
"Bukan berarti aku akan mengkhianati tuan Ace atau apa pun, sih. Aku hanya merasa..., Fawnia, apa salahnya mengutamakan diriku sendiri? Aku saat ini, aku pikir..., menjadi egois dan mengikuti kata hatimu sendiri bukanlah sebuah kesalahan, kan? Kau..., kau mungkin mengerti apa yang kumaksudkan. Lagipula, kita berbagi situasi yang sama. Kita sama-sama menaruh perasaan pada sosok yang berseberangan dari hidup kita."
"Vera, apa kau menyukai tuan Angga?"
"Aku tidak ingin dia terluka."
...----------------...
...NORMAL pov...
...----------------...
Masih pagi ketika Ace sedang menikmati secangkir kopi di balkon kamarnya. Butter berada di pundak Ace, menggelayut manja dengan dengkuran halus menyapa telinga. Saat itu juga, di pagi yang damai, ditemani Butter dan secangkir kopi panas, Ace merasa luar biasa.
Suasana hati Ace cukup baik hari ini. Sangat baik, sebenarnya. Ia merasa..., seperti energi matahari pagi itu meresap di kulitnya, menerangi kemuraman di hatinya dan menepiskan segala kegundahan di sana.
Rasanya, seperti sebentar lagi..., Fawnia akan berada di genggamannya.
"Bersabarlah," gumam Ace. Tangannya yang menopang punggung Butter, mengusap bulu abu-abu milik kucing itu dengan kelembutan. "Dia akan kembali."
Sebentar lagi, dia akan kembali.
Ace yakin, bukan kepada Tuhan atau takdir yang terbentang di depannya, Ace yakin kepada dirinya sendiri dan kepada takdir yang ia sulam dengan tangannya sendiri.
"Bos Ace," Joseph menyapa di belakangnya. "Mobil sudah siap."
"Aku akan turun sebentar lagi." Ace menyerahkan cangkir kopinya kepada Joseph, sebelum menarik tubuh Butter perlahan-lahan dari pundaknya. Ia mengangkat kucing itu dengan penuh kehati-hatian sebelum menaruhnya di tempat tidur yang memang khusus untuk Butter.
"Aku pergi," gumam Ace. Berpamitan pada Butter yang sekarang menatapnya dengan mata melebar. "Joseph, siapkan aku kemeja baru. Aku akan berganti di kantor."
"Baik, Bos." Joseph dengan sigap mempersiapkan pakaian Ace. Satu kemeja merah, jas dan celana hitam. Setelah mengemas mereka dalam plastik pakaian, Joseph pun meninggalkan Ace untuk menaruh baju itu di bagasi mobil.
Ace menyusul Joseph tak lama kemudian.
"Selamat pagi, bos Ace." Carcel yang selalu siaga menunggunya--sekarang berdiri di samping pintu penumpang yang terbuka. Ace melewati Carcel dan masuk ke dalam mobil itu. Carcel mengitari mobil sebelum duduk di bangku kemudi. Tiga mobil bodyguard lain yang mengapit mereka dari depan dan belakang pun spontan siaga.
"Kami akan pergi sekarang," lapor Carcel kepada dua pengemudi mobil lain. Bersamaan dengan laporan itu pula, mobil yang berada di depan mereka bergerak. Carcel menyusul di belakangnya sambil sesekali melirik wajah segar Ace. Ia merasa lega bosnya tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda kalau temperamennya naik. Itu hanya bisa berarti satu, antara bosnya mendapat jatah tidur yang nyenyak semalam, atau..., sesuatu yang dia pikirkan sedang berjalan dengan lancar dan penuh kemudahan.
"Apa Bos tidak ingin singgah ke suatu tempat pagi ini?" Carcel bertanya.
"Tiidak, langsung ke kantor saja." sahut Ace.
"Baiklah, Bos."
Selagi Carcel kembali fokus kepada jalan yang terhampar panjang di depan sana, Ace mengutak-atik tab yang dia pegang.
Laporan mengenai jadwalnya hari ini baru saja dikirimkan Jerome dari kantor. Menepikan fakta kalau ia sedang berperang dengan keluarga Caspian, jadwal Ace seperti biasa, terus saja padat. Justru, mungkin karena ia berusaha meruntuhkan Clubs, jadwal Ace yang sudah penuh, semakin membludak karena perencanaan itu.
__ADS_1
Ace perlu merebut proyek keluarga Caspian, menghilangkan kepercayaan orang-orang dari mereka, dan menghancurkan sumber keuangan mereka, baik itu dari sisi legal dan ilegal.
Keluarga Caspian terkenal oleh bisnis tambang emas yang menyebar di mana-mana, tapi sebenarnya..., bukan bisnis itu yang menguatkan mereka. Usaha prostitusi, barang terlarang, dan keterlibatan mereka dalam import dan eksport yang ilegal--berkontribusi lebih banyak dalam menebalkan keuangan mereka, kekuatan mereka. Jika Ace mampu menghancurkan Clubs, Ace akan menjadi penguasa tunggal di atas semuanya. Ia akan memiliki dunia di kakinya.
"Bos Ace..." Carcel menyela konsentrasi Ace, laju mobilnya pun mereda perlahan.
"Ada apa?" Ace masih terpaku menganalisa jadwalnya hari ini. Siapa yang harus ia temui, kapan dan di mana. Semua itu terlalu banyak dan terlalu...
"Bos Ace," Carcel mengulang. "Kita dicegat."
Setelah mendengar laporan itu juga, Ace memadamkan layar tab-nya. Ia menegapkan punggung dan sedikit tersenyum. "Berapa banyak?" tanya Ace.
"6 orang, bos."
"Aku tidak perlu turun kalau begitu." Untuk enam orang, Ace pikir Carcel sendiri cukup untuk membersihkan orang-orang itu. Tapi...
"Sebentar, sebentar." Ace menghentikan Carcel yang hendak menapak keluar.
"Ada apa, Bos?"
"Aku rasa aku perlu melakukan pemanasan sebentar."
"Hah?"
Saat itu, kendati Carcel tidak menginginkan Ace terlibat dalam pertikaian tersebut, Carcel tidak mampu memberontak atau mencegah Ace. Carce--saat itu juga, ketika ia melihat mata Ace yang berkilau jenaka, Carcel spontan menelan protesnya. Ia hanya turun dari mobil, membukakan pintu untuk Ace dan membiarkan Ace melenggang di depannya.
Keantusiasan sangat jarang Carcel temui dari seorang Ace Hunter, ia mungkin senang, tapi ia tidak pernah antusias. Jika Carcel mengingat-ingat kembali, hari ketika Ace Hunter nampak sumringah adalah ketika Ace tertarik pada keunikan Fawn, lalu pada hari itu...
Ingatan Carcel terlempar ke 16 tahun lalu, ketika Ace yang berada di hadapannya sekarang belum ternoda hitam. Ketika Ace masih berusia 11 tahun dan ikut berburu bersama Harkin Hunter. Carcel juga berada di sana saat itu, menemani ayahnya yang juga merupakan bodyguard loyal keluarga Hunter.
"Dengar, Ace. Kita adalah keluarga Hunter. Kau adalah seseorang yang akan memimpin keluarga kita kelak. Untuk menjadi pemimpin, kau harus menunjukkan alasan, memberikan orang lain pemahaman..., mengapa..., dari semua orang yang ada, kau dipilih menjadi pemimpin. Apa kau paham?"
Ace di ingatan Carcel adalah anak kecil yang polos dan lugu. Jadi, sudah hal wajar baginya untuk antusias ketika mendengar hal baru. Sudah hal wajar baginya ketika menerima sebuah senapan angin dan meraihnya dengan mata berbinar ceria.
Carcel yang saat itu sudah berusia 16 tahun menatap Ace yang baru berusia 11 tahun memegang senapan untuk pertama kalinya. Carcel menunjukkan ketidak-nyamanan pada kenyataan kalau Harkin baru saja memberikan anaknya sebuah senjata berbahaya. Ace masih 11 tahun, demi Tuhan. Senapan adalah hal terakhir yang seharusnya Harkin berikan sebagai hadiah.
"Sekarang, berburulah bersama Carcel. Jika kau berhasil membawa seekor rusa untuk ayah, ayah akan memberikanmu mainan yang lebih bagus dari ini."
"Se-serius?" Ace sangat antusias.
Harkin mengangguk. "Carcel, ajari dia cara menggunakan senapan itu."
"Tapi paman...?" Carcel tentu saja keberatan. Namun, tangan kecil yang menarik ujung jaketnya membuat Carcel terdiam. Itu Ace, dengan mata yang berkilau jenaka. "Carcel, apalagi yang kau tunggu?"
"Tidak ada, bos Ace." Carcel menelan salivanya. Menelan segala keberatan yang hendak keluar dari mulutnya.
Carcel saat itu tidak bisa memprotes Ace, dan Carcel yang sekarang pun masih sama saja.
__ADS_1
16 tahun lalu atau sekarang, di mata Carcel..., Ace adalah sosok yang sama. Sosok yang akan selalu menunjukkan keantusiasan terhadap hal-hal berbahaya.
Suara peluru yang berdesing di antara mereka hanya bertahan untuk beberapa waktu. Ace yang bergabung di antara para bodyguard-nya membuat semua serangan terjeda. Para musuh pun menatapnya dengan waspada.
"Aku sangat bersemangat sekarang," Ace melempar lirikan kepada Carcel. Memerintahkan secara tersirat agar para bodyguard-nya yang hadir di sana menahan serangan mereka.
"Sebelum aku membunuh kalian semua, ada yang mau angkat suara tentang siapa yang sudah menyuruh kalian?" Pendekatan Ace terdengar ramah dan menyenangkan, mungkin karena suasana hatinya. Sikap Ace yang seperti itu juga membuat para penyerangnya yang mengenakan masker hitam menatapnya dengan mata berotasi jengah.
"Kami yang akan membunuhmu, Ace Hunter."
"Itu menarik, kalau begitu..., bagaimana kalau kalian menyerangku tanpa senjata, aku akan melawan kalian langsung dan para pengawalku tidak akan turun tangan?"
"Omong kosong macam apa itu?" Tentu saja ucapan Ace kedengaran sangat tidak masuk akal. Bos macam apa yang maju sebelum bodyguard-nya. Itu sinting.
"Apa kalian takut?" Suara Ace menyiratkan cemoohan. Jelas sekali, tujuannya pun adalah untuk memprovokasi. Para musuhnya paham itu dan bukan berarti mereka meragukan kekuatan mereka sendiri..., ini peluang yang baik sebenarnya. Bila mereka berhasil membunuh Ace di sini, maka pertikaian kedepannya tidak dibutuhkan lagi. Upah mereka pun pasti akan lebih tinggi.
Namun, ini adalah Ace. Kendati dia tidak mempunyai rekor dalam bela diri apa pun, dia adalah sebuah misteri berjalan. Sudah puluhan orang mati berusaha membunuhnya. Apakah kemenangannya selama ini murni karena bodyguard-nya atau dia sendiri adalah ancaman, para lawan Ace saat itu tidak tau sama sekali.
"Sekarang...," kata Ace, memutuskan negosiasi. "Apa kalian mau maju duluan, atau aku?"
Ace keluar dari balik persembunyiannya, dan ketika pihak musuh keluar dari persembunyian mereka juga, siap menyerangnya dengan tangan kosong, sesuatu melintas di benak Ace dalam sepersekian detik. Seperti alarm yang memperingatkannya tentang sesuatu.
Ace saat itu pun...
Enam letusan peluru keluar berentetan dalam kurun waktu yang berkejaran. Ace dengan presisi yang sempurna, membersihkan enam orang itu dengan pistolnya.
Para bodyguard Ace termasuk Carcel..., seketika ternganga atas serangan Ace yang tiba-tiba.
Bukankah barusan dia bilang akan melawan enam orang itu tanpa senjata?
"Ada apa bos Ace?" Carcel menghampiri Ace yang menunjukkan ketidak-senangan. Enam orang yang telah tumbang akibat tembakannya tidak ia pedulikan sama sekali, tidak berarti. Seolah mereka hanya karung pasir yang kerap hancur ketika ia berlatih.
Pikiran Ace terfokus hanya pada satu hal.
"Aku lupa aku ada rapat penting hari ini. Sialan." Ace kecewa tidak bisa bersenang-senang. Tapi prioritas adalah prioritas. "Untung saja aku sudah membaca schedule yang diberikan Jerome hari ini. Kalau tidak, aku pasti akan telat."
"O-oh." Carcel terkejut tidak terkejut. "Kupikir bos ingin tau siapa yang memerintah mereka."
Dengan ke-enam orang itu yang sudah tak bernyawa, mustahil menemukan ruang untuk interogasi.
"Jangan dipikirkan, mereka hanya kiriman Caspian."
"Apa kita perlu memberi serangan balasan?"
"Kirim Rio untuk menggagalkan transaksi obat-obatan mereka di pelabuhan besok. Tangkap perwakilannya dan ledakkan sisanya termasuk kapal mereka. Aku pikir itu cukup."
Carcel mengangguk, "Baiklah, Bos."
__ADS_1
...----------------...