DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
151. SENIN


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


"Dengarkan aku, Evan. Hari ini, Ace akan menyerang kita. Peperangan akan terjadi. Situasi di sini akan menjadi sangat berbahaya."


Di senin pagi itu, Max melabuhkan kedua tangannya di pundak Evan. Ia menyampaikan ucapannya dengan keseriusan dan ketegasan. Sebagai tanggapan atas ucapan Max saat itu juga, Evan mengangguk dan menatap mata Max penuh tekad.


"Aku tau, karena itu aku sudah mempersiapkan diriku." Evan sudah tau kalau cepat atau lambat situasinya akan menjadi seperti ini. Karena itu, ia tidak takut sama sekali pada kematian yang kemungkinan menyapa.


Selama ia berada di sisi ayahnya, Evan merasa ia mampu melakukan apa saja. Ia tidak akan membiarkan Ace menang setelah membuat keluarganya sengsara, tidak setelah ia menyingkirkan Indira. Evan sudah bertekad akan membalaskan dendamnya di ladang tempur ini.


"Evan..." Max menekan pundak Evan, meminta perhatian penuh dari puteranya. "Aku tidak mau kau berada di sini."


"Huh?"


"Pertikaian ini akan memakan banyak nyawa. Ayah tidak mau kau terlibat di dalamnya. Seperti yang kau tau, masalah ini di mulai oleh keserakahanku, maka biarkan aku yang menyelesaikan semuanya. Untuk sementara, pergilah bersama Theo keluar negeri untuk beberapa tahun, hanya ke--"


"Ayah!" Evan memotong lancang. Ia menepis tangan Max dari pundaknya. "Aku tidak..., aku tidak mau melarikan diri. Aku bukan pengecut."


"Ayah tau kau bukan pengecut, Evan. Ini bukan waktunya untuk kau membuktikan dirimu. Ini adalah tentang bertahan hidup. Kau sangat berharga bagi ayah, bila kau terluka dan mati di sini..., kemenangan apa pun tidak akan berarti apa-apa. Ayah mau kau hidup panjang dan mewariskan nama Caspian pada generasi-generasi berikutnya. Ayah mau kau berbahagia."


Evan mundur selangkah dari jangkauan tangan Max. "Aku tidak bisa. Aku tidak mau, Ayah. Apa ayah pikir aku dapat berbahagia bila aku kehilangan semuanya?"


"Evan, prioritaskan dirimu sendiri. Ingat apa yang Ayah katakan padamu?" Max tersenyum sayu. "Kau adalah raja di papan caturku. Sudah tugasku melindungimu, Evan."


'Tapi siapa yang akan melindungimu?' Evan menanyakan perihal itu di hatinya. Demi Tuhan, Evan hanya ingin Max berhenti melihatnya sebagai sosok yang rapuh dan rentan, Evan ingin Max melihatnya sebagai sosok yang dapat diandalkan. Dia adalah putera Max yang cemerlang, dia seharusnya yang melindungi Max dari segala ancaman.


"Evan," ujar Max sekali lagi. "Lakukan ini demi Ayah. Kumohon..."


Pergilah dengan selamat dan berbahagialah.


Pergilah.


...----------------...


Margareth Hunter tersenyum lebar ketika ia melenggang menuruni tangga menuju mobil yang terparkir di depan teras rumahnya. Di bawah sana, Jack Hunter menyambut kedatangan Margot dengan kerlingan jenaka.


"Seseorang sepertinya sangat berbahagia hari ini." Jack menegur Margot. Sambil memperhatikan keponakannya itu juga, Jack membukakan pintu mobil untuknya.


"Mustahil tidak berbahagia ketika hal yang paling kuinginkan sudah berada di depan mata."


"Aku harap segala permasalahan yang sudah terjadi selama ini akan berakhir di hari ini." Jack membimbing Margot memasuki mobil sebelum menyusul wanita itu masuk ke mobil yang sama.


"Semuanya akan berakhir hari ini." kata Margot setelah ia dan Jack berada di mobil. "Ace sudah menjanjikan padaku kalau hari ini, aku akan terbebas dari segala dendamku."


"Itu bagus," sahut Jack kemudian. "Aku merasa lega karena kita memiliki Ace."


"Mm, meskipun aku membenci fakta aku tidak mampu bertindak sejauh ini tanpanya, aku juga merasa lega dia sudah berada di sisi kita selama ini." Ace di mata Margot adalah senjata terkuat.


Walaupun Harkin mengecam Margot untuk menjauh dari Ace dan mengatakan kalau adiknya tersebut adalah monster, Margot tidak mempunyai pilihan lain untuk membalas dendam selain menarik Ace ke dalam agenda pribadinya. 


Awalnya, Margot mengira ucapan Harkin hanya buah dari kebenciannya pada Ace yang tidak mau menuruti ucapannya. Namun, setelah menyaksikan bagaimana Ace beberapa tahun belakangan ini dalam memimpin Diamond, Margot menyadari kalau adiknya tersebut bukan senjata yang dapat ia kendalikan sama sekali.


Sekarang pun, kendati Margot mendapat keuntungan untuk membalas dendam kepada pihak Caspian, Margot menyadari kalau tujuannya dan Ace tidak sejalan. Ace--daripada menginginkan kepala Maximillian di atas meja, menginginkan sesuatu yang lebih gila.


Ace menginginkan kepemimpinan mutlak atas Clubs. Bila ia berhasil menyingkirkan Max, maka segala kekuasaan Max dan Evan akan dengan mudahnya Ace alihkan ke arahnya. Ace akan menjadi satu-satunya pion yang bertahan di atas meja. Dia akan menjadi raja.


Tidak hanya Clubs, Fawn juga...

__ADS_1


"Paman, apa pandanganmu terhadap Ace selama ini?" Margot kembali menoleh ke arah pamannya. Ia memperhatikan bagaimana ekspresi Jack sedikit menegang saat pertanyaan itu menyapa telinga.


"Dia adalah orang yang tidak ingin kau jadikan musuh, Mar." Jack menimpali sambil memperbaiki postur duduknya.


Setelah menerima jawaban dari Jack juga, perjalanan menuju kediaman Caspian menjadi setenang samudera. Margot kembali terbenam dalam pikirannya sementara Jack membuang pandangannya keluar jendela--memperhatikan jalan yang ia lewati, kendaraan-kendaraan yang berselisih dengannya, dan memperhatikan sendiri pantulan samar wajahnya di kaca jendela.


'Setelah permasalahan ini selesai, aku akan menghilang!' adalah tekad yang tertanam kuat di dada Jack Hunter. Ia sudah banyak menyaksikan hal yang mengerikan dan menyimpang dari keponakannya, Jack mengira ia akan tertular gila bila ia berada lebih lama di samping mereka.


Tidak hanya Ace, Margot dan ambisinya pun adalah hal lain yang mengerikan dari kediaman Hunter.


'Harkin oh Harkin, apa yang kau dan istrimu idamkan saat kalian membawa dua monster lahir ke muka bumi ini?'


...----------------...


Ace turun dari mobil dengan sebuah pistoldi tangan. Carcel dan Ozan memimpin di depannya seperti perisai. Keduanya membawa senjata mesin yang terpangku siaga di lengan. Saat itu juga, seluruh pengawal yang mengikuti Ace di mobil yang berbeda-beda turun dan memencar seperti yang sudah diperintahkan.


Tak berselang lama setelah Ace turun dari mobil bersama para pasukannya, suara letusan senjata menyapa mereka. Dalam hitungan detik setelah ledakan itu menyapa salah seorang anak buah Ace yang berada di formasi depan, baku tembak pun terjadi.


Kendati Ace dilindungi oleh Carcel dan Ozan, ia tidak semena-mena menyembunyikan dirinya. Dalam beberapa kesempatan, Ace maju ke depan dan menyingkirkan penyerang yang berdatangan dari dalam mansion. Terima kasih kepada senjata mesin yang Carcel bawa, menyingkirkan mereka yang berdatangan bukanlah perihal sulit. Dalam sekali sapuan, hujan peluru itu menghancurkan formasi pertahanan keluarga Caspian.


Ace berhasil menekan maju pasukannya dan membawa lebih banyak pengawal muncul mengikutinya dari belakang. Ya, mereka adalah orang-orang yang sudah dipersiapkan Jack sebagai cadangan.


"Aku pikir kau mengatakan kalau Max akan menyerah..." Jack muncul di belakang Ace dan menembak beberapa kali ke atas balkon, ke arah tiga pria yang sudah menjadi hambatan mereka menuju teras utama. Ace bersembunyi di belakang pilar bersama Jack. Carcel dan Ozan bergantian memberikan serangan ke arah balkon tersebut.


Beberapa orang Ace tumbang di halaman depan, aroma darah berbaur dengan aroma mesiu.


Karena posisi mereka sebagai penyerang, meruntuhkan pertahanan Caspian bukanlah hal yang bisa dikatakan gampang. Di posisi ini, keluarga Caspian masih memiliki keuntungan karena mereka tau tempat ini lebih baik daripada Ace. Mereka tau posisi terbaik untuk menyerang balik.


"Dia akan menyerah," ujar Ace tenang.


"Entahlah. Ini bukan seperti tindakan orang yang akan menyerah. Dia membantai sebagian orang-orangku di bagian depan."


"Itu tidak akan bertahan lama," gumam Ace sambil menatap jam di tangannya.


"Apa Haru sudah di posisinya?" Ace beralih kepada Ozan yang bersandar di sampingnya.


"Dia sudah masuk, Bos."


"Bagus, kalau begitu..." Ace menatap arlojinya dengan seksama. Kepada jarum yang perlahan melaju menuju angka 5 dan...Boom!!!


Balkon lantai dua tiba-tiba meledak, menerbangkan ketiga sniper yang bersembunyi di sana dan mengeksekusi mereka seketika. Jack yang bersandar di pilar seketika keluar dari persembunyiannya. Ia menatap ke arah balkon dengan keterkejutan, dan lebih terkejut saat melihat Haru berada di sana, melambaikan tangan sebagai isyarat aman.


"Kapan dia...?" Jack tidak menyangka si bodyguard muda berwajah konyol itu mampu menyusup ke dalam tanpa ketahuan.


"Aku tidak menjadikannya pengawal di rumahku tanpa alasan." kata Ace. 


Ace keluar dari persembunyiannya dan menuju teras depan kediaman Caspian yang di penuhi oleh tubuh yang berjatuhan dan darah yang mengalir bebas di lantai marmer yang hitam. Saat itu, ketika ia berhasil masuk bersama Jack di sampingnya, seseorang muncul dan menyambut mereka.


"Selamat datang, tuan Arcelio." Adalah sapaan dari sosok yang keluar dari balik tangga.


"Lama tidak bertemu, Rishan." Ace menyeringai tipis. Ia menyapa asisten pribadi Evan tersebut dengan tatapan ramah yang penuh kepalsuan. "Di mana Evan?"


"Tuan Evan sudah meninggalkan Mansion satu jam yang lalu."


"Ah," Ace mengangguk. "Bagaimana dengan Max?"


"Beliau menunggumu di green house." Rishan membuka ruang untuk Ace dan mempersilakan pria itu agar lewat.


"Bagaimana jumlah penyerang di dalam?" Ace kembali bertanya. "Apa kau sudah menyingkirkan mereka semua?"

__ADS_1


Rishan mengangguk tipis. "Aku hanya melakukan sebagian, Haru mengambil kredit atas penyapuan di dalam."


"Kerja bagus, kalian berdua."


Sementara Ace dan Rishan bertukar bicara, Jack mengikuti mereka dengan kening terangkat sebelah. Apakah perasaannya saja atau Rishan mematuhi Ace seperti mematuhi tuannya sendiri? Apa yang terjadi di sini? Tidak..., apa jangan-jangan...?


"Kerja bagus sudah menukar wine itu, Rishan. Berkatmu, aku bisa meneruskan misiku hingga ke tahap ini." Ucapan Ace seperti jawaban atas kebingungan Jack. Jadi, sosok yang sudah mengkhianati Evan dari dalam adalah pria ini? Pria yang merupakan tangan kanan Evan Caspian? Kapan Ace menakhlukkannya?


"Karena aku sudah bekerja keras, aku harap kau tidak melupakan janjimu padaku." Rishan berhenti melangkah ketika akhirnya Ace tiba di depan Green House. Pintu kaca yang melingkupi ruangan itu menunjukkan keberadaan Maximillian di dalam sana. Pria itu duduk sendirian dengan secangkir teh menemaninya.


"Tenang saja, tidak seperti bosmu sebelumnya, aku bukan pria yang akan menarik ucapanku sendiri. Aku akan memberikanmu 20 persen sahamku."


Senyum mengembang di wajah Rishan. "Aku sangat menghargainya. Kalau begitu..., silakan masuk."


"Apa di dalam aman?" Carcel memberikan pertanyaan untuk yang terakhir kali.


"Hanya ada tuan Max di dalam. Seluruh bodyguard-nya telah kusingkirkan."


"Bagaimana dengan Theo?"


"Dia pergi mendampingi tuan Evan."


"Baiklah," simpul Ace akhirnya. "Paman Jack, aku ingin kau mengabari David dan Vera untuk membawa Margot ke sini sekarang juga."


Setelah memberikan perintah kepada Jack, Ace pun membuka pintu menuju green house. Ruangan dengan pohon-pohon rindang itu membawa atmosfir teduh dan nyaman. Aroma dedaunan dan bunga menguar di udara, Ace menarik napasnya dengan ketidak-nyamanan saat aroma tajam dari bunga camellia yang tumbuh di sana menusuk indera penciumannya.


Menyebalkan, Ace benci aroma tajam tumbuhan.


"Selamat datang, Ace." Di tengah kerisihannya pada tanaman yang menjulur di sana-sini, Ace mendengar suara ramah Maximillian menyapanya.


"Kau menyambutku dengan spektakuler di luar, kupikir kau akan terus menunjukkan sambutan yang liar. Tapi, ada apa dengan taman bunga ini?"


"Sebagai pemimpin, aku tidak seharusnya mundur dengan mudah, bukan?"


"Jadi kau membuang-buang nyawa pengawalmu untuk sesuatu semacam pencitraan?"


Max tersenyum masam. "Anggap saja itu upaya terakhirku untuk bertahan. Siapa yang tau kalau aku bisa saja menyingkirkanmu dalam proses itu. Walau realitanya sedikit berbeda daripada yang kuharapkan."


"Tidak sepertimu, aku tidak menyukai membuang-buang nyawa pengawalku." kata Ace. "Melihatmu membuang-buang nyawa di luar sana, apa kau tidak punya sedikit keprihatinan pada pekerja yang akan membersihkan jejak mereka?"


Ace duduk di seberang meja Max dan memperhatikan ke sekeliling rumah kaca tersebut. Carcel dan Ozan mengitari ruangan itu sebentar, menginspeksi tiap sudutnya untuk pengamanan mutlak.


"Aku terharu kau menaruh kepedulian pada orang lain, Ace."


"Jika aku tidak peduli, aku tidak akan mempunyai mereka bertahan di sisiku." Ace pada dasarnya cukup menghargai nyawa setiap pengawalnya. Ia tidak menyukai pembasmian tanpa alasan.


"Jadi, apa kau akan mengakhiri nyawaku di sini?" Max melipatkan tangannya di atas meja. "Jika kau akan melakukannya, aku ingin kau memastikan janjimu untuk tidak menyentuh Evan lagi, Ace."


"Aku tidak akan menarik ucapanku," ujar Ace. "Aku tidak akan membunuhnya."


"Baiklah, jika begitu. Apa lagi yang kau tunggu? Aku memberikan kebebasan padamu untuk menyingkirkanku sekarang, Arcelio Hunter."


"Tunggu, tunggu..." suara seorang wanita menginterupsi obrolan Ace dan Maximillian saat itu juga. Margot adalah wanita itu. Ia muncul dengan wajah merah tersipu. "Kalian tidak berniat berpesta tanpa mengundangku, kan?"


"Mana mungkin aku melakukan itu," sahut Ace. Ia berdiri dan menyerahkan pistolnya kepada Margot. "Lagipula ini adalah pestamu. Aku tidak punya intensi mengotori tanganku di sini."


"Awww, adikku. Kau sangat baik hati." Margot berjinjit dan memberikan kecupan ringan di pipi Ace. "Ini adalah hadiah terindah yang sudah kau berikan untukku."


"Eh?" Max tercengang saat ia melihat sosok yang akan mengeksekusinya terganti. "Sebentar, bukankah Ace..."

__ADS_1


"Orang yang menginginkanmu mati adalah aku," kata Margot sambil tersenyum. "Adalah hal yang wajar bila aku yang menyingkirkan nyawamu."


...----------------...


__ADS_2