DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
139. MAKAN MALAM


__ADS_3

"Untuk mematahkan kesetiaan, kau perlu mengajarkannya pahit sebuah pengkhianatan."


Ace menanggapi pertanyaan Carcel padanya. Sebuah pertanyaan menyangkut apakah akan baik-baik saja bila Ace menyudutkan Fawn sampai ke bibir tebing?


Bukan berarti Carcel mempertanyakan keputusan Ace, tapi di mata Carcel, tekanan mental yang kemungkinan Fawn hadapi sekarang sudah terbilang sangat buruk. Diminta memilih antara keselamatan ibunya atau kekasihnya bukanlah pilihan mudah.


Bahkan ketika Fawn masih menjadi tahanan di Hunter, Fawn rela melakukan apa pun untuk melindungi Joseph, pria yang bukan siapa-siapa. Sekarang, dia malah diminta mengeliminasi orang yang sangat berarti di hidupnya. Ugh, itu sangat kejam.


Carcel cukup prihatin pada kondisi Fawn. Gadis itu bisa hancur.


"Aku percaya loyalitas Fawn kepada Anggara sudah hilang ketika dia datang ke makan malam hari ini, Bos. Karena itu..., kupikir kita bisa mengakhiri semuanya sebelum situasinya semakin buruk."


Ace terkekeh. "Masalahnya Carcel, aku menginginkan situasinya menjadi sangat kacau. Aku tidak bermain sejauh ini hanya untuk berhenti selangkah di belakang garis finish."


Bahkan bila itu berarti menghancurkan Fawn, Ace mau ia mendapatkan kemenangan mutlak dari permainan ini.


Juga...


"Jika aku menginginkan Fawn hanya melihat ke arahku dan hanya menyukaiku..., tidakkah kau pikir solusi yang tepat adalah menyingkirkan semua orang yang bisa menghambat pandangannya dariku?"


Carcel merasa jantungnya berhenti berdetak untuk beberapa detik yang terlewat. Carcel pikir ia sudah tumbuh lama dengan Ace ke tahap ia tidak akan terkejut lagi pada jalan pemikiran bosnya tersebut, tapi ternyata tidak. Hari ini pun, ia masih terkejut.


"Oh..., bagaimana kabar David?" tanya Ace kembali.


"Dia sudah siap di posisinya, Bos."


Hari ini, dengan seluruh mata yang akan terpaku kepada Ace, David di sisi lain mempunyai misinya sendiri. Yaitu menyelamatkan Vera.


"Sebelum David pergi, pastikan kembali dia mengingat dengan baik tugas utamanya." Ace berujar sambil mengaitkan pin lambang keluarga Hunter di dasinya, sebuah lambang berbentuk anak panah di dalam lingkaran mata.


"Baik, Bos."


"Oke, dengan begini..., aku sudah selesai."


Menapak dua langkah menjauh dari cermin yang memantulkan gambaran sempurna dirinya, Ace lalu tersenyum tipis. Tidak. Ia bukan tersenyum pada keindahan rupanya yang jujur saja, bukan lagi sesuatu yang baru.


Tidak, Ace tersenyum karena ia bisa membayangkan di benaknya mengenai bagaimana rencananya hari ini akan berjalan seperti yang ia inginkan.


...----------------...


...NORMAL pov...

__ADS_1


...----------------...


Meskipun makan malam ini dirancang istimewa hanya untuk dirinya dan Ace habiskan bersama, Fawn yang duduk gelisah di depan meja perjamuan panjang itu tidak akan dibodohi. Ia tau Anggara dan Evan memonitorinya di suatu tempat, memindai setiap interaksinya dengan Ace dan memastikan kalau misi ini berjalan seperti yang mereka harapkan.


Para bajingan sialan!


Fawn mau mengumpat habis-habisan di sana, malangnya energi yang ia miliki sudah terkuras habis hanya untuk mempersiapkan pertemuan ini. Anggara--dengan orang-orangnya--memaksa Fawn untuk melakukan perawatan seperti puteri kerajaan. Seolah-olah hal itu penting untuk dilakukan.


Fawn percaya, segala perawatan yang sudah ia terima sejak jam 5 subuh tadi sudah pasti bentuk balas dendam Anggara kepadanya karena sudah berani mengancam pria itu. Karena...sialan, kulit mulus dengan aroma mawar liar ini tidak berguna!!!


Kepara--


Tok! Tok! Tok!


Ketukan dari luar terdengar, ringan dan sopan. Fawn seketika berdiri. Amarah yang sempat mengisi kepalanya meluap menjadi antisipasi. Di balik pintu itu, Ace..., Ace-nya...


"Masuk," sahut Fawn. Suara bergetar penuh kegelisahan. Ia berusaha mendekati pintu, menyapa Ace yang akan masuk. Namun, terima kasih kepada heels hitam tinggi yang melingkupi kakinya, Fawn melenggang seperti anak rusa yang baru belajar berjalan.


Belum sempat Fawn mendekat, Ace sudah masuk duluan dan menatapnya dengan heran.


"Se-selamat datang." Wajah Fawn spontan merah padam, malu dan gugup membaur satu.


"Ya?"


"Habisnya...," Ace mendekati Fawn dan membantunya berdiri dengan stabil. "Kau tidak seperti wanita yang ingin kutemui."


"Kalau kau mau menghinaku, kau bisa terang-terangan mengataiku buruk." Fawn mencebik. Kegugupannya tersisihkan sesaat.


"Kau cantik, Fawnia. Aku hanya tidak menyukai cara orang-orang menggunakan keindahanmu sebagai senjata." Ace menyibak surai hitam Fawn dengan kelembutan, sementara menambah argumennya di kepala dengan intonasi kesinisan.


'Terlebih ketika senjata itu tidak berbahaya'.


"Aku lebih menyukaimu apa adanya," ujar Ace kembali dan tersenyum. Kau lebih berbahaya ketika liar, Fawnia.


"Aku merasakan hal yang sama," tanggap Fawn. Ace menuntunnya kembali duduk di bangku yang sebelumnya telah ia tempati. "Gaun ini bukan gayaku sama sekali."


"Margot mungkin menyukainya," kata Ace, bercanda.


"Oh, kau mungkin agak benar." Fawn menyamankan duduknya di bangku tersebut selagi matanya mengikuti pergerakan Ace.


Ace yang tak kunjung duduk dan malah asik memindai isi meja membuat kecemasan Fawn kembali menyeruak ke permukaan. Keringat dingin kembali membasahi telapak tangannya, membuat lututnya bergetar juga.

__ADS_1


"Melihat penampilanmu hari ini, Fawn. Aku merasa sepertinya hubungan kita telah menjadi beban untukmu." Ace membicarakan tentang kondisi fisik Fawn yang walau sudah ditutupi oleh make up, masih terlihat sangat buruk.


"Aku meminta maaf. Jika aku tau situasinya akan menjadi seburuk ini, aku seharusnya membunuh Jem hari itu. Lalu Evan, Lalu siapa pun yang mempunyai peluang untuk menyakitimu. Tapi aku tidak melakukannya."


Fawn menghela napas usai mendengar ucapan Ace, "Jangan menyalahkan dirimu. Kau juga tidak bisa asal-asalan menyingkirkan semua orang hanya untuk keselamatanku, kan?"


"..."


"Aku hanya...," Fawn menatap Ace dan melebarkan mata saat ia melihat Ace hampir meraih segelas wine di atas meja.


"Ace!!!" Tegur Fawn panik.


"Hmm?"


"Uh..., duduklah dulu..., aku--aku punya pertanyaan untukmu." Fawn menatap wine tersebut. Ia merasa lega ketika alih-alih menggapai gelas berisi wine itu, tangan Ace berpindah meraih sebuah apel di keranjang buah.


"Apa yang ingin kau tanyakan, Fawnia?" Ace mengambil tempat duduk kosong yang berseberangan dengan Fawn. Kedua tangannya tersilang elegan.


"Vera..., umm, aku percaya kau pasti tau tentang Vera, bukan? Jadi aku memikirkan ini...," Fawn menjeda ucapannya sejenak dan menatap Ace bimbang. "Mengapa kau tidak datang dan menyelamatkannya? Ma-maksudku, dia memang hanya bodyguard ta-tapi..."


"Tapi dia adalah aset penting keluarga Hunter," lanjut Ace.


"Tidak hanya Vera, aku bisa meratakan kediaman Caspian dalam semalam tapi aku tidak melakukannya. Aku pikir kau sudah tau alasannya Fawnia."


"Huh?"


Ace tersenyum miring, "Karena kau berada di sana."


"..."


Ada keheningan lama di sana sampai Fawn berhasil mengaitkan satu persatu maksud ucapan Ace kepadanya.


Saat itu pula, jawaban Ace membuat mata Fawn berkaca-kaca. Cairan hangat itu menyeruak ke pelupuk matanya, kombinasi antara perasaan haru dan dosa. Ia merasa bersalah luar biasa ketika ia memikirkan kembali apa yang akan ia lakukan pada Ace malam ini.


Pria yang mencintainya dengan tulus.


"Fawnia," panggil Ace lagi. Binar matanya sehangat mentari pagi.


"Tidak peduli pada apa yang terjadi, aku sudah bersumpah untuk tidak akan pernah menyakitimu lagi. Karena itu, bahkan bila itu artinya aku harus merelakan Vera, itu lebih baik daripada melibatkanmu dalam pertikaian yang mampu membahayakanmu."


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2