DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
18. BERTEMU JEM


__ADS_3

...FAWN pov...


.........


Margot hunter sudah menempeliku seperti bisul di pantat. Kemunculan dan ketertarikannya yang tiba-tiba kepadaku dalam tiga hari belakangan sukses membuat situasi di kamar Ace berubah 180 derajat. Aku memaksakan diri untuk beradaptasi dengan sebuah kegilaan lain yang sangat asing.


Kegilaan semacam mendengar sejuta tanya yang ia lontarkan, hal-hal tidak penting semacam warna favorite, hobi, zodiak, dia menanyaiku hal-hal semacam itu.


Aku juga harus bersabar menemaninya menonton variety show, berkaroke, mengemil, bermain game online, bermain kartu, bermain monopoli, aku seperti berurusan dengan bocah enam tahun!


Jujur saja, awalnya aku menikmati keramaian yang nona Margot ciptakan di kamar Ace. Aku juga sangat menikmati melihat laki-laki keparat itu menunjukkan raut penuh iritasi saat melihat tingkah saudara sulungnya. Tapi, akan selalu ada tapi, lama-kelamaan aku juga jenuh sendiri.


Aku ingat nona Margot adalah gadis yang mengintimidasi orang-orang hanya dengan tatapannya, aku tidak ingat kalau nona Margot adalah wanita gila. Indira tidak pernah cerita kalau nona Margot punya masalah kejiwaan.


"Nona Margot, apa kau tidak punya rencana keluar hari ini?" Aku iseng-iseng bertanya.


Aku harap dia pergi ke suatu tempat karena demi Tuhan, aku sangat mengantuk sekarang. Kebiasaan baru yang muncul setelah lama di kurung di sini, yaitu tidur siang, mulai meneror mataku. Aku tidak tahan terus menatap cahaya neon di dinding yang menampilkan wajah laki-laki tampan bermain ski air.


"Apa kau gila? Di luar hujan. Tidak ada manfaat untuk keluar saat jalanan basah. Sepatuku bisa kotor."


Huh, ya. Aku gila?


"Apa kau tidak punya pekerjaan lain?"


"Aku punya," jawab nona Margot enteng.


"Kenapa kau tidak melakukan pekerjaanmu?"


"Karenaaa..., aku tidak suka kamarku. Sangat dingin dan membosankan. Aku tidak punya orang yang bisa diajak bicara."


Aku memutar mata mendengar keluhan nona Margot.


"Bagaimana dengan Vera?" Maksudku adalah bodyguard pribadi Margot yang sekarang duduk di sofa tunggal sambil memangku popcorn.


"Dia sangat tidak menyenangkan."


"Nona Margot, apa salahku?" Vera langsung menatap kami.


"Aku pernah bilang kepada Ace kalau aku menginginkan bodyguard perempuan seperti yang dipunyai Indira, tapi Ace malah membawakanku wanita berkepribadian seperti pria."


"E-eh?" Tidakkah dia agak keterlaluan?


"Fawn, kau pasti tidak tau ini, Vera adalah bodyguard terkuat setelah David." Bicara soal David, dia adalah kepala bodyguard nona Margot. David sekarang berada di balkon, berdiri sendirian dan membiarkan kami perempuan menonton variety show. Kadang, kalau dia jenuh di luar, David akan bergabung sambil meminum kopi.


"Itu bagus, bukan?" Aku salut bila ada bodyguard wanita yang hebat dan kuat. Itu baik, aku malah ingin ada lebih banyak wanita di bidang ini. Setidaknya, dengan begitu aku tidak perlu merasa canggung di ruang ganti.


"Bagus apanya? Aku menginginkan bodyguard wanita yang paham pada gosip, drama, dan fashion. Aku tidak menginginkan wanita maskulin yang tau cara memelintir leher pria dengan ketepatan yang akurat."


Tapi dengan kriteria seperti yang nona Margot inginkan, mustahil sosok itu akan menjadi bodyguard.


apa maksud nona Margot dia menginginkan seorang teman? Seorang teman mungkin lebih tepat untuk deskripsinya.


"Kalau begitu, bagaimana denganku?" Aku mengalihkan tombak tajam mulut Margot yang tertuju ke arah Vera menjadi ke arahku. Aku tidak ingin Vera disakiti oleh ucapan gila bosnya.


"Ada apa denganmu?"


"Aku juga seorang bodyguard," kataku. "Aku tidak mengikuti gosip, drama dan sangat tidak paham trend. Tidakkah kau bosan padaku?"

__ADS_1


"Kau berbeda..." Suara ketus Margot seketika berubah manja. "Kau menghiburku."


"Apa bagian dari diriku yang menghibur kalian, sih?" Aku menggaruk kepala frustasi.


Demi Tuhan, apa yang salah dariku sampai nona Margot dan Ace menganggapku seperti hiburan pribadi mereka? Apa aku punya keunggulan, keunikan yang menarik minat psikopat? Aku mencermati situasiku dan merunut kejadian dari awal pertemuanku dengan Ace, tapi tetap saja aku tidak mengingat apa pun. Aku tidak ingat pernah menggoda mereka, aku sangat biasa.


"Kau itu bodoh, jadi jangan memaksakan otak kosongmu itu untuk berpikir." Margot mengejekku. Aku tidak menanggapi serius ucapannya dan hanya menggelengkan kepala.


Sementara Margot kembali menatap layar, sebuah ketukan ringan menyapa kupingku. Aku yang tidak bisa bergerak karena kaki Margot berada di pangkuanku, hanya menggerakkan mata ke arah sumber suara. Di depan pintu yang terbuka, Felix datang bersama seorang pria di balik punggungnya. Orang itu...


Tuan Jem?


Aku mengingat pria dalam pakaian training merah itu sebagai Jemaine Emery, pemimpin keluarga Emery dan kepala di Hearts. Dia adalah pria yang kerap menemani tuan Anggara bermain billiard. Apa yang pria itu lakukan di sini? Jangan bilang dia mengambil pihak Ace?


"Permisi, nona Indira..." Felix menyapa.


Mataku menyorot Jem dengan waspada. Seperti berusaha mencerna maksud keberadaannya.


"Seseorang sepertinya bermalas-malasan." Ketika Jem bersuara, Margot yang dalam mode bermalas-malasannya seketika terlonjak bangun. Matanya melebar menatap kepada Jem yang seketika menghampirinya juga.


Mereka berbagi pelukan erat di depanku. Aku menatap keduanya dan melirik Vera yang sekarang berdiri meninggalkan sofa. Vera tidak mengatakan apa-apa, tapi binar matanya menyiratkanku untuk santai.


"Jem, kapan kau datang?" Margot yang suram menyengir ramah. Dari suaranya yang meninggi, aku bisa tau kalau Margot sangat senang saat melihat Jem.


"Aku mengobrol dengan Ace sejak tadi."


"Kau seharusnya memanggilku." Margot mempersilakan Jem duduk di antara kami. "Felix, bawakan Jem teh chamomile dan brownies cokelat."


"Baiklah," Felix pamit undur diri dan meninggalkan kami bersama si tamu.


"Kenapa kau datang? Apa ada hal urgen?" 


Aku menjadi terpana pada perubahannya. Pertanyaan pun muncul di benakku saat itu, yang mana versi asli Margot?


"Kau adalah hal urgen tersebut." Jem menatap Margot dan tersenyum. "Aku mencemaskanmu."


"Kau..., tidakkah kau agak terlambat? Dua minggu nyaris berlalu."


Aku menyimak interaksi mereka dan kembali mengingat tentang pengeboman yang ditujukan untuk Margot. Jem pasti membahas hal tersebut.


"Pekerjaan memaksaku terperangkap di benua lain. Kalau kau tau betapa besar aku ingin melarikan diri ke sini dan bertemu denganmu. Kau sudah seperti adikku, tau."


Margot mengangkat bahu. "Baiklah, kau tidak perlu merasa bersalah. Lagipula aku baik-baik saja."


"Kau mengatakannya seperti itu adalah sesuatu yang biasa, tapi aku sangat mencemaskanmu. Tolong, jangan menganggap remeh perihal ini lagi. Aku bisa mati muda karena jantungan."


"Akan kuusahakan, tuan Jem." Margot membuat lelucon.


Jem menghela napas panjang. Ia menjadi lebih rileks setelah memastikan kondisi Margot. Matanya lalu menyorot ke arah kami--para penghuni ruangan yang menemani Margot. Dari Vera, David yang berdiri di luar, lalu ke arahku. Dia menatapku agak bingung sebelum kembali menatap Margot.


"Apa yang kau lakukan di kamar Ace?" tanya Jem.


"Menonton variety show."


"Tidak biasanya," Jem lalu melirikku lagi. "Ini--, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


Wajar saja bila pria itu heran. Aku satu-satunya orang selain Margot yang tampil dalam pakaian kasual, dan berada di dalam kamar Ace.

__ADS_1


"Ha-halo," Aku tergagap gugup. Jem sangat ramah dan sangat asing. Di antara empat kepala keluarga lain, dia adalah pria yang tidak pernah benar-benar kupahami kepribadiannya. Dia juga tidak punya rumor yang bisa dijadikan bahan untuk menilai karakternya.


"Oh, akhirnya kau bertemu dengan peliharaanku." Dari pintu, suara Ace mengganggu. Aku tidak perlu berbalik untuk tau kalau si bajingan itu sekarang memasang tampang paling menyebalkan.


"Peliharaan?" Jem heran. Tentu saja dia heran. Manusia di rumah ini sangat tidak waras.


"Jem, ini Fawn. Dia adalah tawanan Ace sekarang." Margot mengiming-imingi dari belakang. "Dia lucu, kan?"


"Tawanan? Peliharaan? Apa aku tidak salah dengar?"


"Kau tidak tuli, mereka hanya psikopat." Aku akhirnya bersuara.


"Apa-apaan?" Jem seperti malaikat--menunjukkan keseriusan bercampur kecemasan. Dia pasti pria bermoral tinggi. "Apa kalian bercanda?"


"Mana mungkin." Margot tertawa kecil. "Ace sengaja menculiknya untuk dijadikan hewan peliharaan."


"Menculik..., Ace?" Jem seketika berdiri, matanya menuntut penjelasan kepada sobat psikopatnya. Aku penasaran bagaimana Ace akan menjelaskan kegilaannya. Aku harap Jem akan sangat marah dan memaksa Ace untuk membebaskanku. Tuhan, tolong biarkan situasi itu terjadi!


"Jangan meributkan mainanku," kata Ace. Dia mendekat ke sofa, tangannya yang lebar tiba-tiba berlabuh di kepalaku. "Juga, aku tidak menculiknya, tapi dia yang menyerahkan dirinya suka-rela padaku. Benarkan, Fawn?"


Aku mendongak dengan kejijikan. Si keparat ini membuat situasiku terdengar kotor.


"Dia bahkan datang kepadaku dengan gaun pengantin," Ace kembali melanjutkan. "Apa kau ingat, Fawn..."


Suara napas Ace menyentuh daun telingaku. Dia menunduk sangat dekat di sampingku sampai hawa panas napasnya menyapu kulitku. "Apa kau ingat malam pertama kita?"


"Keparat!" Aku menyentak tubuhku menjauh dari jangkauan tangannya.


Ace lalu tertawa puas.


"Aku tidak akan terkurung di sini kalau bukan karena kau psikopat memaksaku."


"Aku memberikanmu pilihan." Ace terkekeh melihat reaksiku. "Kau memilih untuk tinggal."


"Itu bukan pilihan, itu ancaman."


"Tetap saja, kau bisa membuat pilihan di situ."


"Kau sinting!" Apa dia pikir akan ada anak waras di dunia ini yang rela ibu dan rekan-rekannya mati sebagai harga untuk kebebasan?


"Tunggu...," Jem kembali bersuara. "Jadi, apakah dia alasan di balik gagalnya penculikan Indira?"


"KAU TAU?"  Aku terkejut. Ya ampun, baru saja aku memikirkan Jem sebagai malaikat, tapi dia terlibat dalam kegilaan dua bersaudara ini?


"Jem yang mengusulkan ide itu," ujar Margot lalu tertawa. "Tentu saja dia tau."


Hah?


Hahahahaha. Bercanda, ya? Jadi tiga orang ini bersekongkol untuk menculik nona Indira, demi apa? Ya Tuhan!


"Kami punya alasan tersendiri, oke." Jem berbicara dengan tenang, mungkin berharap aku agar tenang juga. Tapi, setelah tau kebenaran tentang kejadian penculikan itu, siapa saja yang terlibat--aku tidak bisa tidak membenci ketiganya.


Setiap kali aku mengingat kejadian itu, aku menjadi sangat keki. Ide yang Jem berikan kepada Ace tentang menculik nona Indira adalah alasan mengapa aku berada di sini sekarang.


Aku bersyukur--meskipun aku dalam posisi yang sangat tidak bagus, aku senang bukan nona Indira yang berada di sini sekarang. Sial, keparat. Rasakan misi kalian yang gagal! Lihat wajahku dan rasakan pahit kegagalan itu!


"Aku harap kalian bertiga terus bertemu kegagalan ke depannya!" Aku menyumpahi mereka dan berlalu ke toilet. Ini tidak baik, stress kembali memuncak di kepalaku. Aku pusing dan ingin memaki semua orang.

__ADS_1


...-----...


__ADS_2