DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
72. DURI DI MATA


__ADS_3

...ACE pov...


...----------------...


Aku bangun dengan Fawn yang terlelap nyenyak di sampingku. Tidak biasanya, karena seingatku gadis itu selalu bangun lebih awal dan mandi lebih awal juga. Apa dia sangat kelelahan karena apa yang kami lakukan kemarin? Aku ingat bermain dengannya terlampau lama sampai-sampai dia menendangku ketika aku hendak menyentuhnya lagi.


Gadis ini..., dia terlihat sangat lucu saat terjaga, tapi ketika tidur--dia terlihat seperti malaikat. Aku tau apa yang kupikirkan sekarang terdengar agak klise dan menjijikkan, tapi aku serius. Fawn yang tidur dengan selimut yang jatuh sampai dagu--terlihat seperti sesosok malaikat--atau peri?


Aku tidak tau kata yang tepat untuk mendeskripsikan keindahan dan kepolosan yang terukir di wajah tak berdosanya. Aku hanya merasa--aku sangat beruntung bisa mendapatkan gadis ini di sangkarku.


"Fawnia..., aku menyukaimu." Aku berbisik di depan kelopak matanya yang tertutup. Mungkin karena napasku yang jatuh di wajahnya, wajah Fawn mengernyit kecil.


Aku sangat mencintai gadis ini kupikir aku tidak bisa membaginya pada siapa-siapa setelah ini. Segala perhatiannya, setiap sentuhannya, isi kepalanya, aku mau dia hanya peduli padaku, melihatku dan memikirkanku.


Ting!


Bunyi ponselku dari nakas di samping ranjang membuatku menghela napas panjang. Benar, ketika aku membuka mata--itu berarti sudah saatnya aku bekerja. Hidupku selalu seperti ini. Tidak ada hal baik dan menyenangkan di hidupku selain ketika aku meluangkan waktu bersama Fawn.


Aku meraih ponselku dari atas meja dan membaca pesan masuk dari--oh, Rio?


[Bos Ace, kondisi miss. Lilian memburuk. Dokter bergegas ke kamarnya hari ini.] - Rio.


Keparat!


Aku mengetik balasanku seketika.


'Apa kelanjutannya?'


[Aku belum tau karena mereka belum keluar, tapi sepertinya cukup kritis. Aku akan mengabari informasinya lebih detail setelah ini.] - Rio.


'Baiklah, aku menunggu.'


Selepas membalas pesan Rio, aku hendak bangkit dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Tapi..., ketika aku melirik ke samping, aku melihat sepasang mata rusa itu sudah terbuka. Fawn menatapku dengan kebingungan.


"Jam berapa sekarang?" tanyanya dengan suara lemah.


"Masih jam 7, tidurlah kembali."


"Oh..., sial..." Fawn mengucek matanya sebelum menarik punggungnya untuk bersandar di kepala ranjang. "Apa aku telat bangun?"


"Apa maksudmu telat, ini masih pagi!"


Lagipula, setauku Fawn tidak punya rutinitas yang memaksanya untuk bangun lebih awal. Kalau dia mau tidur sampai jam 12 siang pun, itu bukan masalah baginya.


"Sudah kebiasaan," sahutan Fawn membuatku paham. Benar, dia adalah bodyguard sebelum ini. Dia punya kehidupan keras yang membuatnya harus siap lebih awal daripada bosnya sendiri.


"Kau harus melupakan kebiasaan itu," ujarku sambil mengelus keningnya. Mata rusa Fawn menatap letak jemariku sebentar sebelum berpindah menatapku. "Aku--aku tidak mau melupakan siapa aku."


Aku memaksakan senyumanku kepada Fawn yang nampak takut-takut saat bicara. Aku mengerti trauma yang sudah kutanamkan padanya sangat kuat sampai bicara pun dia terkadang begitu waspada. Fawn masih paranoid terhadap reaksiku dan melihatnya seperti itu cukup menyakitku. Aku tidak tau cara membuatnya agar tidak takut padaku.


"Apa kau mau sarapan bersamaku?" Aku mengganti topik.


"Aku terlalu malas bergerak."


"Kita bisa makan di sini," aku tidak keberatan makan di tempat tidur.

__ADS_1


"Felix akan membunuhmu."


"Apa Felix bosku?"


"Tidak, tapi dia lebih menjengkelkan."


Aku tertawa pada ucapan Fawn dan bagaimana bibirnya mengerucut saat mengeluh tentang Felix. "Tenang saja, dia tidak akan memarahimu." kataku.


Fawn menatapku tidak percaya, tapi tidak juga membantahku sama sekali. Aku menariknya ke dalam rangkulanku dan menghujani wajah polosnya dengan kecupan ringan. Ia menanggapiku dengan ringisan tidak senang, awalnya. Tapi menyerah saat aku kembali ******* bibirnya. Tangan halusnya menyapa leherku, bertopang di sana sementara aku kembali merebahkannya di atas bantal dan membenamkan kepalanya di sana.


"Kupikir kau mau sarapan?" Dia bergumam sambil kesal ketika pagutanku berpindah ke pundaknya.


"Ini sarapan," jawabku dengan senyuman jenaka yang membuat wajahnya semakin merah seperti sakura.


"Kau menyebalkan."


...----------------...


Waktu menunjukkan pukul 09.45 pagi ketika aku sampai di kantor. Cukup terlambat, tapi tidak akan ada yang berani mengeluh atas keterlambatanku. Aku menuju ruang kerjaku dan seperti hari-hari sebelumnya, melanjutkan pekerjaan yang tidak mampu kuselesaikan tempo hari, berkas-berkas baru yang perlu ditandatangani, dan beberapa laporan yang tidak penting.


Kendati rutinitasku seperti cerminan hari kemarin, hari ini terasa lebih menyenangkan karena hubunganku dan Fawn yang berjalan dengan sangat baik. Aku tidak ingat sudah berapa kali aku tersenyum sendiri saat pikiranku membawa gambar wajah kusutnya ketika aku menambah jatahku. Fawn selalu kesal dan pemarah--tapi aku tau sangat baik bahwa, sama sepertiku, dia menikmati permainan yang hanya kami berdua mainkan.


"Seseorang sepertinya melangkah keluar dari rumah dengan kaki kanan terlebih dahulu."


Sebuah suara datang--datang dari seorang pria berkemeja putih kasual dan celana cokelat lembut. Pria itu adalah Jemaine Emery. Baru beberapa waktu lalu aku bertemu adiknya, sekarang aku bertemu dengan dia. Apa ada kemungkinan aku akan bertemu dengan nenek mereka beberapa waktu kedepan?


"Lihat siapa yang datang..." Aku menyambutnya dengan seulas senyuman bosan. "Si bajingan Jem."


"Sungguh sambutan yang hangat, aku tersentuh." Jem menanggapi sambutanku dengan wajah mencibir. Dia menarik bangku putar yang berseberangan dengan meja kerjaku dan duduk di sana. Tangannya berlabuh di atas meja. "Jadi, apa yang membuatmu seperti pria kasmaran di sini?"


"Haruskah kita mengecek CCTV?"


"Apa kau tolol?"


Jem tertawa. "Baiklah, simpan saja itu untuk dirimu sendiri."


"Berisik."


"Bilang saja kau rindu dengan suara berisikku, kan?"


"Itu lebih tidak masuk akal, keparat. Kau sebaiknya diam."


Jem mencebik. "Anyway, aku mendapat kabar dari Margot kalau beberapa hari lalu kau dan dia sarapan pagi bersama Evan dan Angga. Apa yang terjadi?"


Margot selalu cepat bersiul. "Itu hanya ketidaksengajaan."


Dalam kata lain, itu adalah jebakan yang Margot buat agar aku bertemu dengan dua keparat itu.


"Margot pasti melakukan sesuatu, kan?" Jem menebak tepat sasaran.


"Kau sahabatnya, kau lebih tau." kataku. Aku menanggapi Jem sambil meraih telepon dan menghubungi sekretarisku--Jerome yang berada di ruangan berbeda.


"Bawakan segelas kopi untuk Jem sebelum dia mengomel seperti bajingan," aku membuat pesanan ketika panggilan terhubung.


"Baik bos Ace." sahutan Jerome kututup begitu saja tanpa tanggapan.

__ADS_1


"Apa kau tidak bisa berbicara baik tentangku? Seisi Diamond bisa-bisa mengira aku bajingan sungguhan karena julukanmu!"


"Apa aku salah adalah pertanyaan yang lebih penting." kataku santai.


"Kau benar-benar..., sesuatu pasti terjadi padamu sampai kau seaktif ini menghinaku." Jem menepuk meja, menarik perhatianku agar tertuju kepadanya. "Katakan, apa ini ada sangkut-pautnya dengan Fawn?"


"Hah?"


"Benar juga. Sudah lama aku tidak mendengar kabar tentang wanita itu. Apa kalian sudah berdamai? Haruskah aku mempersiapkan baju untuk acara pernikahanmu?"


"Jangan tolol," sahutku. Sialan, bagaimana Jem bisa sangat peka terhadap hal semacam ini?


"Kau sangat berbahagia, aku tau itu hanya dari melihat wajahmu. Hahahahaha, Ace Hunter sedang kasmaran, ini rumor yang bagus untuk disebar."


"Jem, apa kau mau mati?"


"Bercanda, idiot. Aaaaah, rasanya sangat luar biasa. Seorang batu sepertimu sedang jatuh cinta. Dunia pasti terasa seperti surga bagimu." Suara Jem yang penuh keantusiasan mereda menjadi ketenangan. Dia menatapku dalam keheningan untuk beberapa waktu, cara pandang yang ambigu. Tapi, sebelum aku sempat menanyakan apa maksud tatapannya, dia langsung mengibaskan tangan dan kembali berisik seperti biasa.


"Cinta dulunya adalah kelemahan di matamu, bukan? Karena cintamu kepada Margot, kau jadi terperangkap di tempat ini. Sekarang, kau sudah mempunyai cinta yang baru..., apa kau tidak takut sama sekali?"


"Apa yang harus kutakuti, tepatnya?"


"Kehilangan cintamu itu." Jem menyahutku santai. "Evan Caspian, Anggara Rashid..., mereka berdua adalah musuhmu. Kau sedang berperang dingin dengan mereka berdua. Sebuah peperangan, baik itu secara terbuka atau secara diam-diam, akan selalu mengancam orang-orang yang kita sayang."


Aku benci arah ucapan Jem, tapi aku tau dia benar.


"Apa maksudmu mengingatkan ini padaku?" Aku memiringkan kepala, menatap kepada pria yang tidak akan kulupakan, merupakan seorang musuh juga.


"Agar kau tidak lupa saja, hahaha. Apalagi memangnya? Dunia ini sangat kejam. Kau harus menyingkirkan musuhmu sebelum kau disingkirkan."


"Tidak ada yang bisa menyingkirkanku." Jem ini--apa dia duplikat Margot? Mengapa dia sangat senang mengingatkanku untuk menyingkirkan Evan dan Anggara? Sialan. Apa dia pikir aku tidak tau tujuannya? Memanfaatkanku agar dia bisa menang melawan kehebatan Evan dan Anggara, sialan, aku tidak akan membiarkanmu merasa unggul dengan memanipulasiku.


"Aku selalu mendukungmu, Ace."


Tidak.


Aku sangat tau kau tidak bermaksud begitu.


...----------------...


...NORMAL pov...


Sementara Ace kembali melanjutkan pekerjaannya, Jem yang baru berpamitan beberapa menit lalu melenggang menuju elevator bersama dua bodyguard yang tadi menunggunya di depan ruang kerja Ace.


Ia mengeluarkan ponselnya dan segera saja menghubungi seseorang.


"Rose," gumamnya di depan elevator. "Aku punya tugas untukmu."


"Ya, bos Jem. Aku mendengarkan?"


"Carikan aku informasi mendetail mengenai keluarga Fawnia Alder," Jem memberikan perintah tersebut sambil menatap pantulannya di kaca pintu.


Fawnia adalah sebuah duri di matanya, Jem sudah sangat tau itu. Jem hanya tidak menyangka duri itu akan mengakar dalam dan mengganggunya. Ia perlu menyingkirkan gadis itu seketika. Karena--hanya dengan tidak adanya Fawn-lah, Ace Hunter bisa fokus kepada balas dendamnya.


"Rasa sakit adalah motivasi paling besar, bukan? Aku akan memberikan itu padamu, Ace."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2