
...ACE pov...
...----------------...
Belum sebulan berlalu ketika aku bermain-main dengan pikiranku, meramalkan kalau pertemuanku dengan satu-persatu cucu Emery--dimulai dari Jeremy, lalu Jem--akan membawaku bertemu dengan Jenina Emery. Hari ini, ramalan yang kubuat sebagai kesinisan semata, menjadi realita.
Di seberang meja, dalam balutan gaun hitam dan kalung permata yang besarnya membuat silau mata--Jenina duduk dibantu oleh bodyguard-nya.
Aku menatap wanita ringkih itu dengan bosan. Jujur saja, ini bukan makan malam yang kuinginkan. Tapi beliau memaksa, katanya.
"Bagaimana perjalananmu kemari?" aku berbasa-basi sementara pelayan di samping kami menuangkan wine ke gelas.
"Apa kau mempertanyakan kondisi fisikku atau mentalku, Arcelio?"
"Keduanya, mungkin?"
"Jangan meremehkanku. Walaupun aku sudah tua, aku masih pemimpin resmi di Hearts."
"Itu adalah masalah utamanya. Kau seharusnya menyerahkan posisi itu secara resmi kepada cucu-cucumu. Kau sudah tua, sudah saatnya kau pensiun." ucapanku cukup kurang ajar, jujur saja. Tapi aku tidak merasa berdosa. Cucu wanita ini sudah mencari masalah kepadaku, dia beruntung aku belum membantai habis dia dan garis keturunannya.
"Menyerahkan posisi itu gampang, yang sulit adalah mencari penerus yang solid dan dapat diandalkan."
"Heh, begitukah? Pasti sulit mempunyai cucu yang kompetensinya tidak sebaik aku."
"Kau terlalu arogan." Jenina memutar mata. "Tidak semua orang bisa sebaik dirimu."
"Aku akan menganggap ucapanmu sebagai pujian," aku menenggak wine di gelasku sambil memasang ekspresi mengejek kepada wanita itu.
"Kau menyebalkan, Arcelio. Ini adalah salah satu alasan mengapa Margot lebih baik mewarisi posisi ayahmu."
"Masih dengan agenda yang sama, huh? Tidak mengherankan. Sifatmu yang seperti ini lah yang terwarisi kepada Jem. Cucu kurang ajarmu itu sudah bercermin banyak padamu, itu mengecewakanku."
Jenina Emery--sebagai pihak yang seharusnya netral, mendukung Margot sebagai pemimpin Diamond. Aku dulunya tidak begitu peduli pada suara wanita renta itu, sampai akhirnya aku memimpin di Diamond. Lambat laun aku belajar tentang dunia hitam ini, tentang Jenina dan motifnya yang ingin menarik tali di belakang nama besar kami.
Dia pikir dia bisa mengendalikan Margot, sungguh memalukan. Jika Margot memimpin Diamond, tidak butuh seminggu untuk perusahaan ini hancur-lebur.
Dia adalah Jem dalam wujud yang lebih memuakkan.
Aku terkejut dia membenci Jem, apa dia membenci dirinya sendiri yang tidak kompeten?
"Berhenti basa-basinya, Arcelio." Jenina enggan membahas kelanjutan ucapanku. Sudah pasti, membahas Jem membuatnya semakin iritasi.
"Kau yang seharusnya berhenti," ujarku. "Kalau kau punya ketidaksukaan pada keputusanku, katakan langsung. Berhenti berbelit-belit dan mengangkat nama Margot di sini."
"Baiklah, kalau itu maumu..." Jenina mengembuskan napas yang menyiratkan kegerahan. "Aku memang mengajakmu bertemu untuk membahas keberatanku terhadap perjanjian yang kau kirim kepada perusahaan kami baru-baru ini."
"Oh, ada apa dengan itu?" Aku tanpa sengaja menyeringai. Sialan, ini menyenangkan. Melihat wanita tua itu jatuh berantakan.
"Apa Jem melakukan sesuatu yang bodoh?"
"Aku tidak tau apa maksudmu, dia selalu melakukan hal bodoh di mataku."
"Arcelio Hunter. Kita membicarakan perusahaan di sini. Kerja sama yang kujalin dengan Diamond bukan perihal sepele. Aku dan Harkin--ayahmu membangun kerja sama ini sudah sangat lama. Kau tidak bisa sembarangan mengutak-atiknya."
"Aaaah, aku juga tidak menganggap pekerjaan ini sepele, nenek Jen." Aku menanggapinya dengan kesopanan yang kentara palsu. "Karena aku sangat memikirkan bisnis ini, aku pikir ada lebih baiknya mengubah beberapa hal di sana sini."
"Kau tidak hanya mengubah beberapa hal, kau berencana menghancurkan kami!"
"Aku pikir Hearts cukup kuat. Menghapus kerja sama dengan pihak kami tidak akan membuat kalian hancur berantakan. Jangan dramatis."
Tidak, aku tau mereka akan hancur berantakan. Para investor yang mengekoriku dan merupakan kolega-kolegaku akan menarik diri mundur dari Hearts kalau mereka tau aku menarik support-ku dari sana.
"Arcelio, apa yang sedang kau permainkan? Apa kau berencana menghancurkan tiga keluarga atas keserakahanmu semata?"
__ADS_1
Ucapan Jenina membuatku tertawa samar. "Kupikir itu rencana Jem, bukan rencanaku."
Aku menenggak wine-ku sekali lagi, sebelum lanjut berbicara. "Bukankah tujuan Jem adalah membuat Clubs dan Spades beraliansi melawanku? Agar kami saling menghancurkan hingga hanya dirinya yang berdiri dengan gagah di antara peperangan kami?"
"..." Jenina bungkam.
Heh, jangan anggap aku tolol untuk tidak bisa membaca hal sepele semacam taktik dangkal cucunya.
"Apa kau pikir, aku masih bisa mempercayai Hearts setelah segala akal bulus cucumu?"
"Arcelio, kumohon..." Jenina menelan harga dirinya dan menatapku dengan mata memohon takut. "Cucuku memang bodoh, tapi hukuman semacam ini sangat buruk. Pi-pikirkan pihak yang terlibat? Karyawan-karyawan kami? Mereka semua butuh upah untuk hidup!"
"Apa kau berusaha memerah empati keluar dari diriku, orang tua?" Aku menyilangkan lengan di dada, mata menyorot Jenina jenaka. "Kalau kau mau memikirkan para pekerjamu, seharusnya kau memikirkan risiko itu di awal, bukan setelah kau bertingkah bodoh!"
"Arcelio, kumohon..." Jenina menggapai tanganku di meja, jemari rentanya mencengkeram lenganku dengan dingin di ujung jemarinya. "Aku akan menuruti apa pun yang kau mau."
"Apa kau pikir masih ada hal yang menarik dari Hearts yang kuinginkan?"
"Kau..., kau datang kemari. Itu artinya kau masih terbuka pada negosiasi. Katakan, apa pun yang kau inginkan..., aku akan membantumu."
Jenina cukup pintar. Aku takjub padanya. Dia mungkin mencerminkan Jem, tapi tidak seperti Jem yang sangat bergengsi tinggi, wanita ini tau kapan menundukkan kepalanya. Dia tau siapa yang harus dia takuti.
"Kau mungkin ada benarnya...," aku bersandar di bangku, seringai puas bermain di wajahku. Sekarang, aku adalah orang yang akan menarik tali di belakang keluarga Emery. Aku--dalam kata lain, adalah pemimpin Hearts sekarang.
Aku bisa saja melakukan ini sejak dulu. Tapi aku menahan diri karena aku menghormati keluarga Emery yang merupakan sahabat nenek moyangku. Sekarang, setelah apa yang Jem lakukan, aku tidak akan menganggapnya sebagai kawan lagi. Tidak, bahkan untuk sebuah formalitas.
"Aku akan melanjutkan kerja sama dengan Hearts, tapi dengan satu persyaratan..."
"Ya, katakan saja."
...----------------...
Setelah berembuk dengan Jenina Emery, aku tidak pernah merasa selega ini. Satu duri yang menusuk kakiku sudah tercabut. Hanya tersisa beberapa duri lagi sebelum aku bisa berlari ke arah Fawn--sosok yang sudah menjadi sarang rinduku belakangan ini.
Aku merindukan Fawn, sangat-sangat merindukan Fawn. Aku mendamba suara berisiknya, celotehan tidak pentingnya. Aku rindu ketika dia sangat nyata di sisiku. Bukan sebuah ilusi yang muncul atas imajinasiku lagi.
Drrrrtttt!!!
Drrrrrtttt!!!
Getar di ponselku mengganggu. Dengan kebosanan, aku merogoh saku. Nama Indira Rashid tertera di layar ponselku, belum kuganti menjadi Indira Caspian.
"Halo," aku menyapanya malas-malasan.
"Aww, Ace. Kenapa dingin sekali? Apa aku mengganggumu?"
"Kau selalu menggangguku, Indira. Apa maumu malam-malam begini?"
Sekarang sudah jam 11, apa tuan puteri satu ini tidak mengenal istirahat?
"Aku merindukanmu, sahabatku tercinta."
"Kumatikan, ya?"
"Jangan, jangan! Aku hanya bercanda! Jangan jahat!" Indira merengek di telingaku.
"Dengar, aku sedang berbahagia sekarang..., jadi aku menghubungimu."
"Salah orang, kau seharusnya menghubungi suamimu."
"Berisik! Jangan merusak mood-ku." Indira berubah ketus.
Aku benar-benar benci pada wanita ini. "Katakan, apa yang membuatmu 'berbahagiaaa' sekarang?"
__ADS_1
"Oooh, kau penasaran, kan?"
Haruskah kumatikan panggilan ini sekarang?
"Ace, apa kau benar-benar tidak tau?"
"Tau apa?"
"Fawn sudah kembali."
"..."
"Dia sedang menyisir rambutku sekarang."
Jantungku seperti berhenti. "Huh, dia di sana?"
"Yuppss. Sebenarnya sudah dua mingguan dia di sini, tapi karena aku sibuk, aku lupa mengabarimu. Kau tau kan, ayahku akan ulang tahun sebentar lagi. Aku sibuk mempersiapkan acara ulang tahunnya."
"Apa dia baik-baik saja?" Tanganku bergetar tanpa bisa kutahan.
"Ayah?!"
"Fawn, Indira. Apa dia baik-baik saja?"
"O-oh, dia baik. Dia sangat baik." Indira menanggapiku dengan kebingungan, tapi aku tidak akan heran. Aku baru saja menekan suaraku penuh keseriusan.
"Apa dia..., apa dia benar-benar di sana?"
"Yaa."
Aku ingin melihatnya.
"Fawn, Ace tidak percaya kau di sini." suara Indira yang berbicara dengan Fawn sampai ke telingaku. Mendengar itu, jantungku berpacu dengan sangat laju.
Aku tau, yang berbicara dengan Fawn sekarang adalah Indira. Tapi, entah bagaimana rasanya itu adalah aku. Aku ingin tau bagaimana Fawn bereaksi atas namaku? Apa dia jijik dan benci, terkejut, sedih..., atau dia merasakan apa yang kurasakan sekarang? Apa dia merindukanku?
"Nona Indira, jangan menggantung panggilannya."
Suara Fawn terdengar samar-samar di sana. Hatiku kembali menjerit sakit. Aku ingin melihatnya. Menyentuhnya.
"Mmm, mmm. Ace, apa kau masih mendengarkanku?" Indira menyapa kembali.
"Aku mendengarkan," gumamku.
"Lupakan tentang Fawn, ayahku akan berulang tahun sebentar lagi..., apa kau tau artinya itu?"
"Dia akan bertambah tua?"
"Sialan, Ace..., aku akan bebas.. Bebasss!!! Aku akan pergi ke pesta, bertemu ayahku dan semua orang!!!"
"Ah..." benar juga, aku lupa kalau Indira masih seorang tawanan rumah di kediaman Caspian.
"Apa kau sudah mendapat undangan dari keluargaku?"
"Kurasa?" aku belum mengecek apa pun.
"Dengar, aku akan mengirim undangan lagi kalau-kalau Anggara belum mengundangmu." Indira sangat antusias, tapi aku masih memikirkan Fawn. Terpaku pada keberadaannya di sana. Apa dia menyimak perbincangan kami?
"Kau harus datang, oke? Bawa Margot juga. Aku merindukan kalian."
"Aku akan berusaha datang." Aku menyahut dengan tenang. Biasanya, bila ini adalah keluarga Indira, aku tidak akan mau terlibat sama sekali. Tapi, memikirkan probabilitas kalau aku akan bertemu dengan Fawn di sana, aku rela mendatangi wilayah musuh bila itu artinya bisa melihat mata rusa itu lagi.
Aku akan melihatmu kembali, Fawn. Aku harap..., nanti, kau tidak akan melarikan diri lagi.
__ADS_1
...----------------...