
...NORMAL pov...
...----------------...
Bumi seperti berhenti berputar.
Arcelio Hunter--pria yang terkenal akan reputasi hitamnya yang mengerikan--sekarang berdiri di depan seorang Fawnia Alder, ketakutan. Seorang Fawnia Alder--wanita yang bukan siapa-siapa. Wanita yang tidak memiliki reputasi hitam yang mampu menundukkan dunia--berhasil membuat Ace berdiri di hadapannya dengan napas tersangkut di kerongkongan. Mata pria itu penuh kecemasan.
"Apa yang terjadi pada ibuku?" Suara Fawn lirih. Ia mundur selangkah tepat ketika Ace hendak menyentuh lengannya. "Apa ini...?"
Fawn merasa seperti tenggelam. Jantungnya berpacu kencang, nyeri dan ngeri pada gambar ibunya yang terbaring sendirian dengan alat-alat bantuan pernapasan merekat di wajahnya. Foto itu nyata. Dan yang paling menyakitkan adalah Fawn tau itu foto baru. Ibunya tidak pernah jatuh sakit sampai separah itu.
Apa yang terjadi selama dia pergi? Pertanyaan itu menyusup di benak Fawn seperti duri yang menancap perlahan-lahan di jantungnya. Menciptakan rasa sakit yang semakin lama semakin mengerikan.
"Fawnia, ibumu akan baik-baik saja." Ace coba menenangkan Fawn yang saat itu menatapnya tajam.
"Kau bilang kau tidak akan menyakitinya."
"Aku tidak menyakitinya sama sekali, aku serius."
"Lalu kenapa ibuku seperti ini? Ah..., apa ini karena aku? Ibu pasti jatuh sakit memikirkanku..."
"Fawnia," panggil Ace. Fawn telah terbenam dalam spekulasinya sendiri. Menciptakan asumsi-asumsi yang berujung menyakiti dirinya lagi.
"Aku harus pergi, tidak..." Fawn meracau pada dirinya sendiri. "Aku harus bertemu ibuku."
Ucapan itu seperti tombak tajam yang menabrak dada Ace. Pria itu melebarkan mata dan dengan segera menangkap pergelangan tangan Fawn erat. "Tidak," cegatnya tanpa pikir panjang.
Fawn menatap Ace tangan Ace yang mencekalnya.
"Kau tidak bisa menahanku di sini." gumam Fawn, tidak ada ketakutan di matanya. Ia berdiri di sana dengan keberanian yang berpadu dengan api amarah yang berkobar hitam. Air mata menggenang di pelupuk matanya yang memerah.
"Fawnia," Ace tidak bisa. Apa pun alasannya ia tidak bisa membiarkan Fawn meninggalkannya. Ia tidak mau gadis itu pergi dari sini. "Kumohon!"
"Kau merahasiakan kondisi ibuku dariku, Ace." Fawn mengangkat topik itu kembali ke hadapan Ace. "Bahkan bila kau tidak menyakitinya, apa kau pikir aku akan bertahan di sisimu setelah semua ini? Kau..., mau sampai kapan kau merahasiakan semua ini dariku?"
"Aku bilang dia akan baik-baik saja."
"DAN BAGAIMANA KALAU DIA TIDAK!" Fawn berteriak di muka Ace. Air mata luruh di pipinya. "Bagaimana kalau sesuatu terjadi pada ibuku? Apa kau tidak memikirkan perasaanku sama sekali?"
"..."
"Tidak, kau pasti tidak memikirkanku karena kau egois. Kau bajingan sialan yang hanya mementingkan dirimu sendiri. Kau hanya mencintai dirimu sendiri!" Fawn menyentak tangannya dari cengkraman Ace, berharap ia dapat melepaskan diri dari kuat kekangan pria itu. Tapi sia-sia. Ace tidak melepaskannya. Dan itu membuat Fawn semakin gila. Ia putus asa.
Segala hal yang bersarang di benaknya seperti penyakit yang melukai batinnya, menyiksanya dan membuat ia nelangsa selama belakangan ini muncul kembali ke permukaan. Membuat ia semakin termakan oleh amarah yang hitam.
"Aku peringatkan kau sekali lagi..." Fawn berbisik lirih dengan air mata yang masih mengalir di pipi. "Lepaskan aku!"
"Aku. Tidak. Akan..."
__ADS_1
Menarik napas, Fawn mau tidak mau melakukan kekerasan. Dengan gerakan secepat kilat, ia memelintir tangan Ace ke belakang, mendorong pria itu ke meja makan dan merebut pistol yang bersarang di punggung pria itu. Sebelum Ace sempat bereaksi dan membalas serangannya, satu tembakan menyasar ke atas meja.
Felix yang menyaksikan mereka berdua--terpana dengan jantung yang nyaris copot dari dadanya. Para bodyguard seketika berlarian masuk ke ruang makan ketika mendengar suara tembakan.
Saat itu juga..., mereka menemukan Fawn yang mengacungkan pistol ke arah Ace yang sekarang berdiri tanpa perlindungan sama sekali.
Seharusnya Fawn yang berdiri di posisi dominan di sana, seharusnya ia yang menguasai situasi. Tapi entah mengapa, menatap Ace yang berdiri di sana--mata memerah dan ekspresi yang sarat akan ketakutan--membuat Fawn merasakan jantungnya kesakitan. Air mata semakin deras mengalir di wajahnya.
"Aku sudah cukup bermain sebagai hewan peliharaanmu," Fawn mengungkapkan kata-kata itu dengan bibir bergetar. "Aku..., aku tidak bisa hidup seperti ini lagi."
"Apa yang terja--Fawn?" Margot bergabung di ruang makan dan menatap kearah mereka dengan rahang jatuh menganga.
"Fawn..."
"Fawn," Carcel bergabung di sana dan mengacungkan senjatanya tepat kepada Fawn. Ace yang menyaksikan itu seketika melebarkan mata.
"TURUNKAN SENJATA KALIAN!" Teriak Ace penuh penekanan, memperingati siapa pun agar tidak menaruh Fawn-nya dalam bahaya. Tidak boleh ada yang menyakitinya. Tidak boleh ada yang menyentuh Fawn-nya.
Carcel bimbang.
"Carcel," Margot ikut bersuara, menyiratkan tegurannya agar kepala bodyguard rumah itu mematuhi tuannya.
"Fawnia, kumohon..., dengarkan aku sebentar saja." Ace mencoba menenangkan Fawn yang masih mengacungkan pistol ke arahnya, siap melayangkan satu peluru lagi ke arah Ace dan membuatnya mati.
Andai saja..., andai saja Fawn memiliki keberanian untuk menarik pelatuknya, membunuh Ace yang sekarang berada di hadapannya tak berdaya..., andai saja ia tidak merasakan sakit di dadanya..., segala balas dendam yang ia idam-idamkan, sumpah yang sudah ia mimpikan, karma yang ia inginkan--ia bisa melakukannya sekarang.
"Aku mencintaimu Fawnia," Ace mengakui hal tersebut dengan mata yang berkabut oleh air mata. "Maafkan aku sudah menyakitimu selama ini."
"Kalau kau mencintaiku, biarkan aku pergi dari sini." Fawn berucap dengan sesegukan. "Aku..., aku benci di sini!"
"..."
"Aku membencimu." Fawn mengakui kata-kata itu dengan isakan yang semakin menjadi. "Kau menghancurkan hidupku, Ace..., kalau kau tidak membebaskanku sekarang aku akan--"
"FAWN!!!" Ace berteriak kencang saat pistol yang teracung ke arahnya, berpindah seketika ke bawah dagu Fawn.
Fawn siap pada kematian. Ia tidak takut pada apa-apa lagi. Tidak pada gelang yang membelenggunya. Ia sudah menyerah sepenuhnya. Ia tidak bisa menunda tinggal di rumah itu lebih lama. Tidak ketika ibunya menderita seorang diri di luar sana. Tidak ketika kewarasan mulai meninggalkannya.
Fawn tidak ingin...sama sekali tidak ingin..., mencintai Ace Hunter.
Ia tau, bertahan lebih lama di sisi pria itu..., ia akan berakhir gila. Mencintai Ace Hunter--pria yang sudah menanamkan luka permanen di hatinya, penghancur kehidupannya,--adalah bentuk kegilaan yang tak termaafkan. Sebuah kebodohan dan kutukan. Fawn lebih baik mati daripada menyerahkan hatinya kepada iblis itu.
"Aku membencimu," Fawn mengulang kata-kata itu. Bukan untuk menghina Ace, tapi untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa debaran menyakitkan yang sekarang mencengkram dadanya bukanlah kesedihan. Semua ini adalah kebencian. Kebencian.
"Fawnia, tolong jangan lakukan itu..." Ace merasa tangan tak kasat mata mencekiknya. Membuat ia sulit bernapas. Pandangannya jatuh kepada pistol yang masih bersarang di dagu Fawn, siap menghilangkan nyawa gadis itu dalam sekali tembakan. Ace tidak menginginkan itu. Bahkan bila itu kematian, Ace lebih rela bila kematian itu terarah padanya, bukan kepada Fawn.
"Maafkan aku, aku akan membiarkanmu pergi..., tapi kumohon..., jangan lukai dirimu lagi." Ace tidak tau bagaimana paginya bisa berakhir seperti ini. Kare yang seharusnya menjadi santapan bahagia mereka berdua mendingin di atas meja. Tidak ada yang memperhatikan upaya kerasnya karena Fawn berdiri di sana..., membencinya.
"Fawnia..." suara Ace lepas dengan lirih. Air mata yang menggenang di manik hitamnya, jatuh halus bergulir menuju dagunya. "Maafkan aku."
__ADS_1
"Aku akan membebaskanmu, jadi kumohon..., jauhkan senjata itu darimu." napas Ace sesak. Ia takut sebuah kesalahan, Fawn bisa berakhir hilang dari hadapannya seperti udara. Ia tidak mau itu.
"Fawnia, aku akan mengantarmu pergi dari sini--jadi kumohon, jangan lakukan sesuatu yang gegabah." Margot ikut bersuara. Ia mengambil satu langkah maju dan Fawn seketika siaga atas pergerakannya.
Margot ternganga. "Maafkan aku...,"
Di sana, sementara Fawn meragu atas kesungguhan ucapan Margot dan Ace--Haru dan Vera mengamati dari garis belakang dengan jantung yang menggebu ketakutan. Vera merasa air mata turut berkumpul di kelopak matanya. Ia ketakutan dan prihatin di saat bersamaan.
Tidak ada yang bisa menyelamatkan Fawn sekarang.
Gadis itu sudah membuat dua Hunter berada di kakinya..., dan kendati fakta itu sangat mempesona, Fawn hanya merasakan luka luar biasa. Situasi ini seharusnya tidak terjadi, andai saja hubungan mereka tidak bermula dalam ikatan yang hina.
Semua ini tidak akan menyakitkan, andai saja ia tidak jatuh cinta.
"Aku akan melepaskanmu," Ace mengatakan itu sekali lagi, dan Fawn menurunkan pistol itu dari dagunya. Ia membalas tatapan sendu Ace dengan luka yang sama. Ia akan kehilangan pria itu selamanya. Ketika ia terbang keluar dari sangkar ini, ia tidak akan pernah menemukan cinta itu lagi.
"Maafkan aku," Fawn bergumam lirih sebelum membalikkan punggungnya pergi. Kali ini, tidak ada satu orang pun yang membayangi langkahnya pergi. Hanya mata--hanya mata yang menatapnya dengan perasaan was-was dan terluka.
"Carcel," Ace bergumam kepada pengawalnya yang masih berada di sana. Menatapnya dengan keraguan.
Carcel tidak merasa membiarkan Fawn pergi adalah ide baik.
"Beri perintah pada Rio agar mengawasi Fawn." Ace memungut foto yang tercecar di lantai. "Pastikan dia sampai dengan selamat kepada ibunya."
Tangan Ace mengepal kencang, meremas foto yang sudah datang. Kesedihan yang tersisa di dalam dirinya, berubah menjadi api yang membara. Ia berkobar dalam amarah yang luar biasa.
"Seseorang perlu belajar untuk tidak merusak hidupku."
"Ace, apa kau baik-baik saja?" Margot mendekat kepada adiknya dengan cemas. "Bagaimana ini bisa terjadi? Apa yang terjadi pada Fawn?"
Sementara Margot mencecar Ace, Margot tidak melewatkan kesempatan untuk menoleh kepada Vera sebentar. "Susul Fawn dan antar dia kemana pun yang dia inginkan."
Margot lalu kembali pada Ace. "Apa kau yakin kau ingin melepaskan Fawn, Ace?"
Nyeri yang bersarang di dadanya kembali menciptakan rasa perih yang luar biasa. Ace bertopang di meja dan menatap kepada kare yang mendingin di sana. "Apa aku punya pilihan?"
Jawabannya adalah tidak.
Ia tidak bisa membuat Fawn tinggal di sisinya, tidak ketika gadis itu membencinya.
Tidak peduli betapa keras dia berusaha, Fawn akan pergi.
"SIALAN, SIALAN, SIALAN!!!" Teriakan Ace mengejutkan semua orang.
Bersama dengan ledakan emosi Ace saat itu pula, meja kaca yang berada di hadapannya terbalik dengan makanan yang terurai di atasnya.
Sirna, segala keindahan yang ingin Felix abadikan pagi itu berubah menjadi mimpi buruk.
...----------------...
__ADS_1