DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
84. KELEMAHAN ARCELIO HUNTER


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


"Kau datang," kata Jem saat melihat wajah menjengkelkan Evan Caspian muncul di depan ruang inapnya.


Kendati disambut dengan sangat tidak hangat oleh Jem, Evan memasang ekspresi santai. Dia terus masuk dan menaruh satu keranjang buah yang dibelinya di jalan ke atas meja. Mata Evan bergulir sebentar kepada ruang inap Jem yang beraroma tajam seperti antiseptik dan citrus. Ia melirik kiri dan kanan bosan sebelum menghampiri satu bangku yang terletak di dekat tempat tidur Jem.


"Aku dengar Jemaine Emery terluka, tentu saja aku harus berkunjung." Evan tersenyum tipis. "Kau kelihatan jelek, by the way."


"Terima kasih atas informasinya." Jem menyamankan posisi berbaringnya dengan napas yang menderu kesakitan. Ia meringis sebentar dan seketika mengangkat tangan saat Evan hendak menyalurkan bantuan.


"Tidak perlu baik hati, Evan."


"Kau tidak perlu sungkan, idiot." Evan menyilangkan kaki. "Kau beruntung masih hidup hari ini. Aku terkejut Ace tidak langsung membunuhmu."


"Pikirkan urusanmu sendiri."


"Aku memikirkan urusanku sendiri, makanya aku datang kesini." ucap Evan, matanya menyorot wajah Jem yang sekarang ditempeli perban dan plester di sana-sini. Memar yang menghitam terlihat jelas di pipinya yang tak tertutupi perban. Itu pasti sangat menyakitkan. "Aku sudah merasa cukup dengan Ace, makanya aku kemari."


"Tsk. Apa kau tidak belajar dari situasiku?"


"Satu-satunya yang kupelajari adalah agar tidak bertindak seperti dirimu, bodoh."


"Berisik!"


"Jadi, katakan padaku..., apa yang kau lakukan sampai-sampai Ace sekesal ini dan menghabisimu?"


"Kenapa kau tertarik?" Jem menelisik ekspresi Evan dan kendati perih terasa di bibirnya, ia tertawa kecil. "Evan, oh, Evan..., kau benar-benar pria bajingan."


"Apa ada yang salah dari sedikit gosip?"


"Salah kalau kau pikir kau bisa memanfaatkanku untuk menjahili Ace. Sialan!" Jem melirik Evan dengan sebelah matanya, "Kau tidak ada bedanya dengan Ace di mataku, Evan. Kau sama buruknya dengan dia."


"Well, kau mungkin ada benarnya. Aku dan Ace cukup buruk dan cukup unggul dari kau dan Anggara, itu membuat kami menjadi ancaman untuk posisimu, bukan?" Evan tidak salah. Tapi mendengar ucapannya sangat menjengkelkan bagi Jem.


"Jujur saja, aku tidak punya masalah serius kepada Ace. Tapi, bagaimana cara mengatakannya ya..., mempunyai empat orang sebagai pemimpin itu terdengar agak--ketinggalan jaman, bukan? Jika kita terus bersaing di belakang, berusaha saling menjatuhkan, kenapa tidak lakukan di depan saja sekalian? Aku berusaha melakukan itu sekarang. Aku berusaha menyingkirkan Ace." Evan bicara panjang lebar.


"..."


"Makanya, dari itu aku mau kau membantuku. Kau juga sudah separah ini, memihaknya tidak akan membantumu sama sekali. Bagaimana kalau menggunakanku untuk balas dendam kepadanya?"


"Hahahahaha...." Jem tertawa sampai bekas pukulan Ace di tubuhnya kembali sakit. "Gila, ya? Kalau aku mau bekerja sama, aku sudah memihakmu sejak lama, Evan. Masalahnya..., aku tidak memilihmu sama sekali. Kau pasti tau jawabannya sejak awal, bukan? Karena aku tidak mempercayai kau akan menang melawan Ace."


"Kau masih bicara tinggi tentang Ace setelah babak belur begini?"


"Aku tidak memuji, tapi dia memang lebih unggul darimu." Jem meredakan tawanya dan menghela napas. "Kau tidak akan bisa menang darinya Evan, Ace akan datang padamu. Memburumu."


"Aku tau dia akan mendatangiku, tapi untuk mengalahkanku, itu asumsi yang terlalu jauh."

__ADS_1


"Kau salah memilih lawan, kau seharusnya tidak membunuh orang tua Ace, Evan."


"Aku tidak tau apa yang kau ucapkan," Evan menghela napas bosan. "Bagaimanapun, aku tidak membunuh orang tua Ace."


"Masih menyangkalnya?"


"Aku berbicara jujur." Pria bersurai keriting itu tersenyum masam. "Aku akan pergi sekarang, sangat mengecewakan karena kau sudah menolak ajakan kerja samaku."


"Walaupun aku serakah, Van. Aku masih memikirkan keluargaku, aku tidak mau mereka habis di tangan Ace hanya karena dendamku."


"Itu mulia untukmu." Evan berdiri dari bangkunya dan mengibas jas hitam yang ia kenakan ke belakang. "Semoga cepat sembuh, Jem."


"Ah..., benar juga...," tepat sebelum Evan memutar langkahnya menuju pintu, Jem kembali bersuara. Dalam ringkih tubuhnya dan berat kepalanya, ia memaksakan diri mengangkat badannya untuk duduk.


"Anggap ini ucapan terima kasihku kepada bingkisanmu," ucap Jem.


"Sebenarnya, kalau kau cukup pandai..., kelemahan Ace sudah berada di genggamanmu."


"Huh?"


"Berterima kasih lah padaku."


...----------------...


Kelemahan Ace?


"Tunggu sebentar, nona Indira. Aku akan mengambilkanmu jus ah---" Fawn memekik ketika selesai menutup pintu, tubuhnya langsung menabrak Evan Caspian yang berada dua langkah di belakangnya.


"Tuan Evaan?" Fawn memprotes tanpa bisa menahan intonasinya.


"Kau yang menabrakku, Fawn." Evan memberikan peringatan kepada bodyguard istrinya itu. "Kau seharusnya berhati-hati."


"Ma-maafkan aku, tuan Evan. Kami sangat sibuk malam ini." Fawn menyengir paksa. Hari ini, dia sudah bekerja seharian ke tahap kakinya melangkah otomatis sebelum kepalanya memikirkan akan melangkah ke mana. Ia seperti robot, robot!


"Apa yang kalian sibukkan, memangnya?"


"Oh, kami mempersiapkan pesta untuk ulang tahun tuan Callum."


"Aku pikir Anggara bertanggung jawab penuh atas persiapannya?"


"Ini persiapan yang berbeda, tuan Evan. Tuan Evan akan tau setelah bicara dengan nona Indi. Oh, kalau begitu..., aku pamit ke belakang du--"


"Tunggu, Fawn..." Evan tiba-tiba teringat sesuatu. "Bukankah kau adalah bodyguard yang Anggara pilih untuk menggantikan Indira di hari pernikahan kami?"


"..." Sialan!


Fawn memaksakan senyuman lebar lagi. "Benar, tuan Evan."


"Kupikir kau sudah..." mati. "Apa yang terjadi?"

__ADS_1


"Ah--ahahahaha, aku melarikan..., diri? Y-ya, benar. Aku melarikan diri tuan Evan." Fawn tidak tau harus bagaimana berbohong di depan pria ini. Evan Caspian adalah sosok yang tidak ia kenali sama sekali jati dirinya. Dia misterius dan menakutkan seperti ular.


"Melarikan diri?" alis Evan terangkat sebelah. "Itu menakjubkan. Bukankah orang yang menculikmu adalah orang-orang Ace?"


"..." Sialan ini tau, dan dia sengaja mengirimku ke kandang singa itu! Fawn ingin memaki Evan di depan mukanya langsung. Keparat bajingan. Dia sudah dijebak dan dikirim untuk mati oleh pria biadab ini!


"Aku tidak tau mereka adalah orang-orang tuan Ace, apa maksudmu?" Benar, satu-satunya solusi sekarang adalah berpura-pura bodoh. "Apa maksud tuan Evan, tuan Ace lah yang hendak menculikku waktu itu? Apa nona Indira tau?"


"Tidak, tidak." Evan seketika mengibaskan tangan. "Aku hanya menebak. Tidak ada yang seperti itu, Fawn. Kau sebaiknya melupakan apa yang kukatakan."


Fawn menatap punggung Evan yang berlalu dari hadapannya dengan delikan tajam. Si keparat itu benar-benar mengerikan. Dia sama buruknya dengan seorang Jemaine Emery.


"Jika bukan karena jasa bos Anggara, aku sudah pasti tidak akan berada di sini." Fawn bergumam kepada dirinya sendiri. Menelan kekesalan yang memuncak lantaran fakta yang baru ia ketahui.


Situasi ini benar-benar buruk, semakin buruk dengan segala pengetahuannya sekarang. Dulu, dengan bodo amat terhadap situasi yang terjadi, Fawn merasa baik-baik saja atas segala kondisi yang ia hadapi. Tapi sekarang, setelah ia memahami Ace, mengenal Ace..., melihat sisi rapuh dan menjijikkan dunia kelam ini..., sulit bagi Fawn menutup matanya. Sulit untuk berpura-pura bodoh dengan segala hal menjijikkan yang terjadi di depan matanya.


Evan memasuki kamar Indira dan melihat bergulung-gulung kain terurai di lantai.


"Apa yang terjadi di sini?" tanyanya.


"Aku sedang memilih bahan untuk dress-ku nanti. Bagaimanapun, ini pertama kalinya aku meninggalkan mansion Caspian setelah terkurung dua bulanan di sini."


"Apa ini perlu?" Evan tidak mengerti wanita, serius.


"Ini perlu, Evan. Aku adalah istrimu, aku harus tampil lebih cantik dan lebih menawan daripada wanita lain. Juga, itu adalah acara ulang tahun ayahku."


"Hmmm, jika itu maumu. Aku tidak akan keberatan." Evan melenggang menuju tempat tidur Indira dan memperhatikan istrinya yang sekarang berdiri di depan cermin, memantau pantulan dirinya yang sekarang digulung oleh kain berwarna merah muda. Seorang tailor pria dari ibu kota membantunya.


"Kau sangat sibuk belakangan ini, aku jadi sulit menemuimu." Indira kembali bicara.


"Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?"


"Tentu saja ada..." Indira menoleh ke arah Evan sebentar dan menyunggingkan senyuman. "Apa kau tau apa yan terjadi pada Anggara belakangan?"


"Ya?"


"Aku hanya penasaran..."


"Apa yang terjadi padanya?" tanya Evan.


"Tidak ada, kurasa dia semakin mistis saja."


Jujur saja, Evan tidak terlalu memperhatikan Anggara. Terlebih lagi belakangan ini, ketika bisnisnya sedang kacau. Satu-satunya hal yang menjadi fokus Evan adalah pekerjaan dan pekerjaan, ia tidak ingat sudah melakukan pertemuan dengan Anggara. Tidak ingat kalau pria itu pernah menghubunginya juga.


Benar, dimana Anggara sekarang?


Evan bertanya-tanya sambil menatap keluar jendela, kepada langit malam yang menghitam di luar sana.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2