
...NORMAL pov...
...----------------...
"Ini sudah cukup bagus, bos Ace." Adalah ucapan yang dilontarkan Felix pada hari pertama kelas belajar memasak kare mereka. Tapi, meskipun begitu, lawan bicaranya tidak menunjukkan kepuasan. Ace berdiri sambil bersilang lengan di dada. Mata menatap semangkuk kare yang merupakan karya kesekiannya pagi itu. Karya yang dari semua karyanya--masih mengecewakan baginya.
"Aku akan melakukan ini lagi besok," kata Ace. Dia melihat keluar jendela. Kepada langit biru yang sudah menyapa. Ace perlu mempersiapkan dirinya untuk bekerja. Kendati ia masih belum puas dengan hasil kare-nya, ia tidak bisa terus berkutat dengan daging dan kentang yang sudah berpanci-panci ia buang karena kegagalan.
"Baiklah, bos Ace."
"Siapkan sarapan Fawn sekarang dan oh..., jangan menyinggung masalah kare ini padanya."
Felix mengangguk sekali lagi, lalu Ace pun pergi. Menuju kamarnya, ke tempat sosok yang ia cintai sedang tertidur lelap di dalam dekapan selimut tebal. Setidaknya, begitulah yang Ace pikirkan sampai akhirnya ia membuka pintu kamar. Fawn yang ia pikirkan sedang tertidur lelap--sudah duduk di bibir ranjang, kaki tergantung menyentuh lantai marmer yang dingin.
Fawn mendongak menatap Ace dengan kuapan besar. "Kau dari mana?" tanya Fawn, matanya berair akibat kantuk.
"Aku ada urusan pekerjaan," sahutan Ace tidak membuat Fawn seketika percaya. Salahkan itu kepada kuat aroma bumbu yang menguar dari pakaian Ace.
Apa pria itu bergelut dengan bumbu dapur sebelum ini? Ace juga tidak terlihat seperti pria yang baru selesai bekerja. Tidak dengan lengan piyamanya yang digulung sampai siku, kening berkeringat, mata sesegar semangka. Ace ketika selesai bekerja biasanya nampak kelelahan, mata lesu dan kepala tertunduk.
"Apa kau--" Fawn hendak mengatakan sesuatu--tapi berhenti di udara. Ia mengembangkan senyuman dan menggaruk alisnya. "Tidak, tidak ada."
"Ada apa?"
"Tidak, tidak ada." Fawn menggeleng dan kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Entah mengapa, gadis itu mulai cekikikan sendiri di balik selimut yang tertarik sampai dagunya. Ace menatapnya Heran, tapi enggan bertanya. Mungkin Fawn cuma sedang gila saja. Ini bukan pertama kalinya Ace melihat Fawn bertingkah aneh. Ini hanya satu dari sekian keanehan Fawn yang Ace cintai.
"Aku akan mandi sekarang," kata Ace setelah mengambil handuk dari lemari. Ia melenggang mendekati Fawn di tempat tidur. Duduk di sisi ranjang dan menatap sepasang mata hazel Fawn yang berkilau kekanakan. Seperti bocah yang bangun dalam keadaan riang.
"Aku penasaran dengan isi kepalamu," kata Ace tanpa bisa menahan senyumannya.
"Kau tidak akan mau tau." sahut Fawn, senyum mengembang lebar.
"Kau membuatku penasaran."
"Ada beberapa hal yang tidak boleh kau ketahui, oke?" Fawn kembali terkekeh.
"Well, apa pun itu..." Ace membungkuk dan mencium kening Fawn. "Aku senang kau senang."
"Sebentar," cegah Fawn saat Ace hendak menarik dirinya menjauh dari wajah Fawn. Dengan kecepatan yang mengejutkan, Fawn menyambar wajah Ace dan memberikan ciuman di bibir Ace yang dingin dan lembab. Ace seketika terpana, tapi itu tidak mencegahnya bereaksi dan membalas pagutan Fawn kembali.
Dua menit--sampai akhirnya Fawn mendorong pundak Ace dengan penuh tenaga--barulah pria itu melepaskan pagutannya. Mata mereka bertemu. Fawn dengan kejengkelan, Ace dengan kekecewaan.
__ADS_1
"Kau tidak bisa dibaiki sama sekali," ketus Fawn. Pria itu bisa meluruhkan pakaiannya kalau mereka tetap di pagutan itu lebih lama. Fawn sudah hapal pria itu dan segala kebiasaan buruknya.
"Kenapa? Kupikir kau mau itu?"
"Tidak ada, tidak ada yang mau apa pun!" Fawn berujar garang. Ia menendang Ace, menggulung dirinya di dalam selimut dan membelakangi pria itu. Ace yang ditinggalkan Fawn hanya menghela napas muram. Sialan, dia sudah bersemangat duluan.
...----------------...
Jerome--asisten pribadi Ace--sedang membaca jadwal Ace hari ini dengan sangat serius. Ia berdiri di depan meja Ace, memegang tablet hitam dengan label apel tergigit sebagian tersebut.
Sementara Jerome menerangkan kalau hari ini Ace perlu bertemu dengan klien baru dari Mesa Tech, bosnya, Ace malah menguap panjang. Air mata menyeruak tipis di mata hitam bosnya yang kerap memandang manusia seperti memandang sampah.
"Bos Ace," Jerome sangat takjub. Tidak biasanya Ace menguap. Dalam pengalaman kerja Jerome, jumlah Ace menguap di depan matanya bisa dihitung jari. Pria itu biasanya sangat fokus saat bekerja, penampilan segar dan mata yang tajam. Dia tidak pernah terlihat seperti pegawai kantor pada umumnya, pegawai yang datang bekerja dengan lunglai tak bertenaga.
"Lanjutkan saja," kata Ace sambil menyeka basah di ujung matanya.
"Lalu..., hari ini juga, setelah bertemu dengan tuan Sakamoto, bos Ace mempunyai waktu istirahat 20 menit sebelum kita melakukan pengecekan ke gudang senjata di Selatan. Aku sudah mempersiapkan jet pribadi untuk ke sana hari ini. Tuan Frederick akan menunggu bos Ace di sana untuk membahas perjanjian menyangkut senjata baru dan lisensinya."
"Ah," Ace merasa kepalanya seakan hendak meledak. Terlalu banyak aktivitas dan dia hanya satu orang. Sialan. Kehidupan ini sangat melelahkan. Ace hanya ingin pulang dan memeluk Fawn. Itu pasti sangat nyaman.
"Apa bos Ace baik-baik saja? Aku bisa membatalkan pertemuan dengan tuan Frederick kalau bos Ace kurang sehat."
"Tidak perlu, aku hanya kurang tidur."
Sementara itu, di ruang kerja Ace yang suhu ruangannya di bawah 20 derajat. Ace bersandar di bangku dengan mata yang tertutup sayu. Dia punya banyak pekerjaan, tapi kantuk membuatnya sangat kesulitan menaruh perhatian pada apa pun. Semua ini terima kasih kepada pelajaran membuat kare-nya yang dilaksanakan setiap pukul 3 pagi bersama Felix. Waktu tidur Ace yang memang hanya sedikit--menjadi lebih sedikit akibat pelajaran memasak kare tersebut.
Hari ini adalah hari ketiga Ace belajar membuat kare. Sedikit demi sedikit, usahanya menunjukkan hasil yang memuaskan. Felix memujinya dengan sumringah sepanjang waktu, bahwa pekerjaan Ace sudah sangat bagus dan Ace bisa berhenti sekarang.
Tapi Ace tidak mau berhenti. Tidak sebelum dia bisa menghasilkan kare yang benar-benar setara dengan kare buatan chef yang ahli. Makanan ini adalah permintaan Fawn, makanan juga adalah sesuatu yang sangat dicintai Fawn di dunia ini. Ace tidak mau pengalaman pertama Fawn pada makanannya meninggalkan jejak yang tercela atau sebatas 'oh, cukup bagus!'.
"Permisi, bos Ace." Jerome masuk dan mengetuk pintu.
Ace membuka matanya--mau tidak mau--dan bukannya melihat Jerome yang masuk membawa kopi, Ace malah melihat asistennya itu masuk membawa pamannya.
"Ace, kau tidur?" Jack Hunter meninggikan sebelah alisnya heran. Sebuah kejanggalan yang mengejutkan.
"Hanya perlu beristirahat sedikit." Ace menimpali. Selagi Jack masuk dan bergabung dengan Ace di meja, Jerome yang hanya berhenti sampai di pintu kembali ke ruangannya dan menuangkan satu cangkir lagi untuk paman bosnya.
"Aku terharu. Kau tidak terlihat seperti pria yang mengenal istirahat sebelumnya."
"Apa aku robot?"
__ADS_1
Jack mengangkat bahu. "Kau terlihat seperti itu beberapa waktu lalu."
"Jadi, apa yang membawa paman kemari?" Mengesampingkan masalah apakah dia adalah robot atau bukan, Ace mengganti topik dengan menaruh jangkar topik pembicaraan mereka kepada paman Jack-nya yang berkunjung kemari.
"Aku menemukan petunjuk atas kematian Fabian."
Sudah Ace duga, memang ada sesuatu.
"Aku tidak mengatakan ini kepada Margot karena dia sedang menjalin kedekatan terhadap si sulung Rashid tersebut. Kalau dia tau informasi ini, dia bisa lepas kendali lagi dan mulai bertindak tanpa rem sama sekali."
"Katakan, apa itu?"
"Seseorang dari keluarga Rashid..., aku belum tau spesifiknya relasi mereka seperti apa. Tapi..., Fabian berhubungan dengannya dan bertemu dengannya beberapa kali."
"Anggara?"
"Bukan," Jack menyerahkan sebuah foto di atas meja. Foto seorang wanita yang duduk berdampingan dengan Fabian, lipstick merah terang menyala. "Eleanor Finnigan, atau kau tau..., Eleanor Rashid."
"Huh?" Ace mengerutkan keningnya heran. Ia tidak mengerti sama sekali dengan situasi yang mulai melibatkan orang-orang yang tidak seharusnya berada di dalam skema ini sama sekali. Apa mau Eleanor memantau keluarganya? Apa ini ulah Anggara?
"Kau mungkin bingung." kata Jack Hunter. Pria itu menjeda ucapannya ketika Jerome masuk dan menyerahkan dua cangkir kopi di atas meja.
"Terima kasih," ujar Jack Hunter sekilas kepada anak muda yang sudah bekerja keras di sisi keponakannya. Jerome menanggapi dengan anggukan dan undur diri tanpa kata sama sekali.
"Ini hanya spekulasiku, tapi..., kurasa dia berusaha melakukan ini untuk membuat seseorang terkesan. Kau pasti lebih tau, bukan?"
"Seseorang? Ah..." Ace langsung paham.
Eleanor Finnigan adalah parasit. Untuk bisa bertahan hidup di lingkungan ini, dia perlu menempel kepada orang-orang yang mampu membuatnya terlihat kuat. Ia menanggalkan nama Finnigannya dan bergabung kembali bersama Rashid, tapi itu tidak cukup.
Sekarang ia mengejar sosok lain, sesosok pria yang masih bisa berada dalam jangkauannya, tapi bukan pria yang bisa diremehkan siapa saja. Membunuh Fabian--sosok yang kemungkinan adalah tangan kanan dari pria yang menjadi targetnya akan membuat pria itu waspada dan tertarik disaat bersamaan..., sangat menawan.
"Berhati-hati dengan Jemaine Emery mulai sekarang, Ace." Jika perhitungan Jack benar, maka Jem adalah orang yang sudah mempekerjakan Fabian sebagai mata-mata. Jem juga orang yang sudah menanam bom di mobil Margot waktu itu.
Si keparat bajingan!
"Aku selalu berhati-hati." sahut Ace tenang. "Aku hanya perlu meningkatkan perlindunganku kepada Margot mulai sekarang."
"Aku akan berkontribusi pada hal itu."
"Tolong jangan rendahkan kewaspadaanmu sedikit pun."
__ADS_1
"Baiklah, paman."
...----------------...