DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
102. TUJUAN ACE


__ADS_3

...ACE pov...


...----------------...


Ketika kabar tentang kedatangan Fawn sampai ke telinga Margot, saudara perempuanku yang agak gila itu seketika menyerobot masuk ke dalam ruang diskusi kami. Dia--masih dengan pewarna kuku yang belum mengering, menghampiri Fawn dan memeluknya.


Aku menonton aksi dramatik Margot dengan mata berotasi jengah. Padahal aku saja belum memeluk Fawn, tapi dia sudah maju duluan.


Karena tidak ada yang perlu didiskusikan lagi menyangkut undangan yang diberikan Evan, tidak di antara aku dan Fawn, aku pun membiarkan Margot menculik Fawn dariku. Dia membawa Fawn entah kemana--sementara aku masih duduk nyaman di sofa.


Setelah keduanya menghilang dari ruangan itu pula, barulah aku mengeluarkan ponselku dari saku. Aku menghubungi paman Jack. Hendak memberikannya kabar baik.


"Halo," suara berat paman Jack menyapa telingaku setelah dering ketiga.


"Halo, paman. Aku sudah menerima undangannya."


"Hmm, sepertinya rencanamu berjalan dengan lancar."


"Bagaimana dengan urusan paman sendiri?"


"Semuanya berjalan dengan sangat baik, Ace."


"Bagus. Aku tidak sabar melihat tikus itu keluar dari persembunyiannya."


Permainan yang sedang kumainkan sekarang, hanya sampai orang itu keluar dan bersimpuh di kakiku, hanya sampai di situ aku berhenti. Untuk sekarang, aku akan melakukan segala hal yang mampu membuatnya tersudut takut. Bayangan tempatnya bersembunyi sudah terekspos cahaya, cepat atau lambat orang itu akan memunculkan wujudnya.


"Bicara soal Evan Caspian..., apa kau akan benar-benar menghabisinya?"


"Pilihan itu bukan jatuh padaku," aku menimpali pertanyaan paman sambil tersenyum tipis. "Semuanya tergantung Fawnia."


"Kau yakin dia mampu melakukannya?"


Aku menatap kepada matahari yang samar-samar terbenam di sudut kota. "Aku bertaruh 50 persen."


Semua orang mempunyai kegelapan di dalam diri mereka, terpendam sangat dalam dan jauh dari permukaan. Untuk mampu mengeluarkan kegelapan itu, kau perlu memadamkan seluruh cahaya di hati yang mengisi hati mereka. Menjadikannya hitam dan kelam.


Untuk melakukan itu, kepada Fawn, aku perlu...


...----------------...


"Kenapa kau melihatku terus?" Fawn mendumel saat aku lagi-lagi meliriknya malam itu. Dia duduk di meja makan dengan pipi merah merona, tatapannya berpindah ke sana-sini, menghindariku. Sampai akhirnya dia tidak tahan. Dia sangat menggemaskan seperti itu.


"Aku takut kau akan melarikan diri," kataku. Saat ini, aku sedang mengaduk kare di dalam panci. Iya, aku membuat kare lagi tanpa jera. Ketika Fawn tau aku yang akan memasak, dia tertawa dan hendak mencegahku. Tapi, tentu saja, dia tidak bisa menang melawanku. Aku memintanya duduk diam di sana sementara aku mempersiapkan makan malam.


"Seberapa takut?"


"Sangat takut."


"Bohooong." Fawn tertawa. "Ace Hunter yang tersohor takut aku melarikan diri? Rasanya sangat fiksi."

__ADS_1


"Kenapa? Apa Ace Hunter bukan manusia?"


"Yaaah, pada umumnya, kau memang tidak terlihat manusiawi sama sekali, kan? Beberapa orang bahkan membicarakanmu sebagai robot, pria kejam, arogan dan aaah, masih panjang lagi."


"Aku hanya bersikap manusiawi padamu." Aku tidak punya alasan untuk meninggalkan kesan baik pada orang lain. Selain karena aku memang tidak suka bersikap baik atau berpura-pura baik, aku juga tidak merasa kebaikan adalah hal yang diperlukan dalam dunia hitam ini.


Tidak kecuali itu Fawn. Gadis itu membutuhkan kebaikan dan kelembutan, hanya dengan itu dia mau bertahan di sisiku. Hanya bila aku bersikap manis padanya lah aku memiliki peluang untuk memilikinya kembali.


"Kenapa aku mendapat perlakukan berbeda?" Fawn bertanya ketika aku menaruh sepiring nasi ke hadapannya.


"Bukankah kau sudah tau jawabannya?"


"Karena kau menyukaiku?"


Semangkuk kare dengan uap yang mengepul--kutaruh berdampingan dengan piringnya. "Hati-hati, panas."


Setelah itu, aku lalu mengambil satu bangku kosong yang berseberangan dengan Fawn. Aku menatapnya yang sekarang mengamati masakanku dengan cengiran lebar. Dia sangat polos dengan cengiran itu. Aku ingin meraup pipinya, mencubitnya, dan mendekapnya erat-erat.


"Uwaaah, ini enak." Fawn memberi komentar setelah dia mencicip sesendok kuah kare buatanku. Iya, aku adalah ahli kare sekarang.


"Ace, kau hebat." Fawn bertepuk tangan. Apresiasi kecil yang dia tunjukkan mau tidak mau memancing senyum merekah dari bibirku. Aku merasa sangat bangga dan ah, tambah mencintainya. Bagaimana bisa seseorang menatap makanan dan terlihat sangat-sangat menggemaskan? Apa ini hanya berlaku pada Fawn?


"Aku suka sekali." komentar Fawn membuat bunga mekar di hatiku. Rasanya seperti ada pelangi dan air mancur di sana-sini.


Andai saja kau tidak pergi waktu itu, Fawnia. Kau mungkin akan merasakan kare yang kubuat hari itu.


"Kalau kau berhenti menjadi pemimpin di Diamond dan memilih menjual kare, aku akan menjadi pelanggan utamamu. Percayalah."


Suapan sendok Fawn menggantung di udara, dia menatapku dengan sedikit perasaan bersalah terukir di bola mata hazelnya.


Aku senang ketika Fawn menunjukkan simpatinya. Segala kelembutan yang Fawn tunjukkan, aku ingin mendapatkan semuanya. Aku ingin dia merasakan segala iba, sedih, dan sendunya padaku. Aku ingin dia tidak berpaling dariku.


"Katakan, Ace..., sebelum ini, apa kau punya mimpi lain yang ingin kau gapai begitu?"


Oh, lihat. Betapa lugunya dia bertanya tentang mimpi?


Sesuatu yang hanya ada di dalam dongeng tersebut tidak ada di duniaku, Fawnia. Aku hanya punya tujuan yang harus kupenuhi. Kau adalah contoh dari tujuan itu. Mendapatkanmu sebagai milikku adalah tujuan utama di hidupku.


"Aku mungkin punya beberapa hal yang ingin kulakukan." pada akhirnya, aku berdusta. "Tapi aku sudah melupakannya."


"Kenapa?"


"Memikirkan mimpiku ketika aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk menggapainya Fawnia, itu hanya akan menjadi siksaan. Tidakkah kau berpendapat demikian?"


"Ku-kurasa kau ada benarnya." Betapa indahnya gadis yang diselimuti cahaya seperti Fawnia. Andai saja dia tau segala keprihatinan yang ia tumpahkan padaku sekarang sudah seperti candu bagiku. Bahwa, kata-kata sedih yang ia dengarkan tidak mempunyai makna apa pun bagiku.


Aku tidak terluka, Fawnia. Aku hanya ingin kau merasa aku terluka.


"Bicara soal mimpi, sebenarnya aku sama sepertimu, Ace. Aku juga, aku juga tidak punya mimpi sama sekali. Hari ketika aku memutuskan menjadi bodyguard bos Angga, aku sudah siap mati untuknya."

__ADS_1


"Kau sangat loyal kepada mereka, bukan?" Aku tersenyum masam. Tenang saja, Fawn. Akan ada hari ketika aku menghapus loyalitas itu darimu. Sampai saat itu tiba, aku akan menjadi orang paling berbahagia di dunia. Aku akan memilikimu seutuhnya.


"Yaaah, bos Angga adalah pria paling baik yang pernah kutemui. Keluarganya sangat berjasa padaku dan Ibu. Oh, mereka juga membiayai pendidikanku. Mereka--mungkin kau tidak menyukai mereka--tapi aku mempunyai hutang budi yang sangat besar pada bos Anggara."


Aku tau. Aku sudah menelusuri semuanya. Alasan mengapa Fawn sangat setia kepada keluarga Rashid, aku sudah mempelajari semuanya belakangan ini. Seperti yang kuduga, selain kekuatan dan kekuasaan, manipulasi terbaik di dunia ini adalah kebaikan. Aku sudah belajar sekarang.


"Lupakan tentang bos Angga," tukas Fawn kemudian.


Fawn sepertinya tidak nyaman membicarakan Anggara di depanku. Dia kembali menyantap nasinya dengan lahap dan menyibukkan diri pada semangkuk kari yang sudah tinggal seperempat.


"Apa kau mau lagi?" tanyaku.


"E-eh? Tidak, tidak. Aku sedang diet."


"Apa itu perlu?" Aku pikir Fawn sudah sangat sempurna dengan bentuk tubuhnya yang sekarang.


"Aku sulit bergerak. Kemarin, saat sparing dengan Aidan, si keparat itu membantingku dua kali dan aku kesulitan melawannya."


Ha? Seseorang berani menyentuh rusaku? Dan lebih parah, orang itu adalah kaki tangan Evan?


"Tapi aku menang, akhirnya aku yang menang." Fawn memberikan informasi tambahan.


"Kau harus mementingkan kesehatanmu, Fawn. Kau tidak perlu diet."


"Uuuh, romantisnya." Fawn tidak menanggapiku serius sama sekali. "Hanya saja, aku adalah bodyguard, aku harus tetap kuat dalam bertarung. Kalau-kalau pertikaian terjadi, aku adalah orang pertama yang harus melindungi nona Indira."


"Orang pertama?"


"Ya, aku tidak mempercayai siapa pun, Joseph juga..., aaah, bicara soal Joseph," Fawn menggebrak meja. "Apa kau percaya juniorku yang imut itu mengajakku melarikan diri?"


Alisku naik tanpa kusadari.


"Dia mencemaskan situasimu dan Evan yang makin tegang."


"Jadi dia mengajakmu melarikan diri?" Haruskah aku sungguh-sungguh menyingkirkan pria itu?


"Begitulah. Dia sangat imut, kan?"


Dia akan imut di peti mati.


"Jadi, apa tanggapanmu?"


"Tanggapanku?" Fawn agak bengong sebentar. Dia mengendikkan bahunya dan kembali makan. "Aku tidak tau. Aku hanya ingin melindungi nona Indira."


"Itu bagus, Fawnia. Aku akan memburumu kalau kau berani menghilang dari hidupku."


"Apa itu ancaman?"


Kau bisa memikirkannya demikian.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2