
...NORMAL pov...
...----------------...
Sarapan bersama Margot adalah aktivitas yang jarang Ace lakukan. Lebih tepatnya, pria jangkung dengan surai hitam pekat itu tidak pernah menaruh kepedulian pada sarapan. Ace lebih sering membeli kopi dan langsung bekerja. Margot juga--walau sangat memperhatikan kesehatannya, tidak begitu peduli apa dia akan sarapan dengan Ace atau tidak.
Sampai hari ini datang.
Hari ini, di cafe outdoor yang menghadap laut, pohon tua melambai di dekat tangga masuk dengan pita merah muda menggantung di setiap dahannya--Ace dan Margot masuk beriringan ke tempat itu. Mereka memesan tempat duduk yang berada cukup jauh dari keramaian dan cukup tenang untuk bertukar bicara.
Margot adalah orang yang mendalangi pertemuan berkedok sarapan tersebut.
"Kau bisa bicara denganku di rumah. Kenapa membuang waktuku ke sini?" Ace mendumel. Matanya tertuju kepada air laut yang berwarna biru samar karena awan mendung yang melingkupi ujung cakrawala.
"Aku ingin makan waffle sekalian," kata Margot. "Tempat ini mempunyai waffle paling populer di internet. Aku membaca review-nya dan itu bintang 4,5."
"Itu informasi yang bagus, tapi aku tidak peduli."
Margot mengangkat bahu. "Kau tidak gaul sama sekali. Tidak heran banyak orang yang menyeganimu daripada tertarik padamu. Kau harusnya seperti Jem, Ace..., dia friendly, manis dan tau cara menyenangkan hati wanita."
"Aku percaya kau akan membunuhku kalau aku bertingkah seperti itu."
Margot seketika tertawa pada tanggapan Ace yang memang ada benarnya. Ace dengan kepribadiannya yang sekarang adalah Ace yang sempurna. Dia seperti pedang tajam yang mampu menebas setiap halangan dan rintangan yang menghalau jalan dan tujuan Margot.
"Baiklah, kau tidak perlu menikmati waffle-nya..., hanya dengarkan aku."
Sementara Margot bersandar di sandaran bangku, Ace menatap kakaknya itu dengan mata menyipit jemu. Hari ini jadwal Ace cukup padat, dan ia tidak punya waktu untuk menghirup udara laut atau sekedar mendengar celotehan saudaranya.
"Aku dengar dari paman Jack perusahaan berjalan dengan sangat baik belakangan ini. Aku sangat berterima kasih padamu. Aku juga tau, walau Larson mati--kita tidak kehilangan petunjuk sepenuhnya."
"Itu semua terjadi berkat David." jika bukan karena bodyguard Margot yang mengintai Larson seperti tikus tanah, tidak mungkin Ace akan tau siapa orang yang sudah berkontribusi dalam upaya untuk menyingkirkan dirinya.
Walaupun itu memang tugas yang David, Ace tidak akan menutup mata pada kontribusi baik pria itu.
"Evan Caspian..., karena segala petunjuk sudah mengarah kepada pria itu..., apa yang akan kau lakukan ke depannya, Ace?"
"Aku tau kau sangat tidak sabar untuk menyelesaikan tujuanmu. Tapi, aku harap kau tidak bertindak gegabah." Ace berujar serius. "Aku juga, untuk sekarang hanya akan memantau setiap pergerakannya."
"Tapi setiap bukti sudah mengarah ke sana." Margot gusar. Dia tidak bisa bersabar lagi. Tidak ketika bajingan yang sudah membunuh orang tuanya sekarang bernapas dan hidup bahagia di mansion mewah mereka.
"Untuk sekarang, yang perlu kulakukan adalah menyudutkan Evan sampai dia jatuh dari singgasananya. Aku percaya, jika aku terus mendominasi setiap ruang geraknya, dia akan mengeluarkan jati dirinya yang sesungguhnya."
Ace tidak mau asal membunuh, dia perlu mendengarkan pengakuan dari Evan langsung. Bahwa, dia adalah orang yang sudah membunuh orang tua mereka. Ace mau pria itu ketakutan, marah dan kehilangan pijakannya.
"Apa bukti-bukti itu tidak cukup untuk membuatmu menghabisinya?"
"Aku bisa melakukan itu sekarang tapi itu tidak akan memuaskan, tidak untukmu dan aku. Aku ingin, bila dia hancur, aku akan menghancurkan dia seremuk-remuknya. Apa kau paham?"
__ADS_1
Ace lalu lanjut bicara. "Karena aku sudah membuang seluruh hidupku mengejarnya, aku tidak mau pengejaranku berakhir sia-sia karena kau yang tidak tau sabar. Pemburuan ini adalah punyaku, Evan adalah targetku. Bahkan bila pria itu harus mati, dia harus mati di tanganku."
Anggap saja hadiah atas pemburuannya, waktu yang ia buang, kebebasan yang ia tanggalkan. Ace tidak akan melepas tangannya dari kemudi hanya karena target incaran mereka sudah jelas.
"Baiklah, selama dia mati. Aku akan mengikutimu." Margot saat itu tidak membantah apa pun. Itu melegakan, tapi cukup asing bagi Ace. Dia sudah terbiasa dengan Margot yang selalu mau menang sendiri. Melihatnya menjadi saudara yang penurut dan tidak egois membuat Ace malah meresahkan isi kepala Margot. Semoga saja dia sedang tidak merencanakan sesuatu yang nista di otak kelamnya.
"Bos Ace, bos Margot..., maaf mengganggu." Carcel yang berada paling dekat di meja mereka menginterupsi. "Aku mendapat laporan tuan Evan dan tuan Anggara berada di pintu depan."
"Bagus sekali," Ace melirik Margot dan saudaranya itu spontan mengangkat bahu.
"Jangan salahkan aku, aku tidak tau kalau mereka akan datang."
"Yaa..., seperti aku sangat mempercayaimu saja." Ace tidak akan mempercayai Margot. Wanita gila itu pasti sengaja membuat dia bertemu dengan Evan dan Anggara di sini. Entah apa yang dia harapkan? Apa dia pikir Ace akan melubangi kepala Evan seketika saat Ace melihatnya?
"Bos Ace, mereka menyadari keberadaan kalian dan menuju kemari."
"Tsk, biarkan saja mereka datang." Ace menyahut gerah. Energi paginya spontan terkuras.
Sementara Ace berpura-pura cuek terhadap kedatangan dua pria yang sekarang melenggang menghampirinya, Margot melambaikan tangan saat matanya bertemu dengan mata Anggara. Bertingkah seperti gadis baik hati, Ace mau mati melihatnya.
"Berhenti bertingkah menjijikkan," Ace menegur lirih Margot dan menendang kaki saudaranya itu dari bawah meja.
"Mind your own business." Margot menyahut dengan suara separuh berbisik.
"Ace Hunter, Margareth Hunter..., sungguh pemandangan yang mengejutkan." Evan--pria bersurai ikal kecokelatan itu tersenyum hangat kepada Ace dan Margot. Dua bersaudara dengan surai hitam kelam itu mendongak kepada mereka dengan dua ekspresi yang bertolak belakang. Ace dengan ekspresi monoton, Margot dengan keramahan palsu.
"Apa kau selalu terkejut melihat orang sarapan?" Ace menimpali.
"Kau harus berhenti berpikir kalau begitu."
"Ace," Margot melotot. "Jangan mengambil hati ucapannya, Ace kalau di pagi hari memang sangat menjengkelkan."
"Margot benar," Ace mengimbuhi dengan senyum sinis. "Kalian berdua--duduklah."
Evan--tanpa kecanggungan, langsung menarik bangku yang berada di sisi kiri Ace. Berbeda dari adik iparnya, Anggara malah berdiri dengan mata yang menatap kesana-kemari. Entah apa yang dia cari.
"Angga? Apa kau menunggu seseorang?"
"Huh?" Anggara mengedipkan matanya, mencerna pertanyaan Margot lalu segera duduk. "Tidak, tidak ada." Dia hanya sedang mencari seorang wanita dengan surai hitam klimis dan wajah polos yang adiktif. Seseorang bernama Vera.
"Aku sangat kecewa tidak bisa menyambut kedatanganmu hari itu. Kalau aku tau kau akan datang, aku mungkin akan mengosongkan jadwalku dan mengajakmu berkeliling di lumbung kuda kami." Evan kembali mengajak Ace bicara.
"Jangan repot-repot, tujuanku datang hanya untuk bertemu Indira. Bagaimanapun, dia adalah sahabatku. Tidak melihatnya berkeliaran membuatku...rindu?"
"Huh..., kalian memang sangat dekat, bukan?"
"Lebih dekat daripada kau dan dia."
__ADS_1
Anggara melirik ekspresi wajah Evan yang mengeras akibat ucapan Ace. Tapi, bagaimanapun, Ace tidak salah. Evan juga tidak bisa membantahnya. Tidak seperti Ace yang selalu memperlakukan Indira dengan persahabatan yang murni persahabatan, Evan memperlakukan Indira layaknya tamu istimewa. Itu tidak buruk, tapi tidak bisa dikatakan nyaman juga. Jika saja Ace bukan ancaman, Anggara mungkin lebih setuju kalau Indira menikahi Ace daripada Evan.
Melihat ketegangan dan ketidaknyamanan mulai mengatmosfir di meja itu, Margot mau tidak mau berupaya mencairkan kekakuan itu dengan mengajak Anggara mengobrol ini itu. Sesekali, Margot melibatkan Ace dan Evan. Sesekali juga, Ace akan melayangkan komentar yang membuat ekspresi tenang Evan meretak dalam ketidaksukaan.
"Aku akan ke toilet sebentar." Anggara yang sangat tidak tahan berada di sana memutuskan untuk melarikan diri. Ia melangkah meninggalkan meja dengan bahu bergidik keki.
Tempat itu sangat memuakkan. Segala kepalsuan dan obrolan ramah yang bersahutan, semuanya seperti pentas drama yang dilakukan tanpa naskah. Anggara tidak mau melibatkan diri di dalamnya, tapi di satu waktu ia terjebak dalam kegilaan itu.
Mood paginya benar-benar buru--hatchiii!!!
Seseorang bersin dan menarik perhatian Anggara. Ia melirik ke samping--kepada tangga yang menuju pintu belakang.
Berdiri di dekat pantai saat hari masih cukup pagi, dihantam oleh angin laut yang asin dan sangat dingin, Vera merasa nasibnya di mulai dengan cukup buruk hari ini. Ia sangat mengantuk berat, tapi dia sudah harus keluar menemani Margot yang tiba-tiba saja mau sarapan di luar. Padahal di ingatan Vera, Margot mencintai sarapan di atas tempat tidurnya. Kenapa dia mengubah prilakunya segampang menaik-turunkan saklar lampu?
Ugh..., suhu dingin dan lembab itu pun sama sekali tidak membantu.
Vera menemukan dirinya bersin beberapa kali, berbaur dengan kuapan yang membuat rahangnya seperti mau lepas. Jika ada seorang penjahat yang berusaha menjahati bosnya hari ini dan mereka memilih rute pintu belakang, Vera bersumpah dia akan memukul bajingan itu untuk sekedar pelepas stress-nya saja.
"Hatcheee!" Vera bersin lagi.
"God bless," seseorang memberkatinya dari belakang. Secepat kilat, Vera menarik pistol dari punggungnya dan mengarahkan benda itu ke muka Anggara yang bersandar beberapa tangga di atasnya.
"Tuan Angga?" Vera seketika menurunkan pistolnya, perasaan berkecamuk gelisah. Kenapa pria itu di sini? Seingat Vera, Carcel membuat pemberitahuan kalau Anggara dan Evan sedang makan bersama Ace.
"Maafkan aku," kata Vera lalu menunduk sopan. Meskipun meminta maaf, Vera tidak merasa bersalah. Sudah tugasnya selalu waspada kepada siapa pun yang mendekatinya ketika bertugas.
"Tidak merokok hari ini?"
"Aku bekerja," ucap Vera.
"Bagaimana kabarmu, Vera?"
"Ba-baik, tuan Angga." Kenapa pria itu mau tau? Vera meringis bingung. Ia semakin tidak nyaman dengan Anggara yang menyebutkan namanya. Hei, mereka tidak sedekat itu! Setidaknya begitulah yang Vera pikirkan sampai akhirnya Anggara turun dari tangga dan menghampirinya.
"Kau harusnya memakai pakaian yang lebih tebal. Tempat ini cukup dingin, terutama di pagi hari."
Vera mengangguk. Senyum kikuk merekah di wajahnya--membuat Anggara menjadi tertawa samar. "Sepertinya kau melupakanku."
"Ya?"
"Sangat tidak sopan, bukan?" Anggara mengambil satu langkah lebih dekat kepada Vera, sangat dekat sampai Vera menarik wajahnya mundur. Vera bingung, tapi tidak tau harus bereaksi seperti apa terhadap intimasi yang Anggara limpahkan padanya. Vera tidak mau salah paham dan berpikiran kalau pria yang berdiri setara dengan bosnya itu sedang menggodanya. Itu tidak masuk akal karena kelas sosial mereka sangat ber--
"Sepertinya sudah hilang." Anggara menyela pikiran Vera dengan ucapan ambigunya.
"Apa itu yang hilang, tuan Anggara." Mungkin Vera bisa membantu.
Anggara melabuhkan telapak tangannya di pundak Vera, dan seperti kejutan listrik, Vera bergidik di bawah sentuhan Anggara. Anggara menarik pundak Vera tanpa aba-aba dan langsung menurunkan bagian belakang jas hitam dan kemeja putih Vera yang menutupi tengkuknya.
__ADS_1
"Kissmark-ku, di sini. Sudah hilang."
...----------------...