan nona Indira yang menggenggam tanganku, menepuk punggung tangannya dua kali dan menatap matanya dengan kesungguhan. Bahwa aku benar-benar menyesal.
"Aku dengar dari bos Angga, nona Indira sangat mencemaskanku. Aku merasa bersalah."
"Yang lalu biarkan berlalu, yang penting kau sudah kembali sekarang. Benarkan, Joseph?"
Joseph yang berdiri di belakang nona Indira mengangguk. Senyuman merekah lebar di paras Joseph, melihatnya senang membuatku merasa tenang. Joseph--bagaimanapun, adalah salah satu alasan mengapa aku tidak bisa semena-mena pergi meninggalkan Ace. Aku bertahan di kediaman Hunter tidak hanya untuk melindungi ibuku, tapi juga menjaga nyawa bawahanku itu.
"Senang melihatmu Joseph," aku menyapa Joseph dengan sebelah tangan terangkat.
"Selamat datang kembali, Fawn." sahut Joseph, wajah sumringah.
"Kita harus merayakan ini," kata nona Indira tiba-tiba. Mataku terbuka lebar.
"Y-ya?"
"Yaaaa, kita perlu mengobrol lama, Fawn. Mumpung kau sudah kembali, aku ingin bercerita panjang mengenai hari-hariku tanpa kau di sini. Ah juga," nona Indira menggandengku, "Kau belum tau, kan? Seseorang mengisi posisi sebagai kepala pengawalku di sini. Kau akan melihatnya nanti, namanya Aidan."
"Oh, aku sudah mendengar sedikit informasi itu dari bos Angga." Aku menyahut jujur.
Sebelum kemari, aku diberi briefing singkat menyangkut situasi nona Indira. Tentang dia yang tidak boleh keluar dari mansion utama keluarga Caspian, insiden yang terjadi menimpa Joseph, dan pengaruh insiden itu kepada perombakan besar-besaran pengawal untuk nona Indira. Aku cukup terkejut, awalnya. Tapi memikirkan kalau Evan Caspian yang berada di balik semua keputusan itu, aku jadi memaklumi situasi rancu itu.
Pria itu pasti paranoid sekarang, mengingat Ace mengincar kepalanya untuk disajikan di atas meja.
Ah, Ace...
Benar, apa kabar pria itu sekarang? Apa dia sudah makan?
"Fawn?"
__ADS_1
"Uh--y-ya?"
"Apa yang kau renungkan, ayo masuk."
Sialan, apa yang terjadi padaku? Kenapa aku masih memikirkan pria itu? Dia adalah mimpi buruk di hidupku, aku seharusnya bernapas lega telah berhasil lepas darinya. Aku seharusnya merayakan pesta..., benar..., aku seharusnya bersenang-senang sekarang. Kebebasanku sudah di tangan.
Aku sudah bebas, tapi kenapa hatiku masih sangat sakit?
...----------------...
"Cheers!!!"
Tiga gelas kaca berisi jus jeruk bertubrukan di tengah meja. Aku, nona Indira dan Joseph bersulang layaknya kawan lama. Senyumku mekar paksa di bawah keceriaan mereka berdua.
Mataku memperhatikan nona Indira dan Joseph bergantian, mendengarkan bagaimana keduanya sangat senang melihat keberadaanku, bernapas lega atas aku yang sudah kembali. Aku senang melihat mereka senang. Aku senang karena aku belum dilupakan, padahal aku hanya seorang bodyguard rendahan.
"Kau tidak tau betapa besar aku mencemaskanmu, aku bahkan meminta bantuan pada kau tau--" nona Indira mendekatiku dan berbisik rendah, "Ace Hunter."
"O-oh, tuan Ace?" Mendengar nama itu seperti mendapatkan pisau menancap di jantungku. Ngilu.
"Fawn, apa kau baik-baik saja?"
"Aku baik, maaf..." Aku memijit keningku, mencoba mengatur ekspresiku agar kembali tenang kendati otot wajahku mengencang tegang. Aku merasa tertekan.
"Fawn, kalau kau sakit kau seharusnya tidak mengikuti kami ke sini."
"Apa karena di sini dingin?" Joseph ikut bertanya-tanya.
"Bagaimana kalau kau beristirahat?" nona Indira mengulurkan tangannya dan merangkul pundakku. Aku baru menyadari tubuhku bergetar ketika aku merasakan nona Indira merangkulku, tubuhku menjadi lebih tenang.
"Ahahaha, maafkan aku." Aku memaksakan tawa. "Aku sepertinya sangat kelelahan."
"Jangan meminta maaf." Nona Indira mengomel. "Aku tidak tau apa yang Anggara perintahkan padamu, tapi sepertinya itu tugas yang sangat berat. Aku akan memarahinya nanti."
"Nona Indi, itu tidak perlu."
"Shuuush, diamlah." nona Indira membungkamku dengan suara diktatornya. "Jo, tolong antarkan Fawn ke kamarnya. Aku akan kembali bersama Aidan."
"Baiklah, bos Indi." Joseph menyetujui nona Indira sebelum beralih ke sisi kiriku. Dia merangkulkan lenganku di pundaknya dan membawaku berjalan perlahan di koridor rumah keluarga Caspian yang sunyinya seperti kedalaman hutan.
"Apa pekerjaanmu baik-baik saja selama di sini, Jo?" Aku mengungkit topik lain untuk dibicarakan selama perjalanan.
"Tidak banyak hal yang dapat kulakukan di sini." Joseph menyahut dan aku mengerti maksudnya. Tidak hanya dilengserkan sebagai pengawal utama nona Indira, Joseph juga tidak banyak keluar karena nona Indira terkurung di sini.
"Apa menurutmu situasinya cukup aman untuk nona Indi?"
"Aku tidak berpikir begitu. Asal tau saja, belakangan ini aku kerap mendengar sesuatu dari pelayan rumah.." Joseph menjeda ucapannya ketika seorang pelayan melintasi kami. Hanya ketika situasi kembali sunyi dan kami berbelok menuju lorong yang lebih sempit lagi dan lebih gelap, Joseph kembali bicara. "Tuan Evan sedang dalam suasana hati yang sangat buruk sekarang. Sepertinya masalah pekerjaan."
__ADS_1
"Oh," Apa ini artinya Ace mulai bergerak?
"Jika sesuatu yang buruk terjadi di sini, bos Angga menitipkan pesan padaku untuk membawa kabur bos Indira ke rumah persembunyian. Tapi, kurasa itu akan cukup berat. Cukup berat sampai aku mendengar kau kembali, aku bernapas lega. Kalau ada kau, Fawn, tidak ada yang tidak mungkin, kan?"
"Itu omong kosong." ujarku. Aku sebagai bodyguard bisa dianggap seperti pisau berkarat sekarang. Skillku sudah menumpul karena tiga bulan belakangan, aku menjalani kehidupan seperti babi pemalas.
"Haruskah kita melakukan sparing nanti?" Joseph mengusulkan ide yang menurutku sangat bagus. Aku memang perlu memukul sesuatu, aku perlu melepaskan stress yang menumpuk di benakku. Benar, ini pilhan yang bagus.
"Aku setuju."
"Aku akan mengajakmu bertemu nanti, ketika kau sudah lebih baik."
"Mm."
"Ngomong-ngomong, apa yang terjadi padamu?" pertanyaan Joseph kembali membuatku teringat situasi yang tidak ingin kuingat sama sekali. Sialan, kenapa dia mengungkit topik ini kembali? Setelah segala pengalihan yang kuciptakan?
"Tidak ada yang terjadi," kataku, menyangkal lagi.
"Kau tau kau menjadi sangat bagaimana ya--mengatakannya, kau terlihat--lebih sehat? Seperti ada aura baru mengitarimu begitu?"
"Aura baru dengkulku!"
"Aku serius. Rasanya seperti kau menjadi sangat berbeda. Penampilanmu juga, kau jadi lebih seperti--feminim?"
"Berhenti mengatakan sesuatu yang tidak kau pahami."
"Hei, aku mengatakan ini karena kau memang sangat berubah." Joseph berhenti di depan sebuah pintu. Aku melihat banyak duplikat pintu yang sama berderet sampai ke ujung koridor yang suram. Sepertinya ini adalah kamar tempat para bodyguard menetap.
"Biar kujelaskan sesuatu padamu..., perubahan yang kumaksudkan adalah--, kau menjadi lebih menarik daripada sebelumnya."
"Sialan, apa kau menghinaku?"
"Tidak, tidak. Maksudku..., kau yang dulu sangat cantik dan baik. Tapi kau punya aura tajam seperti robot dari masa depan, begitu? Sekarang..., rasanya kau seperti..."
"Tsk! Diamlah!" Aku memotong ucapan Joseph dan masuk ke kamarku.
Brak!
Aku membanting pintu, meninggalkan Joseph yang menjengkelkanku.
Sialan, kenapa dia mengatakan aku berubah? Aku sangat tidak ingin berubah. Aku benci berubah. Aku benci diriku yang sekarang karena perubahan ini bukan kebenaran.
Hatiku..., perubahan ini tidak ada dalam rencana pelarianku.
Aku tidak berencana meninggalkan hatiku di sana, tapi aku menjatuhkannya.
...Ace Hunter, kau pria yang kejam!!!...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...