DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
50. DI DALAM KEGELAPAN


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


Selagi pesta sedang berlangsung dengan kemeriahan yang membutakan, di sudut kota yang jauh dari keramaian dan berada di antara hutan-hutan--Indira di dalam kediaman utama keluarga Caspian berdiri sendirian di balkon. Bertelanjang kaki dan hanya mengenakan piyama satin yang menggantung hingga lututnya. Angin malam menyapa tubuhnya, mendekap ia dengan suhu yang menggigit kulit halusnya.


Mata Indira tertuju kepada hutan yang hitam di bawah cahaya rembulan. Sementara ia memandang kepada kegelapan itu pula, cahaya lampu balkon yang menemaninya--menjadi satu-satunya sumber cahaya, redup dan menghitam dalam sekali kedipan mata.


Saat cahaya gelap itu datang, senyum Indira mengembang tipis. Ia melihat ke bawah balkon, kepada keramaian yang mulai menyebar di halaman depan. Para bodyguard yang membawa senter berlarian kesana-kemari, mencari penyebab atas padamnya listrik yang tidak pernah terjadi di tempat itu.


"Joseph..., aku menyerahkan sisanya padamu." Indira berbisik kepada earphone yang terselip di telinganya.


"Baik, Bos." tanggapan itu menjadi akhir konversasi mereka.


Melepaskan earphone yang menghubungkannya dengan Joseph, Indira lalu melenggang santai menuju tempat tidur. Dingin suhu malam masih mendekap tubuhnya ketika ia melangkah di kegelapan dan mendarat di tempat tidur. Lalu, setelah menapak di atas ranjang empuk itu..., Indira menarik napas dalam dan...


"AAAAAAAAAAAA!!!" Teriakan lepas dari kerongkongannya, nyaring memekakan telinga. "AIDAAAAAANNNNN!!! TOLONG AKU, AIDAAAAAAANNNNN!!!"


"AIDAAAAANNNNNNNNNNN!!!!!"


"AIDAAAANNNN!!!!"


Tidak butuh waktu lama untuk Indira berteriak, daun pintu yang terbuat dari kayu jati itu terdobrak dari luar. Aidan bersama setidaknya lima atau enam bodyguard berlari masuk dengan kepanikan. Beberapa langsung mengecek seisi ruangan.


"AIDAAAAANNN!!!" Indira meronta-ronta dengan tubuh menggigil. Ia melompat ke dalam dekapan bodyguard barunya tersebut. "TOLONG AKU, APA YANG TERJADI? TEMPAT INI SANGAT GELAP, AKU TAKUT SEKALI!!!"


"Bos Indira, tenanglah...," Aidan menahan napas ketika tubuh dingin bosnya sekarang mendekap ia sangat erat. Ia tidak tau kalau bosnya takut pada kegelapan. Merasakan tubuh Indira yang mengigil dingin di dekapannya, Aidan menjadi khawatir.


"Listriknya hanya padam sementara, Bos. Orang kami sedang berusaha menyelidiki penyebabnya."


"Jangan tinggalkan aku sendirian, kumohon..., aku sangat benci kegelapan. Hiekss..., Anggara, aku mau Anggara? Kakakku..., tidak..., Evan, di mana Evan?"


"Bos Evan masih di luar." Aidan menyahut dengan keprihatinan. "Bos Indira tidak perlu takut, aku akan menemanimu di sini."


"Kau tidak paham..., aku..., aku takut tempat gelap."


"Chris, bawakan lilin ke kamar bos Indira sekarang juga." Aidan berbalik dan memerintahkan seorang pria yang berdiri tiga langkah di belakangnya.


"Bos Indira, tenanglah sedikit...,"


Tubuh Indira yang menggigil dan enggan melepasnya membuat Aidan tidak tau harus bagaimana menanggapi Indira. Di satu sisi, ia ingin menenangkan bosnya tersebut, tapi di sisi lain, ia merasa sangat tidak nyaman berada dalam dekapan bosnya yang sangat erat. Evan bisa melubangi kepalanya kalau tau Indira sudah mendekapnya sekencang ini. Tidak, mungkin Aidan akan mati di dalam dekapan Indira yang terlampau kencang.

__ADS_1


"Bos Indira, aku akan membuatkanmu teh." Aidan memaksa lepas dekapan Indira dari lehernya seperti berusaha melepas lilitan pithon. Ketika dekapan Indira terlepas juga, barulah Aidan bernapas lega. Ia meletakkan Indira ke bibir ranjang, mengambil selimut tebal dan membungkus tubuh bosnya dengan selimut itu.


"Jangan tinggalkan aku, aku takut sendirian." suara Indira penuh ketakutan.


"Axel akan berada di sini..."


"Aku tidak tau siapa Axel, sialan!" lalu dia kembali meledak. "Kau berencana meninggalkanku dengan orang asing? Apa kau menelantarkanku??? Di rumah ini, aku tidak mengenali siapa pun. Jangan tinggalkan aku, demi Tuhan..., ka-kalau kau pergi, setidaknya bawa aku bersamamu."


Indira menangkap pergelangan tangan Aidan. Sepasang bola matanya yang berkaca-kaca menatap pria itu dengan penuh duka. Aidan--sebagai pengawal yang baru bekerja seminggu bersama Indira mau tidak mau menelan pahit di lidahnya. Ia entah bagaimana--prihatin kepada bosnya yang sekarang terkurung ketakutan di dalam kegelapan.


"Baiklah, aku tidak akan pergi kemana-mana." Aidan menghela napas, ia mengambil posisi berdiri di dekat kaki ranjang, mata menatap keluar balkon.


Jujur saja, Aidan sangat heran pada listrik di kediaman Caspian yang tiba-tiba padam. Situasi ini tidak pernah terjadi, tidak pernah dalam sejarahnya bekerja di sini dan itu sudah sejak tujuh tahun yang lalu. Aidan sangat mencemaskan keadaan di mansion Caspian, tapi kaki dan tangannya terantai di tempat ini. Aidan tidak bisa melakukan apa-apa, dan ketiadaan Evan di mansion hari ini membuat situasi semakin sulit terkendali. Segala bodyguard yang handal dan mumpuni dibawa pergi ke pusat kota, meninggalkan pengawal biasa yang jumlahnya bisa dihitung jari.


"Aidan," Chris datang dari dapur sambil membawa secangkir teh melati dan sepiring kecil lilin putih. "Saris sudah mengecek situasinya. Terjadi ledakan di dalam ruang kendali yang memicu tegangan arus pendek. Listrik akan kembali menyala dalam lima menit lagi."


"Apa kau tau penyebab ledakannya?" Aidan menyambut cangkir teh dari tangan Chris.


"Kami belum menemukan petunjuk apa pun."


Menjeda konversasinya sebentar, Aidan melenggang menghampiri Indira. Ia menyerahkan teh tersebut kepada bosnya yang masih terbungkus selimut. Wajah pucatnya kentara di bawah cahaya samar lilin.


"Bos, minumlah ini untuk menenangkanmu."


"Tidak masalah, Bos." Chris menunduk sopan, sama dengan Axel.


"Bos Indi--," dari lorong luar, terdengar suara seorang pria dan langkah kakinya yang tergesa-gesa. Aidan dan Chris spontan menaruh perhatian mereka kepada pintu yang terbuka. Ketika langkah kaki itu mendekat pula, Aidan meninggikan pistolnya di udara.


"Bos Indira..." Joseph masuk ke kamar Indira dengan kepanikan. Keringat membasahi wajahnya. "Bos Indi, apa kau baik-baik saja?"


"JOSEPH!!!" Melihat keberadaan yang sangat familiar di matanya, Indira lalu berlari dan menghampiri Joseph dengan kelegaan yang luar biasa. "Kau dari mana saja, keparat! Aku sangat ketakutan!"


"Maafkan aku bos," Joseph membalas dekapan Indira tanpa benar-benar menyentuh punggung bosnya. "Aku jatuh di tangga karena sangat panik menuju kemari. Sebelah kakiku, Agh-aaagh! Rasa sakitnya baru terasa sekarang!" Joseph berjinjit ngeri ketika sengatan ngilu di tulang keringnya mulai terasa.


"Apa yang terjadi?" Aidan menyela.


"Aku sedang merokok di halaman belakang ketika listrik padam," Joseph menjawab sambil menahan sakit. "Karena mencemaskan bos Indi, aku berlari di kegelapan dan jatuh di tangga."


"Apa kau bodoh? Kau seharusnya berhati-hati." Aidan menghardik Joseph tanpa segan. Joseph yang menerima teriakan itu, hanya meringis menahan keki.


"Maafkan aku."

__ADS_1


"Jangan memarahi Joseph," tegur Indira. "Dia hanya mencemaskanku."


"Tapi bos...,"


"Lupakan saja, karena Joseph sudah ada di sini, kalian semua bisa pergi."


Lagipula, tidak ada artinya untuk mereka beramai-ramai di kamar Indira. Mendapat perintah untuk bubar, Aidan pun mau tidak mau menuruti kemauan Indira. Di mulai dari Chris, Axel lalu Aidan--mereka mundur dengan teratur.


Selepas kepergian mereka bertiga, raut syok Indira buyar. Ia beralih menatap Joseph dengan keprihatinan. "Apa itu sangat sakit?"


Maksudnya adalah kaki Joseph yang sekarang dikorbankan demi membuat alibi yang meyakinkan.


"Ini tidak masalah." Joseph memaksakan senyuman disela kesakitannya.


"Lalu, bagaimana?"


"Aku sudah memasang alat penyadapnya di tempat yang bos Indira minta. Ah---, aku juga tidak sengaja menemukan sesuatu ketika mengecek meja kerja bos Evan..., aku pikir ini mungkin penting."


"Apa itu?"


Joseph mengeluarkan ponsel dari sakunya, mengutak-atik benda itu sebentar sebelum menyerahkannya pada Indira. Sebuah gambar tertera di sana, gambar meja kerja Evan yang agak berantakan dan di atas kertas-kertas putih itu, sebuah file tentang laporan kematian Harkin Hunter dan istrinya--Hanna Hunter--tergeletak di atas meja. File itu penuh oleh coretan hingga hanya nama korban yang tertera jelas di sana.


"Ini..." Indira mengulum bibir, bimbang dengan apa yang matanya saksikan.


"Aku rasa, bos Evan sedang melakukan penyelidikan tentang kematian orangtua tuan Ace, Bos." Joseph memberikan tanggapannya. "Sayang sekali, segala informasi di berkas ini tertutupi."


"Bukankah Harkin Hunter meninggal dalam ledakan, mengapa hasil penyelidikannya ditutupi?"


"Kemungkinan pihak tuan Ace yang meminta demikian."


Yang menjadi tanya utama adalah mengapa Evan ingin tahu masalah itu? Apa yang dia inginkan dari informasi tentang kematian Harkin Hunter?


Sementara Indira termangu dalam banyak tanya yang muncul di benaknya, lampu yang sebelumnya mati akhirnya menyala. Cahaya terang dari lampu gantung di kamar itu membuat Indira mengerjapkan mata beberapa kali sebelum bisa beradaptasi dengan terangnya.


"Terima kasih atas kerja kerasmu, Joe. Kau bisa mengobati kakimu sekarang dan oh..., satu lagi..." Indira menatap Joseph dengan cengiran polos yang membuat bodyguard-nya itu menunduk.


"Aku akan menyampaikannya pada tuan Ace." Joseph menyanggupi permintaan Indira sebelum mundur dari ruangan tersebut. "Selamat malam."


"Selamat malam."


Indira sudah membulatkan tekadnya, ia tidak akan tinggal diam di rumah ini sebagai istri--trofi yang hanya berguna sebagai pajangan. Ia tidak akan menutup mata pada segala kejanggalan yang terjadi di sekitarnya.

__ADS_1


Ia akan menemukan jawaban untuk semua pertanyaan yang menggantung di benaknya, dan itu dimulai dari relasi Evan dan Anggara yang membuatnya sangat curiga.


...----------------...


__ADS_2