DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
93. PEMBERONTAKAN


__ADS_3

...FAWN pov...


...----------------...


"Aku sudah memutuskan," kata nona Indira. Di dalam mobil yang melaju sedang membelah jalan raya, nona Indira mendeklarasikan sesuatu kepadaku dan Aidan yang duduk di bangku depan--menyetir kami.


Aidan menyimak dengan mata penuh perhatian ke jalan. Aku yang duduk di samping nona Indira, bingung bereaksi seperti apa--menyimak tanpa banyak suara.


"Aku akan menceraikan Evan," lanjut nona Indira.


Kerongkonganku kering seketika. Aidan mengintip ke arah kami melalui kaca spion tengah.


"No-nona Indira," kataku. "Tenanglah sedikit. Apa nona Indira ingin pergi ke suatu tempat?"


"Aku serius, Fawn. Aku akan menceraikan Evan."


Masalahnya, nona Indira. Hanya karena kau ingin melakukannya, bukan berarti tuan Evan akan memberikanmu kebebasan untuk lepas dari tangannya. Juga, apa nona Indira melupakan kalau sekarang keluarga Rashid adalah bagian dari keluarga Caspian?


Perusahaan mereka melakukan kerja sama karena pernikahan yang terjadi di antara mereka berdua.


"Nona Indira..." Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi menenangkan orang yang sedang marah bukanlah spesialisasiku. Oh, aku bahkan tidak bisa menenangkan diriku sendiri kala marah, bagaimana mungkin aku mampu menenangkan nona Indira?


Sekali lagi, pagi itu, aku menggigit lidahku. Menahan segala kata yang bila keluar dari mulutku, hanya akan berakhir sebagai bencana. Ya, kata-kata semacam 'Jangan bicara omong kosong, nona Indi!' atau 'Ceraikan saja, toh, dia tidak membuatmu bahagia!', segala kata-kata yang menyumbat di benakku itu akan menjadi paku di peti matiku kalau-kalau aku berani mengutarakannya.


Karena, bagaimanapun, Aidan adalah mata-mata tuan Evan. Pria itu menyimak setiap hal yang terjadi di sini dan akan melaporkan setiap tindakan kami kepada tuan Evan. Aku akan menjadi kayu api penghangat perapian kalau tuan Evan tau aku men-support nona Indira untuk menceraikannya.


"Apa kau tau apa yang dia lakukan?" nona Indira kali ini berucap dengan sedikit kelembutan dan kesedihan di suaranya. Dia yang selalu manja padaku bersandar di pundakku. Aku merasa sedikit nyeri di sana, tapi tidak memberikan protes pada tindakan nona Indira.


Aku menyimak kata yang hendak keluar dari bibirnya dengan telinga yang siaga. Tanganku menggenggam tangan halus nona Indira, memberikannya ketenangan di sana.


"Evan membiarkan media menjadikanku objek gosip karena dia pikir aku pantas mendapatkannya." Suara nona Indira perlahan serak. "Dia bahkan menyalahkanku karena terlalu dekat pada Ace."


Benar-benar, si bajingan itu!


"Apa salahku kalau aku memilih berdansa dengan Ace ketika suamiku sendiri sibuk berbicara dengan wanita lain? Dia bahkan tidak menyapaku selama di pesta dan terus menggandeng Norah kemana-mana."


Siapa Norah?


"Gadis itu bahkan bukan bagian keluarganya, hanya seorang teman yang katanya ia kenali sejak kecil. Apa kau pikir itu masuk akal untuk menghabiskan waktumu lebih banyak bersama temanmu sendiri sampai melupakan istrimu?"

__ADS_1


"..."


"Dia tidak menghargaiku sama sekali sebagai istrinya. Dia bukan Evan yang kukenali. Bahkan saat kami bersahabat dulu, dia tidak seburuk sekarang. Aku tidak mengenalnya lagi, Fawn. Aku pikir aku sudah salah menilainya, aku tidak tahan lagi."


Nona Indira menangis di pundakku. Suara isakannya membuat mataku agak berkaca-kaca.


Sialan, kenapa aku sangat lemah pada suara isakan? Seolah mendengar tangisan nona Indira, aku ikut terluka. Hatiku terhimpit oleh rasa sakit.


Membayangkan diriku berada di posisi nona Indira, Evan Caspian mungkin sudah mati di tanganku saat itu juga. Aku tidak mungkin mampu bertahan dengan permainan pikiran yang mereka berdua tukarkan. Nona Indira yang berpura-pura kuat, dan tuan Evan yang oh, dia buruk di segala aspek.


"Aku tau dia tidak bisa mencintaiku, tapi..., dia tidak seharusnya menyakitiku. Apa dia pikir mempermalukanku di publik adalah tindakan yang tepat untuk mengedukasiku?"


Tentu saja tidak. Aku tidak menyetujui itu.


"Jika dia pikir dia bisa bersenang-senang dengan wanita lain, aku tidak bisa?"


Sial, aku merasa atmosfir di mobil itu sedikit berubah. Sebuah kesedihan yang menguar dari nona Indira berganti menjadi sedikit gelap dan penuh oleh amarah terpendam. Aku hendak menatap wajah nona Indira, tapi dia menarik dirinya agar duduk dengan tegap, mata menatap ke arah Aidan dengan binar mata tajam.


"Aidan," panggil nona Indira, sepasang bola matanya yang masih basah berkobar menyiratkan api amarah. "Bawa aku ke mall."


"Tapi nona Indira, area itu sangat ramai. Kami tidak mempunyai cukup pengawal untuk mengawasimu di keramaian."


"Apa aku meminta pendapatmu?"


"Nona Indi--"


"Kau menurutiku atau kau turun di sini, Aidan."


Sudah kubilang.


"Baiklah, nona Indira. Aku akan ikut bersamamu." Aidan menyerah.


...----------------...


Nona Indira bukanlah gadis yang bisa kau kekang. Dia adalah si bungsu Rashid yang meskipun anggun dan menawan--memiliki kepala batu. Dia sangat sulit diatur dan sangat picik dalam menanggapi sesuatu yang tidak berjalan sesuai kemauannya. Aku sudah melihat segala kepicikan nona Indira. Dia akan meledak marah bila sesuatu tidak berjalan sesuai kemauannya, seperti anak kecil yang mengontrol orang lain dengan emosinya, nona Indira tidak jauh berbeda.


Oleh karena itu, ketika hari ini nona Indira mengajakku pergi ke mall dan membeli beragam pakaian musim panas yang terbuka di sana-sini, aku tau dia sedang menunjukkan sisi pembangkangnya. Dia akan berulah dan membuat Evan Caspian semakin marah.


"Apa ini baik-baik saja?" Joseph bukan tipe pengawal yang akan terbiasa pada kegilaan nona Indira. Dia mendekatiku dan berbisik gugup. Nona Indira yang kami kenal anggun dan jelita baru saja keluar dari ruang ganti. Mini dress berwarna red velvet melingkupi tubuh indahnya. Aku terpaku sementara dan ingin bertepuk tangan saking kagumnya.

__ADS_1


"Apa yang kau tanyakan, Joseph? Ini sangat baik." Aku mendukung apa pun yang nona Indira ingin lakukan kalau itu berarti membuat Evan Caspian merengut garang. Pria itu perlu merasakan sedikit pembalasan atas kekejamannya pada nona Indira.


"Sekarang aku mengerti kenapa nona Indira sangat menyukaimu," Joseph kembali bicara. "Kau mendukung apa pun yang dia lakukan. Itu tidak baik, Fawn."


"Aku mendukung nona Indira untuk bersenang-senang. Selama dia senang, aku tidak mempunyai alasan untuk membantahnya."


Bahkan sejak nona Indira masih berada di SMA, ketika dia senang memanjat pohon di halaman belakang sekolah, selama dia tidak jatuh, aku tidak pernah mencegah keputusannya.


"Yaaa, aku harap dia hanya bersenang-senang." kata Joseph.


Aku mengangguk sambil mengulum senyuman.


Yang Joseph tidak ketahui adalah, sebelum kami masuk ke salah satu toko yang menjual dress cantik ini, nona Indira sudah menelepon Mesa. Meminta sahabatnya itu untuk membuat sebuah pesta di Leviathan. Sebuah pesta besar yang dari sepengetahuanku, akan mengundang beragam model, artis dan teman-teman pria nona Indira.


Mereka semua akan datang, Ace juga akan datang.


Memikirkan kegilaan yang nona Indira ciptakan, aku sedikit senang. Setidaknya, aku mempunyai kesempatan untuk melihat Ace lagi. Walau sebenarnya kami baru bertemu.


"Fawn, apa kau mau memilih baju juga?" Nona Indira mendekatiku.


"Tidak perlu, nona Indi. Aku sedang bekerja." Aku tidak berpikir berpakaian terbuka akan menguntungkan posisiku sekarang. Terlebih dengan jejak Ace di tubuhku yang butuh beberapa hari untuk hilang. Aku hanya akan menjadi bahan omongan.


"Aww, kau yakin?"


"Aku serius."


Bibir nona Indira mengerucut. "Kau tidak menyenangkan sama sekali."


"Ah, jangan begitu, nona Indi. Aku terluka."


"Teruslah berbohong seperti itu." Nona Indira kembali memantau dirinya di depan cermin. "Ngomong-ngomong, ada apa dengan pakaianmu? Tidak biasanya kau memakai turtle neck di bulan Juli."


"Yaaah, aku flu," dan aku berbohong.


"Kau harus menjaga kesehatanmu, Fawn."


"Aku akan berusaha dengan baik. Nona Indira juga, tolong jangan menangis lagi, oke?"


Nona Indira menatap pantulanku dari kaca, senyum merekah tipis di wajahnya. Menyiratkan haru dan sendu. "Terima kasih sudah mengerti aku, Fawn."

__ADS_1


"Mmm."


...----------------...


__ADS_2