
...FAWN pov...
...----------------...
Bagaimana situasi ini dapat terjadi, aku tidak tau sama sekali. Tidak, lebih tepatnya aku terlalu sulit untuk mengingat bagaimana aku bisa berada di sini, tidak ketika sesosok pria yang berada di dekapanku sekarang menguras kering kewarasanku.
Aku terguncang di dalam rengkuhannya, tidak bisa mengatakan apa-apa. Erangan lepas dari bibirku, bersama desisan dan saliva yang mengalir di dagu dan leherku. Aku bersumpah saat itu..., tidak ada hal yang memenuhi kepalaku selain sentuhannya di tubuhku.
Aku Fawnia Alder--sudah seratus persen gila karena pria ini!
...----------------...
...3 jam sebelumnya!...
Karena hari ini adalah jadwal liburku, kupikir akan baik-baik saja untuk menanggapi ajakan Vera yang mengajakku bertemu dengannya di sebuah tempat bernama Leviathan. Aku tidak begitu familiar dengan tempat itu, tapi aku tau kalau tempat itu adalah sarang-sarangnya orang penggila pesta.
Dengan langkah takut-takut, aku memasuki tempat yang berpencahayaan temaram tersebut. Kerlap-kerlip lampu dengan berbagai warna jatuh menimpaku, aroma parfume yang tajam seketika menyengat hidungku. Aku mulai menyesali keputusanku untuk datang ke tempat ini setelah menapak sepuluh langkah di dalam tempat berisik ini. Aku berencana memutar balik langkahku, melarikan diri dari sini dan menghubungi Vera agar bertemu di cafe saja.
Ya, makan di cafe dengan secangkir kopi lebih baik daripada berbicara di tempat yang oh Tuhan, aku bahkan kesulitan mendengar suara napasku sendiri.
Aku harus pergi, aku harus pergi.
Aku meyakinkan diriku dan tepat ketika aku hendak memutar langkah, tangan seseorang merangkulku. Aku menoleh ke samping dan melihat Vera datang menyapaku dengan senyuman.
"Kau sudah datang, rupanya..." Vera menyengir jenaka. Penampilan Vera cukup kasual hari ini. Dia memakai celana jeans hitam dan kaos croptop kuning dengan gambar jari tengah.
"Hai Vera," aku menyapa Vera sambil meneguk saliva. "Apa kau yakin mau mengajakku bicara di sini?"
"Aw, tentu saja.Tidak ada tempat yang lebih baik dari tempat ini." Vera tertawa. Tanpa menunggu tanggapanku, Vera langsung menggandeng lenganku membelah keramaian yang penuh oleh orang-orang yang menari seperti ulat disiram garam.
Aku mengikuti Vera, mau tidak mau. Sudah tidak ada jalan kembali.
"Apa ada minuman spesifik yang kau sukai?" Vera bicara padaku sambil menarik satu bangku putar yang menghadap meja bartender.
Aku duduk di samping Vera dengan cengiran polos meminta maaf. "Aku hanya meminum kopi." Iya, aku kolot memang. Aku tidak paham tentang alkohol.
"Ah..., martini mau?"
Aku bahkan tidak tau apa itu martini.
"Berikan aku sesuatu yang manis saja," tanggapku. "Sesuatu yang membuatku tetap sadar." lanjutku, tidak mau pulang dalam keadaan teler. Aku tidak pernah menyentuh alkohol sebelumnya, jadi aku tidak tau apakah aku mempunyai toleransi yang tinggi pada minuman itu atau tidak.
"Hmmm, Cherry mojito kalau begitu."
Vera memutuskan dan langsung menyapa bartender yang sudah siaga di depan kami. Aku tidak begitu menyimak apa yang mereka bicarakan karena sekarang aku lebih tertarik pada interior ruangan ini. Kendati berisik dan minim cahaya, aku sangat mengapresiasi bagaimana ruangan bertingkat dua itu ditata dengan elegan.
"Apa yang ada di lantai dua, Vera?" Aku bertanya--menunjuk kepada balkon yang lebih gelap di atas sana. Sofa terlihat di sana sini.
"Ah, itu area VIP. Nona Margot kerap nongkrong di sana." kata Vera.
"Oh..., jadi kalian sering ke sini?"
"Mmm, tuan Anggara juga." Vera membawa nama itu ke depan mukaku secara tiba-tiba, membuatku yang awalnya ingin berbasa-basi menjadi tersedak liurku sendiri. Mataku melebar seketika.
"Aaaaahhh, sekarang kau mengungkit itu..." kataku, tanpa menahan diri langsung memukul pundak Vera.
__ADS_1
"Apa yang kau dan tuan Angga---Apa kalian pasangan?" Aku bicara kelabakan. Segala pertanyaan menyeruak di kepalaku, berebutan keluar. Tapi aku menahan diri sekuat mungkin agar tidak terkesan menakutkan. Aku tidak mau membuat Vera merasa terbebani dan ngeri oleh cecaranku.
"Ehehehehehehe, maafkan aku, Fawn. Kau pasti sangat penasaran, kan?"
"Tidak perlu minta maaf, kau tidak melakukan kesalahan apa pun, kok. Setidaknya..., sepengetahuanku tidak ada?"
"Yaaaah, kau bisa mengatakannya tidak ada." Vera menghela napas. "Aku dan tuan Angga hanya..., kau tau, terjebak dalam satu momen yang ugh..., aku bingung menjelaskannya." Vera menutup wajahnya dengan telapak tangan. Melihat tingkahnya, aku tanpa sadar tertawa. Vera terlihat seperti gadis-gadis di novel remaja. Gadis-gadis yang tersipu ketika membicarakan orang yang dia cint--tunggu? Apa Vera menyukai bos Angga?
"Apa kalian pacaran?" Aku hati-hati bertanya. Jika itu benar, tidakkah itu agak berbahaya untuk Vera? Maksudku, Bos Angga adalah salah satu target Ace juga.
"Pacaran apaan, tidak ada yang seperti itu." Vera mengibaskan tangannya santai. Ketika minum kami disodorkan oleh bartender, Vera menggantung ucapannya dan meneguk minuman berwarna seperti air rendaman tembaga itu.
"Begini ya, Fawn..." Vera melanjutkan. "Aku dan tuan Angga itu tidak punya ikatan apa pun, kok. Kami hanya berhubungan karena kami merasa..., umm, cocok?"
"Cocok?"
"Preferensi kami serupa, begitu?"
"Hah?" Demi Tuhan, aku yakin aku dan Vera berbicara dalam bahasa yang sama, tapi mengapa aku tidak mengerti sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya? Maksudku, dia terlalu ambigu.
"Ah, kau terlalu polos sih. Aku jadi mau memukulmu."
"Kenapa ini jadi salahku?" Aku mengambil minumanku di meja. Jujur saja, Cherry Mojito yang dipesankan Vera untukku terlihat sangat cantik. Aku jadi tidak tega meneguknya.
"Karena kau tidak paham, padahal kau sudah sering berhubungan dengan bos Ace."
"Oooh, apa maksudmu itu..." Jadi, yang Vera maksudkan adalah tentang kecocokan di tempat tidur. Tunggu, aku masih belum mengerti.
"Masih bingung, ya?" Vera membaca ekspresiku sambil geleng-geleng kepala. "Kasihan sekali, kau perlu diedukasi oleh bos Ace tentang hal ini."
"Jangan membicarakan Ace, aku membencinya." Aku merengut.
"Jadi, apa maksudmu dengan kecocokan?" Aku kembali bertanya.
Vera melirikku dari sudut matanya. "Kau yakin mau tau?"
"Iya..." Aku mau tau apa penyebab bos Anggara--pria yang selalu cuek kepada wanita dan menunjukkan sikap seperti dia akan mati dalam keadaan single--berhubungan dengan Vera?
"Kau tau, Fawn..., dalam beberapa hal, tipe pria yang kusukai..., yang kusukai untuk melakukan itu maksudku..., adalah pria yang agak sadis, begitu? Jadi..., tuan Anggara, dia cukup kasar dan ugh..." Vera mengipas wajahnya yang memerah. "Dia perfect sih, itu saja."
"Sadis, huh?" Bos Anggara dan kata itu sangat bertolak belakang. Daripada sadis, aku melihat bos Angga sebagai pria bijaksana, rasional dan bermoral tinggi. Dia tidak terlihat seperti pria yang sadis. Juga, sadis dalam konteks seperti apa? Apa yang mereka lakukan di tempat tidur sampai Vera menyebut bos Anggara sadis?
"Mau aku menjelaskannya lebih jelas?" Vera berbisik dengan seringai tipis. Aku penasaran, tapi di satu waktu, seringai itu membuatku waspada. Aku takut pengetahuan itu membuat pandanganku terhadap bos Anggara berubah.
Tapi aku penasaran. "Jelaskan, sedetail-detailnya, jangan ambigu."
Maafkan aku, bos Anggara. Aku tidak bisa tidur dengan rasa penasaran yang memenuhi kepala.
Dengan pertanyaan itu pun, pada akhirnya Vera dengan antusiasme-nya yang membuncah, menceritakan padaku sisi sadis seorang Anggara Rashid yang tidak kusangka-sangka ada. Tentang seorang pria yang gemar melakukan 'itu' dengan sentuhan kekerasan di dalamnya. Vera--sebagai partner bos Anggara tidak kalah gilanya. Dia menikmati segala cekikan dan jambakan yang bos Anggara berikan sebagai bentuk stimulasi. Sesuatu yang membuat dia semakin bergairah.
Aku tidak tau berapa kali aku meneguk ludah ngeri malam itu. Keningku mengkerut, dan mataku menatap Vera seperti menatap makhluk luar angkasa. Jadi, ini adalah yang dia maksudkan sebagai kecocokan. Bahwa mereka berdua adalah partner yang bagaikan dua keping puzzle yang saling melengkapi.
...----------------...
Selagi aku menyimak setiap patah kata yang keluar dari mulut Vera, tentang bagaimana dia mengagung-agungkan kehebatan tuan Anggara, sebuah getaran ponsel di meja menarik perhatianku saat itu juga. Sebuah panggilan muncul di layar HP Vera. Nama 'bos Ace' tertera di sana. Vera buru-buru mengangkat telepon itu dan melangkah menjauh meninggalkanku.
__ADS_1
"Kenapa sangat rahasia?" Aku berujar ketus. Bartender yang berada di seberang meja menatapku dengan seulas senyum tipis. Aku membalas senyumannya dengan tatapan heran sampai dia memalingkan wajah.
Vera kembali tak berselang lama kemudian.
"Ada apa?" tanyaku, ekspresi Vera yang tadinya santai--berubah menjadi sedikit terbebani saat dia menatapku.
"Apa masalah pekerjaan?" Aku bertanya sambil menarik setangkai Cherry dari gelasku. Bicara soal Cherry mojito, aku kecewa karena rasanya tidak senikmat penampilannya.
"Begitulah, bos Margot memintaku membelikannya kebab."
"Oh, kupikir kau libur."
"Seharusnya aku libur."
"Tapi tadi yang menelepon Ace, kan?" Aku tidak mau pura-pura bodoh, tidak ketika aku jelas sekali melihat nama Ace tertera di layar ponsel Vera.
"Bos Margot meneleponku menggunakan handphone tuan Ace." kata Vera.
Aku mengendikkan bahu. "Kalau begitu, apa hari ini kita sudahi saja?"
Toh kami sudah bicara nyaris tiga jam lebih. Vera pasti butuh istirahat juga. Sekarang sudah jam sepuluh malam.
"Yaaah, padahal aku sangat senang bisa mengobrol denganmu. Kapan kau libur lagi?"
"Aku tidak tau, tergantung situasinya." Bahkan bila aku libur, bukan berarti aku bisa bertemu Vera. Aku perlu mengunjungi ibuku di rumah sakit juga.
"Mmm, baiklah, kalau begitu hubungi saja aku nanti."
"Oke." Aku melompat turun dari bangku, dan tiba-tiba saja..., Vera menangkap lenganku. "Ah, bisa kau temani aku ke toilet sebentar?"
"Ya?" Dia adalah bodyguard, demi Tuhan. Apa dia masih butuh teman untuk ke kamar mandi?
"Please, sebentar saja. Aku tidak nyaman pipis sendirian."
"Ugh, baiklah." Tidak ada alasan untuk menolak juga. Jadi aku mengikuti Vera yang menuntunku menuju tangga. Mataku tertuju kepada tangga yang terbuat dari kaca tebal itu, sebelum mendongak menatap Vera yang berjalan selangkah di depanku.
"Bukankah di atas lantai VIP?"
"Toilet di atas lebih bagus daripada toilet di bawah," kata Vera. Dia menoleh ke arahku sebentar dan wajahnya sangat menyiratkan ketidak-nyamanan. Apa dia sekebelet itu?
"Ugh, maafkan aku sudah merepotkanmu, ya, Fawn." Vera kembali bicara. Kami berada di lantai dua dan melenggang menuju lorong yang memiliki berbagai pintu. Nomor-nomor kombinasi huruf dan angka menempel di pintunya. Sepertinya ini adalah ruang privat untuk tamu VIP juga.
Tempat ini sangat menarik dengan nuansa biru neonnya. Aku takjub berjalan di sana, rasanya seperti menuju lokasi yang penuh misteri.
"Nahahahaha, sampai..." Vera bertepuk tangan. Aku tidak tau kenapa dia sangat senang bertemu toilet. Tapi terserah. Tunggu, tempat ini tidak terlihat seperti toilet. Aku membaca nomor yang tertera di daun pintu itu, pintu nomor L015.
"Kurasa ini bukan--" Tepat ketika aku hendak menyampaikan kebingunganku, Vera dengan kekuatannya membuka pintu dengan sebelah tangan sementara tangannya yang lain mendorongku masuk. Aku yang tidak siaga sama sekali terhuyung ke dalam ruangan bernuansa biru itu, nyaris terjungkal pula. Secepat kilat, aku menyeimbangkan langkahku dan memalingkan wajahku ke arah Vera. Menanyakan kewarasan gadis itu sekaligus menanyakan tujuannya mendor--oh.
OH!
"Maafkan aku," Vera mengatupkan tangannya di dada sebelum menutup pintu. Aku..., aku yang masih terjebak di dalam ruangan itu menatap kepada sosok yang sekarang tersenyum tipis menyapaku. Sosok yang demi tuhan, sangat tampan di bawah cahaya biru itu. Sangat menjengkelkan!
"Ace!!!" Jadi ini ulahnya!
"Halo," Ace menyapaku dengan seringai jahanamnya yang sungguh-sungguh menawan. Aku meneguk ludah dalam kegugupan. langkah Ace terbuka ke arahku, dan setiap ia maju, aku mundur selangkah menghindarinya. Hingga hanya dinding yang tersisa di belakangku.
__ADS_1
Aku terjebak di sana, di antara dinding beton dan Ace yang memenjaraku di antara lengannya.
...----------------...