DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
75. KARE


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


Jem sedang membuka sebuah amplop cokelat yang diberikan oleh asistennya--Rose. Sementara dia membuka amplop cokelat itu dan melihat isinya, ekspresi Jem berubah menjadi sangat cerah. Seolah-olah kebahagiaan yang sudah lama meninggalkannya kembali datang. Ia memasukkan kembali kertas foto yang sempat ia perhatikan sebentar isinya--kembali ke dalam amplop.


"Kerja bagus, Rose." Jem menaruh amplop itu ke atas meja kaca, berdampingan dengan satu vase yang berisikan bunga hortensia plastik. "Dengan ini, aku percaya rusa itu akan menghilang dari sisi Ace."


"Apa ini akan baik-baik saja? Maksudku--tuan Ace bisa marah besar kalau dia tau bos Jem---"


"Apa kau pikir Ace sedangkal itu? Tidak peduli seberapa keras permainanku, dia tidak akan bertingkah lancang kepada sahabatnya sendiri."


"..."


Rose yang berdiri di dekat pintu, jujur saja, masih meragu. Rose tau reputasi seorang Arcelio Hunter sangat hitam. Pria sepertinya bukan pria yang ingin kau ganggu. Karena itu sama saja seperti mengusik singa tidur.


"Lagipula, aku melakukan ini demi kebaikan Ace sendiri. Wanita itu perlu dimusnahkan. Jika tidak, dia akan menjadi hambatan." Jem menyilang kakinya dan menenggak secangkir teh yang sudah mendingin di meja.


"Ace adalah senjataku yang sangat berharga. Jika dia menjadi tumpul karena perasaannya, dia akan menjadi tidak berguna."


Jem menatap kepada potret keluarga yang terpajang di ruang belajar keluarganya. Di atas perapian, dengan bingkai berwarna emas--potret itu menunjukkan Jem bersama Jeremy dan neneknya. Mereka bertiga tersenyum elegan dengan pakaian berwarna putih yang menunjukkan kemurnian dan kemuliaan.


Mata Jem lalu bergulir spesifik ke arah Jeremy. Adik laki-laki yang berada di dalam rangkulan neneknya. Adik laki-laki yang sekarang merupakan ancaman untuk posisinya.


'Hanya dengan Ace, aku mampu mempertahankan posisiku di rumah ini.' Jem membatin dengan kedengkian yang kembali mendominasi.


...----------------...


"Apa yang kau pikirkan?" sebuah pertanyaan menyapa telinga Fawn. Samar.


Fawn menoleh dan menemukan Ace berada di sisinya, menyesap sekotak susu dengan lengan berpangku di atas pagar balkon. Senyum Fawn mengembang tipis sebagai tanggapan atas keramahan yang Ace kerap berikan belakangan. Pria itu sangat jauh berubah. Bila Fawn mengingat kembali awal mula hubungan mereka, ia mungkin tidak akan percaya kalau Ace mampu menunjukkan sisi menggemaskannya seperti saat ini.


"Aku tidak memikirkan apa-apa." kata Fawn, berdusta. Ia mempunyai terlalu banyak pikiran ke tahap ia merasa begitu tertekan. Kerinduannya pada kebebasan, perasaan bersalah, dan kebenciannya pada diri sendiri mulai membaur hitam di kepala.


"Mmm, apa kau baik-baik saja?"


"Aku baik, kenapa?"


"Tidak. Aku hanya merasa...kau agak aneh?"


Fawn tersenyum tipis. "Itu hanya perasaanmu saja. Aku baik, serius."


Sementara menyambut ucapan Ace, Fawn bertanya-tanya di kepalanya. Apakah ketentraman yang ia rasakan sekarang akan bertahan bila ia menyinggung keinginannya untuk bebas?


Apakah ia akan melukai Ace bila ia mengatakan ia ingin pergi dari rumah ini?


Fawn tidak mengerti jalan pikirannya sama sekali. Pemikiran bahwa ia akan melukai Ace bila ia mengatakan apa yang ia rasakan..., ia takut.


"Jadi, apa yang kau lakukan di sini..., sendirian?" Ace menatap wajah Fawn. Wajah yang bermandikan cahaya bulan. Sepasang manik cokelatnya berbinar sendu. Ace menginginkan jawaban atas kesedihan samar yang terpatri di paras itu. Tapi di satu waktu ia tidak ingin tau juga. Ia hanya ingin berpikir kalau mereka berbahagia. Ia dan Fawn baik-baik saja. Bahkan bila itu hanya dusta.


"Aku melihat bintang."


"Mmm." Ace ikut mendongak ke arah langit. Kepada taburan bintang yang berkilauan di sepanjang matanya memandang.


"Aku sedang mencari bintang jatuh," lanjut Fawn lagi.


"Apa kau punya harapan yang kau sembunyikan dariku?" Ace menanggapi dengan sedikit sangsi. Apa yang Fawn harapkan?


"Mmm.." Fawn mengangguk.


'Apa dia berharap melarikan diri dariku?' pertanyaan itu merayap di benak Ace seperti duri tajam yang menikam jantungnya.


"Apa itu?"


"Bukan harapan kalau aku mengatakannya padamu." Fawn memutar mata.

__ADS_1


"Aku bisa menjadi bintang jatuh untukmu."


Fawn terkekeh. "Ooooh, apa karena kau tuan yang serba bisa dan serba punya?"


"Aku tidak akan menyangkalnya." Ace mengangkat bahu. Kendati berperilaku tenang, hatinya terbenam dalam kecemasan dan ketakutan.


"Aku mau..." Fawn menggantung ucapannya, mata menatap Ace dengan penuh pertimbangan dan dilema. Jika ia jujur, apa Ace akan melepaskannya? Juga..., bila ia lepas dari sini akankah Ace..., akankah dia baik-baik saja?


"Kau mauuu?"


"Aku mau makan kare."


"Huh?"


"Iya, kenapa?"


Ace mengerutkan dahinya. "Kalau kau hanya menginginkan itu, kau bisa meminta pada Felix."


"Aku mau makan kare buatanmu."


"Bercanda, ya?" Ace tertawa hambar. "Aku dari semua orang?"


"Kau bilang kau menyukaiku."


"Aku memang menyukaimu, makanya aku tidak mau kau mati keracunan karena menyantap makananku."


Fawn meninju lengan Ace seketika. "Tidak seru, kau menyerah sebelum mencoba. Apa kau serius menyukaiku?"


"Aku serius. Tapi aku juga tidak bodoh untuk melakukan sesuatu yang jelas-jelas kuketahui bukan skill-ku."


"Memasak bukan sesuatu yang membutuhkan IQ 4000. Kau bisa belajar." Fawn merengut. "Sudahlah, lupakan saja. Bagaimana kalau kau memberikanku sesuatu yang lain?"


"Baiklah, apa itu?"


"Sertifikat rumahmu?"


Fawn menepuk pundak Ace dan terkekeh. "Lucu juga melihatmu terkejut. Apa kau pikir aku serius?"


"Kau kelihatan serius."


Tidak, apa yang membuat Fawn terlihat serius adalah sesuatu yang sedang berputar di kepalanya sekarang seperti radio rusak. Fawn sedang banyak pikiran dan itu membuatnya kesulitan menciptakan candaan.


"Ace, apa kau tau..., kalau kau pergi dari sini menuju dua bintang dari kanan dan lurus sampai pagi, kau akan menemukan Neverland." Maksud Fawn adalah sebuah negeri dongeng tempat waktu berhenti. Sebuah tempat untuk melarikan diri, tanpa kecemasan akan kedewasaan.


"Aku selalu ingin ke sana sejak kecil."


"Apa yang kau takuti dari tumbuh dewasa?"


"Mungkin aku takut pada diriku yang sekarang." Fawn menjawab Ace dengan senyum yang sarat akan kemirisan.


Keheningan terbentang di antara mereka setelah Fawn memberikan jawabannya. Ace kehilangan suara, bimbang hendak menanggapi Fawn seperti apa. Barangkali, dirinya adalah penyebab dari mengapa Fawn membenci dirinya sendiri. Asumsi itu mengonsumsi Ace seperti api.


"Ahahaaha...., kenapa kau mendengarkan dengan sangat serius?" Fawn memecahkan ketegangan dengan tawa paksaan. "Aku hanya bercanda tau, maksudku..., apa kau lihat aku sekarang? Aku jelek dan tidak menarik sama sekali. Saat kecil, seluruh ibu-ibu di kompleks perumahanku selalu memujiku imut dan cantik. Rasanya, kehilangan pujian itu sangat menyakitkan..."


Fawn memaksakan nada jenaka dalam suaranya, tapi Ace tidak terhanyut oleh kepalsuannya sama sekali. Ace hanya berdiam di sisi Fawn--menunggu gadis itu menyelesaikan monolognya sebelum menarik Fawn ke dalam dekapannya.


"Kau sangat indah, Fawnia. Tapi aku tidak akan membiarkan orang-orang melihatmu dengan ketertarikan."


"Posesif?"


"Iya."


"Menjijikkan."


...----------------...

__ADS_1


Pagi-pagi sekali, ketika matahari belum terbit di ujung bumi, Felix yang baru keluar dari kamar mandi mendengar ketukan dari luar kamarnya. Pria paruh baya itu menggapai kacamatanya dan melenggang menuju pintu.


Siapa yang mengetuk kamarnya sepagi ini? Felix ingin memaki.


Tok! Tok! Tok!


"Sebentar..." Felix menjawab dengan keluhan.


Ketika akhirnya ia mencapai pintu, Felix yang memakai kaos putih dan celana piyama kotak-kotak--terperangah luar biasa. Mata Felix nyaris keluar dari soketnya saat dia melihat siapa yang datang menyapa.


"Selamat pagi, Felix."


"B-bos Ace?!"


Demi Tuhan, semenjak 30 tahun melayani rumah ini, ini pertama kalinya Felix dikunjungi oleh kepala keluarga Hunter. Sepagi ini pula. Apa terjadi sesuatu yang urgen di mansion ini? Kebakaran mungkin?


"Bos Ace..., ada apa..?"


"Jangan panik, aku hanya butuh..., sedikit..., bantuan?"


"Hu--uh, apa itu?"


Felix mendengarkan dengan seksama. Bila Ace mendatangi kamarnya ketika pukul 4 pagi, itu berarti situasinya sangat urgen. Mungkinkah ini misi rahasia? Ini sudah pasti misi rahasia!!!


"Kare..."


"Ya?" Sesuatu yang berhubungan dengan kare? Tidak, ini mungkin kata sandi?


"Apa kau tau...cara membuat kare?"


"Kare..., kare sungguhan? Makanan?"


Tunggu, apa ini?


Ace menatap Felix heran. "Tentu saja, Felix. Apa yang kau pikirkan?"


"A-aku bisa, memasak kare." Felix meneguk ludah. "Tapi, kenapa?"


"Tsk..., aku ingin membuatnya."


"Oh, bos Ace lapar. Aku akan menyiapkan kare sekarang." Felix pikir kenapa.


"Hei, bukan..." Ace menyela Felix yang sudah salah paham. "Maksudku, aku ingin kau mengajariku cara membuat kare."


"Huh?"---Apa aku salah dengar?


"Bos Ace...kare?"


"Iya, Felix."


"Sekarang?"


"Aku bekerja besok pagi, jadi ajarkan aku membuatnya sekarang."


"Tapi aku bisa membuatkan kare untuk bos Ace sekarang..."


Ace menghela napas panjang. "Felix, dengarkan aku. Aku ingin membuat kareku sendiri. Apa kau paham?"


Oh?


"Ba-baiklah. Kalau begitu, aku akan berganti pakaian sebentar."


"Jangan lama, aku akan menunggumu di dapur."


"Baik, bos Ace."

__ADS_1


Demi Tuhan, apa yang merasuki bosnya sekarang?


...----------------...


__ADS_2