
...INDIRA pov...
...----------------...
Aku sedang berdiri di depan bingkai jendela, mata menatap kepada pepohonan rimbun yang berjejer jauh di luar pagar. Warna hijaunya yang cerah mengental hitam seiring jauh pandanganku menyusup ke dalam bayang-bayang. Angin bertiup halus, membuat rerimbunan hijau itu seperti melambaikan dedaunannya padaku. Pemandangan ini--pemandangan hutan adalah sesuatu yang sudah menemaniku sejak aku dikurung di rumah ini. Aku masih seorang tawanan dengan sematan istri Evan Caspian.
Hidupku mungkin akan berjalan lancar bila aku adalah orang yang senang bersantai di rumah dan benci bersosialisasi dengan umat manusia, sayangnya--aku bukan orang seperti itu.
Aku menyukai bertemu dan melakukan obrolan ringan dengan teman-temanku. Aku suka melihat dunia dan apa yang sedang terjadi di dalamnya. Aku mencintai aroma roti panggang yang kuhirup saat melenggang santai di keramaian. Aku menyukai musik pop yang terdengar dari radio toko, aku suka segala hal-hal kecil yang kualami atas kehendakku sendiri.
Aku tidak suka ketika duniaku hanya sebatas istana Evan Caspian yang bahkan di beberapa area pun--masih terlarang bagiku.
Tempat ini menjengkelkan dan demi Tuhan, orang-orang di dalamnya tidak membantu kejengkelanku menyusut sama sekali.
Seperti hari ini lagi...
"Nona Indira, bos Evan memanggilmu ke ruang kerjanya." Aidan membuat laporan dari depan pintu.
"Aku akan datang sebentar lagi," kataku sebelum menghela napas panjang-panjang.
Aku sudah tau sedikitnya topik yang akan Evan ungkit di pertemuan ini. Terima kasih kepada Ace, aku tidak merasa gugup sama sekali. Aku sudah mempersiapkan jawaban yang membuatku akan terselamatkan.
Baiklah, mari bermain peran!
...----------------...
Sebuah alat penyadap yang familiar di mataku terletak di atas meja kerja Evan. Ketika aku datang, hal yang menarik perhatianku adalah alat penyadap itu. Benar-benar tanpa basa-basi, apa Evan berencana mengonfrontasiku langsung tanpa niat menawarkanku segelas kopi?
"Selamat datang, Indira." Evan menatapku dengan intens sampai aku duduk di hadapannya. Aku--dengan tidak tau malu melebarkan cengiran polosku.
"Kenapa tiba-tiba memanggilku?"
Suami macam apa yang bertemu istrinya melalui perantara? Evan, kau benar-benar mengecewakanku. Bahkan bila ini hanya hubungan bisnis, tidak bisakah dia menjadi rasional sedikit? Aku adalah istrinya, tapi dia memperlakukanku lebih buruk daripada pekerjanya.
"Aku pikir kau lupa aku hidup di sini..."
"Hanya karena aku sibuk, bukan berarti aku melupakanmu." Evan tidak menyangkal kalau dia sudah menelantarkan istrinya sendiri. Setidaknya dia tau diri, keparat.
"Aku mencemaskanmu, Indira. Sangat sangat mencemaskanmu."
"Begitukah? Terima kasih."
"Aku mencemaskanmu tapi sepertinya kau tidak mengerti mengapa aku berusaha melindungimu di sini."
"Evan, katakan apa yang mau kau katakan. Jangan berbelit-belit."
"Aku hanya ingin bicara baik-baik, Indi. Kau mengerti maksud ucapanku adalah ini, bukan? Kau pasti familiar dengan alat ini!" Evan mendorong alat penyadap tersebut ke hadapanku. Jika aku bukan istrinya, kupikir dia mungkin akan melempar benda itu ke wajahku mengingat bagaimana keras ekspresinya sekarang.
"Ini..., aku tau." aku menyilangkan lengan di dada, bertingkah seperti makhluk yang tidak sadar diri sudah melakukan kesalahan. Karena memang itu tujuanku sekarang. "Lalu apa masalahnya?"
Evan tercengang dan aku menatapnya dengan dagu terangkat menantang. "Aku..., aku melakukan ini karena kau bertingkah mencurigakan belakangan ini."
"Aku?"
"Kau pikir apa alasanku memasang alat penyadap di ruang kerjamu, hah?" sudah pasti dia mengira aku mengincar informasi tentang masalah pribadinya. Tentu saja, itu adalah kebenaran. Tapi aku akan memelintir asumsinya menjadi sesuatu yang kekanakan dan menjijikkan.
"Indira, apa maksudmu bermain-main dengan benda ini? Apa kau tau betapa pentingnya hal yang kulakukan di ruang kerjaku?"
"Karena tempat ini sangat penting, makanya aku berusaha menyadapnya."
__ADS_1
Evan menggebrak meja.
"Apa yang tidak bisa kau tanyakan padaku sampai-sampai kau melakukan sesuatu kelewat batas seperti ini?"
"Bukankah sudah jelas...?" Aku balas memukul meja. Hanya saja, tidak seperti aku memiliki tenaga sebesar tenaga Evan, pukulanku terdengar seperti gertakan ringan.
"Aku..., aku..., aku marah padamu!!!" Mengatakan itu, aku spontan berdiri sampai bangku yang kududuki terdorong jauh ke belakang. Aku menopang kedua tanganku di meja sementara mataku menatap sepasang bola mata Evan yang terpana.
"Meskipun kita menikah atas nama bisnis, kau seharusnya tidak melibatkan wanita lain dalam hubungan kita!!!"
"Siapa wanita lain?"
"Apa kau pikir aku bodoh? Kau dan teman musisimu itu menjadi berita besar dimana-mana. Aku yang terkurung di sini sampai tau betapa serasinya kalian sampai-sampai orang mempertanyakan apakah aku orang yang tepat untukmu!!!"
"Aku tidak--" Evan kehilangan kata-kata. Tentu saja, tudingan ini tidak akan muncul di benaknya karena dia tidak tau perasaan wanita. Dia tidak tau sama sekali kalau tindakannya akan melukaiku. Juga, dia tidak akan tau kalau Ace yang memintaku memakai alasan ini untuk menyembunyikan niatan awalku.
"Evan, apa aku menikah denganmu hanya sebagai alat barter?"
"Mana mungkin aku..." Evan menarik napasnya dalam-dalam. Dia sepertinya sangat syok atas tudinganku, sampai-sampai dia perlu waktu untuk memproses ucapanku di pikirannya.
"Kalian semua, keluar!" Evan memerintahkan para bodyguard dan asistennya agar menunggu di luar. Kenapa? Apa dia malu sudah menjadi suami tidak becus?
"Indira, tudinganmu barusan sangat keterlaluan. Apa kau pikir aku akan melakukan itu kepada adik sahabatku sendiri?"
"Itu dia masalahnya Evan! Kau tidak melihatku sebagai aku. Kau melihatku sebagai objek yang bisa kau simpan ketika kau tidak butuh lagi. Sekarang pun, aku adalah adik Anggara di matamu. Aku bukan siapa-siapa. Aku paham kau tidak mencintaiku dan aku sudah berhenti mengharapkan cintamu juga. Tapi..."
Aku berhenti bicara dan mengatur napasku yang menggebu-gebu karena emosi. Sialan, ini seharusnya hanya akting, tapi mengapa aku terbawa perasaanku sendiri?
"Setidaknya kau melihatku sebagai Indira, Evan. Aku hidup dan punya kepribadianku sendiri. Aku..., aku bukan sekedar adik Anggara, bukan sekedar istri yang kau nikahi atas nama bisnis..., aku hidup dan bernapas di sudut lain bangunan ini sementara kau mempermalukanku dengan menggandeng wanita lain di depan publik!"
"Sebelumnya, aku minta maaf karena sudah membuatmu berpikir aku tidak melihatmu sebagai dirimu, Indira. Tapi..., jika itu menyangkut Norah, bukankah kita sudah membicarakan ini?"
"Bicara? Lihat..., kau membelanya, kan!" aku menggelengkan kepala tak habis pikir. "Yang bicara saat itu hanya kau, Evan. Hanya kau yang berpikir di dalam hubungan ini, kau bahkan tidak mempedulikan apa yang kupikirkan sama sekali."
"Apa kau pikir aku tidak akan terluka ketika orang-orang di lingkar sosialku menghubungiku, menanyakan siapa gadis yang bersama suamiku malam itu? Apa kau pikir aku tidak merasa terhina ketika sepupuku mengirimiku foto tentang potongan artikel yang membahas dirimu dan sahabat baikmu itu? Mengatakan kalian lebih serasi karena kalian sama-sama memiliki karir yang gemilang sementara Indira hanya menang bermodalkan wajah saja?"
"Indira..."
"Aku tau kau tidak berpikir sama sekali, Evan." suaraku melemah ketika aku sudah selesai memuntahkan uneg-unegku. Mataku sedikit berair ketika aku menatap Evan. Sialan, ini memalukan dan menyakitkan. "Kau tau apa yang kupikirkan belakangan ini, aku..., aku tau kalau kau tidak memikirkan perasaanku sama sekali. Bukan karena kau bodoh, tapi hanya karena kau tidak peduli. Aku hanya satu dari sekian medali yang sudah kau menangkan. Itu saja, kan?"
"Indira, aku mengerti kau kesepian dan semua ini baru bagimu. Segala pemikiran ini, semua yang kau katakan datang hanya karena kau belum terbiasa dengan pernikahan. Kau perlu beradaptasi dengan hidupku, Indi...,"
"KAU TIDAK MENDENGARKANKU SAMA SEKALI!!!" benar-benar, apa aku membuang seluruh energiku berbicara hanya untuk mendengar tanggapan itu?
"Evan," ucapku tegas. "Kalau beradaptasi menjadi istrimu berarti terbiasa dengan segala perlakuan dinginmu, maka aku lebih baik tidak beradaptasi sama sekali."
"Perhatikan ucapanmu, Indira."
"Kenapa? Tidak ada yang mendengarkan di sini."
"Aku mendengarkanmu dan aku sangat tidak menyukai ucapanmu barusan." Evan menanggapiku dengan ketenangan yang menakutkan. Dia melewati mejanya dan menghampiriku yang masih berdiri keki. "Aku mendengar setiap keluhanmu dan aku tau apa yang kau rasakan tidak salah sama sekali, tapi ada batas yang tidak seharusnya kau langkahi."
"Batas lagi? Apa sudah muak dengan segala batas yang kau ciptakan, Evan. Aku juga sudah muak dikurung di sini seperti propertimu."
"Indira...," sesuatu yang sama sekali tidak kuduga adalah Evan yang tiba-tiba menggapai lenganku erat dan menyentakku ke arahnya. Seketika saja, aku terdorong ke depan dan menabrak dadanya. Mataku dan matanya yang hijau kelabu bertemu. Seperti menatap ke kedalaman hutan yang mengerikan.
"Kalau aku bilang kau memang propertiku, apa itu bisa membuatmu berhenti merengek di hadapanku?"
"Katakan itu dan aku akan menceraikanmu saat ini juga." aku adalah Indira Rashid, aku tidak akan menerima penghinaan satu pun dari siapa pun.
__ADS_1
"Aku terharu melihatmu berpikir kau punya hak dalam hubungan ini, Indira." Evan menyeringai dan demi Tuhan, seringainya membuat tulang rusukku menegang.
Surai ikal Evan yang jatuh halus di dahi pucatnya sering membuatku gemas kepada Evan, tapi sekarang--tidak ada kesan yang menggemaskan darinya, aku hanya merasakan intimidasi. Seperti berhadap-hadapan dengan iblis.
"Aku memaafkan kelancanganmu hari ini, tapi bila kau mengulangi tindakan seperti ini sekali lagi di masa depan, aku akan merantaimu di tempat tidurku sampai kau tau sejauh mana aku mampu membatasi setiap pergerakanmu."
"..." Apakah ini Evan yang sama yang pernah kutemui? Bibirku terbuka, tapi aku tidak mampu mengatakan apa-apa.
"Oh, mengenai Ace..., apa kau sudah selesai mengadu tentang file yang kau temukan di mejaku padanya?"
"Mengadu apa?" Jangan kalah Indira. Tetaplah berpura-pura tolol.
"Kau tau apa yang kukatakan. Kau melihatnya, kan? Atau Joseph melihatnya dan mengadukan hal itu padamu..."
Ugh, dia tajam.
"Baiklah, baiklah." aku mengangkat sebelah tanganku sebagai isyarat menyerah sementara tanganku yang satunya masih melekat erat dalam cengkraman tangan Evan.
"Aku tidak mengatakan apa-apa padanya." aku berdusta.
"Aku tidak sangat bodoh untuk mengantar keluargaku ke dalam kehancuran."
Pandangan Evan terhadapku berubah meragu. Aku mencuri kesempatan itu dengan menambah lebih banyak kebohongan.
"Ace adalah sahabatku, tapi Anggara adalah orang terpenting di hidupku. Aku tidak tau apa yang kau dan Angga sedang lakukan kepada Ace, tapi aku tau itu bukan ruangku untuk ikut campur atau lebih parah--mengacau."
"Lalu, apa yang Ace lakukan kemari? Tidak mungkin si bajingan itu membuang-buang waktunya ke sini hanya untuk minum teh bersamamu."
Apa Evan meremehkan ikatan persahabatanku dan Ace?
"Aku dan Ace memang hanya minum teh." sahutku sedikit tersinggung.
"Bohong, apa yang kau katakan padanya sampai dia rela membuang waktunya kemari?"
"Sialan..., kenapa kau sangat penasaran? Aku bahkan tidak bertanya ketika kau berkeliaran dengan kekasih gelapmu di rumah ini?"
"Siapa kekasih--aku tidak punya simpanan sama sekali, Indira!"
"Uhuh? Tidak perlu membodohiku." tukasku. Mari angkat topik ini lagi agar dia melupakan Ace. Hehehehe. Aku pasti sangat pintar.
"Indira..., apa kau menyukaiku?"
"Tidak."
"Lalu, apa aku sedang salah paham atau kau memang sedang cemburu padaku?"
Eh?
Aku?
Cemburu?
Itu..., apa-apaan?
"Ma-mana mungkin!!!" Aku menanggapi Evan dengan suara meninggi garang. Entah mendapatkan kekuatan dari mana juga, aku tiba-tiba berhasil melepaskan cengkraman tangan Evan dari tanganku.
"Aku tidak cemburu, sialan. Jangan besar kepala!!!" Aku meludahi kata-kata itu dengan keki sebelum berlari dan menyembunyikan diri.
Sialan, kenapa aku sangat ketakutan?
__ADS_1
Apa yang Evan katakan?
...----------------...