DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
101. UNDANGAN


__ADS_3

...FAWN pov...


...----------------...


Seperti yang kuduga, kedatanganku kemari sudah diantisipasi oleh para penghuni rumah ini. Tidak hanya sebagai 'pengawal keluarga Caspian', tapi sebagai Fawnia. Aku. Orang yang pernah tinggal di rumah ini dan menciptakan kegaduhan di sana sini. Aku mendongak kepada balkon kamar Ace, mengingat tempat itu ketika aku melempar pakaiannya keluar dari jendela, bantal, selimut dan segala peralatan kerjanya.


Aku tidak tau apa yang merasukiku saat itu. Aku pasti sangat marah dan pasti--sangat tolol, untung saja Ace tidak memutuskan untuk membunuhku hari itu. Jika tidak, aku tidak akan punya kesempatan untuk mengenang masa-masa suram itu dengan senyuman.


Ah, sialan. Aku tersenyum ya?


"Lama tidak bertemu denganmu, Fawn." Felix menyapaku di pintu depan. Pria tua itu berdiri dengan gestur tersopannya, tapi matanya--dia masih menunjukkan ketidak-senangan. Pria ini benar-benar buruk dalam menyembunyikan suasana hatinya. Oh, atau dia memang sengaja memamerkan padaku kalau dia tidak menyukai keberadaanku?


Terserah.


Aku sudah cukup terbiasa atas keberadaannya dan tingkah antiknya.


"Tuan Ace menunggumu di ruang studinya." kata Felix. "Perlukah aku mengantarmu ke sana atau kau bisa pergi sendiri?"


"Aku akan sangat senang bila kau mengantarku, Felix." Aku melebarkan senyumanku dengan menjengkelkan.


"Tcih." Felix memutar mata. "Kau sedikit kurus, Fawn. Apa keluarga Caspian tidak memberikanmu makan?"


Sementara Felix berbicara, aku mengikutinya dari belakang. Mataku sesekali menatap ke sepenjuru ruangan. Kepada tempat yang sudah lama tidak kujumpai. Tempat yang menyimpan banyak sekali memori.


"Terakhir kali kuingat, apa yang kumakan bukan urusanmu sama sekali, Felix."


"Hanya berkomentar sedikit. Aku tidak peduli."


"Huh, kalau begitu kau sebaiknya tutup mulut."


Aku melewati Felix dan menuju pintu kayu yang tertutup itu. Carcel berdiri di depan pintu. Senyum bodyguard Ace itu merekah samar sebelum memudar datar. "Selamat datang, nona Fawn."


Oh, sopannya. Seingatku Carcel tidak seformal ini padaku. Tidak dulu.


"Bos Ace menunggumu di dalam." Carcel berujar sebentar sebelum mengetuk pintu dua kali. "Tuan Ace, nona Fawn sudah datang."


"Biarkan dia masuk." suara Ace menyapa telingaku. Memicu jantungku berdegup laju. Sialan, padahal ini bukan pertama kalinya aku berurusan dengan Ace. Aku juga sudah bertemu dengannya di Leviathan waktu itu, maksudku..., yah, itu sudah lewat satu minggu. Tapi, kenapa? Kenapa jantungku belum terbiasa? Mengapa jari-jemariku masih mendingin beku dan bergetar setiap kali aku akan berhadap-hadapan dengannya?


Apa traumaku belum hilang juga?


Apa aku masih takut kepada Ace?


Ketika Carcel membukakan pintu untukku, aku menelan ludah dan menggigit lidah. Aku menahan kegugupanku dengan berusaha tampil biasa. Memantapkan langkah dan tekadku, aku pun masuk ke dalam ruangan yang lagi-lagi, familiar di mataku.


Jarum jam di dinding ruangan itu berdentang cukup nyaring di dalam kesunyian. Beradu kecepatan dengan jantung yang sekarang menggedor-gedor tulang rusukku.


Ace Hunter berdiri di antara sofa dan meja. Tangan menggenggam segelas champagne. Seperti pahatan sempurna sang pencipta, dia berdiri di sana, bermandikan cahaya jingga matahari senja dan bayangan tirai jendela. Senyumnya merekah tipis, menyapaku dengan kesopanan dan keramahan yang jika aku menemukannya berekspresi seperti itu 6 bulan lalu, aku akan berpikir kalau pria itu sedang dirasuk hantu.


Sial, bagaimana bisa Ace Hunter yang terkenal sedingin es batu, menunjukkan ekspresi sehangat mentari pagi?


Aku di bawah tatapannya--meleleh terpana.


Ace sudah menang, sial, dia sudah menang.


Ketampanannya adalah kecurangan.


"Selamat datang." Suaranya menyapa telingaku seperti bisikan rendah, lututku lemah.


"Ini ketiga kalinya aku mendapatkan sambutan itu." Kataku, aku mendekati sofa. Berniat duduk karena jika aku berdiri lebih lama, aku takut aku akan meleleh ke lantai seperti es krim di musim panas.


"Bagaimana perjalananmu kemari?" Ace mempersilakanku duduk sebelum dia sendiri duduk di sofa tunggal yang memiliki warna berbeda dari sofa lainnya. Dia duduk di sofanya seperti raja, aku ingin membungkuk di kakinya. Tidak, bercanda.


Kenapa imajinasiku berlarian kemana-mana?

__ADS_1


"Agak tidak menyenangkan, kurasa." Aku menimpali setelah duduk di sofa. "Tempat ini cukup mengerikan bagiku."


"Aah," Ace tampaknya sudah menduga jawabanku. Dia mengangguk pelan dengan kekecewaan samar. "Jadi, apa yang membawamu kemari?"


"Tuan Evan," kataku lalu menyerahkan sebuah undangan ke atas meja. "Dia memintaku mengantar undangan ini."


"Apa mereka kehabisan staff sampai harus menyuruhmu melakukan pekerjaan tidak penting ini?"


"Yaah, aku juga bertanya-tanya tentang hal yang sama."


"Apa kau sudah makan?"


"Apa kau mau membuatkanku makanan?"


Ace tersenyum lagi. "Selama kau tidak melarikan diri."


"Aku bisa menetap sampai makan malam. Tapi hanya itu." Jika aku sudah pergi sejauh ini, ada baiknya aku menetap di sini sampai beberapa jam. Aku sudah lama tidak kemari dan aku merindukan tempat ini.


"Aku senang mendengarnya."


"Jadi..." Aku mengusap lututku. Sialan, kenapa aku masih gugup?


"Ba-bagaimana kabarmu?" Aku mencoba berbasa-basi dan demi Tuhan, itu sangat basi. Aku bisa melihat Ace menahan kekehan lepas dari bibirnya. Apa dia menganggapku lelucon sekarang?


Aku tidak pandai mencairkan suasana, tidak ketika Ace adalah lawan bicaraku. Jantungku yang berpacu laju membuat otakku kosong-melompong. Aku hanya memikirkan cara agar tidak meledak di depannya, tersipu dan berteriak seperti orang gila.


"Aku baik, Fawnia." Ace berucap sambil menyilang kakinya. Dia terlihat menikmati konversasi ini, tidak, dia menikmati menyiksaku.


"Uh, maafkan aku sudah tidak bisa menemuimu."


"Oh, mengenai itu. Apa terjadi sesuatu? Aku mencemaskanmu."


Mata Ace bertemu mataku. Mengintimidasiku dengan pesona netra kelamnya yang seperti pusaran galaxy. Matanya menyiratkan ketenangan, kepedulian dan bercampur dengan sedikit kehangatan. Aku yang berada di bawah tatapannya merasa teduh binar matanya membuat bibirku bergetar, sulit bersuara.


"Ya?"


"Aku..., uh, begini..., aku pikir ada baiknya bila kita tidak bertemu dulu, begitu?" Kenapa bicara menjadi tantangan tersulitku sekarang?


"Aku masih tidak begitu paham? Apa kejadian malam itu membuatmu..., cemburu mungkin?"


"Aku? A-aku?" Apa Ace pikir aku cemburu? Padanya dan nona Indira? Aku dari semua orang?


Hahahahaha.


Hahaha.


Haha.


Ha.


Tentu saja!


Siapa yang tidak akan marah bila pria yang dia sukai berciuman dengan orang lain? Dan oke, aku memang menyukai Ace. Itu bukan salahku, salahkan Ace karena sudah terlahir seperti bangsawan tampan. Dia mengubah dosanya menjadi pesona, dan aku tidak akan munafik, aku adalah salah satu korban dari pesonanya.


Aku, seseorang yang seharusnya membencinya seumur hidup, malah berdiri di sini dengan pipi memerah? Ya, aku sudah pasti ditakhlukkan oleh pria sialan ini!


Tapi aku tidak akan mengaku! Tidak, aku masih punya gengsi dan harga diri.


"Aku tidak cemburu sama sekali," tukasku. "Kau boleh mencium siapa pun. Toh, kau dan aku tidak punya kaitan apa pun."


"Kau yakin?" Ace menyeringai. Sialan, dia sangat tampan dan itu keterlaluan!


"Y-ya. Aku tidak punya masalah sama sekali." Aku menyilangkan lengan di dada, mempertahankan diriku agar tidak luluh di bawah tatapannya yang panas seperti api.

__ADS_1


"Sayang sekali, padahal aku berharap kau akan cemburu padaku." Ace menopang sebelah tangannya di bahu sofa, bersikap sangat santai di sana.


"Berhenti berimajinasi yang tidak-tidak."


"Yaaa, baiklah."


"Uh, lupakan tentangku, apa kau tidak mau mengecek undangannya?" Aku berupaya mengganti topik. Aku tidak mau terus digoda oleh pria sialan ini. Karena jika aku tergoda, aku mungkin tidak akan pulang lagi. Ya, dia sangat menakutkan. Dia seperti iblis yang menggoda hawa agar terperangkap dalam dosa.


"Ini..." eskpresi Ace berubah bosan ketika dia menatap ke arah undangan yang tadi kuletakkan di atas meja. "Aku sudah tau apa itu sebelum kau mengantarnya."


"Oh?"


"Jeremy mengabariku lebih awal."


"Jeremy? Ah, adik Jem." aku mengangguk-angguk ringan. "Jadi, Ace..., apa yang akan kau lakukan?"


"Memberikannya selamat?"


"Kau tau bukan itu yang kumaksudkan."


Aku menghela napas. Tidak mungkin Ace tidak tau menyangkut keputusan Evan, kan?


"Kau sepertinya mengetahui sesuatu yang di luar proporsimu, Fawnia." Ace menegurku dengan sebelah alisnya yang terangkat. Sialan.


"Yah, aku mendapat sedikit bocoran."


"Evan bukan pria yang baik hati kepada bodyguard istrinya, Anggara terlalu penakut untuk buka bicara, jadi..., apa kau bertemu Jem?"


Lihat otak pintar itu.


"Dia datang dan bertemu tuan Evan," tidak ada gunanya berbohong, kurasa.


"Apa dia melakukan sesuatu padamu?"


"Eh? Ti-tidak." Jika ada sesuatu, itu adalah sebaliknya. Aku sudah mendorong Jem dengan kasar ke tembok, bersikap kurang ajar dan mengecamnya dengan ancaman.


"Apa dia mengatakan sesuatu?"


"Huh..., ya..., beberapa hal." Aku tau tentang tuan Evan darinya, jadi kami memang berbicara.


"Kau seharusnya tidak berbicara dengannya." Ace menunjukkan ketidak-senangan dalam suaranya.


"Sekedar informasi tambahan, Jem yang mengejarku dan mengajakku bicara."


"Fawnia,"


"Mm?"


"Apa pun yang Jem katakan padamu, aku harap kau tidak memikirkannya sama sekali." intonasi Ace berubah menjadi lebih serius.


"Haruskah aku..., mengabaikannya?"


Apakah aku bisa tidak membuat pilihanku sama sekali?


"Ya. Apa pun yang terjadi di antara kami berempat, akan hanya terjadi di antara kami. Kau..., kau tidak perlu berpikir." Ace tersenyum samar. "Oh, lagipula berpikir bukan spesialisasimu."


"Berhenti mengataiku tolol."


"Kau cukup peka."


"Kau menjengkelkan."


Ace tertawa, dan itu membuatku merasa lega. Aku benar-benar senang sudah bisa melihatnya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2