DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
135. MERANCANG SEBUAH KEBETULAN


__ADS_3

"Bagaimana kabarnya?" tanya Evan.


"Apa?"


"Aku dengar kau mengunjungi Fawn Jadi..., apa kau sudah berhasil menenangkannya?"


Indira menyandarkan kepalanya di daun pintu, matanya menyorot Evan dengan sendu. "Kurasa, dia tidak akan melakukan hal-hal yang akan merepotkan. Fawn mematuhiku dan percaya padaku. Dia tidak akan berusaha melarikan diri."


Evan yang berbaring di tempat tidur, perut memangku sebuah buku, tersenyum. "Tentunya, dia tidak akan melarikan diri. Tidak kalau dia cerdas dan memahami posisinya sekarang."


"Kau seharusnya tidak menjadikan ibu Fawn sebagai tawanan," kata Indira. Ia merasa kehilangan kemanusiaannya setelah berhadap-hadapan dengan Evan, setelah terlibat dalam skema buruk pria itu.


"Jangan menatapku sebagai penjahat di sini, Indi. Aku hanya melakukan apa yang perlu kulakukan. Lagipula, pencetus ide itu adalah sahabatmu sendiri. Vera mengatakan padaku bagaimana cara Ace membuat Fawn mematuhinya dan aku hanya belajar dari sana."


"Itu tidak membuatmu lebih baik," tukas Indira. Ia yang mengenakan gaun malam, melangkah mendekati tempat tidur. Ia berpikir panjang sebelum memutuskan berbaring di samping Evan. Pria yang sama yang ia benci dan kutuk pagi dan malam.


"Aku tidak berusaha menjadi lebih baik dari siapa pun," sahut Evan. "Aku hanya berusaha memenangkan pertikaian antara aku dan Ace."


"Kau sangat meyakinkan."


Evan tertawa. "Kau tidak mempercayaiku sama sekali, huh?"


"Jika aku mempercayaimu, maka aku akan berada di neraka yang sama denganmu. Aku tidak mau itu."


"Aku pikir karena kita suami istri, kita sudah seharusnya berada di neraka yang sama, bukan?"


Kendati Evan menatapnya dengan senyuman, Indira tidak menunjukkan kesenangan sama sekali atas keberadaan pria itu. Ia menghela napas panjang. Daripada menanggapi Evan, Indira memutuskan menarik selimut dan tidur. Ia membelakangi Evan sebelum mematikan lampu tidur di sisi kiri tempat tidurnya.


"Selamat malam, Indira." Evan bergumam.


...----------------...


...NORMAL pov...


...----------------...


Ace sedang mengancing kemejanya ketika ia menerima telepon dari Rio. Sekarang baru jam setengah tujuh pagi, sangat tidak biasanya Rio menghubunginya langsung. Bahkan bila sesuatu yang urgen terjadi menyangkut bisnis dan pekerjaannya, setiap laporan pasti akan melalui Carcel terlebih dahulu.


"Halo, Bos." suara Rio menyapanya, terdengar cukup serius dan intens.


"Ada apa, Rio?" Ace menimpali selagi memilih dasi di laci lemarinya. Antara dasi berwarna biru dan dasi berwarna silver, Ace menimbang-nimbang dua benda yang menarik matanya tersebut dan mencocokkannya dengan kemeja hitam yang ia kenakan.

__ADS_1


"Maafkan aku sudah mengganggumu pagi-pagi, aku hendak menyampaikan laporan penting padamu."


Sementara Rio menyampaikan hal penting itu pula, Ace menjeda aktivitasnya dan menyandarkan punggung di tepian meja kerjanya. Ia merenungkan dengan tenang setiap laporan yang Rio ucapkan. Lalu, ketika laporan itu sudah tertuang habis, Ace seketika mengangguk. Tentunya, Rio tidak akan mengetahui reaksinya. Jadi, sebagai penutup, Ace menimpali verbal laporan yang Rio berikan dengan mengatakan 'Kerja bagus, Rio!'.


Setelah sambungan telepon terputus, Ace melenggang menuju balkon kamarnya yang terbuka. Menatap kepada pemandangan kota yang masih diliputi oleh embun pagi.


Sekarang sudah September, musim gugur yang datang dan meliputi kota di bawah sana membuat suasana terlihat menjadi teduh dan keruh. Ace merasa--bila Fawn berada bersamanya sekarang--gadis itu akan menyukai pemandangan itu. Mengingat di suatu tempat yang berbeda dengannya sekarang, Fawn terlihat sama seperti kota yang menjingga, sendu dan sayu.


Oh, dia pasti bersedih dan ketakutan...


"Sekarang, apa yang akan kau lakukan Fawnia?" Ace bergumam sambil menyandarkan lengannya di pagar balkon. Ia menghirup napas dalam-dalam, mengambil oksigen segar yang beraromakan seperti embun basah dan rumput layu tersebut.


Pikiran Ace terpaku kepada laporan yang Rio berikan. Mengenai keberadaan Lilian Alder yang sekarang berada di dalam telapak tangan Evan Caspian. Informasi itu tidak mengejutkan untuk Ace, ia sangat paham situasinya akan berakhir ke sana cepat atau lambat. Juga, kendati ia paham, Ace tidak ingin mencegah atau melakukan apa pun terhadap informasi itu.


Vera yang ditangkap oleh Evan pasti sudah bicara, membocorkan hubungannya dengan Fawn karena hanya itu cara Vera mampu bertahan. Vera pasti sudah membongkar semuanya, setiap detail hubungan Ace dan Fawn yang akhirnya melibatkan keberadaan dan keselamatan Lilian.


Vera tidak bersalah, dan Ace tidak akan membencinya karena itu. Jika ada hal yang Ace ingin lakukan kepada Vera sekarang adalah memberikannya medali, piagam penghargaan dan ucapan terima kasih.


Terima kasih sudah melakukan apa yang paling ia harapkan.


Karena, hanya dengan begini rencananya dapat berjalan.


Hanya dengan begini, Fawn akan belajar.


...----------------...


"Beliau sangat disibukkan dengan insiden di pelabuhan beberapa hari lalu, Bos. Aku dengar dia sampai membunuh salah satu kliennya karena banyak masalah yang timbul akibat kebakaran itu dan para kliennya hendak menarik diri dari kerja sama."


"Sepertinya dia sangat tertekan," Ace terkekeh.


Bagi pihak Clubs yang sudah diambang karam, informasi tersebut sudah pasti sangat buruk dan sangat merugikan. Namun, bagi Ace yang mendalangi insiden di pelabuhan itu sebagai balas dendam ringan, kabar mengenai Max yang stres adalah musik menyenangkan di telinga. Ace merasa ia bisa tidur nyenyak karena Maximillian sudah semakin tersudutkan.


Bajingan itu bisa saja menampilkan ekspresi tenang dan berwibawa, tapi kepanikan lambat laun akan menyeruak juga bila tanah tempatnya berpijak sudah tidak stabil. Itu adalah reaksi manusiawi.


"Bagaimana dengan publikasi yang kuinginkan?" Ace kembali bertanya ketika ia duduk di meja. Secangkir kopi yang berada di tangan Jerome berlabuh di dekat lengannya. Siap menemani Ace untuk melewati pagi yang menyenangkan ini.


"Seperti yang sudah bos prediksikan. Tidak ada media yang mau bekerja sama dengan reporter itu." maksud Jerome adalah tentang seorang reporter yang sempat menguntit Fawn belakangan. Reporter dengan informasi emas di tangan.


"Sepertinya setiap media outlet takut melibatkan diri untuk menyebar informasi itu. Mereka menghubungiku dan mengatakan agar bos Ace tidak perlu mencemaskan apa pun."


"Aku malah akan cemas kalau informasi itu tidak tersebar," gumaman Ace membuat Jerome tersenyum kaku.

__ADS_1


"Haruskah aku meminta majalah N untuk merilis informasi itu?"


"Jangan..." Ace menggelengkan kepala. "Aku tidak mau ketahuan sudah terlibat, kan?"


"Ah..."


Senyum Ace mengembang tipis. Jika ia ingin meriuhkan situasi yang sudah terjadi sekarang, ada lebih baiknya ia melakukan pergerakannya tanpa benar-benar terlibat di sana. Semuanya harus terjadi dengan alami. Setidaknya, apa yang akan terjadi nanti harus seperti kebetulan.


Dengan begitu,


Hanya dengan begitu Fawn tidak akan membencinya, tidak mencurigainya dan tidak akan melarikan diri dari genggamannya.


Oh, bicara soal situasi yang Ace maksudkan adalah..., ia memberikan si reporter sebuah petunjuk tentang hubungannya dengan Fawn. Sebuah foto menyangkut kemesraannya dan Fawn beberapa minggu lalu.


Reporter yang cukup cerdas dan ambisius untuk naik tahta itu memakan umpannya dan akan melakukan apa pun untuk mengeksposnya, menyebar-luaskan informasi mengenai hubungannya dan Fawnia.


"Apa yang harus kulakukan agar berita itu terpublikasi?" Jerome menunggu perintah.


"Jangan lakukan apa pun," tukas Ace. "Aku ingin melihat seambisius apa orang itu untuk menaikkan karir dan namanya."


Jika perkiraan Ace tepat, reporter itu akan menghubungi pihak Caspian untuk meminta bantuan publikasi. Bantuan Evan, lebih tepatnya.


Evan dari semua orang bukanlah orang yang akan menelan informasi dengan kebulatan dan kepastian. Bahkan bila Vera berbicara tentang nilai Fawn di mata Ace, Evan akan tetap meragukan kebenarannya. Selain karena kurangnya bukti di ucapan Vera, Vera adalah orang dari pihak Ace. Seorang musuh. Jika Vera bicara, nilai ucapannya di mata Evan hanyalah 70% saja.


Evan mungkin akan memanfaatkan Fawn setelah mendengar ucapan Vera, tapi tidak seekstrim yang Ace inginkan dan Ace tidak mau itu. Ace mau Evan datang padanya dengan niat jahat, niat untuk melenyapkan sepenuhnya, dan sehancur-hancurnya.


Karena itu, demi menutup keraguan Evan yang tersisa dan mengubahnya menjadi monster dengan ambisi gila, Ace perlu membuat kepercayaan pria itu menjadi 100%. Tidak boleh ada sedikit saja kebimbangan muncul di benak Evan.


Evan perlu menyadari kalau Fawn adalah sosok yang sangat Ace cintai ke tahap ia rela mati demi gadis itu. Untuk membuat Evan percaya, Ace sengaja mengirimkan bukti hubungannya kepada Evan melalui si reporter yang sudah mengekori mereka belakangan. Bukti itu akan menjadi penyegel keputusan Evan.


Evan..., dalam pikiran Ace..., dalam skema hitam yang sudah ia rencanakan dengan matang, akan menjadi media penghancur loyalitas Fawn pada Anggara.


Jika situasinya berjalan seperti yang Ace inginkan, maka ada kemungkinan Ace akan mati di tangan Fawn.


"Ini semakin menarik," Ace tersenyum samar dan menyesap kopinya.


Pemikiran tentang mati di tangan Fawnia membuat jantung Ace berdebar-debar gelisah. Keantusiasan yang berpadu dengan kegugupan ini adalah sebuah perasaan baru yang hanya pernah ia alami ketika memikirkan Fawn. Rasanya sangat janggal dan menyenangkan, sangat salah tapi penuh oleh gairah.


"Bos Ace, tanganmu..., apa kau baik-baik saja?" Jerome menegur jari-jemari Ace yang bergetar di atas meja. Dingin merayap di ujung jemarinya, seperti es di kutub utara.


"Oh..." Ace memperhatikan reaksi tubuhnya sendiri dan tertawa. "Ini..., aku baik-baik saja."

__ADS_1


Hanya sedikit gembira.


...----------------...


__ADS_2